Share

PERINGATAN

Author: Anonara
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-07 12:06:52

"Ada yang mau bertemu, Kak!” bisikan disertai raut kekhawatiran Vina—staf keuangan D'Arta langsung menyambut Gyana begitu ia sampai di toko roti.

Kaki Gyana melangkah perlahan memasuki sisi kiri toko menuju tangga. Pikirannya mencoba menerka-nerka siapa kiranya yang datang. Seingatnya ia tidak memiliki janji dengan siapapun sore ini.

“Kamu kenal?” tanya Gyana.

Wanita muda dengan blazer abu-abu itu menggeleng. Tetapi wajahnya tampak ragu. “Tapi aku pernah melihatnya beberapa kali di TV. Seing
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Setelah Pisah Ranjang, Suamiku Baru Mengejar Cinta   HADIAH UNTUK SIAPA?

    “Kelamaan.” Gyana lalu memeluk Nael. Gerakan wanita itu sangat cepat dan dalam hitungan detik mampu membuat Nael mematung di tempat. Wangi segar rambut Gyana yang bercampur air hujan pun tercium jelas di hidungnya. Tubuh mungil itu kini berada dalam dekapannya. Dan tepukan pelan tangan kecil Gyana di punggung Nael tiba-tiba saja membuat jantung Nael berpacu liar. ‘Mi, sepertinya Nael sudah benar-benar terjebak dalam perasaan kepada Gyana.’ batin Nael. Pelukan singkat itu murni hanya untuk menghibur Nael. Gyana mundur selangkah, lalu melipat tangannya. “Aku nggak pandai menghibur orang. Tapi semoga pelukan tadi bisa membuat kamu merasa lebih baik.” Nael mengangguk kecil lalu mengulas senyum tipis. “Terima kasih.” “Iya. Makasih juga udah ngehibur aku di sini.” Gyana pun membalas senyuman itu dengan tulus. Tanpa Gyana sadari, meski dianggap Gyana hanya seperti perhatian kecil, tetapi bagi Nael itu sangat berarti. Hatinya terasa lebih tenang dan lapang. Pelukan Gyana menciptakan r

  • Setelah Pisah Ranjang, Suamiku Baru Mengejar Cinta   BASAH-BASAHAN DI HALTE

    "Kamu bisa pergi, Nael. Aku nggak apa-apa di sini.” Nael menyampirkan jasnya ke bahu Gyana. “Aku akan nemenin kamu di sini. Lagipula hujan-hujan begini sama kamu kayaknya nggak buruk juga.” Gyana melirik Nael dari ekor matanya. Celotehan Nael tidak urung membuat Gyana tertawa. Terlihat aneh memang, beberapa detik yang lalu matanya masih memerah karena menangis dan sekarang bibirnya malah mengukir tawa renyah. “Nah gitu dong!” Nael turut mengulas senyum hangat. Tangan pria itu merapikan jas yang terpasang di bahu Gyana. “Kamu malah cantik kalau lagi senyum begini.” Gyana menghela napas, meredakan sesak di dadanya. Kehadiran Nael yang mendadak duduk di sampingnya sejak beberapa menit yang lalu membuat Gyana terhibur. Bahkan tadi Gyana sampai kelepasan menghamburkan tubuhnya ke dada Nael. Pikirannya sangat kacau pasca keluar dari ruangan ayahnya. Keadaan hatinya semakin memburuk saat melihat Sean datang bersama Tania.

  • Setelah Pisah Ranjang, Suamiku Baru Mengejar Cinta   ANTARA HATI DAN LOGIKA

    "Kita diminta ayah ke ruangannya, Kak. Kamu perginya bareng aku bukan sama Gyana, jadi jangan membuatku malu.” Tania bergerak cepat menahan Sean yang hendak menyusul Gyana. Tanpa Sean ketahui, senyum tipis di bibir merah mudanya perlahan muncul. Keluarnya Gyana dari ruangan sang ayah menandakan bahwa ayahnya sudah melakukan apa yang ia minta. Dan, Tania yakin Gyana tidak akan berani menentang apapun keputusan sang ayah. Kekalutan di hati Tania pun berkurang. Sebentar lagi, dirinya akan kembali menjadi topik hangat di media. Beberapa hari yang lalu, ia sempat menjalani proses pemotretan dan wawancara untuk kepentingan nominasi 100 wanita paling cantik di dunia. Dan, dirinya adalah satu-satunya kandidat dari Jinan. Bukankah itu membanggakan? Tania yakin setelah ini karirnya akan lebih melejit. Ayah dan kakak-kakaknya akan sangat bangga padanya lalu benar-benar melupakan Gyana sebagai putri kandung keluarga mereka. “Tunggu, Tania!” Tiba-tiba saja Sean menginterupsi Tania. Mereka s

