LOGIN“Semua perhiasan ini disiapkan untukmu.”
“Sengaja aku beli gaun ini untuk kamu. Cantiknya sama dengan kamu.” Gyana tersenyum getir. Kalimat manis yang menyambut Gyana saat pertama kali datang ke rumah ini seketika menari-nari di kepalanya. Sungguh ironis. Kebahagiaan yang sempat menghampiri dirinya ternyata hanyalah bunga tidur. Setelah mendengar Sean memanggil Tania dalam tidur, Gyana lekas pergi dari ruangan itu. Kakinya melangkah cepat menuju kamar. Ruangan yang didominasi dengan warna putih dan merah muda ini mendadak membuat dada Gyana sesak. Pandangan Gyana seketika buram karena air mata saat sampai di kamar. Kakinya lemas dalam sekejap hingga membuatnya tergugu di depan pintu. Sejak awal kamar ini tidak disiapkan untuknya. Pantas saja tidak terdapat foto pernikahan di kamar ini. Meski Gyana beberapa kali menyinggung perihal itu, Sean selalu memiliki alasan untuk tidak memajang foto pernikahan di kamar ini. “Hidupmu memang menyedihkan, Gya,” ucap Gyana lirih. “Selamanya kamu akan menjadi bayangan Tania. Di rumah utama ataupun di rumah ini.” Dalam keheningan malam, Gyana hanya mampu memeluk dirinya sendiri. Tangisannya pelan tetapi menyayat hati. Lututnya dijadikan penopang wajah yang sudah memerah karena menangis. Hingga ia pun lelah dengan mata terpejam secara perlahan. *** “Selamat pagi." Suara bariton itu menyapa pendengaran Gyana, membuat dirinya spontan menoleh singkat. Gyana melangkah santai hingga anak tangga terakhir. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, sosok tampan yang menempati ruang khusus di hatinya duduk dengan penuh wibawa sembari balik menatapnya. Rautnya tenang dengan sorot mata dingin. Selalu seperti itu. Anehnya, dulu Gyana mengira itu tatapan tulus yang hanya diberikan untuk Gyana. “Pagi,” balas Gyana. Dahi Sean berkerut, lalu bertanya,“Kamu sakit?” “Aku baik-baik saja,” jawab Gyana datar, lalu mengayunkan langkahnya menuju meja makan. “Semalam pintu kamar terkunci.” Sean berkata lagi. Dingin. Entah hanya perasaan Gyana saja, nada bicara Sean seperti menahan amarah. “Aku ketiduran,” jawab Gyana singkat, sengaja tidak melakukan kontak mata dengan Sean. Gyana tidak ingin Sean tahu bahwa saat ini kondisinya sedang tidak baik-baik saja. Alasan yang Gyana buat pun tidak lagi ia pikirkan. Meski ia tahu, Sean bisa meminta penjelasan lebih. Apalagi selama ini, Gyana selalu terjaga menunggu pria itu pulang dari kantor. Dan barusan Gyana membuat alasan tidak masuk akal.Sebenarnya Gyana tahu hal itu akan memicu amarah suaminya. Namun, setelah apa yang ia ketahui semalam, rasanya Gyana tidak mampu bersikap biasa saja di depan Sean. Hatinya masih terlalu sakit. Sementara itu, tatapan Sean tetap tertuju pada Gyana. Gerakan tangan pria itu terhenti saat menyadari ada yang lain dari istrinya. Namun, bibir pria itu enggan terbuka. Gyana mengabaikan sikap Sean dan langsung meraih sepotong sandwich. Gerakannya teratur seakan tidak terganggu dengan sosok yang duduk di depannya. Bagi Gyana, mengisi perutnya lebih penting sekarang. Apalagi setelah menangis semalaman. Gyana bahkan perlu mengompres matanya dengan es batu pagi-pagi sekali agar matanya tidak terlihat membengkak. Di saat kunyahan terakhir Gyana