แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: Lidik
Orang-orang di sekitar diam-diam memperhatikanku.

Ada yang merasa kasihan.

Ada juga yang hanya ingin menyaksikan drama ini dan menikmati kemalanganku.

Aku mengabaikan mereka. Tanpa melirik siapa pun, aku berjalan masuk ke kediaman utama dan menyerahkan hadiah ulang tahun kepada Kakek.

“Kakek, semoga selalu diberi keberkahan dan panjang umur, ya.”

Dia menatapku dengan penuh kasih sayang.

“Iya, Kakek terima.”

Nicholas melangkah sedikit ke belakang, lalu berdiri di samping Larissa. Mereka justru tampak seperti pasangan suami istri yang mesra.

Kakek terdiam sejenak.

Kemudian, dia meraih tanganku dan tangan Nicholas, menyatukannya sambil berkata, “Jangan-jangan kalian sudah memberiku cicit?”

Aku dan dia sama-sama terpaku.

Aku lebih dulu melepaskan tanganku. Di tengah tatapan Nicholas yang masih terkejut, aku berkata, “Kakek, aku dan Nicholas ....”

“Elena.” Pria di sampingku memotong ucapanku dan berkata kepada Kakek, “Kek, tenang saja. Kami akan segera melakukannya.”

Kakek Sena tertawa bahagia.

Namun, Nicholas malah menarikku ke taman belakang. Wajahnya tampak muram dan entah kenapa terlihat gelisah.

“Kamu mau bilang apa?”

“Aku mau kasih tahu Kakek kenyataan bahwa kita akan bercerai dan nggak mungkin punya anak,” kataku datar.

Bibirnya mengatup rapat, alisnya mengerut.

“Kenapa ungkit perceraian lagi? Bukankah kita sudah sepakat melupakan semuanya? Elena, bisakah kamu berhenti cari masalah?”

Aku sedikit bingung.

“Kalau hubungan kita sudah sampai pada tahap saling membenci, bukankah lebih baik kamu menikahi Larissa yang kamu cintai itu?”

Napasnya mendadak berat. “Membenci? Aku nggak pernah ...”

“Nico!”

Suara Larissa dari kejauhan memotong ucapannya, membuat suasana di antara kami semakin tegang.

Dia menatapku dengan wajah memelas sambil menggigit bibirnya.

“Kak Elena, bisakah kamu berhenti memanfaatkan Kakek untuk mengancamku?”

Aku mengernyitkan dahi.

“Apa maksudmu?”

Larissa terlihat sangat tersakiti.

“Hari ini kamu mau bilang kalau aku menghancurkan hubunganmu dengan Nico, kan?”

“Kamu tahu sendiri kondisi kesehatan Kakek nggak baik.”

“Aku nggak mungkin diam saja melihatmu bertindak semaumu, jadi aku terpaksa mengalah dan meninggalkan Nico. Memang itu rencanamu, kan?”

Aku sedikit terkejut.

Seketika semua itu terasa begitu konyol. Aku terkekeh sinis.

“Kamu kebanyakan nonton drama, ya.”

Trik murahan seperti ini, siapa yang akan tertipu?

“Elena!”

Nicholas yang berdiri di samping tiba-tiba berkata, “Jadi, sekarang kamu mengancamku lagi?”

Aku membuka mulut hendak menjelaskan.

Dia memercayainya ....

Aku ingin membela diri, tetapi saat berhadapan dengan tatapan penuh curiga darinya, semua kata yang sudah di ujung lidah tak sanggup keluar.

Pada akhirnya, yang keluar hanya, “Terserah kamu mau berpikir apa.”

Aku berbalik pergi, tanpa melihat raut wajahnya yang sulit dibaca.

Di telingaku, suara Elena berusaha menghiburku.

“Jangan sedih.”

Entah kenapa, mataku mendadak terasa panas dan ingin menangis.

“Aku nggak sedih. Elena, setelah operasimu berhasil di duniamu nanti, dia akan datang melamarmu. Apapun yang terjadi, jangan terima lamarannya.”

Kali ini, dia langsung menjawab, “Aku tahu itu. Kamu tenang saja.”

Aku menghembuskan napas lega.

Tak lama kemudian, setelah memotong kue ulang tahun, Kakek kembali ke kamarnya untuk beristirahat.

Begitu Kakek pergi, orang-orang yang ada di meja makan langsung leluasa menyindirku.

“Lihat tuh, orangnya sampai berani datang ke rumah buat cari gara-gara, tapi nyalinya masih saja ciut.”

“Ah kakak ipar, memangnya kamu nggak tahu siapa Larissa? Dia itu kesayangan kak Nico.”

