分享

Setelah Pisah Ranjang, Suamiku Baru Mengejar Cinta
Setelah Pisah Ranjang, Suamiku Baru Mengejar Cinta
作者: Anonara

KENYATAAN PAHIT

作者: Anonara
last update publish date: 2026-09-07 17:35:33

"Nyonya yakin mau masuk? Tapi Tuan Sean bisa marah.” 

Nada kekhawatiran Fiska terdengar jelas. Namun, Gyana hanya menoleh lalu mengangguk singkat. Seolah-olah peringatan perempuan berseragam maid itu bukanlah hal yang bisa menunda keinginannya malam ini. 

Di tangannya sudah terdapat paperbag kecil dengan logo brand barang mewah. Hadiah ini adalah kado anniversary pernikahan pertama untuk Sean. Sengaja Gyana siapkan sejak tiga bulan yang lalu. 

Semesta sudah berpihak padanya dengan Sean pulang lebih cepat dari biasanya malam ini. Gyana tentu saja tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. 

Kini Gyana dan Fiska sudah berada di depan ruang pribadi Sean—suaminya. Pintu mahogany yang berdiri tegak dengan gagah di depan mereka ini menampilkan aura dominan yang sama dengan pemilik ruangan. 

“Biarkan saya sendiri kali ini. Bibi bisa langsung istirahat,” ucap Gyana, kembali fokus menatap pintu. “Terima kasih sudah memberikan kunci ruangannya, Bi.”

Seulas senyum tipis pun muncul di bibir Gyana, berusaha meyakinkan Fiska bahwa ia akan baik-baik saja. 

Fiska mengangguk pasrah. “Baiklah. Saya permisi dulu, Nyonya.” 

Setelah kepergian Fiska, Gyana menarik napas lebih dalam. Kemudian menghembuskannya perlahan. Berusaha menenangkan ritme napasnya yang berderu lebih cepat. 

“Tenang, Gya. Kamu hanya perlu meletakkan kado ini di meja lalu pergi,” ucap Gyana pelan. 

Setelah dirasa siap, perlahan Gyana menyentuh handel pintu dan mendorongnya perlahan. Kedua sudut bibir Gyana tertarik lega, pintu itu tidak terkunci. Setidaknya Gyana tidak perlu mengganggu Sean dengan suara yang ditimbulkan ketika ia memutar kunci. 

Gyana masuk dengan penuh hati-hati. Tatapan penuh waspada mulai ia layangkan. Dalam hati ia sangat berharap saat ini Sean sedang berada di kamar mandi atau tidak benar-benar di ruangan yang belum pernah Gyana masuki itu. 

Kosong. Gyana tidak menemukan Sean di hadapannya. Helaan napas lega lolos begitu saja. 

Ruangan cukup besar dengan nuansa gelap itu terasa mengintimidasi Gyana. Tidak banyak furniture di sana. Aroma maskulin khas Sean menusuk hidung Gyana. Tempat ini menggambarkan sosok pendiam suaminya. 

Pandangan Gyana tidak terlalu memperhatikan interior ruangan. Seperti niat awalnya, ia hanya perlu meletakkan hadiah Sean lalu pergi. 

Namun, belum sempat kaki Gyana melangkah lebih dekat dengan meja kerja Sean, matanya lebih dulu menangkap pemandangan yang tiba-tiba menyesakkan dada. 

Jantung Gyana bertalu lebih cepat. Napas seakan berhenti dan tangannya mulai berkeringat dingin. Beruntung ia masih bisa mengendalikan diri agar kakinya tidak langsung lemas. Bibirnya terkatup rapat, tidak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun. 

Sebuah figura berukuran besar terpajang indah di dinding. Tampak begitu menawan dan memikat hati yang memandang. Tidak hanya ukuran bingkai foto yang indah, tetapi sosok yang berada dalam foto pun membuat mata betah memandangnya. 

Di sana, seorang gadis tersenyum dengan raut sangat bahagia. Tampak begitu serasi dengan gaun putih yang membungkus tubuhnya dengan sempurna. Di tangannya sebuah bouquet menambah kesan kebahagiaan yang tercipta. Cahaya matahari keemasan di sekitar gadis itu ikut memberi efek sorot yang natural pada sosoknya. 

Jika tidak mengenal siapa sosok di dalam foto itu, Gyana pasti menyangka bahwa gadis itu adalah pengantin sungguhan. 

Sayangnya Gyana jelas masih mengingat bahwa foto itu diambil saat Tania menjadi muse gaun pernikahan satu tahun yang lalu. 

Senyuman Tania memang terlihat menawan di foto itu. Tetapi tidak untuk Gyana. Senyuman itu seperti sedang mengejeknya dengan terang-terangan. 

‘Dibandingkan dengan foto gadis ini, mengapa tidak foto pernikahannya yang dipajang? Apakah seburuk itu dirinya sehingga sang suami harus memajang foto gadis lain di ruang pribadinya?’ 