ditelan, tiba-tiba saja Sean meletakkan paper bag berwarna hitam di atas meja makan. Kali ini berhasil menyita perhatian Gyana. “Hadiah untukmu. Selamat ulang tahun.” Tanpa menunggu Gyana bertanya, Sean langsung menjelaskan. Tidak ada respon dari Gyana. Jika dulu, Gyana sangat senang jika diberikan hadiah oleh Sean, maka tidak dengan pagi ini. Gyana mendadak membenci hadiah dari Sean. “Kamu tidak tertarik dengan hadiahnya?” tanya Sean menatap Gyana penuh. Gyana memaksakan senyumnya. “Terima kasih hadiahnya.” Piring bekas sarapan Gyana singkirkan, lalu ia segera meraih paper bag itu. Gyana penasaran kali ini benda favorit Tania apalagi yang Sean hadiahkan untuknya. Kata Gyana menangkap kotak perhiasan berwarna cream di dalamnya. Perlahan senyum Gyana pun terbit. Hatinya menghangat saat menyadari kali ini sang suami memberikan hadiah yang tidak ada sangkut pautnya dengan Tania. Tania sangat menyukai warna biru. Bodohnya Gyana baru menyadari bahwa hampir semua hadiah yang Sean berikan kepadanya itu berwarna biru. Sean tersenyum tipis melihat respon baik Gyana. Pria itu lalu memundurkan kursinya lalu berjalan menuju Gyana. “Maaf kali ini warnanya berbeda dengan hadiahmu yang biasa. Aku hanya ingin ini terlihat berbeda.” Gyana mengangguk semangat. Lesung pipi kanannya langsung tampak saat ia tersenyum lebar. “Tidak apa. Aku lebih suka ini,” sahutnya, apalagi saat melihat set perhiasan berkilauan di depannya. Sean meraih kalung dari kotak itu. Jaraknya dengan Gyana begitu dekat. Pertahan Gyana runtuh, jantungnya kembali berdebar saat rambutnya bersentuhan dengan sisi depan kemeja Sean. Wangi maskulin khas parfum Sean pun ikut membuat Gyana salah tingkah. Apalagi saat tiba-tiba tangan Sean terulur membantu menyingkirkan rambut panjang Gyana ke samping. “Bantu aku sebentar. Aku ingin melihatmu memakai kalungnya.” Gyana segera sigap dengan permintaan Sean. Masih dengan rasa bahagia yang menyelimuti hatinya, ia segera mengangkat rambutnya agar memudahkan Sean memasangkan kalung ke lehernya. ‘Sean sudah berubah, Gya. Kamu harus bisa membuatnya menyukaimu.’ batin Gyana bersorak senang. Sakit yang semalam sempat hinggap, kini mulai pergi. Kejutan kecil yang Sean berikan padanya pagi ini membuatnya mulai terhibur. Setelah kalung itu terpasang sempurna, Gyana pun menunjukkannya kepada Sean. “Bagaimana? Apa ini pantas untukku?” Sean mengangguk, terlihat ikut bahagia. “Kalung ini sengaja aku pilihkan untukmu. Dan ternyata memang sangat cocok untukmu.” Gyana mengangguk lagi, kali ini dengan senyum malu-malu. Ia tidak bisa menyembunyikan rona kebahagiaannya. Kalau saja Sean tidak membatasi kontak fisik dengannya, mungkin Gyana akan memeluk pria itu saking senangnya. “Silakan berbahagia, Nona. Aku ada meeting penting pagi ini, jadi tidak bisa menemanimu lebih lama.” Gyana tertawa kecil. Kemudian ikut bergurau, “Baiklah, Tuan. Harus tetap semangat ya, kerjanya.” Sean tidak merespon lagi. Pria itu lekas berbalik dan pergi. Meninggalkan Gyana dengan euforia kebahagiannya. Namun, langkah Sean tiba-tiba terhenti. Tanpa mendekat, pria itu lalu berseru kecil pada Gyana. “Pastikan kamu memakainya malam ini, Gya. Gaunmu akan Mike kirim siang ini.” Kedua alis