Share

Bab 4

Author: Lidik
”Lena, aku sudah pulang. Jangan takut, aku akan selalu ada untukmu.”

Mendengar suara di seberang telepon, rasanya seperti berasal dari kehidupan yang lain.

Sudah terlalu lama.

Aku bahkan tidak ingat lagi, sudah berapa tahun dia tak lagi memanggilku "Lena" dengan suara selembut itu.

“Terima kasih,” ucap Elena datar di seberang sana.

Nicholas di masa itu terdengar sedikit kecewa.

“Lena, kenapa kamu tiba-tiba bilang terima kasih?”

Elena kembali terdiam. Dia bahkan tidak bertanya lagi dan hanya meminta dokter agar segera menyiapkan operasinya.

Beberapa saat kemudian.

Barulah dia mengeluarkan ponselnya dari balik selimut.

“Begitu opeasinya selesai, aku akan pergi. Aku nggak akan datang ke acara lamaran itu.”

Aku mengangguk. Dadaku terasa sedikit lega untuk pertama kalinya.

Ketika aku baru sampai di rumah, Nicholas langsung menyusul, membawa Larissa yang menangis tersedu-sedu.

Dia langsung mencengkeram pergelangan tanganku dengan wajah penuh amarah.

“Kamu pasti yang beritahu Kakek tentang hubunganku dengan Larissa, kan?”

Pergelangan tanganku seketika terasa nyeri.

Dulu, luka ini kudapat setelah menyelamatkannya dalam kecelakaan. Efeknya masih membekas sampai sekarang, tetapi dia sudah lama lupa.

Aku menepis tangannya, lalu menatapnya tanpa ekspresi.

“Hubungan kalian yang menjijikan itu bahkan tak pantas kubicarakan. Kamu boleh saja tak tahu malu, tapi aku masih tahu menjaga harga diriku."

Tatapannya sempat goyah sesaat.

Kemudian dia mencibir.

“Kamu nggak sudi?”

“Kamu memang merasa paling suci. Kalau Kakek tahu, bukankah dia pasti akan mengusir Larissa? Jadi, buat apa terus berpura-pura?”

Larissa menangis tersedu-sedu di sampingnya.

Bekas tamparan di pipinya masih terlihat jelas.

“Elena, aku mohon padamu. Aku hanya mau tetap bersama Nico. Aku nggak peduli meski tanpa status apa pun.”

Begitu mengatakannya, dia langsung berlutut di hadapanku.

“Aku mohon!”

Aku bahkan belum sempat bereaksi ketika Nicholas langsung menarik Larissa yang masih berlutut dan membantunya berdiri. Wajahnya tampak penuh kekhawatiran.

Kemudian, dia menatapku.

“Kenapa kamu harus memaksanya sampai seperti ini?”

“Dia nggak pernah merebut apa pun darimu. Saat ada di sisiku, dia bahkan selalu diam dan nggak pernah menuntut apa pun.”

Dia mengatakannya sambil menggelengkan kepala, tatapannya dipenuhi kekecewaan.

“Selama bertahun-tahun, bagaimana kamu bisa berubah jadi begitu keras? Kamu benar-benar bukan Elena yang dulu kukenal.”

Dadaku terasa sesak.

Tatapanku dipenuhi kepahitan dan sindiran.

“Kalau aku memang berubah, lalu kamu apa?”

“Kamu pikir kamu nggak berubah? Kamulah yang lebih dulu berubah.”

Terdengar di telingaku ....

Suara Nicholas di masa itu terngiang di telingaku.

“Lena, jadwal operasimu sudah keluar. Sebentar lagi kamu masuk ruang anestesi. Jangan takut, aku akan selalu di sini.”

“Setelah kamu selesai operasi, kita akan menikah.”

“Bagaimanapun keadaan kakimu nanti, aku akan selalu menemanimu. Kalau nggak sembuh, aku yang akan jadi tongkatmu seumur hidup.”

Suaranya terdengar lembut, dengan nada yang sedikit tercekat.

Namun, suara dari masa itu justru lebih menyakitkan daripada sikap dingin Nicholas yang kini berdiri di hadapanku.

Mataku memerah.

Pria di hadapanku terdiam sejenak. Setelah itu, nada suaranya mulai pelan.

“Selama kamu minta maaf pada Larissa, aku nggak akan memperpanjang masalah ini.”

Aku memejamkan mata sesaat.

“Minta maaf?”

“Kenapa aku harus minta maaf? Siapa dia sampai berhak menuntut itu dariku? Nicholas, cepat pergi dari sini!”

“Elena!”

Suaranya terdengar sangat marah menahan emosi. “Kamu sendiri yang memintaku pergi. Ingat? Begitu aku pergi, aku nggak akan pernah kembali lagi!”

