공유

Talak (2)

작가: Jannah Zein
last update 게시일: 2025-11-27 13:36:56

Bab 3

"Oma...." Aku menjerit pertama kali saat menyadari jika Oma Trisna sudah terkulai di kursi rodanya. Aku buru-buru merengkuh tubuh itu, tetapi belum sempat menyentuh Oma Trisna, tubuhku sudah terjungkal lebih dulu, jatuh ke lantai. 

"Apa-apaan kamu?! Lelucon macam apa ini?! Ini pasti gara-gara kamu! Kamu yang memang nggak becus sebagai istri, sampai Bima menceraikan kamu!" 

Alih-alih merangkul, justru pria yang seharusnya menjadi cinta pertamaku itu malah menyalahkan. Aliando, papaku mendaratkan tamparan keras disusul dengan tamparan lain, tetapi tidak terlalu keras, karena berasal dari seorang wanita yang berdiri di samping pria itu.

Dialah Atika, ibu tiriku.

"Cepat berlutut, bilang kepada Bima jika kamu minta maaf dan meminta rujuk kembali!" teriak Atika marah.

Perempuan itu menyeretku ke arah Bima yang terlihat malah berbincang dengan Inara, tanpa perduli dengan neneknya yang sudah dibawa pergi dari tempat itu. Untung saja tim medis siap siaga, sehingga perempuan tua itu bisa segera mendapatkan pertolongan.

Ibu tiriku itu menyeretku terus, sampai akhirnya kami benar-benar tiba di depan Bima dan Inara.

"Nak, tolong maafkan Ratih. Tolong cabut kembali ucapanmu. Ratih akan berusaha menjadi istri yang baik," bujuk Atika, lalu memaksaku untuk membungkuk. Namun alih-alih membungkuk seperti orang bersujud, aku malah terguling hingga kepalaku menyentuh kaki Inara. 

Dan, bahkan seperti memanfaatkan kesempatan, sehingga sepatu berhak tinggi itu ujungnya yang lancip menyentuh dahiku, membuat luka yang mengucurkan darah.

Aku meringis, namun tetap mencoba untuk bangkit. Aku tahu, percuma saja meminta belas kasihan mereka, apalagi pada Inara yang jelas-jelas menyakitiku.

"Aku sudah menceraikan Ratih, jadi tolong terimalah dia kembali di dalam keluarga Pramudita. Aku sudah memberikan sejumlah uang dan harta sebagai kompensasi. Aku tidak meninggalkannya dalam keadaan terlantar, dia bisa menjalankan hidup, apalagi jika dia kembali ke keluarga Pramudita, pastinya dia tidak akan kekurangan." Pria itu menerangkan dengan sangat jelas.

Penjelasan yang membuat Atika melotot kepadaku, lalu tangannya mendorong bahuku, menyuruhku untuk kembali bersujud di kaki pria itu, tapi aku memegang tangan Atika, menahan tubuhku sendiri.

Aku memang bersikukuh ingin mempertahankan pernikahan kami, tetapi bukan begini caranya. Bukankah kita tidak boleh bersujud di hadapan manusia?

Aku menyentuh lembut lengan pria itu, dan berkata, "sebaiknya ini kita bicarakan baik-baik di rumah, Mas. Mari kita bicarakan berdua saja, agar kita bisa membicarakannya dengan kepala dingin, tidak dengan emosi seperti ini." 

"Tidak. Keputusanku sudah bulat. Selama masa iddah, kamu masih boleh tinggal di rumahku, tapi setelah itu, pergilah sesuai dengan surat perjanjian yang ada. Meski kamu menolak menandatanganinya, aku tetap menganggap surat perjanjian itu sah." Pria itu mengibaskan tanganku, lalu akhirnya melangkah pergi bersama dengan Inara. Dia meninggalkanku, yang akhirnya terpaksa menahan darah yang terus mengucur dari keningku dengan menggunakan tisu yang kebetulan berada di salah satu meja di dekatku.

***

Aku sudah ditalak! 

Jadi apa lagi yang harus kulakukan? 

Sialnya pernyataan talak itu berada di tangan laki-laki, bukan di tangan perempuan, meskipun secara hukum negara, semua itu masih memerlukan proses, proses yang telah diperjuangkan oleh Bima agar mendapatkan akta cerai secara resmi dengan menggunakan surat perjanjian perceraian. Surat perjanjian perceraian itu berguna, untuk membuat hakim segera ketok palu karena menganggap jika semuanya sudah menjadi kesepakatan suami istri untuk mengakhiri pernikahan mereka. 

