MasukMenurut beberapa orang, hidup akan lebih bahagia jika kita dapat berdamai dengan masa lalu. Sepertinya, itu memang benar, kini aku mulai bisa menerima keberadaan Ayah yang selalu meneleponku setelah pertemuan kami. Aku baru selesai berganti baju dan meraih HPku yang ada di nakas di kamarku. Aku harus menuju bandara untuk menjemput Febi yang hari ini datang ke Korea dan akan tinggal bersamaku, karena dia juga memiliki pekerjaan di sini.Cukup lama aku menunggu hingga sosok yang kutunggu datang dan memelukku. Aku membalas pelukannya dan membantunya menggeret kopernya yang cukup besar. Kami berjalan berdua keluar dari lobi bandara. Kami segera menuju apartemenku. Hanya percakapan ringan yang terjadi di dalam taksi. Kami turun dan masuk ke gedung apartemenku. Aku mempersilakannya masuk ke unit apartemenku.“Gimana Feb?
Hal paling susah untukku adalah berdamai dengan masa lalu yang pelik. Sampai hari ini pun, aku masih enggan untuk berdamai. Hatiku sangat membenci situasi di mana aku harus menangis dan merindu tanpa tahu keadaan sosok yang kurindukan. Saat dia datang seperti ini rasa marahku lebih mendominasi membuatku makin enggan berdamai dengan masa lalu, apalagi setelah dia menceritakan kronologinya. Aku cukup muak melihat dan mendengarkan suaranya.“Kak, maafin aja Ayahmu. Toh, kalo gak ada dia kamu juga gak ada, Kak,” bujuk Bunda. Aku mendesah pelan mendengar perkataan Bunda. Kenapa juga Bunda harus membujuk anaknya ini, padahal tahu sendiri anaknya aja susah buat maafin Bunda dulu.“Kakak dulu juga marah sama Bunda kan? Wajar, Kak, gak ada anak yang mau jadi korban dari rusaknya hubungan orang tuanya. Ayahmu juga sudah
Tiga teman anehku itu memilih pulang dan mengajakku hangout besok. Aku pun menyetujuinya, toh tujuanku pulang untuk liburan dan bertemu mereka. Keluarga Ayah masih setia menungguku untuk mengobrol.“Farin, lima juta itu besar loh? Kenapa gak diterima aja itu uangnya dari temanmu?” tanya nenekku yang mulai mengajakku bicara. Aku mendengkus kesal mendengar orang berkomentar tentang apa yang sudah lewat. Toh, itu memang rasa terima kasihku karena mereka masih mau berteman denganku hingga saat ini dengan semua tingkah ‘ajaib’ku.“Terus kenapa? Uang Farin juga kan? Gak ada yang nafkahin Farin juga. Uang hasil kerja keras Farin. Terserah mau Farin buat apa, selama Farin enggak ganggu orang lain. Apa ada yang terganggu
Selama cuti, aku rajin membuka Instagram karena Chae Ra akan mengamuk jika aku tidak melihat foto yang dia upload. Wanita itu terkadang manja sama seperti Hana. Aku duduk di ruang tamu sambil memainkan hp.“Assalamualaikum, Mbak Farin!” salam seseorang membuatku mendongakkan kepalaku dan melihat tetangga depan ada di depan pintu. Aku berjalan mendekatinya dan tersenyum tipis.“Ada apa, Bu?” tanyaku saat sudah di hadapannya.“Ini Mbak, ada yang cari,” katanya sambil menunjuk pria yang mulai terlihat tua seumuran dengan Bunda yang berdiri tak jauh dari kami.
Setelah 2 tahun tinggal bersama Chae Ra di apartemennya. Kini aku bisa deposit sendiri dan memperbarui visaku. Aku dibantu Chae Ra melakukan pindahanku. Dia membantuku mencari apartemen dan sampai pindahan ini. Apartemen yang cukup besar untuk kutinggali sendiri ini terlihat mewah. Aku masuk dan langsung menata barangku.“Farin, kapan kamu ke Indonesia? Boleh aku pergi bersama. Aku ingin ke Bali,” katanya setelah menyelesaikan pekerjaannya membantuku.“Boleh, tapi aku tidak bisa ke Bali. Apakah kamu tidak keberatan?” tanyaku, karena memang aku tidak akan ke Bali jika sudah berada di Indonesia. Bukan karena tidak suka, tapi aku terlalu banyak tempat yang ingin kukunjungi terlebih dahulu sebelum Bali. Karena menurutku, aku akan berlibur bersama dengan penghuni Bali sendiri yaitu Febi, temanku.
Empat tahun aku melewati masa kuliahku dan dapat gelar sarjana terapan itu membuatku cukup bangga. Aku menikmati diriku setelah melalui masa wisuda beberapa hari yang lalu. Aku ingin melanjutkan sekolahku setelah mendapat pekerjaan yang mendukung. Di usiaku yang 22 tahun ini, aku masih sangat ingin menginjakkan kakiku ke Korea Selatan dan memiliki pekerjaan di sana. Aku dan Febi memang berjanji akan berusaha bekerja bersama di sana, meski pun berbeda tempat. Untuk saat ini aku masih bekerja di Indonesia sambil mencari peluang untuk mewujudkan mimpiku.“Kak, Kakak beneran mau ke Korea Selatan buat lanjut?” tanya Bunda padaku yang sedang memasak bersamanya.“Iya Bun, kakak kerja di sana dan lanjut kuliah. Nanti bunda buka usaha aja gak usah kerja ya Bun. Doain kakak segera dapat uang banyak. Target kakak 2 tahun