Aku tidak menatapnya lagi.

Nicholas menatapku lama, lalu berkata, “Ini keputusanmu sendiri. Larissa, ayo pergi dari sini!”

Suasana rumah kembali sunyi.

Aku menunduk sambil tersenyum getir. Setelah itu, aku mengemasi barang-barangku dan pergi menuju bandara.

Belasan jam kemudian.

Elena tiba-tiba menangis histeris di telingaku. “Elena, aku sudah mengusirnya ... kami benar-benar sudah berakhir.”

Aku menghembuskan napas lega. Kenangan tentang dirinya di pikiranku perlahan mulai terhapus.

Pada saat yang sama .…

Nicholas yang sedang bekerja di kantor tiba-tiba merasa kepalanya berputar hebat, lalu dia jatuh tak sadarkan diri.

Kakek dan Larissa sudah berada di sampingnya saaat dia sadar.

“Kakek? Apa yang terjadi padaku?”

Dia melihat sekeliling dengan tatapan kecewa. “Di mana Elena? Aku sakit begini, dia bahkan nggak datang?” tanyanya dengan nada kaku.

Saat itu, Kakek Sena menepuknya dengan keras.

“Istrimu, Larissa, masih ada di sini tahu!”

“Dasar bocah nakal! Kamu masih saja memikirkan teman sekelasmu yang sudah sepuluh tahun nggak kamu temui.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Setelah Sepuluh Hari, Semua Tersisa Kenangan   Bab 8

    Dunia di hadapan Nicholas seketika kehilangan warna. Seolah-olah di matanya hanya tersisa sosok yang telah dirindukannya selama lima tahun.Lima tahun.Hampir dua ribu malam telah berlalu, dia bahkan tidak tahu bagaimana dirinya bisa bertahan sampai sekarang.Dia mengirim Larissa pergi ke luar negeri.Kakek sangat marah sampai tidak mau lagi menemuinya.Semua orang mengatakan dia sudah gila.Terkadang, Nicholas bahkan merasa ragu, apakah semua ini hanya khayalannya.Hingga saat ini ....Melihat tatapan Elena yang menyimpan begitu banyak emosi, dia akhirnya tahu bahwa semua ini nyata.Memikirkan semua itu ....Matanya memerah, hatinya terasa sesak hingga membuatnya sulit bernapas.“Aku pikir seumur hidup ini aku nggak akan pernah bisa bertemu denganmu lagi.”Semua emosinya terlihat jelas di mataku.Aku menoleh ke arah Vincent.“Kamu pulang dulu, aku mau bicara dengannya.”Dia terdiam sejenak, lalu menjawab, “Baik.”Baru saat itu, Nicholas menyadari keberadaan Vincent. Tatapannya tertuju

  • Setelah Sepuluh Hari, Semua Tersisa Kenangan   Bab 7

    Tahun demi tahun berlalu.Bagiku, waktu hanyalah pergantian siang dan malam, pasang dan surut.Tanpa terasa, lima tahun telah berlalu.Kini, dalam ingatanku semua tentang Nicholas hanya tersisa serpihan kenangan. Semua kenangan manis itu telah menjadi masa lalu yang memudar.Kini, hanya tersisa ....Hanya luka yang dia tinggalkan setelah panggilan video yang tak sengaja kulakukan saat itu.Untungnya, semua masih bisa dimulai lagi.Seperti biasa, aku mengeluarkan ponsel dari tas lalu menelepon nomor itu.Namun kali ini, tak ada lagi yang menjawab panggilanku.Sejak percakapan terakhir kami lima tahun lalu, jalan hidup kami berubah.Sejak saat itu, panggilan yang menghubungkanku dengan Elena tidak pernah lagi tersambung.Aku menghembuskan napas panjang.Kusimpan kembali ponsel itu ke dalam tas.Ponselku yang lain tiba-tiba bergetar. Begitu kulihat layar ponselku, raut wajahku langsung melembut.[Sudah pulang kerja belum? Aku tunggu di luar ya.][Aku juga bawa kue kesukaanmu.]Aku langsun