Apapun itu, tetap saja statusku bukan lagi istrinya. Kami sudah tidak halal lagi untuk bersama, meskipun katanya aku masih boleh tinggal di rumah ini, tetapi pasti akan ada jarak.

Ah, ya, sejak lama Bima menciptakan jarak itu. Dia hanya memerlukanku untuk mengurus dirinya saja, termasuk kebutuhan biologisnya. Hanya itu. Benar seperti yang orang bilang, laki-laki tidak memerlukan cinta untuk berhubungan badan, dan nyatanya memang begitu. Hanya aku saja yang kecintaan dan bawa-bawa perasaan dalam hubungan rumah tangga kami yang timpang.

Aku mengenal Bima sejak kecil. Rasa cinta itu tumbuh perlahan, karena sosoknya yang begitu mempesona. Bima selalu melindungiku dari anak-anak nakal yang selalu mengejekku, karena tubuhku yang kecil dan pendek tidak seperti anak-anak sebayaku, bahkan sampai sekarang pun tubuhku masih terbilang mungil, tidak sebanding dengan Bima yang memiliki tubuh tinggi besar, ah.... 

Mungkin Bima dan Inara itu serasi. Prianya bertubuh tinggi besar, sementara Inara memiliki tubuh ramping proporsional dan semampai, tidak seperti aku yang terperangkap di tubuh mungil, bahkan sampai sekarang Bima tetap menganggapku seperti anak kecil.

Aku duduk di depan cermin, mencoba membersihkan lukaku, lalu membalutnya dengan plester. Aku tahu Inara melakukannya dengan sengaja, tapi sudahlah. Percuma menjelaskan, pasti Bima tidak akan percaya jika kekasih pertamanya itu menyakitiku. Selama ini dia terlalu terbuai dengan sosok Inara yang lemah lembut, dan memiliki otak yang cerdas itu. 

Aku pun masih belum melupakan dengan tangis Inara malam itu, dua tahun yang lalu tatkala dia memintaku untuk menikah dengan Bima.

"Menikahlah dengan Bima. Aku hanya percaya pada kamu, Ratih. Kamu itu sahabat Bima. Kelak jika aku kembali, kita bisa tetap berteman dengan baik-baik."

Kalimat udara yang dipahami Bima seperti sebuah cinta yang teramat besar. Padahal mustahil jika seseorang yang mencintai akan menyerahkan orang yang dicintainya kepada orang lain, bahkan sudah terbukti, cinta kepada Bima harus kalah dengan beasiswa yang diterima oleh Inara.

Bukankah setiap keputusan ada resikonya? 

Waktu dua tahun bukan waktu yang sebentar. Oke, Bima dan Inara masih terus berhubungan, tetapi kedekatan antara aku dan Bima secara fisik jelas saja membuat hal yang tidak direncanakan itu terjadi. Awalnya Bima sempat berjanji kepada Inara untuk tidak akan pernah menyentuhku, tapi nyatanya aku rutin melayani kebutuhan biologisnya hampir setiap malam.

Dan bodohnya aku yang menggunakan perasaan dalam melayaninya, karena memang dari awal aku mencintainya, dan beruntung bisa menikah lewat perjodohan dua keluarga dan tentu campur tangan Oma Trisna. Tanpa permintaan Inara pun, aku akan tetap menikah dengan Bima.

Bahkan kemungkinan jika Inara tidak mau menerima beasiswanya dan memilih menikah dengan Bima waktu itu, belum tentu juga hubungan mereka akan mulus. Pemegang keputusan mutlak dalam keluarga Chandrawinata adalah Oma Trisna, dan beliau sudah memilihku sebagai istri cucunya.

"Ratih!" Terdengar suara orang berteriak ketika aku baru akan beranjak meninggalkan meja rias. Tiba-tiba saja pintu kamar terbuka secara paksa. 

"Perempuan pembawa sial! Gara-gara kamu, Mama Trisna meninggal dunia! Kamu harus tanggung jawab! Saya akan laporkan kamu kepada polisi!" Perempuan setengah baya itu menarik tubuhku, yang lantaran ketidaksiapan, akhirnya tubuhku malah jatuh kembali ke lantai, meski aku berhasil melindungi kepalaku dengan tangan sehingga kepalaku tidak terbentur.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
댓글 (2)
goodnovel comment avatar
Annisa Aftar
cerita tak maduk akal bodoh
goodnovel comment avatar
Suryat
cerita perempun yg bucin tolol parah..
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Setelah Menceraikanku, Dia Merayakannya    Lembaran Baru (ending)

