Share

Tolong Jangan Mempersulit

Penulis: Jannah Zein
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-27 13:42:26

Bab 5

"Suami Anda mungkin yang membuat keputusan itu, lalu mengumumkannya di hadapan para tamu undangan di acara anniversary pernikahan kalian yang kedua, tetapi bagaimanapun Anda adalah akar dari segala masalah ini yang membuat nenek mertua Anda akhirnya meninggal dunia lantaran syok dengan keputusan suami Anda. Wajar jika semua orang menyalahkan anda, karena mereka akan berpikiran Anda merupakan istri yang tidak becus. Sudah tahu nenek mertua anda memiliki riwayat penyakit jantung dan sedang dalam proses pengobatan, kenapa tidak bisa mengontrol suami Anda agar tidak mengumumkan perceraian di hadapan neneknya?" Tatapan pria di hadapanku ini seolah mengulitiku hidup-hidup. 

Dia bertindak sebagai penyidik, tetapi dari caranya menyelidiki kasus ini, membuat kesan seolah sedang menghakimiku.

Kenapa semua orang menyalahkanku, sementara segala sesuatu yang terjadi di luar kontrol?

Bagaimana mungkin aku bisa mengontrol seseorang yang cintanya sudah habis untuk cinta dan kekasih pertamanya?

"Tapi tetap saja suami saya juga bersalah. Dia lah yang membuat pengumuman itu. Boleh jadi saya yang menjadi pemicunya, tetapi di mana letak kesalahan saya? Dia sendiri yang berniat untuk menceraikan saya, tanpa peduli dengan perasaan oma-nya sendiri? Saya sudah memperingatkan, tapi dia tetap nekat, karena dia ingin menikah secara resmi dengan mantan kekasihnya yang sekarang sudah kembali ke negara ini." Aku membeberkan dengan rinci, menjawab semua tuduhan yang di alamatkan kepadaku. 

Akan tetapi, tetap saja aku tidak punya bukti jika aku tidak terlibat dalam masalah ini. 

Aku hanya menjelaskan bahwa aku sudah berusaha untuk mempertahankan rumah tanggaku sesuai amanat oma Trisna, tapi nyatanya suamiku sudah menalakku, dan mungkin sebentar lagi akan menikah dengan Inara. Aku sudah menjelaskan tentang perselingkuhan suamiku dengan Inara. Tapi semua bantahan itu tidak ada artinya. Tetap saja akhirnya aku dikirim ke sel tahanan, dengan dalih menunggu penyelidikan lebih lanjut.

Tubuhku yang remuk redam dan dan semua rasa lelah fisik dan jiwaku membuatku akhirnya berbaring di lantai yang dingin ini. Tak terbayangkan jika akhirnya aku harus tidur di tempat ini, di sel yang sempit. Beruntung hanya ada aku di ruangan ini.

Ruangan ini cukup terisolir, tidak seperti sel tahanan yang lain yang dihuni beramai-ramai.

Malam kembali datang dan diantara remang, aku menatap langit-langit ruangan.

Aku mengenang semuanya sampai akhirnya kelebatan demi kelebatan seperti puzzle yang berserakan, membentuk suatu kesimpulan yang membuatku akhirnya sampai di titik ini. 

Dari pagi sampai malam aku berada di sel tahanan,tetapi tidak ada seorangpun yang peduli, bahkan papaku sendiri. Bahkan Papa tidak menengokku ataupun sekedar menitipkan pesan simpatik.

Aku bahkan tidak sempat membawa ponsel, jadi aku tidak bisa menghubungi mereka. Akan tetapi rasanya tidak mungkin juga pihak kepolisian tidak menghubungi orang tuaku.

Sudahlah. Dari awal papa memang tidak lagi peduli denganku. Papa hanya lebih peduli dengan Atika dan Moana, adik tiriku. Belakangan akhirnya aku mengetahui jika sebenarnya Moana bukanlah anak tiri papa, tetapi anak kandung papa, karena Atika sebenarnya dulu merupakan istri simpanan papa yang memang tidak bisa masuk ke dalam lingkup keluarga besar Pramudita kecuali setelah ibuku meninggal dunia.