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepala Gyana. Sesak dadanya semakin membuat napas Gyana tercekat. 

Ruangan ini mendadak terasa sempit untuk Gyana. Trauma masa lalu kembali menghantui dirinya secara perlahan. Genggamannya pada tali paperbag pun semakin erat. Seolah-olah hanya itu yang bisa Gyana jadikan sebagai penopangnya saat ini. 

Tidak. Gyana tidak bisa berada di sini lebih lama. Napasnya memburu semakin cepat. Ia harus segera berbalik untuk keluar. Namun, saat Gyana berbalik dan hendak keluar, langkahnya mendadak terhenti saat mendengar suara lirih seseorang yang berasal dari sisi kiri ruangan. 

Tepat di sebuah sofa dengan penerangan temaram. Mata Gyana memicing, memastikan suara siapa yang terdengar menyedihkan itu. 

Kemudian Gyana menyadari bahwa itu adalah suaminya, Sean. 

‘Mengapa dia bisa tertidur di sini? Suaranya juga terdengar serak. Apakah dia sakit?’ 

Beragam pertanyaan mulai terpikirkan oleh Gyana. Seingatnya, Sean jarang sengaja tidur di ruangan ini. Jika diingat-ingat pun, malam ini menjadi malam terlama Sean menghabiskan waktu di sini. 

Gyana melangkah menuju ke arah Sean. Suara lirih Sean itu membuat Gyana penasaran. Meski hatinya hancur, mendengar lirih kesakitan Sean membuat Gyana khawatir. 

Kini Gyana sudah berdiri di dekat Sean. Tangannya terulur hendak menyentuh kening sang suami. Namun, belum sempat tangannya menyentuh kening Sean, sebuah nama yang sangat Gyana kenali itu keluar dari bibir suaminya. 

Nama yang menjadi jawaban akan foto yang terpajang indah di ruangan pribadi Sean. 

“Tania….” 

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Setelah Pisah Ranjang, Suamiku Baru Mengejar Cinta   SEKALIAN SAJA AJAK MANDI BERSAMA

    “Jadi kalian pergi hanya…berdua?” Gyana tertawa kecil saat melihat respon Tania mengetahui bahwa seharian ini Sean bersama dirinya. Dengan tidak tahu malunya Tania malah melayangkan tatapan tidak suka kepada Gyana seolah-olah dirinya istri sah Sean sementara Gyana hanyalah orang ketiga. Saat Gyana dan Sean pertama kali masuk tadi pun, Tania tanpa malunya terus mengerutu karena Sean belum kunjung datang. Perilakunya selayak seorang istri yang menunggu suaminya pulang. Bahkan belum sempat Sean duduk, Tania lebih dulu mendesak Sean dengan berbagai pertanyaan. Sedangkan tidak jauh dari tempatnya, dua pelayan menunduk hormat untuk menghargai tamu yang tidak pernah Gyana harapkan itu. “Kak Sean mengabaikan teleponku hanya karena… Gya?” Suara lirih Tania terdengar menjijikkan di telinga Gyana. Gadis itu menuntut penjelasan dari Sean dengan mendekap lengan Sean tanpa sungkan sedikit pun. Gyana menghela napas lalu merotasikan bola matanya sebelum akhirnya bersuara santai, “Ini hari libu

  • Setelah Pisah Ranjang, Suamiku Baru Mengejar Cinta   GAGAL

    "Gimana? Tuan Muda Sean bersedia datang tidak?” Tania mencoba menghubungi Sean lagi. Namun, hasilnya tetap sama. Panggilan telepon yang ia lakukan sama sekali tidak mendapat respon dari Sean. Pesan-pesan yang Tania kirimkan juga tidak kunjung mendapat balasan. Padahal status pesan yang dia kirim sudah bercentang dua. Tidak biasanya Sean mengabaikannya begini. “Waah, sepertinya Sean sudah tidak memprioritaskan kamu lagi, Tania!” cibir salah satu wanita yang duduk di meja yang sama dengan Tania. “Diam kamu!” sungut Tania kesal. “Kalau memang Kak Sean tidak bisa datang itu karena Kak Sean lagi sibuk. Bukan berarti sengaja tidak memperdulikan aku.” “Karena kamu kalah taruhan itu artinya kamu harus mentraktir kami tas mahal limited edition itu. Dan Tuan Muda Sean yang tidak bisa datang itu artinya kamu yang harus bayar semua termasuk belanjaan kami yang lain.”Ucapan wanita berambut pirang membuat dua wanita lainnya tertawa renyah bercampur seringaian licik semakin membuat wajah Tania