  • Setelah Sepuluh Hari, Semua Tersisa Kenangan   Bab 6

    Foto pernikahan itu bukan lagi foto dirinya dan Elena, melainkan dirinya dan Larissa.Cincin nikahnya pun terukir nama dirinya dan Larissa.Nicholas meragukan dirinya sendiri untuk pertama kali.Mungkinkah dia benar-benar sudah gila?Apa benar yang seperti Kakek katakan tadi? Elena menolak lamarannya, lalu dia menjadi gila ....Namun, sesaat kemudian dia langsung menepis pikiran itu.Tak seorang pun lebih memahami hubungan sepuluh tahunnya dengan Elena selain dirinya.Mereka pernah menyaksikan matahari terbit dan terbenam bersama, juga menikmati indahnya alam.Mereka juga naik balon udara di Naveri dan melihat aurora di Westoria bersama.Semakin dia memikirkannya, kenangan indah yang selama ini dia pendam bermunculan satu per satu.Mereka pernah benar-benar begitu bahagia.Namun, selama bertahun-tahun ini ....Kenapa semuanya bisa berubah menjadi seperti ini?Kini, bahkan semua jejak Elena dalam hidupnya pun lenyap begitu saja.Nicholas terhuyung lalu terduduk lemas di sofa.Dia memega

  • Setelah Sepuluh Hari, Semua Tersisa Kenangan   Bab 5

    Pikiran Nicholas terasa kacau.Dia menatap Kakeknya yang mengernyitkan kening, merasa bingung dan berkata, “Kakek bicara apa? Siapa yang sepuluh tahun nggak bertemu?”Mata Larissa sudah memerah karena menahan tangis di sampingnya.Kakek Sena menepuk tangannya dan berkata pada Nicholas dengan marah, “Nicholas, Kakek peringatkan kamu. Keluarga Sena nggak boleh punya pria yang berperilaku buruk!”Nicholas langsung bingung.Dia ingin bertanya, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana.Kakek Sena mendengus.“Elena yang masih kamu pikirkan itu, sepuluh tahun lalu setelah kamu mencarikan dokter untuknya, dia malah meninggalkanmu. Kamu lupa, ya?”Pikirannya seakan meledak.Nicholas merasa seolah tersambar petir. Dia hanya merasa semua ini begitu mustahil.“Meninggalkanku? Kakek, apa Kakek sudah pikun?”“Aku dan Elena sudah menikah selama sepuluh tahun. Bukankah Kakek juga sangat suka istri cucumu ini?”Pada saat itu ....Larissa akhirnya tak mampu menahan tangisnya. Matanya sudah berlinang air

  • Setelah Sepuluh Hari, Semua Tersisa Kenangan   Bab 4

    ”Lena, aku sudah pulang. Jangan takut, aku akan selalu ada untukmu.”Mendengar suara di seberang telepon, rasanya seperti berasal dari kehidupan yang lain.Sudah terlalu lama.Aku bahkan tidak ingat lagi, sudah berapa tahun dia tak lagi memanggilku "Lena" dengan suara selembut itu.“Terima kasih,” ucap Elena datar di seberang sana.Nicholas di masa itu terdengar sedikit kecewa.“Lena, kenapa kamu tiba-tiba bilang terima kasih?”Elena kembali terdiam. Dia bahkan tidak bertanya lagi dan hanya meminta dokter agar segera menyiapkan operasinya.Beberapa saat kemudian.Barulah dia mengeluarkan ponselnya dari balik selimut.“Begitu opeasinya selesai, aku akan pergi. Aku nggak akan datang ke acara lamaran itu.”Aku mengangguk. Dadaku terasa sedikit lega untuk pertama kalinya.Ketika aku baru sampai di rumah, Nicholas langsung menyusul, membawa Larissa yang menangis tersedu-sedu.Dia langsung mencengkeram pergelangan tanganku dengan wajah penuh amarah.“Kamu pasti yang beritahu Kakek tentang hu

  • Setelah Sepuluh Hari, Semua Tersisa Kenangan   Bab 3

    Orang-orang di sekitar diam-diam memperhatikanku.Ada yang merasa kasihan.Ada juga yang hanya ingin menyaksikan drama ini dan menikmati kemalanganku.Aku mengabaikan mereka. Tanpa melirik siapa pun, aku berjalan masuk ke kediaman utama dan menyerahkan hadiah ulang tahun kepada Kakek.“Kakek, semoga selalu diberi keberkahan dan panjang umur, ya.”Dia menatapku dengan penuh kasih sayang.“Iya, Kakek terima.”Nicholas melangkah sedikit ke belakang, lalu berdiri di samping Larissa. Mereka justru tampak seperti pasangan suami istri yang mesra.Kakek terdiam sejenak.Kemudian, dia meraih tanganku dan tangan Nicholas, menyatukannya sambil berkata, “Jangan-jangan kalian sudah memberiku cicit?”Aku dan dia sama-sama terpaku.Aku lebih dulu melepaskan tanganku. Di tengah tatapan Nicholas yang masih terkejut, aku berkata, “Kakek, aku dan Nicholas ....”“Elena.” Pria di sampingku memotong ucapanku dan berkata kepada Kakek, “Kek, tenang saja. Kami akan segera melakukannya.”Kakek Sena tertawa baha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status