Atau jangan-jangan ibuku meninggal karena ada keterkaitan dengan Atika? Ya, mengingat wanita itu begitu berambisi untuk menjadi nyonya besar di keluarga Pramudita.

Aku baru menyadari sekarang dan mirisnya kesadaran ini datang setelah aku berada di titik terendah dalam hidupku. Lagi pula aku tidak memiliki bukti keterkaitan antara Atika dengan kematian ibuku yang terasa amat mendadak.

Keesokan harinya seorang petugas wanita datang dan memintaku untuk mengikutinya ke ruangan utama.

"Mau apa kalian kemari?!"

Aku kira yang datang cuma Bima seorang, tetapi ternyata perempuan itu juga ada di sana.

"Waktuku tidak banyak, Ratih, jadi tolong kerjasamanya. Jangan terlalu keras kepala. Tanda tangani surat perjanjian kita, setelah itu aku akan mengurus perceraian kita ke pengadilan. Lagi pula Oma Trisna sudah meninggal, tidak ada lagi yang mengganjal dalam hubungan kita. Kamu mau ya?" Nada suaranya terdengar lunak, sementara Inara menyodorkan map berisi surat perjanjian itu.

Aku menatap benda itu sebentar, kemudian mengambilnya dari tangan Inara, lalu membukanya.

Ternyata drafnya masih sama seperti yang disodorkan oleh Bima tempo hari.

"Tolong jangan mempersulit. Ini demi kebaikan kita bersama. Kalaupun kamu ingin memaksakan diri untuk tetap menjadi istriku, semua itu hanya akan menyiksamu. Pikirkanlah dengan benar, Ratih. Cinta itu tidak bisa dipaksakan," ujar Inara dengan bijak, meski terdengar jika perempuan itu berkata hanya untuk kepentingan dirinya sendiri.

Tentunya dia tidak mungkin membiarkan dirinya hanya sebagai istri simpanan untuk selamanya. Kedepannya pasti Inara harus menguasai harta dan dan perusahaan keluarga Chandrawinata. Kurasa dia cukup cerdas untuk hal yang satu itu. Masa iya seorang perempuan yang mengenyam pendidikan tinggi di luar negeri tidak memiliki perhitungan tersendiri?

Dia pasti tidak mau hanya makan dengan cinta!

Untuk apa juga datang ke negara ini dan repot-repot merusak rumah tangga orang lain, kalau tidak memiliki perhitungan keuntungan yang jelas? 

Rumah tanggaku dan Bima memang terasa hambar, seperti timpang sebelah. Namun tidak seharusnya Inara merusaknya, perempuan itu masih memiliki nurani dan akal yang baik. Andai Inara dan Bima tidak menjalin hubungan jarak jauh, barangkali akibatnya tidak akan begini. Seharusnya mereka sudah selesai sejak lama, dan jika dipaksakan pun, belum tentu juga ibunya Bima yang bernama Chintya itu mau menerima Inara sebagai menantu. Sangat tidak mudah untuk bisa masuk ke dalam keluarga besar Chandrawinata.

Aku hanya beruntung, bisa menjadi menantu keluarga Chandrawinata karena merupakan kesayangan oma Trisna.

"Cinta memang tidak bisa dipaksakan, tetapi bisa dibangun dengan pelan-pelan dengan pondasi logika dan akal sehat. Itulah cinta yang benar, Inara. Sayangnya Mas Bima sendiri yang menutup diri dan malah terus berhubungan sama kamu. Ya, mungkin aku wanita bodoh yang mau saja menikah dengan pria yang jelas-jelas mencintai wanita lain. Aku yang mengira jika kalian sudah selesai dan tidak lagi berhubungan. Aku baru tahu sekarang." Aku menutup map itu dan kembali menyerahkannya kepada Inara. 

"Ambil saja. Aku tidak butuh, dan aku tidak perlu tanda tangan. Bukannya Mas Bima sudah menalakku? Apa itu kurang cukup?" Aku menatap mereka bergantian, pura-pura tidak paham.

"Aku butuh tanda tanganmu untuk mengurus perceraian kita agar aku bisa segera menikah dengan Inara."

