Share

Talak (1)

Author: Jannah Zein
last update Huling Na-update: 2025-11-27 13:34:05

Bab 2

Senjataku hanya Oma. Oma Trisna, perempuan tua yang paling menyayangiku di dalam keluarga besar Chandrawinata. Namun sayang, kondisinya saat ini sedang sakit-sakitan. Oma menderita penyakit jantung dan kini tengah menjalani pengobatan di salah satu rumah sakit jantung terbaik di negara ini.

Namun ingatanku tentang kondisi kesehatan Oma segera menyentak kesadaran dan akal sehat. Oma Trisna mengidap penyakit jantung, yang itu artinya beliau tidak boleh menerima berita buruk dalam bentuk apapun, apalagi soal rencana Bima yang akan segera menceraikanku.

Oh... Ya Tuhan!

Aku menghela nafas panjang, resah sendiri, tak tahu harus berbuat apa.

"Silahkan saja mengadu, atau ucapan kamu yang membuat kondisi Oma drop lebih awal!"

"Oh, ya?" Aku menatap dua sejoli itu bergantian. "Aku pikir memang seharusnya kita mempertimbangkan bagaimana kondisi Oma. Baiklah, aku tidak akan mengadu kepada Oma. Biarkan saja Oma mendengar sendiri jika di acara anniversary pernikahan kita nanti malam, jika ternyata cucunya yang paling ia banggakan ini sedang mengumumkan perceraian, dan seorang wanita lain akan dijadikan sebagai tunangannya. Aku rasa itu sudah cukup." 

Aku bangkit, dan bermaksud akan pergi. Rasanya tidak perlu berlama-lama di tempat seperti neraka ini. Namun ternyata Bima malah menjegal tanganku.

"Kita akan pulang bersama-sama, setelah mengantarkan Inara pulang ke rumahnya!"

Aku memutar tubuhku dengan kasar melihat dengan jelas kilatan api dari sepasang mata pria itu.

Namun, jangan harap aku menyerah begitu saja, sudah cukup selama dua tahun ini aku mengalah sebagai istrinya. Memang pernikahan kami resmi, diakui oleh agama atau pun negara, Tapi tetap saja itu tidak ada artinya bagi keluarga Chandrawinata, bahkan tidak sedikit yang menyangka jika ternyata pewaris besar perusahaan keluarga itu sudah memiliki istri, karena aku memang jarang dibawa ke acara-acara yang diselenggarakan oleh perusahaan. Keberadaanku sebagai Nyonya Adhyaksa Bima Sakti tidak mudah terdeteksi, kecuali di kalangan keluarga besar saja ataupun orang-orang yang dekat dengan keluarga besar itu.

"Kamu pikir aku mau?!" bentakku. Sudah cukup kata-kata ini menghancurkan hatiku, jadi kurasa tidak perlu lagi bermanis-manis dengan perempuan satu ini, perempuan yang barusan ikut mengamini ucapan suamiku.

"Asal kamu tahu, Inara. Aku tidak pernah merebut Bima dari kamu, tetapi kamu sendiri yang menyerahkan Bima kepadaku, ditambah lagi Oma Trisna memang menyukaiku sejak kecil, jadi tidak ada salahnya jika kami berjodoh. Kerja sama antara dua perusahaan pun sudah terjalin dengan sangat lama. Dan ingat, kamu harus melewati tantangan itu sebelum nantinya berhasil menjadi nyonya Bima!" Aku menepis kasar tangan suamiku, lalu mengambil tasku dan berlari dari tempat ini.

Menapaki anak-anak tangga seolah seperti meluncur turun ke jurang terdalam. Aku sadar, ancaman hanya sekedar ancaman, dan mungkin akan sulit untuk terealisasi. Hanya Oma Trisna yang menyukaiku, sisanya tidak, bahkan orang tuanya Bima, mertuaku tidak mempercayaiku sama sekali.

"Jangan kekanak-kanakan, Ratih! Kamu pikir dengan pergi begitu saja, kamu sudah berhasil menekan Indra?! Naif sekali cara berpikirmu!"

Kedua tanganku kembali terkunci dan sosok tinggi besar itu berdiri tepat di belakangku tanpa jarak, bahkan desahan nafasnya seolah seperti anak-anak panah yang bersiap menikam jantung ini.

