Share

Bab 3

Author: Yiyi
Aku berkata dengan nada datar, “Jangan terlalu percaya diri. Ini bukan demi dirimu”

Aku sudah lama ingin mewarnai rambutku menjadi ungu, bukan keputusan yang muncul tiba-tiba.

Theo kembali menatap rok pendekku. “Ini juga bagian dari trik barumu?”

Aku tidak menggubrisnya dan berbalik pergi.

Aku punya sepasang kaki yang lurus dan ramping. Sejak kecil aku sering dipuji karena bentuknya yang indah. Rok pendeklah yang paling cocok untukku. Hanya saja, karena Theo menyukai gaya yang polos dan sederhana, aku jadi tidak pernah memakainya.

Theo yang hanya menatap punggungku. Tatapannya tetap dingin, namun tangan yang menggenggam ponsel itu justru mengencang.

Anna berjalan mendekat lalu meraih tangannya.

“Theo, Annie akhir-akhir ini menjadi sangat memberontak. Bahkan perkataan kakaknya pun tidak didengarkan. Apa dia masih belum bisa menerima pernikahan kita?”

Theo menundukkan pandangannya. “Biarkan saja.”

“Apapun trik yang dipakai untuk menarik perhatian, selama kita mengabaikannya, dia juga tak akan bisa berbuat apa-apa.”

Aku tidak tahu dan juga tidak tertarik untuk mengetahui pembicaraan mereka.

Sore harinya aku keluar, karena Ayah telah mengaturkan seorang pria untuk kencan buta denganku.

Ini adalah pertemuan pertama kami. Seperti yang Ayah katakan, pria ini tidak kalah dari Theo, dalam aspek apa pun.

Kami memiliki banyak topik pembicaraan yang sama, juga minat dan hobi yang serupa.

Pertemuan pertama itu berjalan jauh lebih menyenangkan dari yang kuduga.

Saat pulang, aku melihat Theo duduk di ruang tamu dengan kepala tertunduk.

Di kehidupan sebelumnya aku mencintainya selama bertahun-tahun, lalu hidup dalam pernikahan dengannya selama beberapa tahun. Tak ada yang mengenalnya sebaik diriku.

Begitu melihat raut wajahnya, aku langsung tahu kalau sakit kepalanya kambuh lagi.

Theo selalu menjaga harga dirinya. Dia memilih duduk di sini agar Anna ataupun orang lain tidak melihat kondisinya.

Awalnya aku tidak ingin peduli. Namun setelah beberapa langkah, aku teringat dulu ketika sedang demam tinggi, Theo yang membawakanku obat serta memanggil dokter.

Anggap saja dia adalah tamu, aku hanya perlu menjalankan kewajiban sebagai tuan rumah.

Aku berbalik dan mengambil sekotak obat, lalu menyerahkan padanya.

Saat dia mengangkat kepalanya, mata kami bertemu.

Sepertinya dia tidak menyangka bahwa aku tahu soal sakit kepalanya, bahkan sampai membawakannya obat.

Namun sesaat kemudian, dia mengambil obat itu sambil mencibir. “Kamu berharap aku berterima kasih padamu?”

Aku tidak menggubris sindirannya dan langsung kembali ke kamarku.

Aku juga tidak menyadari tatapan Theo yang semakin dalam dan sulit ditebak saat menatap punggungku.

Dua hari kemudian, Theo datang dengan wajah penuh amarah. Dia melemparkan sebuah celana dalam berenda ke wajahku.

“Annie! Dasar perempuan murahan!”

Aku benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi. Itu memang celana dalamku, tetapi bagaimana bisa ada di tangan Theo?

Aku kebingungan sekaligus merasa sangat malu. “Kenapa ini ada padamu?”

Theo tertawa dingin. “Ini juga trik barumu, ya? Kamu cuma pura-pura menjauh, atau bagaimana?”

“Berpura-pura sudah tidak mencintaiku, tetapi diam-diam masih ingin tidur bersama?”

“Annie! Kamu benar-benar murahan!”

Aku refleks menjelaskan, “Pasti ada kesalahpahaman. Aku tidak meletakkan itu di kamarmu. Kalau aku ....”

Belum sempat selesai berbicara, Theo sudah memotong dengan nada mengejek, “Annie, kamu pikir aku akan memandangmu berbeda dengan trik kecil seperti ini? Di hatiku hanya ada Anna.”

Tatapan Theo padaku semakin dingin, seolah-olah aku adalah seorang pendosa besar.

Dia berbalik pergi dan hanya meninggalkan satu kalimat. “Aku harap kamu memanggilnya nyonya ketua saat bertemu dengan Anna.”

