Mag-log inBab 4
"Oma Trisna meninggal dunia?!" Bibirku bergetar. Tubuh yang lemas dan rasanya tulang-tulangku mau copot. "Aku sangat menyayangi Oma. Aku nggak menyangka kejadiannya sampai begini. Aku turut berduka cita, Ma." Hanya itu kalimat yang bisa aku ucapkan. "Begitu mudahnya kamu bilang!" Tapi perempuan setengah tua itu malah melotot kepadaku. "Begitu mudahnya kamu bilang seperti itu, tidak menyadari kesalahanmu sendiri! Andai kamu bisa menjadi istri yang baik, Bima tidak perlu menceraikanmu dan mengumumkan perceraian itu di hadapan Mama Trisna. Aku sudah bilang jika kamu bukan wanita yang baik, tetapi Mama selalu bersikeras untuk menjodohkan kamu dengan Bima. Benar-benar perempuan pembawa sial!" Lagi-lagi ia memakiku. Tamparan itu membuat kepalaku pusing, dan secara alami tiba-tiba saja perutku mengalami mual. Aku buru-buru menutup mulutku dan mengusap perutku secara refleks untuk meredakan rasa tak nyaman. "Aku tidak tahu apa-apa, Ma. Mas Bima sendiri yang mengumumkan perceraian. Aku sudah berusaha untuk menolak, bahkan aku menolak menandatangani surat perjanjian perceraian kami. Aku sudah berusaha menjadi istri yang baik, tapi kenapa tiba-tiba aku yang disalahkan?!" "Jelas kamulah yang salah, karena menjadi istri itu seharusnya harus menjadi kesayangan suami. Jangan berpura-pura bodoh, Ratih! Andaikan mama Trisna tidak menyayangimu, tentu aku sudah menendangmu dari keluarga ini!" Tatapan perempuan itu penuh dengan kebencian. Sebelah tangannya melambai ke arah seorang wanita paruh baya yang merupakan pembantu di rumah ini. Wanita paruh baya bernama Darmi itu langsung mendekat. "Awasi majikanmu! Pastikan dia tidak pergi dari rumah ini sebelum saya kembali lagi ke sini! Saya masih harus mengurus macam-macam, mempersiapkan acara untuk pemakaman dan lain-lain!" perintah perempuan itu, lalu akhirnya dia pergi melenggang, membiarkanku yang menangis kesakitan. Kini bukan cuma dahiku yang perih, tetapi bagian bahuku juga sakit. Sepertinya benturan itu cukup keras, karena ini lantai terbuat keramik. Untung saja kepalaku masih aman. "Oma....." Aku menangis terisak-isak, membayangkan oma Trisna yang terbujur kaku. Ingin sekali aku pergi dari sini untuk mengantarkan kepergian oma Trisna ke peristirahatan terakhirnya. Begitu banyak kenangan dengan oma Trisna yang membuatku merasa jika oma Trisna diciptakan sebagai ibu kedua untukku, setelah ibu kandungku meninggal dunia Papa menikahi Atika setahun setelah mama meninggal dunia, dan setelah itu aku dekat dengan Oma Trisna, dekat pula dengan Bima yang selalu melindungiku, karena menganggap aku adalah anak yatim. Seperti itu yang diajarkan oma Trisna kepada Bima. Aku tidak tahu apa yang membuat pria itu berubah setelah dewasa, meski aku pikir Bima tetap mencintai oma Trisna, meski tidak sebesar dulu ketika kami masih tumbuh bersama. Apakah karena kehadiran Inara? Ya, mungkin, tapi tidak berani untuk memastikan. Setelah lulus SMA aku memutuskan untuk tinggal di kota sebelah melanjutkan pendidikanku kuliah di salah satu universitas swasta sementara Bima memilih melanjutkan pendidikannya di kota ini sebuah universitas yang juga ternama sambil belajar bisnis langsung di bawah bimbingan sang papa. Kami kehilangan kontak selama beberapa tahun, sampai akhirnya aku kembali ke kota ini dan menemui kembali oma Trisna, titik balik yang pada awalnya membuatku merasa seperti perempuan yang sangat beruntung, karena ternyata oma Trisna memilihku untuk berjodoh dengan Bima. "Suatu saat aku pasti akan mengunjungimu, Oma, tetapi tidak hari ini." Aku mengusap wajahku dan berjalan kembali ke kamar. Namun alangkah terkejutnya diriku saat menyadari pintu kamar ditutup dari luar. Aku bergegas kembali ke pintu dan menyadari jika ternyata pintu itu telah terkunci dari luar. Bi Darmi menjalankan tugasnya dengan baik. Meskipun itu hanya berlaku kepada Chintya, majikannya. Aku tidak pernah dianggap sebagai majikan kecuali hanya sebagai istri Bima. Bahkan dia berani membentak atau menyuruhku melakukan segala pekerjaan yang seharusnya menjadi tugas pembantu. Pada mulanya