LOGINAku melihat Raka asyik dengan kakek dan neneknya menonton film kesukaannya. Aku duduk sama suamiku seperti biasa, tangannya memeluk pinggangku dengan posesif.
Aku membiarkan perlakuan suamiku yang terlihat posesif sejak aku menghubungi Rio tadi. Seolah tidak ingin suamiku memikirkan hal lain dan menyakiti hatinya sendiri, aku memilih menerima perlakuannya.Setelah makan siang bersama mertuaku, suamiku sudah meminum obatnya, tapi dia tidak mengantuk seperti biasanyAku melihat Raka asyik dengan kakek dan neneknya menonton film kesukaannya. Aku duduk sama suamiku seperti biasa, tangannya memeluk pinggangku dengan posesif. Aku membiarkan perlakuan suamiku yang terlihat posesif sejak aku menghubungi Rio tadi. Seolah tidak ingin suamiku memikirkan hal lain dan menyakiti hatinya sendiri, aku memilih menerima perlakuannya.Setelah makan siang bersama mertuaku, suamiku sudah meminum obatnya, tapi dia tidak mengantuk seperti biasanya. Suara bel membuat Raka mengikuti Bi Yem membuka pintu. Raka dengan semangat menarikku mengikutinya.“Hana? Ada apa?” tanyaku melihat adikku tiba-tiba datang. “Mau titip Lani ke Bi Yem. Nanti malam aku ambil, kakak kok gak kerja?” balasnya. Aku mengambil alih tubuh Lani dan mengangguk sebentar.“Mas Arlan lagi gak enak badan. Masuk dulu, ada Mas Arlan tuh. Lang, dicari nih,” kataku melihat Raka yang mengintip Gilang. Raka berlari masuk saat Gilang men
AUTHOR POVBu Metha dan Pak Arkan terlihat masih tidak percaya dengan wajah Arlan yang penuh dengan lebam, meski sudah mulai memudar. Farin bangkit dari duduknya dan membuka lemari sambil mengajak Raka.“Ma, Pa, Farin ke kafe bentar, ya. Harus cek barang supply dulu.” Farin pamit pada mertuanya. Raka menggenggam tangan Mamanya. “Salim dulu sama Kakek sama Nenek. Raka melakukannya dan tidak lupa pamit dengan Papanya. “Dadah, Papa.” Raka keluar dan tersenyum ceria. Bu Metha dan Pak Arkan tersenyum melihat cucunya sangat menggemaskan.“Lan, Raka lebih nempel sama Mamanya, ya.” Pak Arkan mengamati putranya yang masih memandang pintu yang baru saja tertutup.“Iya, dia akan nangis kalau Mamanya marah dan gak mau ngomong sama dia. Kaya kemarin, Farin sempet kesel Arlan sama Raka bikin kamar berantakan, saat Farin pulang. Dia minta kamar harus balik rapi, Raka langsung rapikan dan gak mau minta bantuan Arlan. Diam-diam d
Setelah sholat subuh, aku bangun dan segera turun untuk membantu Bi Yem membuat sarapan. Aku dan Bi Yem memasak dengan tenang tanpa gangguan dari Raka dan Mas Arlan yang masih terlelap.Bi Yem bercerita banyak hal tentang anak dan cucunya. Aku mendengarkannya dengan saksama dengan tanganku yang sibuk mengurus bumbu masakan. Anaknya menjadi karyawan pabrik bersama istrinya dan cucunya di rawat keluarga dari menantunya.Cerita Bi Yem mengingatkanku dengan aku yang dirawat oleh kakek karena Bunda dan Ayah yang berpenghasilan tidak seberapa. Bahkan saat Bunda berpisah dengan Ayah. Aku jadi bangga mendengar kisah anak Bi Yem yang mampu bertahan dengan keadaan sulit. Masakan kami sudah matang, seperti biasa, aku membiarkan Bi Yem menatanya dan aku mencuci tangan. Aku kembali ke kamar melihat dua pria yang sungguh tampan tapi bisa menguras emosi itu masih terlelap. Aku membangunkan suamiku terlebih dahulu.“Mas, bangun sudah pagi.” M
Aku sampai di kantor dan melihat Reyna yang menyapaku sopan. Aku menyuruhnya masuk ke ruanganku. Aku menyuruhnya duduk di sofa saat aku membuka outerku. Aku duduk di samping Reyna yang masih terlihat biasa saja, meski wajahnya terlihat memiliki banyak pertanyaan.Aku mencairkan suasana dengan menanyakan persiapan pernikahannya yang tinggal menghitung hari. Reyna mulai menceritakan dirinya dengan nyaman, meski gadis itu terlihat membatasi pembicaraannya. “Rey, kalau punya pertanyaan buat aku, keluarkan sekarang. Aku bakal jawab kok.” Aku melihat Reyna yang menunduk sebentar terlihat ragu menanyakan apa yang ada di kepalanya.“Eum … Mbak, beneran Pak Arlan selingkuh?” tanya Reyna dengan lirih. Aku menarik napas demi membersihkan nama suamiku, aku harus melakukan ini di jam kerja.“Mungkin orang akan menyebutnya selingkuh, tapi nyatanya dia dijebak sama wanita yang mengatakan hal itu sama kita. Kejadian saat aku tahu itu, tepat s
Farin berbaring setelah menidurkan Raka. Arlan melihat istrinya terlihat lelah. Raka selalu berteriak mencari Mamanya hanya untuk membantunya. Arlan menghadap ke arah Farin membuat wanita itu terkejut suaminya masih terjaga.“Aku kira kamu udah tidur, Mas.” Arlan hanya tersenyum mendengarnya.“Capek, ya, hari ini ngurus aku sama Raka barengan?” tanya Arlan. Farin menggelengkan kepala dan membalas tatapan suaminya.“Enggak, Mas. Itu udah tugasku. Toh, kamu bantu aku jaga Raka juga,” jawab Farin. Arlan mendekap tubuh istrinya. “Maaf, merepotkanmu. Sekarang istirahat, ya. Aku sayang kamu, maaf terlalu mengecewakan untuk jadi suamimu.” Arlan mengecup kening istrinya. Farin hanya mengangguk dan membalas dekapan suaminya. Arlan beberapa kali merintih kesakitaan, saat membuat gerakan sedikit. Farin yang merasa suaminya tidak nyaman membuka matanya kembali dan melihatnya menahan sakit.“Tadi selesai makan
Farin membantu Arlan keluar dari rumah sakit setelah menjalani pemeriksaan. Dia setia menemani suaminya yang sedari tadi kesakitan. Dengan sabar, Farin menuntun Arlan kembali ke mobil. Farin terlihat iba dengan Arlan saat pria itu kesakitan seperti ini. Wanita itu segera masuk ke mobil dan menghidupkan mobilnya. Dia ingin segera pulang agar suaminya itu bisa beristirahat dan meminum obat dari dokter untuk meredakan sakitnya. “Kita pulang?” tanya Arlan pada Farin yang mulai menjalankan mobilnya. Wanita itu hanya melirik suaminya yang menyandarkan kepalanya.“Iya. Kamu udah kaya gitu, emang kita mau ke mana lagi selain pulang?” Farin masih fokus menyetir, meski sesekali melirik suami yang menahan sakit di sampingnya.“Kalau Raka tanya, kamu jawab apa?” tanya Arlan membuat Farin terdiam. “Nanti bisa dipikirkan. Sekarang yang penting kamu, Mas. Kalau kita gak pulang juga, Raka makin rewel.” Farin memutuskan untuk t