    ​Bab 145: Lembaran Baru Hari masih pagi saat mobil yang dikemudikan oleh Melvin akhirnya sampai di depan sebuah bangunan yang masih kokoh. Bangunan dengan warna dominan putih bercampur coklat kayu seolah menegaskan jati dirinya. Sebuah gedung juga berdiri megah di samping bangunan itu, gedung yang jauh lebih besar itu adalah Puskesmas kecamatan setempat."Akhirnya kita sampai. Mari kita keluar, Sayang." Pria itu membuka pintu mobil, dan dengan setengah berlari dia membuka pintu mobil satunya, lalu menuntun Vina turun dari mobil.Gerak-geriknya begitu berhati-hati karena menyadari jika putra kecil mereka masih berusia 3 bulan.​Udara di daerah tersebut terasa sangat bersih dan sejuk, jauh dari hiruk-pikuk polusi perkotaan yang biasa mereka rasakan. Melvin menghirup napas dalam-dalam menikmati aroma tanah dan pepohonan yang menenangkan. Vina berdiri di samping Melvin, menatap bangunan rumah dinas di hadapan mereka dengan binar mata yang campur aduk—ada rasa gugup, namun didominasi ole

  • Setelah Menceraikanku, Dia Merayakannya    Jalan Yang Berbeda

    ​Bab 144: Jalan yang Berbeda"Apa?! Rumah ini disita?" Seluruh persendian di tubuh Atika seketika lemas tak bertenaga, sementara matanya menghitung beberapa orang yang kini tengah berdiri di hadapannya."Sepertinya kalian adalah penghuni rumah ilegal, jadi tidak tahu tentang hutang piutang mendiang Nyonya Desti." Pria itu balas menatap dengan menyelidik."Kami tidak tahu soal hutang piutang almarhumah Desti. Kami adalah kerabat jauh yang ditugaskan untuk tinggal di rumah ini, karena almarhumah tidak memiliki keluarga dekat yang lebih berhak untuk mewarisi hartanya." Atika mengarang cerita dengan cepat, seraya menatap Moana Gadis itu hanya diam dengan wajah yang ditekuk."Oke, oke, apapun alasan kalian, tetapi nyatanya kami sudah memberikan penjelasan. Seharusnya rumah ini sudah lama dikosongkan, jadi tidak perlu sampai ada drama untuk menyuruh anggota keluarga yang lain tinggal di sini." Pria yang berada di samping pria yang memperlihatkan tumpukan berkas itu menambahkan.Kedua pria

  • Setelah Menceraikanku, Dia Merayakannya    Sayang, Siapa Dia?

    Bab 143: Sayang, Siapa Dia?​William tetap berdiri protektif di samping Anya, namun dengan posisi agak maju ke depan. Tubuh Anya menempel ketat padanya. Dadanya naik turun, napasnya memburu bukan karena lelah, melainkan karena amarah yang tertahan. Seseorang baru saja mencoba mencelakai istri dan calon bayinya.Ini bukan main-main.Bagi seseorang yang sudah belasan tahun hidup di ruang dunia bawah tanah, si pelaku ini wajib mendapatkan balasan yang setimpal. ​Melihat pengendara motor itu tak bergerak di dekat pohon besar dengan darah yang mulai mengalir dari balik helm, William melangkah waspada, masih dengan Anya yang ia paksa tetap menempel ketat padanya. Dia berlutut dan dengan hati-hati membuka kaca helm full-face yang retak tersebut untuk melihat siapa pelakunya.​Seketika itu juga, Anya mematung.​"Desti...?" gumam Anya tak percaya. Melihat keadaan Desti yang mengenaskan, membuat Anya merasa ngeri, dia bahkan tanpa sadar berpegang kuat pada bahu William.Sudah belasan tahun

  • Setelah Menceraikanku, Dia Merayakannya    Ancaman Tak Terduga

    ​Bab 142: Ancaman Tak TerdugaSuasana hening yang mencekam masih menyelimuti ruangan setelah Karina selesai berbicara. Semua mata tertuju pada Anya. William pun tetap tidak melepaskan genggamannya, justru memberikan kebebasan penuh pada istrinya untuk mengambil keputusan.​Anya menarik napas dalam-dalam, lalu tersenyum tipis, senyum khas seorang wanita yang telah kenyang dengan asam garam kehidupan.Dia sudah pernah kehilangan sesuatu yang sangat penting di dalam hidupnya dan itu adalah pelajaran yang berharga. Waktu sepuluh tahun, bayangkan. Itu bukan waktu yang sebentar. Hidup di dalam pengasingan membuatnya menyadari jika terkadang menjadi orang yang tidak dikenal merupakan sebuah kebaikan.Sementara jika dia dan William memilih untuk go public, bukan tidak mungkin musuh-musuhnya atau orang-orang yang iri dengki kepadanya akan kembali bereaksi. Anya lebih baik mengalah dan menjadi tidak dikenal, asalkan dia dan suaminya yang sekarang bisa hidup dengan tenang, apalagi kini dia tenga

