Beranda / Romansa / Setelah Semua Luka Pulang / 166: Raka Gak Suka Sama Papa

Share

166: Raka Gak Suka Sama Papa

Penulis: Lavendulaaa
last update Tanggal publikasi: 2026-11-01 05:00:22

Aku kelimpungan karena Raka rewel mencari papanya. Aku segera memandikannya dan menyuruhnya menunggu sebentar. Aku mandi dan segera berganti baju. Raka sudah memanggil sedari tadi. Anak itu masuk kamar dan melihatku menyiapkan baju papanya.

Raka sudah memasang tas punggungnya dan mengajakku berangkat. Raka sudah merengek tidak karuan bahkan baru ini aku melihatnya mencari papanya seperti ini. Sudah, aku tidak akan bisa berdandan seperti biasanya.

“Sebentar, Mama
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Setelah Semua Luka Pulang   174: Rekreasi Sekolah (2)

    Aku bangun pagi dan menyiapkan keperluan Raka untuk rekreasi sekolahnya. Aku melihat Mas Arlan yang membaca buku dan menemaniku menata persiapan Raka. Moodku sudah mulai stabil dan morning sick juga sudah tidak terjadi. Aku lebih nyaman tapi tetap cepat lelah. Mas Arlan akhir-akhir ini jarang kembali tidur setelah sholat subuh karena menemaniku katanya. Jika dia capek dan ingin tidur kembali, dia akan kembali tidur dengan mengajakku. Aku masih membiarkan Mas Arlan fokus dengan bukunya.“Kalau capek udahan dulu. Masih jam segini juga. Kalau gak mau sini biar aku, kamu duduk dan kasih tahu apa aja yang perlu dimasukkan.” Aku berhenti dan melihatnya yang sudah berdiri di belakangku.“Sudah selesai kok. Aku masak dulu, ya,” pamitku. Mas Arlan mencegahku. Dia menggelengkan kepalanya dan menyuruhku istirahat sebentar. “Biar Bi Yem yang masak. Buat apa aku bayar Bi Yem kalau kamu ambil alih semua kerjaan Bi Yem. ‘Kan Bi Yem jadi gak

  • Setelah Semua Luka Pulang   173: Rekreasi Sekolah

    Besok sudah hari sabtu dan sepertinya Mas Arlan tidak memiliki rencana apapun, begitu juga dengan Raka. Aku pulang sendiri karena aku baru saja menemui Shania yang sudah lama hidup di luar kota. Dia membuatku merindukannya. Beruntung, dia mengabarkan bahwa dia sedang berada di rumah Mamanya dan memintaku datang ke kafe dekat rumahnya.Setelah mengobrol sebentar, barulah aku pulang dan sekarang aku malah melihat rumah sangat sepi. Aku melihat Bi Yem yang baru saja turun. Aku memanggilnya dan menanyakan Raka.“Adik tidur, Nya. Capek katanya. Ini saya baru temani Adik.” Aku pun menganggukkan kepala dan naik ke atas. Aku masuk kamar Raka dan ke kamar mandi terlebih dahulu. Aku ikut tidur di samping Raka dan memeluk pria kecilku. Aku merasakan belaian di kepalaku membuat aku membuka mataku dan melihat Mas Arlan duduk di sampingku. Aku melepaskan pelukan pada Raka dan mengubah posisi telentang. Aku mengerjapkan mata dan menatap Mas Arlan yang mas

  • Setelah Semua Luka Pulang   172: Maafkan Papa, Mama

    Mas Arlan mencariku dan dia datang ke kantor, pria ini sungguh keras kepala. Aku pun menyuruhnya masuk dan duduk terlebih dahulu. Aku tetap melakukan pekerjaanku meski waktu makan siang akan menyapa dan Mas Arlan sedang berada di ruanganku. Reyna masuk dan menanyakan apa akan makan siang di luar bersama Mas Arlan atau dia harus menungguku. Aku menggelengkan kepala meminta Reyna makan siang saja dan meninggalkanku. Aku melihat Reyna keluar dan Mas Arlan masih duduk di sofa tanpa protes setelah cukup lama aku mendiamkannya. “Kamu masih mau di sini?” tanyaku pada Mas Arlan yang duduk di sofa sambil menyesap kopi yang diberi oleh Reyna.“Istri aku lebih penting. Dia lagi ngambek, jadi gak mungkin aku tinggalin gitu aja.” Mas Arlan menaruh cangkir dan berjalan mendekatiku. “Maaf, Papa beneran minta maaf, Ma.”Aku mengerjapkan mataku mendengarnya. Mas Arlan selalu memanggilku ‘Sayang’, jarang bahkan menjurus ke tidak pernah dia mem