Keesokan harinya, Theo dan Anna pun menetapkan tanggal pernikahan mereka.

Setelah memberitahuku, Anna bahkan datang sambil menangis dan mengaku tidak punya teman. Lalu memintaku untuk menjadi pendamping pengantinnya atas nama hubungan darah.

Aku ingin menolak, tetapi Ayah memanggilku ke ruang baca dan menyuruhku pergi. Aku tidak punya pilihan lain.

Begitu melihatku setuju, Ayah langsung bertanya kapan aku akan mulai mempertimbangkan urusan pernikahanku sendiri.

Aku teringat pria yang kutemui terakhir kali saat kencan buta. Aku menyentuh kalung yang dia berikan padaku, lalu tanpa sadar berkata dengan wajah memerah, “Aku juga sudah punya orang yang kusukai.”

Ayah mengangkat kepala dan menatap kalungku, lalu bertanya dengan ragu, “Siapa?”

Pipiku semakin memerah. “Yang terakhir kali Ayah perkenalkan padaku.”

Ayah tertegun. “Bukankah kamu tidak datang menemuinya?”

Aku terpaku. “Hah?!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Setelah Reinkarnasi, Aku Tidak Lagi Menjadi Penyelamat   Bab 10

    Aku bangkit dan pergi. Dia akhirnya tidak lagi menghalangiku.Beberapa saat kemudian, Theo berdiri di tempat semula sambil bergumam lirih, “Jelas-jelas dulu tidak seperti ini. Kenapa semuanya berubah?”Keesokan harinya, aku berinisiatif menceritakan soal kalung itu pada Dominic.Aku mengira dia akan marah, atau setidaknya mengajakku membuat kalung baru. Tak kusangka, dia justru mengeluarkan sebuah cincin dengan lambang api. “Annie,” katanya lembut. “Sepertinya sudah waktunya hubungan kita berubah.”“Maukah kamu menikah denganku, Annie?”Aku tak percaya dengan apa yang kulihat. Air mataku langsung jatuh, dan mengangguk sambil menangis....Di hari pernikahanku dengan Dominic.Theo datang sambil membawa setangkai bunga matahari. Ia mengenakan setelan jas rapi dan berdiri di hadapanku. “Annie, aku ingat waktu kecil kamu pernah bilang ingin tema bunga matahari di pernikahanmu denganku nanti.”Aku memandangi bunga matahari yang sedang mekar sempurna itu, perlahan memetik satu kelopaknya dan

  • Setelah Reinkarnasi, Aku Tidak Lagi Menjadi Penyelamat   Bab 9

    Setelah itu, aku mulai belajar mengelola urusan keluarga.Mengetahui rumor yang beredar di luar, aku pun mempublikasikan video itu ke hadapan umum. Kurang dari satu hari, reputasiku dan Anna berbalik seratus delapan puluh derajat.Anna menjadi sasaran caci maki semua orang.Ayah dengan tegas menyatakan memutuskan hubungan dengannya. Pada akhirnya, Anna hanya bisa memohon pada Theo agar bersedia menampungnya, demi mengenang budi penyelamatan nyawanya dulu.Sedangkan aku, saat melihat seorang anonim mengirimkan “rumor” tentang Dominic, aku hanya mencibir dan membakarnya ke dalam perapian.Sebagai seorang ketua mafia, reputasi kejam justru merupakan sebuah pujian.Lagipula, aku pernah difitnah. Karena itu, aku lebih percaya pada apa yang kulihat dengan mataku sendiri.Selama kami menjalani hidup dengan baik, itu sudah lebih dari cukup.Adapun Theo, aku kembali bertemu dengannya pada suatu malam.Dia mabuk, entah apa yang dipikirkannya dengan membawa sekelompok orang ke rumah kami dan bers

  • Setelah Reinkarnasi, Aku Tidak Lagi Menjadi Penyelamat   Bab 8

    Theo berdiri lama di luar kamar Annie. Pada akhirnya, dia “dipersilakan” keluar oleh para pelayan.Kalau mengikuti sifat Theo yang dulu, dia pasti sudah pergi sejak awal. Tak ada yang menyangka dia akan sekeras kepala ini.Bahkan dia tetap berdiri di tempat semula dan tidak beranjak hingga larut malam.“Putri, tidak turun?” Seorang pelayan bertanya. “Ketua Theo masih menunggu Anda.”Aku menggeleng. “Kalau dia suka berdiri, biarkan saja. Dia akan pergi sendiri kalau sudah lelah.”Benar saja, tak lama setelahnya, pelayan datang melapor bahwa Theo sudah pergi.Setelah rekaman CCTV dipublikasikan, Ayah merasa sangat kasihan padaku. Dia bahkan memutus semua hubungan dengan Keluarga Luca dan tidak menjalin kerja sama apa pun.Padahal kedua keluarga kami adalah sahabat lama. Perubahan mendadak ini membuat seluruh dunia mafia terus berspekulasi.Pembatalan pernikahan saja sudah cukup mengejutkan, kini hubungannya benar-benar diputus.Beberapa orang yang “tahu” mulai menyebarkan kabar bahwa sem