"Apa maksudku belum jelas?! Kalau kamu ingin bersama perempuan itu, ya silahkan, tapi jangan pernah mimpi dia bisa menjadi Nyonya Adhyaksa Bima Sakti. Aku pastikan itu! Pernikahan bukan sesuatu yang mesti kita permainkan. Aku menghargainya sejak memutuskan untuk menikah denganmu, meskipun pada kenyataannya mungkin cuma aku yang mencintaimu, sedangkan cintamu sudah habis buat Inara." Entah kenapa kali ini aku kembali melemah. Suara serak dan mata yang berkaca-kaca. "Biarkan aku pergi, Mas. Setidaknya aku tidak perlu menyaksikan kalian bersama. Biarkan aku pulang sendirian, karena di luar sana kamu pasti ingin bebas, kan? Tetapi jangan harap kamu bisa menceraikanku. Aku tidak akan pernah tanda tangan surat perjanjian pra perceraian!"

Inara tidak akan pernah mendapatkan Bima dengan mudah, itu tekadku. Mungkin raganya iya, tetapi tidak dengan status. Ini bukan karena soal harta, tapi soal harga diri. Harga diri seorang istri. 

Jikalau memang Inara mencintai Bima, buktikan saja. Aku sangsi, apakah cinta tanpa status itu bisa bertahan lama atau tidak. 

"Kamu akan menjadi simpanan selamanya, Inara. Kita lihat saja nanti!" Meski hatiku sesak, lagi-lagi aku mengibaskan tangan Bima, lalu melanjutkan langkahku dan kali ini rupanya Bima tidak lagi mengejar, karena sepasang tangan mulus itu sudah melekat manja di lengannya. 

Senyum pria itu lantas terkembang begitu hangat. Bima bahkan merangkul pinggang Inara sangat mesra. Itu pemandangan terakhir sebelum aku benar-benar pergi meninggalkan tempat itu.

***

Aku berdandan sebaik mungkin, membiarkan tim MUA mengeksekusi wajahku. Gamis longgar namun anggun dengan jilbab pashmina yang jatuhnya begitu lembut di kepalaku menambah kecantikanku malam ini, meskipun aku tahu kecantikan itu tidak sanggup menawan hati seorang Bima. Dia masih saja terobsesi dengan cinta pertamanya. 

"Cantik sekali Kakak ini. Pantas saja Pak Bima terlihat begitu berbahagia. Kalian memang pasangan yang serasi," puji salah satu diantara mereka.

"Aku baru tahu kalau Pak Bima itu sudah punya istri. Pantas saja istrinya diumpetan, karena ternyata cantik banget. Takut kali kalau ada yang naksir." 

Aku hanya tersenyum manis mendengar celotehan mereka, lalu mengucapkan terima kasih. Aku pergi dengan langkah perlahan. Tidak ada rasa bahagia sama sekali, bahkan langkahku terasa berat, karena tahu setelah ini akan ada drama di keluarga Chandrawinata, karena Oma Trisna juga berhadir bahkan menjadi bintang di acara malam ini.

Akankah Bima benar-benar menceraikanku malam ini dan mengumumkan Inara sebagai tunangannya?

Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi oma Trisna.

Aku sudah menolak tanda tangan di dalam berkas perjanjian perceraian, di mana setelah kami resmi bercerai, nanti aku akan mendapatkan sebuah rumah, mobil, dan uang tunai, yang konon katanya diberikan sebagai bentuk kompensasi menjadi istrinya selama dua tahun terakhir ini.

Aku tidak menyangka ternyata Bima mengukur semuanya dengan materi. Sangatlah tidak sebanding dengan cinta dan pengabdianku sebagai seorang istri.

Pandangan orang-orang yang tertuju kepada kami saat pembawa acara memanggil. Kami saling bergandengan tangan menuju sebuah kue yang begitu besar, yang terpajang di tengah-tengah ruangan bertuliskan angka 2.

Kami bahkan melakukan apa yang seharusnya dilakukan, memotong kue dan saling menyuapi.

Lalu pria itu mengambil mikrofon dan kemudian mulai bersuara. 