Gyana bertaut, tidak mengerti. Hingga tiba-tiba bayangan dinner romantis pun muncul di benaknya. “Kamu akan mengajakku makan malam di luar?” “Iya,” jawab Sean. Gyana kembali tersenyum, hingga kalimat Sean selanjutnya meruntuhkan kebahagiaan Gyana dalam sekejap. “Malam ini ulang tahun Tania. Ayahmu meminta kita untuk hadir.” “Aku tidak mau ikut. Kamu pergi saja sendiri.” Jawaban Gyana membuat Sean tersentak.Pagi-pagi sekali Gyana sudah meminta Fiska dan dua pelayan rumah untuk membersihkan ruangan kecil tidak jauh dari kamarnya. Setelah permintaannya untuk bercerai dengan Sean ditolak mentah-mentah, maka Gyana segera menyusun beberapa rencana untuknya memulai hidup yang baru. Selain toko D'Arta Bakery yang akan nanti menjadi tanggung jawabnya, kini ia akan memulai kembali pekerjaannya sebagai content creator. “Tukangnya sudah Bibi hubungi, kan? Nanti teman saya akan ke sini untuk memantau.” tanya Gyana, di tangannya terdapat IPad yang berisi daftar persiapannya untuk membuka studio. Lama vakum sebagai content creator, Gyana harus memulai semuanya dari awal lagi. Apalagi sekarang, banyak sekali orang yang satu profesi dengannya. Gyana harus memutar otak agar tidak kehilangan followers dan menambah followers di akun media sosialnya. Temannya yang bekerja sebagai desain interior Gyana libatkan untuk mengubah ruangan kecil ini menjadi studio seperti yang ia inginkan. Setelah beberapa ha
Riak ketenangan di wajah Haris pun terusik. Kalimat terakhir yang Gyana lontarkan berhasil membuatnya terkejut. Betapa tidak, putri yang enggan ia akui itu kini berdiri di depannya dengan berani dan mengajukan permintaan paling tidak masuk akal. Sudut bibir Haris terangkat samar. Terkesan meremehkan dan sinis. “Jangan bergurau, Gya.” “Aku serius, Ayah. Dan aku berharap Ayah menyetujuinya!” ucap Gyana terpancing dengan respon ayahnya. Beberapa saat setelah Gyana protes, Haris terkekeh. “Kamu yang meminta ingin menikah dengan Sean. Bagaimana bisa sekarang malah meminta cerai? Kamu kira pernikahan kalian hanya sekedar mainan anak muda?” Tatapan Haris langsung tidak ramah. Nada bicaranya pun meski tidak meninggi, tetapi menyimpan amarah. Gyana meremas sisi gaunnya kuat. Gyana jelas mengingat hal itu. Satu tahun yang lalu, ia langsung mengiyakan tanpa paksaan rencana perjodohan itu. Tapi itu ia lakukan hanya demi mendapat pengakuan dan perhatian dari keluarganya. Tanpa berpikir pan
"Aku bahagia sekali malam ini. Dan tentu saja ini juga karena bantuan Kak Sean.” Setelah merasa lebih baik, Gyana keluar kamar. Penampilannya memang tidak serapi tapi, tapi Gyana sengaja keluar sebab masih ada keperluan. Alih-alih langsung sesuai rencana, pemandangan pertama yang ia jumpai justru Tania yang sedang menggandeng lengan Sean. Kaki Gyana berhenti. Diliriknya ke arah sebuah lorong tidak jauh dari kamar Tania, dua manusia yang membuatnya hampir mati itu berada. Posisi mereka memang cukup jauh, tetapi Gyana bisa melihat jelas rona bahagia di wajah Sean. Binar kebahagiaan itu sangat menyakiti hati Gyana. Berkali-kali ia mencoba menahan, tetapi tetap saja sakitnya masih bisa ia rasakan. “Aku turut bahagia, Tania.” Sean tidak sungkan mengusap lembut tangan Tania yang masih bertengger di lengannya. Selama ini Sean tidak pernah sehangat itu memperlakukan Gyana. Tidak hanya itu, meski tidak mengabaikan Gyana, Sean juga sering menjaga jarak darinya. Dulu Gyana berpikir itu kare
