Share

Tidak Akan Semudah Itu, Inara

Author: Jannah Zein
last update Last Updated: 2025-11-27 13:46:10

Bab 6

Aku berlari menuju kamar mandi karena tak tahan dengan gejolak di dalam perutku. Entah kenapa bau badan Bima begitu menyengat. Padahal selama ini aku merasa baik-baik saja. Tidak ada riwayat penyakit maag yang parah, walaupun kadang makanku tidak teratur lantaran sering stres menghadapi sikap Bima, apalagi sejak rencana kepulangan Inara, yang berakhir dengan pertemuan kami di bandara waktu itu.

Aku mengeluarkan seluruh isi perutku, sampai akhirnya yang tersisa cuma air saja.

Tubuhku lemas, lunglai seluruh persendianku.

Seorang sipir menangkap tubuhku yang limbung, lalu berkata, "mari kita ke klinik. Sepertinya kamu sedang kurang sehat."

"Terima kasih, Bu," sahutku lirih.

Wanita berseragam itu membimbingku berjalan menuju sebuah ruangan yang disebut dengan klinik. Seorang dokter jaga muncul dari ruang dalam dan mengisyaratkan kepadaku untuk berbaring.

Dia mengukur denyut nadi tensi kemudian meminta izin untuk menyingkap pakaian yang sedang aku kenakan.

"Sudah berapa lama bu Ratih tidak kedatangan tamu bulanannya?" tanyanya tiba-tiba.

Aku pun berusaha mengingat-ingat. Memang sudah lama aku tidak mendapatkan tamu bulananku. Terakhir mungkin sekitar 3 bulan yang lalu, ah aku sendiri agak lupa, karena selama ini Bima selalu rutin menggunakan pengaman jika kami sedang berhubungan intim, jadi aku merasa cukup aman.

Aku pikir telatnya menstruasiku karena efek stres dan pikiran lantaran kepulangan Inara yang menjadi momok di dalam rumah tangga kami.

"Kemungkinan Ibu sedang hamil. Ayo kita periksa sekarang. Bisa berjalan ke kamar mandi sendiri, kan?" Perempuan itu segera mengambil sebuah wadah dan sebuah tespect, lalu menyerahkannya kepadaku.

Aku mengerti apa maksudnya. Aku mengerti prosedur ini, jadi dengan langkah tertatih, aku pun berjalan menuju kamar mandi yang terletak tidak jauh dari ruangan itu. Aku menampung urineku, lalu mencelupkan benda kecil itu dengan hati yang berdebar

Benar. Garis dua, positif. Aku segera membawa benda itu kembali ke hadapan sang dokter.

"Dokter Syifa, ternyata garis dua." Aku melapor dengan bibir bergetar dan rasa yang entah seperti apa.

Bagaimana mungkin aku bisa melanjutkan kehamilan dan membesarkan bayi di dalam penjara?

Aku tahu, aku tidak salah, tetapi kekuasaan keluarga Chandrawinata cukup besar yang bisa membeli hukum dengan sangat mudah. Meski berhubungan dekat, tetapi kemungkinan setelah kematian Oma Trisna hubungan antar keluarga sudah tidak lagi seperti dulu. Itu prediksiku saja. Terbukti mereka berani memenjarakanku. Bayangkan saja jika aku dipenjarakan oleh mereka, sementara oma Trisna masih ada.

***

"Apa aku harus percaya denganmu?! Atau mungkin kamu berpikiran jika kehamilanmu ini bisa merubah keputusanku?!" Pria itu menggeleng keras. "Tidak, Ratih. Aku tidak akan merubah keputusan yang sudah aku buat bersama dengan Inara."

"Mungkin kamu berjuang untuk rumah tanggamu, tapi aku harus berjuang untuk cintaku. Kita punya kepentingan masing-masing," beber pria itu dengan angkuhnya.

Hari ini lagi-lagi mereka datang setelah kemarin gagal membujukku.

Aku sengaja menyampaikan kehamilanku dengan harapan jika Bima mengurungkan niatnya. Namun ternyata pria itu tidak bergeming.

"Gugurkan segera! Mumpung baru 3 bulan, jangan sampai lebih dari itu. Mumpung belum ditiup roh, jadi tidak termasuk dalam pasal pembunuhan!"

