Share

Luka di Atas Luka

Author: Jannah Zein
last update publish date: 2026-01-27 22:03:13

Bab 76: Luka di Atas Luka

Sampai pagi menjelang, suasana di kamar Ratih masih terasa mencekam pasca pertengkaran di meja makan semalam. Ratih memilih diam, dan Bima, malah tidur di ruang kerjanya. Pria itu baru masuk kamar mereka saat mendengar tangis Arisya di sekitar pukul empat subuh.

Tangis yang akhirnya membuat kedua orang dewasa itu kembali berkumpul dalam satu ruangan, meski nyatanya tidak bisa menciptakan rasa hangat seperti sebelumnya.

Meski marah, Ratih tetap menyiapkan setelan kerja
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Setelah Menceraikanku, Dia Merayakannya    Lembaran Baru (ending)

    ​Bab 145: Lembaran Baru Hari masih pagi saat mobil yang dikemudikan oleh Melvin akhirnya sampai di depan sebuah bangunan yang masih kokoh. Bangunan dengan warna dominan putih bercampur coklat kayu seolah menegaskan jati dirinya. Sebuah gedung juga berdiri megah di samping bangunan itu, gedung yang jauh lebih besar itu adalah Puskesmas kecamatan setempat."Akhirnya kita sampai. Mari kita keluar, Sayang." Pria itu membuka pintu mobil, dan dengan setengah berlari dia membuka pintu mobil satunya, lalu menuntun Vina turun dari mobil.Gerak-geriknya begitu berhati-hati karena menyadari jika putra kecil mereka masih berusia 3 bulan.​Udara di daerah tersebut terasa sangat bersih dan sejuk, jauh dari hiruk-pikuk polusi perkotaan yang biasa mereka rasakan. Melvin menghirup napas dalam-dalam menikmati aroma tanah dan pepohonan yang menenangkan. Vina berdiri di samping Melvin, menatap bangunan rumah dinas di hadapan mereka dengan binar mata yang campur aduk—ada rasa gugup, namun didominasi ole

  • Setelah Menceraikanku, Dia Merayakannya    Jalan Yang Berbeda

    ​Bab 144: Jalan yang Berbeda"Apa?! Rumah ini disita?" Seluruh persendian di tubuh Atika seketika lemas tak bertenaga, sementara matanya menghitung beberapa orang yang kini tengah berdiri di hadapannya."Sepertinya kalian adalah penghuni rumah ilegal, jadi tidak tahu tentang hutang piutang mendiang Nyonya Desti." Pria itu balas menatap dengan menyelidik."Kami tidak tahu soal hutang piutang almarhumah Desti. Kami adalah kerabat jauh yang ditugaskan untuk tinggal di rumah ini, karena almarhumah tidak memiliki keluarga dekat yang lebih berhak untuk mewarisi hartanya." Atika mengarang cerita dengan cepat, seraya menatap Moana Gadis itu hanya diam dengan wajah yang ditekuk."Oke, oke, apapun alasan kalian, tetapi nyatanya kami sudah memberikan penjelasan. Seharusnya rumah ini sudah lama dikosongkan, jadi tidak perlu sampai ada drama untuk menyuruh anggota keluarga yang lain tinggal di sini." Pria yang berada di samping pria yang memperlihatkan tumpukan berkas itu menambahkan.Kedua pria

  • Setelah Menceraikanku, Dia Merayakannya    Sayang, Siapa Dia?

    Bab 143: Sayang, Siapa Dia?​William tetap berdiri protektif di samping Anya, namun dengan posisi agak maju ke depan. Tubuh Anya menempel ketat padanya. Dadanya naik turun, napasnya memburu bukan karena lelah, melainkan karena amarah yang tertahan. Seseorang baru saja mencoba mencelakai istri dan calon bayinya.Ini bukan main-main.Bagi seseorang yang sudah belasan tahun hidup di ruang dunia bawah tanah, si pelaku ini wajib mendapatkan balasan yang setimpal. ​Melihat pengendara motor itu tak bergerak di dekat pohon besar dengan darah yang mulai mengalir dari balik helm, William melangkah waspada, masih dengan Anya yang ia paksa tetap menempel ketat padanya. Dia berlutut dan dengan hati-hati membuka kaca helm full-face yang retak tersebut untuk melihat siapa pelakunya.​Seketika itu juga, Anya mematung.​"Desti...?" gumam Anya tak percaya. Melihat keadaan Desti yang mengenaskan, membuat Anya merasa ngeri, dia bahkan tanpa sadar berpegang kuat pada bahu William.Sudah belasan tahun

