FAZER LOGINAku berjalan masuk ke rumah saat makan siang menyapa. Aku berjanji pada Raka untuk makan siang di rumah bersama dengan dia yang sekarang hanya ingin di rumah. Dia tidak ingin ke rumah neneknya. Dia memilih di rumah bersama Bi Yem.
Aku melangkah masuk dan tidak melihat Raka. Namun suara Raka terdengar keluar dari ruang bermainnya dan menyambutku dengan berlari seperti biasa. Aku menaruh tasku di sofa dan memeluk anakku itu.Suara mobil berada di depan rumah membuaMeja makan yang biasanya hanya kami bertiga, kini ramai dengan adanya Bunda, Jae-hyun dan keluarga Hana. Aku tersenyum melihat Raka menjelaskan ayam kecap buatanku yang dia bilang paling enak. Bunda hanya tertawa pelan melihat cucunya menjelaskan semua makanan di depannya. Beberapa kali Mas Arlan harus menahan tubuh Raka agar tidak jatuh. Gilang menggodanya dengan memilih makanan yang belum diperkenalkan oleh Raka membuat pria kecil itu kesal hingga berteriak. Jae-hyun hanya tertawa pelan melihat Raka yang berselisih dengan Gilang.“OM!!” kesal Raka.“Raka, gak boleh gitu sama Om Gilang,” kata Mas Arlan. “Tapi, Om Gilang yang bikin Raka kesal, Papa. Om Gilang gak kaya Om Boy dengerin Raka.” Raka mengadu pada Papanya. Seketika aku dan Jae-hyun tertawa.“Om Boy siapa, Sayang?” tanya Mas Arlan menahan tawanya. Raka seketika mendekat ke Papanya.“Om itu yang di samping Mama. Emang namanya bukan Om Boy?
Saat pagi, aku terbangun dan melihat Mas Arlan terlelap di samping Raka sambil memeluk anaknya. Lani pun masih nyenyak di sampingku. Aku bangun perlahan dan melihat jam dinding yang sudah menunjukkan waktu subuh. Aku membangunkan Mas Arlan dengan perlahan agar tidak mengganggu Raka yang dipeluknya. Raka bergerak saat Mas Arlan mulai bergerak untuk melihatku. Mas Arlan mengusap punggung Raka agar pria kecil itu kembali tertidur. “Kenapa, Sayang?” tanyanya.“Sudah subuh. Kamu sholat di rumah apa di masjid?” tanyaku saat Mas Arlan duduk dan mengusap wajahnya. “Di rumah aja. Ada Bunda, kamu tahu sendiri anakmu kalau ada Yangtinya, makin gak mau ngalah sama Lani. Daripada kamu bingung sendiri, mending aku di sini.” Mas Arlan menatap Raka yang memeluk boneka singanya. “Ya udah, kamu sholat sana. Aku enggak.” Mas Arlan mengangguk dan mulai berdiri. Bukannya berjalan ke kamar mandi, pria itu malah memelukku.
Aku sibuk dengan Lani yang terbangun. Suamiku menemani Raka yang mulai sibuk sendiri dengan mainannya. Aku membawa Lani ke ruang bermain Raka untuk bermain bersama.Lani mau bermain dengan Raka. Aku meminta Mas Arlan mengawasi keduanya. Sementara, aku menyiapkan makan malam. Lani yang baru menginjak dua tahun itu sedang aktif-aktifnya dan Raka yang tiga tahun pun semakin aktif. Dari dapur, aku bisa mendengar teriakan Raka dan Lani yang beradu. Aku baru akan mengintip ke ruang bermain saat suara tangisan Lani terdengar. Bi Yem menata sendiri makanannya. Aku melihat Mas Arlan keluar dari ruang bermain Raka menggendong Lani.“Lani kenapa, Mas?” tanyaku melihat Mas Arlan menenangkan Lani. “Berantem sama Raka. Akhirnya ketimpuk bola. Raka kesal sama Lani yang banyak tanya katanya,” jawab Mas Arlan. Aku masuk dan melihat Raka duduk tenang seolah tidak berbuat salah. ‘Astaga anak siapa sih ini? Pasti enggak ngerasa sa
Aku melihat Raka asyik dengan kakek dan neneknya menonton film kesukaannya. Aku duduk sama suamiku seperti biasa, tangannya memeluk pinggangku dengan posesif. Aku membiarkan perlakuan suamiku yang terlihat posesif sejak aku menghubungi Rio tadi. Seolah tidak ingin suamiku memikirkan hal lain dan menyakiti hatinya sendiri, aku memilih menerima perlakuannya.Setelah makan siang bersama mertuaku, suamiku sudah meminum obatnya, tapi dia tidak mengantuk seperti biasanya. Suara bel membuat Raka mengikuti Bi Yem membuka pintu. Raka dengan semangat menarikku mengikutinya.“Hana? Ada apa?” tanyaku melihat adikku tiba-tiba datang. “Mau titip Lani ke Bi Yem. Nanti malam aku ambil, kakak kok gak kerja?” balasnya. Aku mengambil alih tubuh Lani dan mengangguk sebentar.“Mas Arlan lagi gak enak badan. Masuk dulu, ada Mas Arlan tuh. Lang, dicari nih,” kataku melihat Raka yang mengintip Gilang. Raka berlari masuk saat Gilang men
AUTHOR POVBu Metha dan Pak Arkan terlihat masih tidak percaya dengan wajah Arlan yang penuh dengan lebam, meski sudah mulai memudar. Farin bangkit dari duduknya dan membuka lemari sambil mengajak Raka.“Ma, Pa, Farin ke kafe bentar, ya. Harus cek barang supply dulu.” Farin pamit pada mertuanya. Raka menggenggam tangan Mamanya. “Salim dulu sama Kakek sama Nenek. Raka melakukannya dan tidak lupa pamit dengan Papanya. “Dadah, Papa.” Raka keluar dan tersenyum ceria. Bu Metha dan Pak Arkan tersenyum melihat cucunya sangat menggemaskan.“Lan, Raka lebih nempel sama Mamanya, ya.” Pak Arkan mengamati putranya yang masih memandang pintu yang baru saja tertutup.“Iya, dia akan nangis kalau Mamanya marah dan gak mau ngomong sama dia. Kaya kemarin, Farin sempet kesel Arlan sama Raka bikin kamar berantakan, saat Farin pulang. Dia minta kamar harus balik rapi, Raka langsung rapikan dan gak mau minta bantuan Arlan. Diam-diam d
Setelah sholat subuh, aku bangun dan segera turun untuk membantu Bi Yem membuat sarapan. Aku dan Bi Yem memasak dengan tenang tanpa gangguan dari Raka dan Mas Arlan yang masih terlelap.Bi Yem bercerita banyak hal tentang anak dan cucunya. Aku mendengarkannya dengan saksama dengan tanganku yang sibuk mengurus bumbu masakan. Anaknya menjadi karyawan pabrik bersama istrinya dan cucunya di rawat keluarga dari menantunya.Cerita Bi Yem mengingatkanku dengan aku yang dirawat oleh kakek karena Bunda dan Ayah yang berpenghasilan tidak seberapa. Bahkan saat Bunda berpisah dengan Ayah. Aku jadi bangga mendengar kisah anak Bi Yem yang mampu bertahan dengan keadaan sulit. Masakan kami sudah matang, seperti biasa, aku membiarkan Bi Yem menatanya dan aku mencuci tangan. Aku kembali ke kamar melihat dua pria yang sungguh tampan tapi bisa menguras emosi itu masih terlelap. Aku membangunkan suamiku terlebih dahulu.“Mas, bangun sudah pagi.” M