"Acara intinya akan kita mulai. Dimohon untuk Nona Tania Danuarta agar berdiri di tempat utama, ya. Sebentar lagi kita akan ke acara tiup lilin dan potong kue.” Suara MC disambut dengan tepuk tangan meriah para tamu undangan menyertai langkah Tania menuju sisi utama acara. “Kira-kira siapa ya yang akan mendapatkan kue potongan pertama dari Nona Tania?” MC tersebut kembali memancing perhatian orang-orang yang hadir. Sedangkan Tania terus menampilkan senyum anggun dan manisnya. Tania terlihat seperti putri berhati malaikat. Tanpa celah. Namun, bagi Gyana sebaliknya. Wajah lembut Tania hanyalah topeng yang berhasil menipu banyak orang. Tania tidak hanya sudah merebut posisinya sebagai putri bungsu di keluarga Danuarta, tetapi juga menghancurkan pernikahannya. “Aku mempersembahkan kue pertama ini untuk Gyana!” Mendengar namanya disebut, Gyana langsung tersentak. Ia yang awalnya berdiri paling ujung di samping Raymond kini menjadi pusat perhatian. “Ke sini, Gya. Kamu juga harus bahag
Gyana hanya bisa diam. Dadanya langsung penuh dan air matanya berkumpul mendesak untuk keluar. Kedua tangannya terkepal kuat dan bibirnya terkatup rapat menahan teriakan. Raymond menatap sinis Gyana. Pria itu sama sekali tidak menunjukkan rasa simpati apalagi iba melihat hancurnya Gyana. Bagi Raymond tidak ada yang lebih penting, kecuali kebahagiaan Tania. Kaki panjang Raymond mendekat. Kedua tangannya dimasukkan ke saku celana hitamnya. Sepatu mahal berhenti tepat beberapa senti dari Gyana. “Sean sudah mengenal Tania lama. Jangan harap kamu bisa mempengaruhi Sean hanya karena dia suami kamu. Bagi Sean, status kalian hanya sebatas di dokumen,” bisik Raymond memojokkan Gyana. Sudut bibir pria itu terangkat. Sorot sinisnya sekalipun tidak pernah luntur sejak Gyana pertama kali datang. Diamnya Gyana membuat Raymond semakin membara untuk membuat adik yang tidak pernah ia anggap itu tidak nyaman. “Bagi kami, termasuk Sean. Kehadiran kamu itu tidaklah penting. Ibarat taman, kamu ha
Gyana menoleh cepat. Satu alis Gyana terangkat, heran dengan putri angkat keluarganya itu. Tania berteriak histeris sembari menggunting gaunnya sendiri. “Ayah tolong!" jerit Tania lagi. Kali ini gerakannya semakin cepat. “Apa yang kamu lakukan, hah?!” bentak Gyana, lalu berjalan menahan pergerakan Tania. “Lepaskan, Tania!”Tania tidak mengindahkan Gyana. Gadis itu terus berusaha merusak gaunnya. Hingga pintu pun terbuka dan bersamaan dengan itu, tiga lelaki muncul. Gunting di tangan Tania dengan cepat berpindah ke Gyana. Belum sempat Gyana bereaksi, Tania lebih dulu berlari menuju Haris dan yang lainnya. Kemudian terisak pilu di pelukan Haris. Tentu saja tangisan itu membuat semua orang heran, termasuk Gyana. Apalagi penampilan Tania yang kacau karena gaunnya yang sudah rusak. “Apa yang terjadi padamu, Tania?” tanya Haris cemas, mengurai pelukannya pada Tania lalu menatap gadis itu lekat. Alih-alih menjawab, Tania justru semakin mengeraskan tangisannya. “Gaunmu mengapa?” Sean b