aku melakukan itu dengan senang hati sebelum akhirnya sadar jika aku sebenarnya sedang di peralat. Kerjaannya lebih banyak bersenang-senang dan santai di rumah ini. Apalagi semua keperluan Bima, akulah yang mengurusnya. Aku dikurung selama berjam-jam tanpa makan dan minum. Tapi meski begitu, aku tetap merasa beruntung karena kamar mandi ada di dalam kamar ini, sehingga aku bisa buang air kecil tanpa harus mengemis kepada bi Darmi untuk membukakan pintu. Aku benar-benar tidak tahu apa salahku, padahal seharusnya yang bersalah itu bukannya Bima ya, kalaupun ada yang harus dipersalahkan dengan kondisi drop yang dialami oleh Oma Trisna yang menyebabkan beliau sampai meregang nyawa? Suara dari pintu membuatku bangkit dari tempat tidur. Aku pikir bi Darmi yang mengantarkan makanan untukku, tapi ternyata tidak. Malah beberapa sosok laki-laki merangsak masuk ke dalam kamarku. "Ibu Ratih, Anda kami tahan atas dasar laporan dari ibu Chintya, yang menyebutkan tuduhan perbuatan tidak menyenangkan yang menyebabkan hilangnya sebuah nyawa, yaitu ibu mertuanya bernama nyonya Trisnawati Chandrawinata." Salah seorang diantara mereka memperlihatkan selembar kertas berisi surat penahanan. "Apa?! Saya ditahan?!" Ah, ternyata perempuan paruh baya itu benar dengan ucapannya. Aku melangkah dengan tubuh gemetar, mengiringi para pria itu, tetapi aku menolak saat mereka ingin memborgol. "Tidak perlu, saya bukan penjahat dan saya akan buktikan jika saya bukan penjahat. Saya tidak salah sama sekali. Justru suami sayalah yang bersalah dan ibu mertua saya sengaja mencari kambing hitam agar anaknya bisa lolos jadi jerat hukuman, karena sudah membuat orang tua syok berat sampai meninggal dunia," ucapku dengan tenang, meski sebenarnya hatiku tidak sedang baik-baik saja. "Aku akan melayani permainanmu, Mas." Aku terus membatin sembari terus melangkah sampai akhirnya keluar dari rumah ini. Sosok perempuan paruh baya itu ternyata berada di salah satu sudut teras dengan tangan mengepal, dan di sisinya sang suami yang bernama Hendrawan menatapku tanpa ekspresi yang bisa diartikan. "Selamat membusuk di penjara, Ratih. Jangan pernah kembali lagi kemari!"Bab 60: Suara Adzan dan Sumpah Sang PenguasaSuara tangisan kecil pecah di ruang operasi yang dingin. Melengking, namun terdengar lemah, seolah bayi itu pun merasakan perjuangan hidup dan mati ibunya. Dokter Harto segera menyerahkan bayi merah yang masih berlumuran darah itu kepada tim dokter spesialis anak.Melvin, dengan dada yang bergemuruh, mengikuti langkah suster ke ruang resusitasi bayi yang berada tepat di sebelah ruang operasi. Di sana, bayi perempuan yang mungil itu diletakkan di bawah pemanas. Melvin mendekat, matanya berkaca-kaca melihat garis wajah bayi itu—sebuah perpaduan antara ketegasan Bima dan kelembutan Ratih.Pertahanan Melvin runtuh seketika. Anak ini adalah pengikat, bagaimanapun situasi hubungan kedua orang tuanya. Serumit apapun hubungan Bima dan Ratih, nyatanya mereka masih suami istri.Dia cuma orang luar yang mencoba mencari celah untuk masuk, sama seperti kakaknya. Tapi gagal. Cinta boleh cinta, tapi nyatanya takdir tidak berpihak kepadanya. Bagaimana bis
Bab 59: Taruhan Nyawa di Meja OperasiDi ruang rapat lantai 20 gedung Chandrawinata Tower, suasana yang semula tenang mendadak pecah. Ponsel pribadi Bima yang tergeletak di atas meja kayu jati itu bergetar hebat. Nama "Vina" menyala di layar. Bima mengernyit, ia tahu Vina tidak akan meneleponnya di jam kerja kecuali terjadi kiamat kecil di rumahnya."Maaf, interupsi sebentar," ujar Bima dingin kepada para kolega bisnisnya. Dia berbalik menuju meja kayu jati di samping tempatnya berdiri, tempat asisten pribadinya sedang duduk sembari memantau jalannya pertemuan.Dia meraih benda pipih itu penuh ketergesaan. "Ada apa, Vina? Aku sedang sibuk!""Mas Bima! Ratih... Ratih pendarahan hebat! Dia jatuh, Mas! Sekarang kami sudah sampai di Rumah Sakit Medika!" Suara Vina terdengar pecah di antara isak tangisnya.Jantung Bima seakan berhenti berdetak sesaat. Wajahnya yang semula kaku kini memucat. "Bagaimana bisa?! Saya sudah bayar orang untuk menjaganya!""Inara datang ke sini dan membuat kerib