  • Setelah Semua Luka Pulang   171: Membangkang

    Sejak kejadian itu aku mencoba menjaga jarak dengan Mas Arlan, meski aku tetap melakukan kewajibanku sebagai istri. Aku lebih sering tidur bersama Raka dibanding kembali ke kamar bersama Mas Arlan. Aku pun lebih sering pulang kerja sendiri daripada bersama Mas Arlan. Berangkat pun, jika bukan karena Raka, aku lebih memilih berangkat sendiri.Aku masih terlalu malas berhadapan dengan Mas Arlan. Pria itu pun masih belum memprotes perilaku yang aku tunjukkan. Aku pun tidak ingin semakin sakit hati saat bersama Mas Arlan. Dia terlalu protektif setiap aku mengandung. Aku tahu, dia melakukannya juga demi aku dan janin di rahim aku.Hanya saja sikapnya yang terkadang berlebihan dan menyebalkan sungguh membuat aku malas berurusan dengan suamiku sendiri. Aku tahu, ini salah. Namun, kalian tidak tahu, bagaimana mengesalkannya Mas Arlan. Kalau bisa aku tukar tambah akhlak dia, udah aku lakukan dari dulu. Sayang, Tuhan tidak memberikan hal itu. “Mama,

  • Setelah Semua Luka Pulang   170: Protektif

    Mas Arlan kembali membuatku kesal. Dia bangun jam 2 dini hari dan memintaku membuat tempe goreng. Dia sedang menginginkannya. Kehamilan ini memang aku lebih mudah kesal dan suamiku yang lebih banyak ngidam. “Sayang, masih marah? ‘Kan tadi kepingin banget, Sayang. Mama cantik?” Dia mencoba merayuku dengan cara Raka. Aku tidak memedulikannya. Aku masih sangat dongkol dengannya. “Sayang, gak baik tahu emosi saat hamil.” Aku menoleh sengit melihatnya.“Kamu juga yang bikin emosi.” Aku menutup mulutku dan menuju kamar mandi. Mas Arlan mengurut punggungku saat merasa mual. Aku membersihkan bibir dan mengatur napasku. Aku berbalik dan memeluk suamiku. “Mas, capek.” Aku mengeluh dan dia menggendongku keluar.“Gak usah kerja, Raka biar aku yang antar.” Dia mendudukkanku di kasur. “Aku ada meeting,” lirihku. Setelah ini pasti Mas Arlan mengomel. Belum selesai aku memikirkan alasan yang lain, dia sudah mendengkus kesal. Aku menunduk tak

  • Setelah Semua Luka Pulang   169: Karangan Bunga di Rumah Mama

    Mas Arlan masih belum menjalankan mobilnya. Raka melihatku dan memelukku. Suasana di dalam mobil menjadi hening seketika setelah Mas Arlan mematikan panggilan tadi. Raka pun ikut diam dan hanya memelukku. Mas Arlan menaruh kepalanya ke kemudi, aku meminta Raka turun dari pangkuanku sebentar. “Mas,” panggilku sambil membuka sabuk pengamanku. Mas Arlan menoleh dan memelukku. Dia menenggelamkan wajahnya di ceruk leherku. Baru saja Mas Arlan bahagia dengan kehadiran janin di rahimku, sekarang dia harus seperti ini. “Aku yang setir mobil, ya? Nurut aja, aku gak ngebut kok.” Aku bertukar posisi dengan Mas Arlan. Raka memeluk papanya dan menanyakan papanya kenapa.“Raka, hari ini gak sekolah, ya. Biar nanti Mama telepon guru Raka. Kita ke rumah Nenek, ya,” kataku saat Mas Arlan tidak menjawab pertanyaan anaknya. Raka melihatku dan bertanya. “Nanti ya. Sekarang, Raka hibur Papa dong. Biar Papa senyum lagi, ya?” Raka mengangguk dan m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status