LOGIN"Kita diminta ayah ke ruangannya, Kak. Kamu perginya bareng aku bukan sama Gyana, jadi jangan membuatku malu.” Tania bergerak cepat menahan Sean yang hendak menyusul Gyana. Tanpa Sean ketahui, senyum tipis di bibir merah mudanya perlahan muncul. Keluarnya Gyana dari ruangan sang ayah menandakan bahwa ayahnya sudah melakukan apa yang ia minta. Dan, Tania yakin Gyana tidak akan berani menentang apapun keputusan sang ayah. Kekalutan di hati Tania pun berkurang. Sebentar lagi, dirinya akan kembali menjadi topik hangat di media. Beberapa hari yang lalu, ia sempat menjalani proses pemotretan dan wawancara untuk kepentingan nominasi 100 wanita paling cantik di dunia. Dan, dirinya adalah satu-satunya kandidat dari Jinan. Bukankah itu membanggakan? Tania yakin setelah ini karirnya akan lebih melejit. Ayah dan kakak-kakaknya akan sangat bangga padanya lalu benar-benar melupakan Gyana sebagai putri kandung keluarga mereka. “Tunggu, Tania!” Tiba-tiba saja Sean menginterupsi Tania. Mereka s
"Jadi ada urusan apa Ayah memanggilku ke sini?” tanya Gyana tanpa basa-basi. Setelah sekian lama tidak memijakkan kakinya di ruangan ini, sekarang Gyana berdiri tanpa wajah tertunduk tepat di ruangan yang sempat membuatnya merasa kecil. Logo Arta Group terpampang tegas dan tampak berkilau karena cahaya dari atas. Dulu logo itulah yang sempat membuat Gyana kagum saat pertama kali menginjakkan kaki di ruangan kerja sang ayah. Haris Danuarta menatap tanpa kedip Gyana beberapa saat. Wanita muda yang berdiri di hadapannya tampak berbeda dengan sosok yang datang lima tahun silam. Ah bahkan jauh berbeda dengan Gyana yang hanya menghabiskan waktunya di rumah beberapa bulan yang lalu. Garis wajahnya lembut, sorot matanya penuh percaya diri dan dingin dan kata-kata yang keluar dari bibir yang dipoles warna alami dengan sedikit hint merah itu bukan lagi kalimat protes seperti yang dulu sering Haris dengar. “Kalau Ayah tetap diam, aku akan pergi.” Gyana menatap Haris tanpa takut. Nada bica
"Mereka sudah bertemu Nenek. Dan kamu tahu, Nenek sangat senang dengan hadirnya mereka. Bahkan Nenek langsung memeluk putranya dengan sangat erat.” Perlahan wajah Sean berubah. Punggungnya langsung bersandar di sandaran kursi. Kepalanya semakin terasa berat dan mengikat. Tekanan lebih terasa. Kabar yang diberikan sang mama membuatnya lemas seketika. “Sean kamu dengar Mama tidak?” Nada gusar Dania terdengar jelas dari seberang. “Pokoknya program hamil kamu dan Gyana harus berhasil. Posisi kamu akan tetap aman kalau kamu mempunyai anak!” Lidah Sean mendadak kelu, sedangkan pikirannya sangat berisik dan penuh. Kepala Sean tertunduk dengan satu tangan yang menopang pelipis sembari memijitnya perlahan. Sementara tangannya yang lain masih menahan ponsel di telinga. Ocehan dan tuntutan mamanya terus menggema. Suara lembut sarat dengan penekanan itu semakin membuat ruang kepala dan dada Sean sesak. “Pokoknya kamu harus berhasil menghamili Gyana. Jangan biarkan Gyana semakin dekat dengan
“Selamat pagi, Nyonya Gyana.” Mike buru-buru membukakan pintu mobil seraya tersenyum hormat pada Gyana. Satu alis Gyana terangkat. Asisten pribadi suaminya ini seharusnya sudah berada di kantor jam segini. Tapi mengapa ia justru berada di rumah? Apakah Sean tidak ke kantor? “Saya diperintahkan Tuan Sean untuk mengantarkan Nyonya hari ini. Tapi, yang pertama Tuan ingin anda ke rumah sakit dulu.” Kaki Gyana tidak kunjung berpindah dari tempat berpijak. “Rumah sakit? Sean sakit?” Mike menggeleng cepat. “Tuan sudah di kantor, Nyonya. Kondisinya baik-baik saja.” “Lalu ngapain kamu bawa saya ke rumah sakit?” tanya Gyana bingung. Pintu mobil masih terbuka dengan Mike yang setia berdiri di samping. “Tuan Sean bilang tangan Nyonya perlu diperiksa. Takutnya ada yang parah.” Bibir Gyana hanya membulat membentuk huruf O dengan singkat. Kemudian dengan santainya ia melangkah untuk masuk ke mobil. Namun, sebelum pintu tertutup sempurna, Gyana berhenti dan membuat Mike sempat terkejut. “Lang
"Gyana dengar dulu penjelaskanku!” Langkah Gyana tidak berhenti. Telinganya seakan tuli. Bibirnya masih terkatup enggan untuk sekedar menjawab. Gyana sengaja tidak berbalik meski hanya sebentar. “Nael itu tidak sebaik yang kamu kira."Saat menyebut nama Nael, barulah Gyana berhenti. Satu tangannya masih menopang tangan yang terluka. Kemudian Gyana berbalik, menatap dingin Sean. “Kamu nggak berhak menilai Nael."Sean tercekat. Kemarahan Gyana tidak main-main. Hanya mendengar wanita itu bicara, Sean bisa menebak bahwa Gyana keberatan dengan pendapat Sean tentang Nael. Fakta yang menyakitkan untuk Sean. Selama ini Gyana hanya memusatkan perhatian kepada Sean. Meski kerap Sean nomorduakan, Gyana tidak pernah memasang wajah kecewa meski hanya satu kali. Dan malam ini Sean melihat sendiri Gyana rela terluka hanya demi membela pria lain di depannya. “Gya aku nggak sengaja. Kamu juga nggak seharusnya berada di situ tadi. Bagaimana jika Nenek tahu kalau kamu pulang malam dengan pria lain
“Jangan tegang, Gyana. Aku pernah menjadi pembalap kok, jadi jangan khawatir dengan keahlian mengemudiku,” gurau Nael sengaja mencairkan ketegangan yang tercipta di antaranya dan Gyana. Gyana menoleh dan berusaha bersikap biasa. “Maaf merepotkan kamu.” Nael tertawa pelan, seakan-akan mengantar Valerie dan Gyana bukanlah hal berat. Padahal Gyana sudah hampir mati kutu duduk di samping pria itu. “Jangan lupa pasang sabuk pengamannya.” Gyana merutuki kealpaannya. Akibat rasa gugup yang menyergap dirinya, ia bahkan lupa dengan hal sepenting itu. Gyana meletakkan tas di pangkuannya lalu menarik seatbelt dengan tenang. Namun, ketenangannya tiba-tiba berubah panik. Seatbelt tersebut sulit sekali dijangkau. Gyana berusaha menariknya, tetapi semesta seperti sedang mempermainkannya karena tali benda itu malah tersangkut di sela sandaran. “Maaf, biar aku bantu, ya.” Nael tiba-tiba saja sudah memiringkan tubuh dan mendekat pada Gyana. Gyana spontan membeku. Napasnya tertahan, meski hidungn