  • Setelah Pisah Ranjang, Suamiku Baru Mengejar Cinta   MENIKMATI WAKTU BERDUA

    “Aku yang melakukan itu, Sean. Bukan para pelayan tidak bersalah itu.” Tangan Gyana dengan cepat dicekal Sean dengan kuat. Tarikan Sean yang kuat dan mendadak membuat Gyana yang tidak bersiap langsung terdorong ke depan dan menubruk dada Sean yang telanjang sebagian. Alhasil, bibir Gyana yang hanya pernah sekali bersentuhan dengan fisik Sean pun mendarat di dada Sean tanpa bisa dicegah. Mata Gyana membulat dan spontan hendak mendorong Sean. Namun, pergerakannya justru ditahan pria itu. Tenaga Sean yang jauh lebih besar dibanding Gyana membuat wanita yang masih memakai pakaian olahraga itu tidak berkutik. Beruntung sekarang mereka sudah berada di kamar Gyana. Sementara para pelayan yang tadi dihukum di depan sudah dibubarkan Sean. “Jelaskan semuanya!” pinta Sean memusatkan pandangannya pada wajah Gyana yang tampak memerah karena selesai berolahraga. Suara dingin dan penuh penekanan membuat Gyana menelan ludah dengan susah payah. Meski sering melontarkan kalimat ketus dan raut din

  • Setelah Pisah Ranjang, Suamiku Baru Mengejar Cinta   PAGI MENCEKAM

    “Nyonya Gyana!” Fiska berlari kecil menghampiri Gyana yang baru saja sampai di teras rumah. Bulir keringat masih membasahi kening dan sekitar sisi wajahnya. Gyana juga belum sempat meneguk minuman untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering. Napas Gyana bahkan masih tersengal-sengal karena baru selesai berlari pagi. “Gawat, Nyonya!” seru Fiska dengan wajah tegang. “Anu… Tuan….”Gyana mengangkat satu alisnya. Mencoba memahami maksud perkataan Fiska yang sepotong-sepotong. Perlahan Gyana mengusap dengan pelan lengan Fiska, berharap wanita itu bisa lebih tenang.“Ada apa dengan Tuan?” tanya Gyana lembut. Ia juga mengiringi Fiska untuk masuk ke rumah. “Coba Bibi jelaskan pelan-pelan.” “Tuan—”“Kalau tidak ada yang berani mengaku saya tidak akan segan-segan memecat kalian semua!” Belum sempat Fiska mengurai penjelasan, suara Sean lebih dulu terdengar dari lantai dua. Alih-alih berbicara dengan nada tenang dan rendah seperti biasa, kali ini suara Sean sangat kentara sedang emosi

  • Setelah Pisah Ranjang, Suamiku Baru Mengejar Cinta   TERTAHAN

    “Kamu tidak boleh mencintai Nael. Rasanya di sini….” Sean menunjuk dadanya. Matanya masih sayu dan suaranya serak serta lirih.. “Tidak rela kamu berdekatan dengan dia.”Guana tidak kunjung menjawab. Malas sekali menanggapi celotehan Sean yang semakin ngawur. Kalau bukan karena pria ini dicari Mike, Gyana mana mau menginjakkan kakinya di tempat sialan ini. Ruang kerja Sean masih sama seperti enam bulan lalu. Bahkan foto Tania masih menempel di dinding dengan begitu menawan. Senyumnya pun masih sama menyebalkan dengan Tania yang asli. “Udah tau nggak bisa minum banyak malah dipaksa,” sungut Gyana seraya melepaskan sepatu Sean. Sebenarnya Gyana sama sekali tidak menduga bahwa Sean masih memakai kemeja, celana dan sepatu kerjanya. Apalagi ini sudah tiga jam dari semenjak pria itu pulang dari kantor. Banyaknya gelas kosong bekas minuman beralkohol itu pun membuat Gyana berasumsi tampaknya kondisi Sean memang tidak baik. Saat pulang tadi pun, Gyana sempat heran melihat penampilan suamin

  • Setelah Pisah Ranjang, Suamiku Baru Mengejar Cinta   KACAU

    "Bunga untuk siapa itu, Bi?” tanya Sean. Pria itu baru saja pulang dari kantor. Berbeda dengan biasanya, malam ini Sean terlihat kacau. Rambut yang biasanya rapi jadi berantakan, tiga kancing kemeja atas sudah terbuka dengan dasi yang sudah tidak terdapat mengikat leher dan jas yang biasanya masih terpakai kini hanya disampirkan di lengan. Aura Sean terasa lebih suram dari biasa. Suaranya juga lebih dingin dan ketus serta matanya yang menatap sinis pada buket bunga besar yang berada di atas meja ruang tengah. Sebuah buket lily putih yang langsung mengundang curiga Sean saat melihat benda tersebut. “Dari kartu ucapannya ditujukan ke Nyonya Gyana, Tuan.” “Dari siapa?” Fiska menggeleng. “Tidak ada nama pengirimnya, Tuan.” Sean berjalan menuju meja. Rasa penasaran membuatnya ingin melihat dari dekat bunga yang ditujukan kepada istrinya tersebut. Namun, tepat saat tangannya hendak menyentuh buket bunga tersebut, suara Gyana lebih dulu menghentikan gerakan Sean. “Jangan sentuh itu,

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status