  • Setelah Menceraikanku, Dia Merayakannya    Ancaman Tak Terduga

    ​Bab 142: Ancaman Tak TerdugaSuasana hening yang mencekam masih menyelimuti ruangan setelah Karina selesai berbicara. Semua mata tertuju pada Anya. William pun tetap tidak melepaskan genggamannya, justru memberikan kebebasan penuh pada istrinya untuk mengambil keputusan.​Anya menarik napas dalam-dalam, lalu tersenyum tipis, senyum khas seorang wanita yang telah kenyang dengan asam garam kehidupan.Dia sudah pernah kehilangan sesuatu yang sangat penting di dalam hidupnya dan itu adalah pelajaran yang berharga. Waktu sepuluh tahun, bayangkan. Itu bukan waktu yang sebentar. Hidup di dalam pengasingan membuatnya menyadari jika terkadang menjadi orang yang tidak dikenal merupakan sebuah kebaikan.Sementara jika dia dan William memilih untuk go public, bukan tidak mungkin musuh-musuhnya atau orang-orang yang iri dengki kepadanya akan kembali bereaksi. Anya lebih baik mengalah dan menjadi tidak dikenal, asalkan dia dan suaminya yang sekarang bisa hidup dengan tenang, apalagi kini dia tenga

  • Setelah Menceraikanku, Dia Merayakannya    Kabar Bahagia

    Bab 141: Kabar Bahagia​Suasana di ruang tengah terasa hangat. Ratih dan Bima duduk berdampingan lesehan di karpet tebal, sembari memantau putri mereka yang tengah bermain bersama dengan pengasuhnya.Anya dan William saling bertukar pandang sebelum akhirnya William berdeham."Mohon maaf... mungkin ini terlalu cepat buat kalian tapi rasanya kalian semua pasti akan bisa menerimanya," ujar William dengan nada suara yang bergetar namun penuh kebahagiaan, "Memangnya ada apa sih, Om. Kok kayaknya serius sekali? Apa Mama Anya sakit?" Bima langsung menduga karena melihat raut wajah Anya yang masih terlihat pucat."Bukan! Mama kalian tidak sakit...." Lagi-lagi sepasang suami istri itu berpandangan. Melihat raut wajah Anya yang terlihat ragu, William hanya mampu meneguk ludahnya.Ini memang kabar bahagia, tetapi bukan berarti bisa dengan mudah dimengerti, meskipun William yakin, pasti Ratih dan Bima akan bisa menerima kehamilan Anya dengan baik. Namun mengingat usia Ratih yang sudah dewasa,

  • Setelah Menceraikanku, Dia Merayakannya    Retaknya Rahasia

    ​Bab 140: Retaknya RahasiaTangannya mengepal, kuat sekali, sampai buku-buku jarinya memutih, kemarahannya sudah sampai di ubun-ubun. Desti menatap nyalang pecahan kaca yang berserakan di sekelilingnya. Pigura itu sudah hancur, dan tangannya langsung lembaran foto yang tergeletak di lantai. Desti merobeknya hingga menjadi serpihan kecil, penuh kebencian.Dulu, foto ini yang menjadi penyemangatnya. Desti berharap, setelah Anya menghilang, Aliando kembali teringat kepadanya. Namun harapan itu pupus, karena ternyata justru Atika yang dibawa masuk ke dalam keluarga Pramudita. Desti sempat berharap, bahkan berusaha mencari Aliando saat pria itu jatuh dan ditinggalkan oleh Atika, berharap ia bisa melakukan suatu hal yang dulu pernah dilakukan Anya terhadap Aliando, demi memenangkan hati pria itu. Namun lagi-lagi usahanya gagal. Sebelum sempat menemukan Aliando, kabar kematiannya sudah lebih dulu sampai ke telinga Desti.Cintanya tetap bertepuk sebelah tangan!Bahkan sampai jasad pria itu

  • Setelah Menceraikanku, Dia Merayakannya    Muara Air Mata dan Kebenaran

    ​Bab 136: Muara Air Mata dan Kebenaran​Suara riuh kilatan kamera dan bisik-bisik wartawan seolah lenyap dari indera pendengaran Ratih. Kakinya yang gemetar membawa tubuhnya berlari turun dari podium, menghambur ke dalam pelukan wanita berbaju marun itu.​"Mama...!" jerit Ratih histeris. Isaknya pe

  • Setelah Menceraikanku, Dia Merayakannya    Mawar di Ujung Penantian (I love you, Anya)

    ​Bab 129: Mawar di Ujung Penantian (I love you, Anya)​Jarak sepuluh sentimeter itu terasa seperti melenyapkan oksigen di antara mereka. Anya bisa merasakan hembusan napas William yang hangat di wajahnya, aroma maskulin yang bercampur dengan wangi sabun yang bersih, aroma yang selama sepuluh tahun

  • Setelah Menceraikanku, Dia Merayakannya    Harga Sebuah Kehormatan

    ​Bab 127: Harga Sebuah Kehormatan​Atika melangkah tergesa meninggalkan rumah Desti. Di balik dasternya, selembar foto tua Anya yang ia curi dari gudang terasa dingin menyentuh kulitnya. Pikirannya berkecamuk, tak habis pikir, mengapa Desti membuang foto sahabatnya sendiri ke tumpukan barang rongso

  • Setelah Menceraikanku, Dia Merayakannya    Mulai Runtuh

    ​Bab 126: Mulai Runtuh​Di ruang kerja yang hening, cahaya dari dua layar laptop memantul di wajah Bima dan Yudha. Grafik merah yang menukik tajam di layar menunjukkan kehancuran finansial keluarga Ruben yang sudah di depan mata.​"Tuan Harry sudah memprediksi ini, Tuan," ujar Yudha sembari menunju

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status