  • Setelah Pisah Ranjang, Suamiku Baru Mengejar Cinta   KEMBALI DIUSIK

    "Jadi ada urusan apa Ayah memanggilku ke sini?” tanya Gyana tanpa basa-basi. Setelah sekian lama tidak memijakkan kakinya di ruangan ini, sekarang Gyana berdiri tanpa wajah tertunduk tepat di ruangan yang sempat membuatnya merasa kecil. Logo Arta Group terpampang tegas dan tampak berkilau karena cahaya dari atas. Dulu logo itulah yang sempat membuat Gyana kagum saat pertama kali menginjakkan kaki di ruangan kerja sang ayah. Haris Danuarta menatap tanpa kedip Gyana beberapa saat. Wanita muda yang berdiri di hadapannya tampak berbeda dengan sosok yang datang lima tahun silam. Ah bahkan jauh berbeda dengan Gyana yang hanya menghabiskan waktunya di rumah beberapa bulan yang lalu. Garis wajahnya lembut, sorot matanya penuh percaya diri dan dingin dan kata-kata yang keluar dari bibir yang dipoles warna alami dengan sedikit hint merah itu bukan lagi kalimat protes seperti yang dulu sering Haris dengar. “Kalau Ayah tetap diam, aku akan pergi.” Gyana menatap Haris tanpa takut. Nada bica

  • Setelah Pisah Ranjang, Suamiku Baru Mengejar Cinta   TEKANAN

    "Mereka sudah bertemu Nenek. Dan kamu tahu, Nenek sangat senang dengan hadirnya mereka. Bahkan Nenek langsung memeluk putranya dengan sangat erat.” Perlahan wajah Sean berubah. Punggungnya langsung bersandar di sandaran kursi. Kepalanya semakin terasa berat dan mengikat. Tekanan lebih terasa. Kabar yang diberikan sang mama membuatnya lemas seketika. “Sean kamu dengar Mama tidak?” Nada gusar Dania terdengar jelas dari seberang. “Pokoknya program hamil kamu dan Gyana harus berhasil. Posisi kamu akan tetap aman kalau kamu mempunyai anak!” Lidah Sean mendadak kelu, sedangkan pikirannya sangat berisik dan penuh. Kepala Sean tertunduk dengan satu tangan yang menopang pelipis sembari memijitnya perlahan. Sementara tangannya yang lain masih menahan ponsel di telinga. Ocehan dan tuntutan mamanya terus menggema. Suara lembut sarat dengan penekanan itu semakin membuat ruang kepala dan dada Sean sesak. “Pokoknya kamu harus berhasil menghamili Gyana. Jangan biarkan Gyana semakin dekat dengan

  • Setelah Pisah Ranjang, Suamiku Baru Mengejar Cinta   MEREKA DATANG

    “Selamat pagi, Nyonya Gyana.” Mike buru-buru membukakan pintu mobil seraya tersenyum hormat pada Gyana. Satu alis Gyana terangkat. Asisten pribadi suaminya ini seharusnya sudah berada di kantor jam segini. Tapi mengapa ia justru berada di rumah? Apakah Sean tidak ke kantor? “Saya diperintahkan Tuan Sean untuk mengantarkan Nyonya hari ini. Tapi, yang pertama Tuan ingin anda ke rumah sakit dulu.” Kaki Gyana tidak kunjung berpindah dari tempat berpijak. “Rumah sakit? Sean sakit?” Mike menggeleng cepat. “Tuan sudah di kantor, Nyonya. Kondisinya baik-baik saja.” “Lalu ngapain kamu bawa saya ke rumah sakit?” tanya Gyana bingung. Pintu mobil masih terbuka dengan Mike yang setia berdiri di samping. “Tuan Sean bilang tangan Nyonya perlu diperiksa. Takutnya ada yang parah.” Bibir Gyana hanya membulat membentuk huruf O dengan singkat. Kemudian dengan santainya ia melangkah untuk masuk ke mobil. Namun, sebelum pintu tertutup sempurna, Gyana berhenti dan membuat Mike sempat terkejut. “Lang

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status