Bab 58: Tragedi di Ambang PintuTaksi yang membawa Inara berhenti tepat di depan gerbang tinggi perumahan elit The Royal Residence. Begitu turun, Inara langsung melangkah menuju Blok A Nomor 1. Sebuah rumah megah dengan arsitektur modern minimalis berdiri angkuh di sana.Perasaannya campur aduk. Geram, sakit hati, sekaligus iri. Seharusnya dia lah yang ada di rumah itu, bukan Ratih. Inara tidak habis pikir, kenapa Bima akhirnya berubah pikiran, padahal dulu dia tak menerima kehamilan Ratih.Itu yang membuat Inara merasa percaya diri. Apa mungkin Bima berubah karena provokasi dari keluarganya?Ah, tidak mungkin!Ratih tidak pernah di anggap penting oleh keluarga Chandrawinata, kecuali Oma Trisna. Hanya perempuan lanjut usia itu yang menyayangi Ratih. Dan kini Oma Trisna sudah meninggal dunia. Harusnya Ratih juga di depak dari keluarga itu, bukannya malah di anggap ratu.Atau jangan-jangan Bima sudah sudah mulai jatuh cinta dengan Ratih?!Itu kemungkinan paling pahit, tapi boleh jadi
Bab 57: Ambisi dan Benang Kusut"Dari mana Kakak tahu soal Ratih?" Melvin tersentak, tangannya gemetar hingga isi kaleng minumannya nyaris tumpah ke sofa baru yang mahal itu. Matanya menatap Inara dengan penuh selidik dan kecurigaan yang mendalam.Inara tertawa sumbang, tawa yang menyimpan kepahitan sekaligus kebencian yang mendarah daging. "Tahu dari mana?" Sepasang matanya menyoroti sang adik, sembari terus melanjutkan ucapannya. "Melvin, wanita itu adalah alasan kenapa hidupku hancur! Dia istri Adhyaksa Bima Sakti Chandrawinata, pria yang seharusnya menikahiku kalau saja dia tidak mendadak berubah pikiran demi bayi di rahim perempuan itu!"Kali ini Melvin benar-benar melepaskan minuman kaleng dari genggamannya. Dia menaruhnya di meja dekat sofa, lalu memutar tubuhnya, menghadap pada sang kakak"Jadi... Bima itu pria yang selama ini kamu bangga-banggakan? Pria yang kamu bilang akan menjadikanku adik ipar konglomerat?!" Nafas Melvin sedikit terengah. Dia sangat terkejut. Namun malah
Bab 56: Benang Merah yang TersembunyiLayar televisi di kamar Ratih menyala, menampilkan kerumunan wartawan yang memadati pelataran pengadilan. Di tengah kepungan lampu flash, sosok Lukas berdiri tegap dengan setelan jas hitam yang rapi. Wajahnya tenang, kontras dengan narasi presenter berita yang menggebu-gebu.Ini kasus besar, yang menyita perhatian semua orang di negeri ini, mengalahkan kasus politik atau berita bencana banjir di ujung barat negeri ini. Sebagian pengamat bahkan bilang, jika kasus ini sengaja di buat viral, agar perhatian masyarakat bisa teralihkan.Seorang pria muda dengan kemeja putih polos dan celana bahan berwarna hitam berada di sampingnya. Wajah polosnya tak bisa menyembunyikan ekspresi bingung dan resah. Dilihat sekilas saja, dari gerak geriknya dan caranya berbicara, jelas pria ini bukan pelaku. Dia korban salah tangkap dan sasaran.Sementara pelaku sebenarnya?Entahlah. Pantas jika Lukas dan tim membela mati-matian, mereka mengajukan gugatan pra peradilan
Bab 55: Makan Siang Penuh SandiwaraMeja makan besar di ruang makan utama terasa tegang, meskipun hidangan capcay telur puyuh dan ayam kecap yang mengepul tampak menggiurkan. Nasi hangat mengepulkan uap tipis-tipis. Ternyata bi Siti memang pandai memasak, dan sesuai dengan instruksinya. Ratih sudah mencicipi sedikit sebelum menuangkan lebih lanjut ke piringnya. Perempuan itu sesekali mengusap perutnya. Rasa pegal di pinggang kadang terasa, apalagi kaki dan betisnya mulai sedikit bengkak.Ratih, Vina, dan Alma duduk bersama, sebuah pemandangan langka yang dipaksakan oleh situasi baru. Namun, itu adalah keharusan. Ratih dan Vina harus melewati sesi perkenalan ini sebelum akhirnya bermain lebih jauh.Bi Siti berdiri di dekat meja, siap melayani, mengamati dinamika baru di rumah itu dengan cermat."Wah, Bi Siti masakannya enak sekali! Ratih, kamu beruntung banget punya suami yang pengertian begini, sampai nyiapin juru masak hebat kayak Bi Siti," puji Vina dengan nada yang dibuat-buat cer