  • Setelah Reinkarnasi, Aku Tidak Lagi Menjadi Penyelamat   Bab 7

    Tak lama setelah pernikahannya dibatalkan, Anna sangat tidak senang. Awalnya Theo masih menuruti kemauannya dan berusaha menenangkannya.Dia berjanji bahwa pernikahan berikutnya akan digelar lebih megah dan gaun pengantinnya akan dirancang ulang oleh desainer ternama.Dia juga membelikan banyak perhiasan mahal untuk Anna. Namun Anna tetap tidak puas, dia menginginkan lebih.Kesabaran Theo pun habis. “Anna, kenapa kamu menjadi begitu serakah?”Ekspresi Anna langsung membeku. Dia buru-buru memasang wajah menyedihkan.“Aku hanya merasa kasihan padamu. Pernikahan yang sudah kamu siapkan dengan susah payah justru dihancurkan oleh Annie.”Begitu mendengarnya, hati Theo kembali melunak.“Jangan bahas masalah ini lagi. Aku juga sudah menghukum Annie. Anggap saja semua sudah selesai.”Begitu mendengar kata selesai, wajah Anna berubah menjadi menyeramkan.Hanya hukuman sekecil itu?Tidak cukup! Sama sekali tidak cukup!Annie seharusnya dibenci oleh semua orang!Mengapa sejak lahir Annie sudah me

  • Setelah Reinkarnasi, Aku Tidak Lagi Menjadi Penyelamat   Bab 6

    Pemulihan rekaman CCTV-nya membutuhkan waktu. Dominic memanggil tim medis untuk mengobati lukaku.Selama itu, kami sempat berbincang beberapa kata.Aku baru tahu, ternyata dulu Dominic dan aku pernah bersekolah di tempat yang sama, bahkan berada dalam satu organisasi.Hanya saja, saat itu aku terlalu terobsesi pada Theo, hingga tidak menyadari keberadaan orang sebaik Dominic.Di sisi lain, Anna tampak gelisah. Dia mendatangi Theo. “Kak Theo, aku bisa memakai gaun pengantin cadangan. Kamu sudah menyiapkan beberapa gaun khusus untukku, aku pakai salah satunya saja. Semua tamu sudah datang, kita selesaikan dulu upacaranya.”Namun Theo tidak berpikir demikian. Tatapan matanya terus tertuju pada Dominic dan diriku, bahkan ia menghindari tangan Anna yang hendak menyentuhnya.Dia merasakan kejengkelan yang tak bisa dijelaskan, membenci perasaan kehilangan kendali ini.Saat melihat Anna yang tampak lemah dan menyedihkan, entah mengapa justru muncul rasa tidak sabar di hatinya.“Pernikahannya b

  • Setelah Reinkarnasi, Aku Tidak Lagi Menjadi Penyelamat   Bab 5

    Itu Dominic!Aku mencoba melepaskan diri dari pelukan pria itu dengan gemetar. Aku tidak ingin dia mendapat masalah dengan Theo karena diriku.Namun aku tidak menyangka, dia justru melepas jas dan menyelimutkannya ke tubuhku yang nyaris telanjang.Setelah memastikan seluruh tubuhku tertutup rapat, dia mengangkatku dan berjalan keluar.Saat melewati Theo, barulah Dominic meliriknya sekilas.“Aku pacar Annie. Dia adalah pacarku.”“Ke depannya, mohon Ketua Theo menjaga sikap.”Sorot mata Theo semakin gelap, tatapannya terpaku pada sosok Dominic yang menggendongku menjauh.Ketika Dominic berjalan mendekat tadi, Theo bisa melihat dengan jelas kalung di lehernya sama persis dengan yang kupakai.Anna mendekat dan memanggil pelan, “Kak Theo.”Dalam sekejap, ekspresi Theo pun berubah. Tatapan matanya menjadi jauh lebih lembut.Dia menepuk punggung tangan Anna, lalu maju beberapa langkah. “Annie sudah semakin hebat. Bahkan sekarang bisa merayu orang luar untuk membelanya.”“Aku penasaran Putri A

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status