"Dalam kesempatan ini, saya meminta maaf kepada dua keluarga besar, terutama kepada istri saya Ratih Anjarwati Pramudita, untuk mengumumkan keputusan yang sudah saya buat dan kami setujui bersama. Malam ini saya menyatakan menceraikan Ratih Anjarwati Pramudita dengan talak satu!"

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Setelah Menceraikanku, Dia Merayakannya    Suara Azan dan Sumpah Sang Penguasa

    Bab 60: Suara Adzan dan Sumpah Sang PenguasaSuara tangisan kecil pecah di ruang operasi yang dingin. Melengking, namun terdengar lemah, seolah bayi itu pun merasakan perjuangan hidup dan mati ibunya. Dokter Harto segera menyerahkan bayi merah yang masih berlumuran darah itu kepada tim dokter spesialis anak.Melvin, dengan dada yang bergemuruh, mengikuti langkah suster ke ruang resusitasi bayi yang berada tepat di sebelah ruang operasi. Di sana, bayi perempuan yang mungil itu diletakkan di bawah pemanas. Melvin mendekat, matanya berkaca-kaca melihat garis wajah bayi itu—sebuah perpaduan antara ketegasan Bima dan kelembutan Ratih.Pertahanan Melvin runtuh seketika. Anak ini adalah pengikat, bagaimanapun situasi hubungan kedua orang tuanya. Serumit apapun hubungan Bima dan Ratih, nyatanya mereka masih suami istri.Dia cuma orang luar yang mencoba mencari celah untuk masuk, sama seperti kakaknya. Tapi gagal. Cinta boleh cinta, tapi nyatanya takdir tidak berpihak kepadanya. Bagaimana bis

  • Setelah Menceraikanku, Dia Merayakannya    Taruhan Nyawa di Meja Operasi

    Bab 59: Taruhan Nyawa di Meja OperasiDi ruang rapat lantai 20 gedung Chandrawinata Tower, suasana yang semula tenang mendadak pecah. Ponsel pribadi Bima yang tergeletak di atas meja kayu jati itu bergetar hebat. Nama "Vina" menyala di layar. Bima mengernyit, ia tahu Vina tidak akan meneleponnya di jam kerja kecuali terjadi kiamat kecil di rumahnya."Maaf, interupsi sebentar," ujar Bima dingin kepada para kolega bisnisnya. Dia berbalik menuju meja kayu jati di samping tempatnya berdiri, tempat asisten pribadinya sedang duduk sembari memantau jalannya pertemuan.Dia meraih benda pipih itu penuh ketergesaan. "Ada apa, Vina? Aku sedang sibuk!""Mas Bima! Ratih... Ratih pendarahan hebat! Dia jatuh, Mas! Sekarang kami sudah sampai di Rumah Sakit Medika!" Suara Vina terdengar pecah di antara isak tangisnya.Jantung Bima seakan berhenti berdetak sesaat. Wajahnya yang semula kaku kini memucat. "Bagaimana bisa?! Saya sudah bayar orang untuk menjaganya!""Inara datang ke sini dan membuat kerib

  • Setelah Menceraikanku, Dia Merayakannya    Tragedi Di Ambang Pintu

    Bab 58: Tragedi di Ambang PintuTaksi yang membawa Inara berhenti tepat di depan gerbang tinggi perumahan elit The Royal Residence. Begitu turun, Inara langsung melangkah menuju Blok A Nomor 1. Sebuah rumah megah dengan arsitektur modern minimalis berdiri angkuh di sana.Perasaannya campur aduk. Geram, sakit hati, sekaligus iri. Seharusnya dia lah yang ada di rumah itu, bukan Ratih. Inara tidak habis pikir, kenapa Bima akhirnya berubah pikiran, padahal dulu dia tak menerima kehamilan Ratih.Itu yang membuat Inara merasa percaya diri. Apa mungkin Bima berubah karena provokasi dari keluarganya?Ah, tidak mungkin!Ratih tidak pernah di anggap penting oleh keluarga Chandrawinata, kecuali Oma Trisna. Hanya perempuan lanjut usia itu yang menyayangi Ratih. Dan kini Oma Trisna sudah meninggal dunia. Harusnya Ratih juga di depak dari keluarga itu, bukannya malah di anggap ratu.Atau jangan-jangan Bima sudah sudah mulai jatuh cinta dengan Ratih?!Itu kemungkinan paling pahit, tapi boleh jadi

