Compartilhar

123: Sensitif

Autor: Lavendulaaa
last update Data de publicação: 2026-10-17 05:26:22

Meja makan yang biasanya hanya kami bertiga, kini ramai dengan adanya Bunda, Jae-hyun dan keluarga Hana. Aku tersenyum melihat Raka menjelaskan ayam kecap buatanku yang dia bilang paling enak. Bunda hanya tertawa pelan melihat cucunya menjelaskan semua makanan di depannya.

Beberapa kali Mas Arlan harus menahan tubuh Raka agar tidak jatuh. Gilang menggodanya dengan memilih makanan yang belum diperkenalkan oleh Raka membuat pria kecil itu kesal hingga berteriak. Jae-hyun hanya te
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Setelah Semua Luka Pulang   126: Perang Dingin

    Aku masuk ruanganku setelah bertemu Reyna dan menanyakan masalah meeting. Aku merasa perutku tidak nyaman karena melewatkan sarapan. Semakin tua, aku semakin tidak bisa jika tidak mengisi perutku dulu, meski hanya sebungkus roti. Aku meminum airku dan memilih meminum obat terlebih dahulu sebelum Reyna memanggilku untuk meeting. Setidaknya asam lambungku akan baik-baik saja sampai meeting selesai. Reyna memanggilku saat aku memasukkan obat ke mulutku.“Mbak sakit?” tanya Reyna melihatku meminum obat. Aku menggelengkan kepalaku.“Enggak, Rey. Vitamin aja, tadi lupa minum di rumah. Berangkat sekarang?” tanyaku pada Reyna sambil menyimpan obatku kembali. Aku mengabari Suamiku, tapi tidak ada respon sama sekali. Aku masuk bersama Reyna ke hotel tempat kami melakukan rapat dengan client.***AUTHOR POVSementara itu, Arlan masih bersama anaknya yang masih demam hingga Arlan menitipkan Raka

  • Setelah Semua Luka Pulang   125: Raka Sakit

    Perjalanan pulang setelah mengantar Jae-hyun ke bandara, kami berhenti di SPBU untuk mengisi bensin dan aku ke kamar mandi. Cukup lama aku mengantre hingga akhirnya aku telah menuntaskan panggilan alamku yang mendesak. “Kalau besar, Raka boleh belajar sendiri?” tanya Raka pada Papanya saat aku memasang sabuk pengaman.“Boleh, tapi tunggu cukup umur. Sekarang duduk sama Mama. Papa gak bisa nyetir kalau Raka di situ,” sahutku membuat Raka menoleh dan menolak. Suamiku mengangguk membiarkan Raka berada di pangkuannya. “Tapi jangan ganggu Papa setir mobilnya.” Aku sesekali melihat Raka yang ada di pangkuan Papanya.“Papa, yang tadi jadi?” tanya Raka membuatku mengerutkan kening. “Apanya yang jadi?” Aku yang tidak tahu apa-apa pun menanyakannya. “Anakmu minta ke taman kota.” Aku terkejut. Bukan aku ingin melarang tapi kondisi suamiku baru saja sembuh membuatku harus melarangnya. “Raka, Papa ‘kan baru s

  • Setelah Semua Luka Pulang   124: Jae-hyun Pulang

    Aku terbangun saat mendengar suara adzan berkumandang. Aku ke kamar mandi saat jam dinding yang menunjukkan waktu dzuhur. Aku segera ke ruang bermain Raka untuk memanggil anak dan suamiku.“Papa, kenapa Lani jadi adik Raka? Raka gak suka kalau Lani nangis. Papa suka kesal sama Raka kalau Lani nangis.” Aku mendengar perbincangan kedua pria beda generasi itu.“Bukan Papa kesal sama Raka kalau Lani nangis. Mama sama Papa mau Raka jadi anak baik yang bisa jaga Mama kalau Papa gak bisa sama Mama. Raka bisa belajar lewat jaga Lani. Lani sama Mama ‘kan sama-sama perempuan. Papa gak suka kalau Raka sakiti perempuan, Raka gak boleh kasar lagi, ya, sama Lani atau siapapun itu. Apalagi sama orang tua,” ucap suamiku yang dapat kudengar.Aku tersenyum mendengarnya dan menahan diriku sebentar untuk mendengar keduanya berbincang hingga lupa dzuhur telah menyapa. Aku berdiri di ambang pintu dan mengetuk pintu membuat keduanya menoleh bersamaan.