"Kamu pikir aborsi itu bukan pasal pembunuhan?!" Kali ini aku benar-benar marah.

"Pria macam apa kamu?! Dengar Mas, menghilangkan titik kehidupan di dalam rahim seorang perempuan itu haram hukumnya!

"Ini dosa besar, Mas!" Aku mengangkat tangan. Ingin rasanya menampar pria itu, tapi aku urungkan. Kekuasaan keluarga Chandrawinata terlalu besar, sementara aku tidak bisa melawan mereka karena papaku pun tidak perduli padaku. Dia hanya peduli pada Atika dan Moana, dan juga perusahaannya, yang merupakan satu-satunya alasan yang menyebabkan dia sangat marah ketika tahu aku bercerai dari Bima. Keluarga Chandrawinata merupakan penyokong dana terbesar perusahaan yang dimiliki oleh keluarga Pramudita.

"Aku rasa ini ada benarnya. Ini hanya saran yang paling realistis, Ratih. Karena mau tidak mau, suka tidak suka, kalian harus berpisah. Mas Bima pasti tidak mau kamu terbebani dengan kehadiran anak itu nantinya. Benar kan, Mas?" ujar Inara, seolah ia yang paling bijaksana di antara kami bertiga.

"Lagi pula aku tidak akan memberikan kompensasi apapun atau membiayai anak itu. Kamu harus mengurusnya sendiri, membiayai sendiri. Selain yang tertera di dalam surat perjanjian, aku tidak bisa memberikan apapun. Hubungan kita benar-benar selesai, tak ada kaitan apapun, termasuk hak anak dan lain sebagainya."

"Aku juga tidak butuh apapun dari kamu. Aku hanya tidak ingin kita bercerai secara resmi, dan aku tidak akan pernah tanda tangan...." Suaraku lagi-lagi bergetar menyadari kilatan api dari sepasang mata pria itu.

"Benar-benar keras kepala! Apa perlu aku memaksamu untuk menggugurkan kandunganmu?!" Pria itu menggeram. Dia menekan bahuku, lalu tatapannya yang tajam seolah ingin menelanku bulat-bulat. "Kamu sedang hamil dan penjara bukan tempat yang tepat untuk wanita hamil sepertimu. Aku bisa membantumu keluar dari penjara, asal kamu mau tanda tangan! Memang, aku bisa saja mengurus perceraian tanpa surat perjanjian ini, tetapi kalau itu aku lakukan, sama saja dengan mencoreng reputasi keluarga Chandrawinata yang anti perceraian. Kamu paham?!"

"Jadi bekerja sama lah dengan baik kepadaku. Kita bercerai saja secara baik-baik. Toh, kita sama-sama saling diuntungkan. Kamu bisa keluar dari penjara ini membesarkan anakmu dan hidup bebas, atau aku akan memaksa dokter di penjara ini untuk menggugurkan kandunganmu, dan kamu akan tetap membusuk di penjara selamanya. Itu yang kamu inginkan, Ratih?!"

Ku balas tatapannya, tatapan yang dulu ku kira adalah cinta dan penerimaan, setelah aku menyerahkan diriku utuh kepadanya. Tapi ternyata tidak. Dia benar-benar ingin menyingkirkanku, terlebih wanita yang berada di sampingnya, Inara.

Dulu Inara begitu baik kepadaku karena tahu jika aku berteman baik dengan Bima, tetapi sikapnya sekarang sungguh berubah, hanya karena aku tidak mau memberikan suamiku kepadanya.

Dia sendiri yang memberikan Bima, menyuruhku menikah dengan Bima yang bahkan tanpa suruhan dari Inara pun aku akan tetap menikah dengan Bima karena oma Trisna yang menjodohkan kami.

"Tidak akan semudah itu, Inara," gumamku dalam hati. Tetapi saat ini aku tidak punya pilihan. Aku harus keluar dari penjara demi kehidupan kecil di perutku.

Aku menarik nafas panjang, mengangkat bahu, lalu berkata, "baiklah, mana yang harus aku tanda tangani?"