  • Setelah Menceraikanku, Dia Merayakannya    Kabar Bahagia

    Bab 141: Kabar Bahagia​Suasana di ruang tengah terasa hangat. Ratih dan Bima duduk berdampingan lesehan di karpet tebal, sembari memantau putri mereka yang tengah bermain bersama dengan pengasuhnya.Anya dan William saling bertukar pandang sebelum akhirnya William berdeham."Mohon maaf... mungkin ini terlalu cepat buat kalian tapi rasanya kalian semua pasti akan bisa menerimanya," ujar William dengan nada suara yang bergetar namun penuh kebahagiaan, "Memangnya ada apa sih, Om. Kok kayaknya serius sekali? Apa Mama Anya sakit?" Bima langsung menduga karena melihat raut wajah Anya yang masih terlihat pucat."Bukan! Mama kalian tidak sakit...." Lagi-lagi sepasang suami istri itu berpandangan. Melihat raut wajah Anya yang terlihat ragu, William hanya mampu meneguk ludahnya.Ini memang kabar bahagia, tetapi bukan berarti bisa dengan mudah dimengerti, meskipun William yakin, pasti Ratih dan Bima akan bisa menerima kehamilan Anya dengan baik. Namun mengingat usia Ratih yang sudah dewasa,

  • Setelah Menceraikanku, Dia Merayakannya    Retaknya Rahasia

    ​Bab 140: Retaknya RahasiaTangannya mengepal, kuat sekali, sampai buku-buku jarinya memutih, kemarahannya sudah sampai di ubun-ubun. Desti menatap nyalang pecahan kaca yang berserakan di sekelilingnya. Pigura itu sudah hancur, dan tangannya langsung lembaran foto yang tergeletak di lantai. Desti merobeknya hingga menjadi serpihan kecil, penuh kebencian.Dulu, foto ini yang menjadi penyemangatnya. Desti berharap, setelah Anya menghilang, Aliando kembali teringat kepadanya. Namun harapan itu pupus, karena ternyata justru Atika yang dibawa masuk ke dalam keluarga Pramudita. Desti sempat berharap, bahkan berusaha mencari Aliando saat pria itu jatuh dan ditinggalkan oleh Atika, berharap ia bisa melakukan suatu hal yang dulu pernah dilakukan Anya terhadap Aliando, demi memenangkan hati pria itu. Namun lagi-lagi usahanya gagal. Sebelum sempat menemukan Aliando, kabar kematiannya sudah lebih dulu sampai ke telinga Desti.Cintanya tetap bertepuk sebelah tangan!Bahkan sampai jasad pria itu

  • Setelah Menceraikanku, Dia Merayakannya    Muara Air Mata dan Kebenaran

    ​Bab 136: Muara Air Mata dan Kebenaran​Suara riuh kilatan kamera dan bisik-bisik wartawan seolah lenyap dari indera pendengaran Ratih. Kakinya yang gemetar membawa tubuhnya berlari turun dari podium, menghambur ke dalam pelukan wanita berbaju marun itu.​"Mama...!" jerit Ratih histeris. Isaknya pe

  • Setelah Menceraikanku, Dia Merayakannya    Mawar di Ujung Penantian (I love you, Anya)

    ​Bab 129: Mawar di Ujung Penantian (I love you, Anya)​Jarak sepuluh sentimeter itu terasa seperti melenyapkan oksigen di antara mereka. Anya bisa merasakan hembusan napas William yang hangat di wajahnya, aroma maskulin yang bercampur dengan wangi sabun yang bersih, aroma yang selama sepuluh tahun

  • Setelah Menceraikanku, Dia Merayakannya    Harga Sebuah Kehormatan

    ​Bab 127: Harga Sebuah Kehormatan​Atika melangkah tergesa meninggalkan rumah Desti. Di balik dasternya, selembar foto tua Anya yang ia curi dari gudang terasa dingin menyentuh kulitnya. Pikirannya berkecamuk, tak habis pikir, mengapa Desti membuang foto sahabatnya sendiri ke tumpukan barang rongso

  • Setelah Menceraikanku, Dia Merayakannya    Mulai Runtuh

    ​Bab 126: Mulai Runtuh​Di ruang kerja yang hening, cahaya dari dua layar laptop memantul di wajah Bima dan Yudha. Grafik merah yang menukik tajam di layar menunjukkan kehancuran finansial keluarga Ruben yang sudah di depan mata.​"Tuan Harry sudah memprediksi ini, Tuan," ujar Yudha sembari menunju

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status