  • Setelah Semua Luka Pulang   123: Sensitif

    Meja makan yang biasanya hanya kami bertiga, kini ramai dengan adanya Bunda, Jae-hyun dan keluarga Hana. Aku tersenyum melihat Raka menjelaskan ayam kecap buatanku yang dia bilang paling enak. Bunda hanya tertawa pelan melihat cucunya menjelaskan semua makanan di depannya. Beberapa kali Mas Arlan harus menahan tubuh Raka agar tidak jatuh. Gilang menggodanya dengan memilih makanan yang belum diperkenalkan oleh Raka membuat pria kecil itu kesal hingga berteriak. Jae-hyun hanya tertawa pelan melihat Raka yang berselisih dengan Gilang.“OM!!” kesal Raka.“Raka, gak boleh gitu sama Om Gilang,” kata Mas Arlan. “Tapi, Om Gilang yang bikin Raka kesal, Papa. Om Gilang gak kaya Om Boy dengerin Raka.” Raka mengadu pada Papanya. Seketika aku dan Jae-hyun tertawa.“Om Boy siapa, Sayang?” tanya Mas Arlan menahan tawanya. Raka seketika mendekat ke Papanya.“Om itu yang di samping Mama. Emang namanya bukan Om Boy?

  • Setelah Semua Luka Pulang   122: Cemburu Sama Raka

    Saat pagi, aku terbangun dan melihat Mas Arlan terlelap di samping Raka sambil memeluk anaknya. Lani pun masih nyenyak di sampingku. Aku bangun perlahan dan melihat jam dinding yang sudah menunjukkan waktu subuh. Aku membangunkan Mas Arlan dengan perlahan agar tidak mengganggu Raka yang dipeluknya. Raka bergerak saat Mas Arlan mulai bergerak untuk melihatku. Mas Arlan mengusap punggung Raka agar pria kecil itu kembali tertidur. “Kenapa, Sayang?” tanyanya.“Sudah subuh. Kamu sholat di rumah apa di masjid?” tanyaku saat Mas Arlan duduk dan mengusap wajahnya. “Di rumah aja. Ada Bunda, kamu tahu sendiri anakmu kalau ada Yangtinya, makin gak mau ngalah sama Lani. Daripada kamu bingung sendiri, mending aku di sini.” Mas Arlan menatap Raka yang memeluk boneka singanya. “Ya udah, kamu sholat sana. Aku enggak.” Mas Arlan mengangguk dan mulai berdiri. Bukannya berjalan ke kamar mandi, pria itu malah memelukku.

  • Setelah Semua Luka Pulang   121: Jae-hyun Berkunjung

    Aku sibuk dengan Lani yang terbangun. Suamiku menemani Raka yang mulai sibuk sendiri dengan mainannya. Aku membawa Lani ke ruang bermain Raka untuk bermain bersama.Lani mau bermain dengan Raka. Aku meminta Mas Arlan mengawasi keduanya. Sementara, aku menyiapkan makan malam. Lani yang baru menginjak dua tahun itu sedang aktif-aktifnya dan Raka yang tiga tahun pun semakin aktif. Dari dapur, aku bisa mendengar teriakan Raka dan Lani yang beradu. Aku baru akan mengintip ke ruang bermain saat suara tangisan Lani terdengar. Bi Yem menata sendiri makanannya. Aku melihat Mas Arlan keluar dari ruang bermain Raka menggendong Lani.“Lani kenapa, Mas?” tanyaku melihat Mas Arlan menenangkan Lani. “Berantem sama Raka. Akhirnya ketimpuk bola. Raka kesal sama Lani yang banyak tanya katanya,” jawab Mas Arlan. Aku masuk dan melihat Raka duduk tenang seolah tidak berbuat salah. ‘Astaga anak siapa sih ini? Pasti enggak ngerasa sa

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status