"Kalau kamu ingin menikah dengan Inara, silahkan saja. Bukankah aku sudah kamu talak secara agama? Jadi nikahilah Inara secara agama pula. Kita impas, bukan?"

"Bima...." rengek perempuan itu.

"Kamu benar-benar keras kepala?!" Tatapan tajamnya begitu menusuk, membuatku tiba-tiba saja merasa mual, mual yang teramat sangat. Perutku begitu bergejolak.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Suryat
aku kok kesel ya sama si Ratih,jadi perempuan kok gak ada harga dirinya..
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Setelah Menceraikanku, Dia Merayakannya    Rahasia di balik Meja Makan

    Bab 111: Rahasia di Balik Meja RestoranNotifikasi dari nomor asing. Ratih menyerngitkan keningnya. Nomor ponselnya ini tidak banyak yang tahu, paling-paling hanya orang-orang yang berada di sekelilingnya, seperti Sarita dan Lukas. Selebihnya adalah sopir, dan petugas keamanan di rumah mereka, termasuk Tari dan Anita.Lalu siapa yang berani menghubunginya tengah malam begini? Tidak mungkin Melvin, bukan? Dia dan Melvin sudah lama tidak saling menghubungi, dan malam ini untuk kedua kalinya mereka bertemu dalam situasi yang nyaris sama, gara-gara Arisya. Dia pun sudah menghapus nama Melvin di nomor kontak pribadinya. Dan pria itu pun juga tidak pernah menghubunginya, dia menepati janjinya pada Bima untuk tidak lagi berhubungan dengan Ratih."Ratih, apa benar Arisya tengah dirawat di rumah sakit? Melvin bilang, barusan jika kamu tengah berada di rumah sakit dan kalian bertemu."Perempuan itu tersentak. Tangannya gemetar mengklik profil pengirim pesan dan wajah cantik Vina muncul di layar

  • Setelah Menceraikanku, Dia Merayakannya    Kehadiran Yang Tak Diundang

    Bab 110: Kehadiran yang Tak DiundangBima terpaku sejenak, tangannya masih menggantung di udara saat Melvin menyambar Arisya dan berlari kencang menuju selasar IGD. Ada desiran panas yang membakar dadanya, campuran antara kekhawatiran pada putrinya dan kecemburuan lama yang mendadak bangkit. Namun, jerit tangis Arisya yang kian melengking memaksanya membuang harga diri. Dia berlari menyusul, diikuti Ratih dan Anita yang terengah-engah."Ya Tuhan... Kenapa harus bertemu dengannya?" keluh Bima dalam hati. Sempat ingin menyalahkan sopir yang membawa mereka ke rumah sakit ini, tetapi ia urungkan karena Bima sendiri yang menginstruksikan sopir untuk membawa mereka ke rumah sakit yang terdekat. Kondisi putri mereka sangat mengkhawatirkan, Arisya terlihat lemah, namun tangisannya sungguh melengking, menyayat hati.Masih terbayang di benaknya foto dan video yang dikirimkan Alma kepadanya tempo hari. Memang bukan foto dan video yang memperlihatkan kemesraan, tetapi setiap kali mendapati istrin

  • Setelah Menceraikanku, Dia Merayakannya    Benang Merah yang Menegang

    Bab 109: Benang Merah yang MenegangDeru baling-baling helikopter membelah sunyi malam di pulau terpencil itu. Debu dan pasir beterbangan saat tim medis keluar dengan sebuah tandu. Mereka dengan sigap merengsek masuk ke dalam bangunan kayu sederhana, langsung menuju ke ruangan dimana Anya dirawat, dan kondisinya kini sudah tak sadarkan diri."Kalian mau apa?" jerit Inara. Tangannya berusaha menggapai tubuh tak sadarkan diri itu, namun tangannya langsung ditangkap oleh William, pria itu menghempaskan tangan Inara dengan lembut."Tolong jangan halangi, Nona. Kami ditugaskan oleh Tuan Harry untuk mengevakuasi ibu Tracy agar bisa dirawat di fasilitas kesehatan yang lebih baik." Pria itu memberi isyarat kepada anak buahnya untuk mengangkat tubuh kurus itu ke dalam tandu, dan membawanya keluar dari klinik sederhana ini.Sementara dia memegang tangan Inara kembali, menghalangi agar Inara jangan sampai menyentuh tubuh Tracy yang kini sudah dibawa keluar. Sebuah helikopter sudah stand by di de