Bima memberikan map itu dan aku membacanya sekilas, sedikit kaget karena ternyata isi perjanjian itu berubah. Hanya yang jelas aku tidak mendapatkan apa-apa, sebagai kompensasi yang sebelumnya ia janjikan, tetapi hanya sekedar kebebasan dari penjara, bebas segala tuduhan sebagai pelaku perbuatan tidak menyenangkan kepada Oma Trisna yang berujung dengan hilangnya nyawa perempuan tua itu.

Aku mengangguk lemah, pasrah agar semuanya cepat berakhir.

Aku membubuhkan tanda tangan itu dengan cepat, lalu kembali menyerahkan kepada dua sejoli itu, lalu kembali berkata, "aku sudah tanda tangan, jadi segera tarik laporan kalian."

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Suryat
semangat Ratih..kamu pasti bisa sukses tanpa Bima si kampret..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Setelah Menceraikanku, Dia Merayakannya    Rahasia di balik Meja Makan

    Bab 111: Rahasia di Balik Meja RestoranNotifikasi dari nomor asing. Ratih menyerngitkan keningnya. Nomor ponselnya ini tidak banyak yang tahu, paling-paling hanya orang-orang yang berada di sekelilingnya, seperti Sarita dan Lukas. Selebihnya adalah sopir, dan petugas keamanan di rumah mereka, termasuk Tari dan Anita.Lalu siapa yang berani menghubunginya tengah malam begini? Tidak mungkin Melvin, bukan? Dia dan Melvin sudah lama tidak saling menghubungi, dan malam ini untuk kedua kalinya mereka bertemu dalam situasi yang nyaris sama, gara-gara Arisya. Dia pun sudah menghapus nama Melvin di nomor kontak pribadinya. Dan pria itu pun juga tidak pernah menghubunginya, dia menepati janjinya pada Bima untuk tidak lagi berhubungan dengan Ratih."Ratih, apa benar Arisya tengah dirawat di rumah sakit? Melvin bilang, barusan jika kamu tengah berada di rumah sakit dan kalian bertemu."Perempuan itu tersentak. Tangannya gemetar mengklik profil pengirim pesan dan wajah cantik Vina muncul di layar

  • Setelah Menceraikanku, Dia Merayakannya    Kehadiran Yang Tak Diundang

    Bab 110: Kehadiran yang Tak DiundangBima terpaku sejenak, tangannya masih menggantung di udara saat Melvin menyambar Arisya dan berlari kencang menuju selasar IGD. Ada desiran panas yang membakar dadanya, campuran antara kekhawatiran pada putrinya dan kecemburuan lama yang mendadak bangkit. Namun, jerit tangis Arisya yang kian melengking memaksanya membuang harga diri. Dia berlari menyusul, diikuti Ratih dan Anita yang terengah-engah."Ya Tuhan... Kenapa harus bertemu dengannya?" keluh Bima dalam hati. Sempat ingin menyalahkan sopir yang membawa mereka ke rumah sakit ini, tetapi ia urungkan karena Bima sendiri yang menginstruksikan sopir untuk membawa mereka ke rumah sakit yang terdekat. Kondisi putri mereka sangat mengkhawatirkan, Arisya terlihat lemah, namun tangisannya sungguh melengking, menyayat hati.Masih terbayang di benaknya foto dan video yang dikirimkan Alma kepadanya tempo hari. Memang bukan foto dan video yang memperlihatkan kemesraan, tetapi setiap kali mendapati istrin

  • Setelah Menceraikanku, Dia Merayakannya    Benang Merah yang Menegang

    Bab 109: Benang Merah yang MenegangDeru baling-baling helikopter membelah sunyi malam di pulau terpencil itu. Debu dan pasir beterbangan saat tim medis keluar dengan sebuah tandu. Mereka dengan sigap merengsek masuk ke dalam bangunan kayu sederhana, langsung menuju ke ruangan dimana Anya dirawat, dan kondisinya kini sudah tak sadarkan diri."Kalian mau apa?" jerit Inara. Tangannya berusaha menggapai tubuh tak sadarkan diri itu, namun tangannya langsung ditangkap oleh William, pria itu menghempaskan tangan Inara dengan lembut."Tolong jangan halangi, Nona. Kami ditugaskan oleh Tuan Harry untuk mengevakuasi ibu Tracy agar bisa dirawat di fasilitas kesehatan yang lebih baik." Pria itu memberi isyarat kepada anak buahnya untuk mengangkat tubuh kurus itu ke dalam tandu, dan membawanya keluar dari klinik sederhana ini.Sementara dia memegang tangan Inara kembali, menghalangi agar Inara jangan sampai menyentuh tubuh Tracy yang kini sudah dibawa keluar. Sebuah helikopter sudah stand by di de