  • Setelah Menceraikanku, Dia Merayakannya    Ambisi Dan Benang Kusut

    Bab 57: Ambisi dan Benang Kusut"Dari mana Kakak tahu soal Ratih?" Melvin tersentak, tangannya gemetar hingga isi kaleng minumannya nyaris tumpah ke sofa baru yang mahal itu. Matanya menatap Inara dengan penuh selidik dan kecurigaan yang mendalam.Inara tertawa sumbang, tawa yang menyimpan kepahitan sekaligus kebencian yang mendarah daging. "Tahu dari mana?" Sepasang matanya menyoroti sang adik, sembari terus melanjutkan ucapannya. "Melvin, wanita itu adalah alasan kenapa hidupku hancur! Dia istri Adhyaksa Bima Sakti Chandrawinata, pria yang seharusnya menikahiku kalau saja dia tidak mendadak berubah pikiran demi bayi di rahim perempuan itu!"Kali ini Melvin benar-benar melepaskan minuman kaleng dari genggamannya. Dia menaruhnya di meja dekat sofa, lalu memutar tubuhnya, menghadap pada sang kakak"Jadi... Bima itu pria yang selama ini kamu bangga-banggakan? Pria yang kamu bilang akan menjadikanku adik ipar konglomerat?!" Nafas Melvin sedikit terengah. Dia sangat terkejut. Namun malah

  • Setelah Menceraikanku, Dia Merayakannya    Benang Merah Yang Tersembunyi

    Bab 56: Benang Merah yang TersembunyiLayar televisi di kamar Ratih menyala, menampilkan kerumunan wartawan yang memadati pelataran pengadilan. Di tengah kepungan lampu flash, sosok Lukas berdiri tegap dengan setelan jas hitam yang rapi. Wajahnya tenang, kontras dengan narasi presenter berita yang menggebu-gebu.Ini kasus besar, yang menyita perhatian semua orang di negeri ini, mengalahkan kasus politik atau berita bencana banjir di ujung barat negeri ini. Sebagian pengamat bahkan bilang, jika kasus ini sengaja di buat viral, agar perhatian masyarakat bisa teralihkan.Seorang pria muda dengan kemeja putih polos dan celana bahan berwarna hitam berada di sampingnya. Wajah polosnya tak bisa menyembunyikan ekspresi bingung dan resah. Dilihat sekilas saja, dari gerak geriknya dan caranya berbicara, jelas pria ini bukan pelaku. Dia korban salah tangkap dan sasaran.Sementara pelaku sebenarnya?Entahlah. Pantas jika Lukas dan tim membela mati-matian, mereka mengajukan gugatan pra peradilan

  • Setelah Menceraikanku, Dia Merayakannya    Makan Siang Penuh Sandiwara

    Bab 55: Makan Siang Penuh SandiwaraMeja makan besar di ruang makan utama terasa tegang, meskipun hidangan capcay telur puyuh dan ayam kecap yang mengepul tampak menggiurkan. Nasi hangat mengepulkan uap tipis-tipis. Ternyata bi Siti memang pandai memasak, dan sesuai dengan instruksinya. Ratih sudah mencicipi sedikit sebelum menuangkan lebih lanjut ke piringnya. Perempuan itu sesekali mengusap perutnya. Rasa pegal di pinggang kadang terasa, apalagi kaki dan betisnya mulai sedikit bengkak.Ratih, Vina, dan Alma duduk bersama, sebuah pemandangan langka yang dipaksakan oleh situasi baru. Namun, itu adalah keharusan. Ratih dan Vina harus melewati sesi perkenalan ini sebelum akhirnya bermain lebih jauh.Bi Siti berdiri di dekat meja, siap melayani, mengamati dinamika baru di rumah itu dengan cermat."Wah, Bi Siti masakannya enak sekali! Ratih, kamu beruntung banget punya suami yang pengertian begini, sampai nyiapin juru masak hebat kayak Bi Siti," puji Vina dengan nada yang dibuat-buat cer

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status