  • Setelah Menceraikanku, Dia Merayakannya    Bertahanlah

    Bab 108: Bertahanlah Melvin terpaku menatap dua garis merah di tangannya. Rasa lelah yang menggelayuti bahunya seketika luruh, digantikan oleh ledakan euforia yang tak terbendung. Tanpa membuang waktu, ia langsung merengkuh tubuh Vina dan menggendongnya ala bridal style, memutar tubuh istrinya di tengah dapur yang harum aroma kue."Vina! Benarkah ini?" Melvin menghujani wajah Vina dengan kecupan bertubi-tubi. "Terima kasih, Sayang. Ini hadiah ulang tahun terindah yang pernah aku terima seumur hidupku!"Namun, beberapa saat kemudian tawa bahagianya langsung mereda, Melvin menurunkan Vina perlahan. Tatapannya berubah sendu saat tangannya mengelus perut rata sang istri. "Tapi... maafkan aku, Sayang. Aku merasa bersalah. Kondisiku sekarang bahkan belum selesai koas. Bayi kita mungkin akan lahir tepat saat aku menjalani program internship yang melelahkan. Aku takut belum bisa memberikan kemewahan atau waktu yang cukup untukmu dan anak kita nanti."Pria itu menghela nafas. Realita yang cuk

  • Setelah Menceraikanku, Dia Merayakannya    Garis Dua

    Bab 107: Garis Dua Di ruang kerja yang remang, Sarita menatap Bima dengan sorot mata yang tak goyah. "Bima, ini bukan tentang hantu masa lalu. Ini tentang masa depan Ratih," suara Sarita tenang namun penuh penekanan."Aku dan Bang Harry sudah berkomitmen. Membangun kembali perusahaan manufaktur itu adalah bentuk dukungan tertinggi kami untuk Ratih. Aku ingin dia menjadi sosok pengusaha wanita yang disegani, persis seperti ibunya dulu. Aku tidak mau melihat adikku terus-menerus menunduk dan dihina oleh keluarga Chandrawinata hanya karena dianggap sebagai beban atau sekadar 'titipan' dari mendiang Nyonya Trisnawati.""Kau ingin menjadikan Ratih seperti Ibu Anya?" tanya Bima, suaranya parau. Dia tidak menyangka Sarita akan berpikiran seperti itu. Ratih memang memiliki pendidikan tinggi, minimal pernah kuliah. Namun sepertinya Ratih tidak memiliki bakat untuk menjadi seorang pengusaha seperti ibunya dulu. Mimpi Ratih hanya satu, bisa menikah dengan Bima dan menjadi ibu rumah tangga.​"Bu

  • Setelah Menceraikanku, Dia Merayakannya    Bidak Catur

    Bab 106: Bidak CaturRatih masih mematung di tengah ruangan, pelukannya pada Arisya mengerat, seolah bayi itu adalah satu-satunya pegangan realitasnya. "Kalian bicara seolah ini bidak catur," suaranya bergetar. "Apakah mungkin Papa bisa dikendalikan? Sepuluh tahun dia menjadi budak cinta Atika. Apa kalian yakin modal ini tidak akan berakhir di meja judi atau butik mewah Moana lagi?""Apa kamu meragukan kami? Apakah kamu pikir kami akan membiarkan uang sebesar itu menguap begitu saja tanpa laporan yang jelas?! Tidak, Dek," ujar Sarita dengan suara yang bergetar. Keraguan Ratih cukup masuk akal, karena Ratih tahu persis bagaimana papanya tunduk begitu saja dengan perempuan yang telah merebut papanya dari ibu kandungnya ini."Aku hanya tidak ingin membawa-bawa kak Sarita dalam perkara keluarga kami. Kak Sarita sudah terlalu banyak direpotkan, akunya yang nggak enak, Kak."Melihat keraguan Ratih, Bima dan Sarita justru saling melempar senyum penuh arti, lalu melakukan tos di hadapan Ratih

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status