  • Setelah Menceraikanku, Dia Merayakannya    Bertahanlah

    Bab 108: Bertahanlah Melvin terpaku menatap dua garis merah di tangannya. Rasa lelah yang menggelayuti bahunya seketika luruh, digantikan oleh ledakan euforia yang tak terbendung. Tanpa membuang waktu, ia langsung merengkuh tubuh Vina dan menggendongnya ala bridal style, memutar tubuh istrinya di tengah dapur yang harum aroma kue."Vina! Benarkah ini?" Melvin menghujani wajah Vina dengan kecupan bertubi-tubi. "Terima kasih, Sayang. Ini hadiah ulang tahun terindah yang pernah aku terima seumur hidupku!"Namun, beberapa saat kemudian tawa bahagianya langsung mereda, Melvin menurunkan Vina perlahan. Tatapannya berubah sendu saat tangannya mengelus perut rata sang istri. "Tapi... maafkan aku, Sayang. Aku merasa bersalah. Kondisiku sekarang bahkan belum selesai koas. Bayi kita mungkin akan lahir tepat saat aku menjalani program internship yang melelahkan. Aku takut belum bisa memberikan kemewahan atau waktu yang cukup untukmu dan anak kita nanti."Pria itu menghela nafas. Realita yang cuk

  • Setelah Menceraikanku, Dia Merayakannya    Garis Dua

    Bab 107: Garis Dua Di ruang kerja yang remang, Sarita menatap Bima dengan sorot mata yang tak goyah. "Bima, ini bukan tentang hantu masa lalu. Ini tentang masa depan Ratih," suara Sarita tenang namun penuh penekanan."Aku dan Bang Harry sudah berkomitmen. Membangun kembali perusahaan manufaktur itu adalah bentuk dukungan tertinggi kami untuk Ratih. Aku ingin dia menjadi sosok pengusaha wanita yang disegani, persis seperti ibunya dulu. Aku tidak mau melihat adikku terus-menerus menunduk dan dihina oleh keluarga Chandrawinata hanya karena dianggap sebagai beban atau sekadar 'titipan' dari mendiang Nyonya Trisnawati.""Kau ingin menjadikan Ratih seperti Ibu Anya?" tanya Bima, suaranya parau. Dia tidak menyangka Sarita akan berpikiran seperti itu. Ratih memang memiliki pendidikan tinggi, minimal pernah kuliah. Namun sepertinya Ratih tidak memiliki bakat untuk menjadi seorang pengusaha seperti ibunya dulu. Mimpi Ratih hanya satu, bisa menikah dengan Bima dan menjadi ibu rumah tangga.​"Bu

  • Setelah Menceraikanku, Dia Merayakannya    Bidak Catur

    Bab 106: Bidak CaturRatih masih mematung di tengah ruangan, pelukannya pada Arisya mengerat, seolah bayi itu adalah satu-satunya pegangan realitasnya. "Kalian bicara seolah ini bidak catur," suaranya bergetar. "Apakah mungkin Papa bisa dikendalikan? Sepuluh tahun dia menjadi budak cinta Atika. Apa kalian yakin modal ini tidak akan berakhir di meja judi atau butik mewah Moana lagi?""Apa kamu meragukan kami? Apakah kamu pikir kami akan membiarkan uang sebesar itu menguap begitu saja tanpa laporan yang jelas?! Tidak, Dek," ujar Sarita dengan suara yang bergetar. Keraguan Ratih cukup masuk akal, karena Ratih tahu persis bagaimana papanya tunduk begitu saja dengan perempuan yang telah merebut papanya dari ibu kandungnya ini."Aku hanya tidak ingin membawa-bawa kak Sarita dalam perkara keluarga kami. Kak Sarita sudah terlalu banyak direpotkan, akunya yang nggak enak, Kak."Melihat keraguan Ratih, Bima dan Sarita justru saling melempar senyum penuh arti, lalu melakukan tos di hadapan Ratih

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status