Aku mendengar semuanya.

Jemariku yang menggenggam sendok seketika mengencang, lalu kembali mengendur. Aku mendongak sambil tersenyum sinis.

“Kakak ipar, nyalimu besar juga, ya. Bukankah keluarga kalian juga membesarkan anak suamimu dari perempuan lain?”

Wajahnya langsung berubah.

“Hei Elena! Apa urusanmu mencampuri urusan keluargaku?

Aku menjawabnya datar, “Kalau begitu, apa urusanmu mencampuri masalahku?”

Dia langsung terdiam.

Suasana di meja makan langsung berubah canggung.

Nicholas menyela dengan suara berat, “Elena, kamu sudah keterlaluan!”

Aku menoleh dan tertegun.

Saat itu, baru kusadari bahwa dasinya pun senada dengan milik Larissa.

Sikapnya sudah sangat jelas.

Itulah sebabnya mereka berani menghinaku tanpa sungkan.

Aku melepaskan genggaman sendokku, lalu berbisik, “Nicholas, kamulah yang paling nggak berhak menyalahkanku.”

Napasnya sedikit tertahan.

Aku bangkit meninggalkan meja. Begitu keluar dari rumah Keluarga Sena, semua emosi yang kutahan seketika runtuh.

Air mataku terus mengalir, tak habis-habis meski berkali-kali kuseka.

Rumah Keluarga Sena jauh dari jalan raya.

Aku terus berjalan seorang diri. Jalan ini belum pernah terasa sedingin dan sesepi ini.

Aku mendongak. Matahari bersinar terik, tetapi tidak sedikit pun kurasakan kehangatannya.

Saat itu ....

Suara Elena yang tercekat kembali terdengar.

“Elena, Nicholas sudah pulang dan dia membawa dokter.”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Setelah Sepuluh Hari, Semua Tersisa Kenangan   Bab 8

    Dunia di hadapan Nicholas seketika kehilangan warna. Seolah-olah di matanya hanya tersisa sosok yang telah dirindukannya selama lima tahun.Lima tahun.Hampir dua ribu malam telah berlalu, dia bahkan tidak tahu bagaimana dirinya bisa bertahan sampai sekarang.Dia mengirim Larissa pergi ke luar negeri.Kakek sangat marah sampai tidak mau lagi menemuinya.Semua orang mengatakan dia sudah gila.Terkadang, Nicholas bahkan merasa ragu, apakah semua ini hanya khayalannya.Hingga saat ini ....Melihat tatapan Elena yang menyimpan begitu banyak emosi, dia akhirnya tahu bahwa semua ini nyata.Memikirkan semua itu ....Matanya memerah, hatinya terasa sesak hingga membuatnya sulit bernapas.“Aku pikir seumur hidup ini aku nggak akan pernah bisa bertemu denganmu lagi.”Semua emosinya terlihat jelas di mataku.Aku menoleh ke arah Vincent.“Kamu pulang dulu, aku mau bicara dengannya.”Dia terdiam sejenak, lalu menjawab, “Baik.”Baru saat itu, Nicholas menyadari keberadaan Vincent. Tatapannya tertuju

  • Setelah Sepuluh Hari, Semua Tersisa Kenangan   Bab 7

    Tahun demi tahun berlalu.Bagiku, waktu hanyalah pergantian siang dan malam, pasang dan surut.Tanpa terasa, lima tahun telah berlalu.Kini, dalam ingatanku semua tentang Nicholas hanya tersisa serpihan kenangan. Semua kenangan manis itu telah menjadi masa lalu yang memudar.Kini, hanya tersisa ....Hanya luka yang dia tinggalkan setelah panggilan video yang tak sengaja kulakukan saat itu.Untungnya, semua masih bisa dimulai lagi.Seperti biasa, aku mengeluarkan ponsel dari tas lalu menelepon nomor itu.Namun kali ini, tak ada lagi yang menjawab panggilanku.Sejak percakapan terakhir kami lima tahun lalu, jalan hidup kami berubah.Sejak saat itu, panggilan yang menghubungkanku dengan Elena tidak pernah lagi tersambung.Aku menghembuskan napas panjang.Kusimpan kembali ponsel itu ke dalam tas.Ponselku yang lain tiba-tiba bergetar. Begitu kulihat layar ponselku, raut wajahku langsung melembut.[Sudah pulang kerja belum? Aku tunggu di luar ya.][Aku juga bawa kue kesukaanmu.]Aku langsun

  • Setelah Sepuluh Hari, Semua Tersisa Kenangan   Bab 6

    Foto pernikahan itu bukan lagi foto dirinya dan Elena, melainkan dirinya dan Larissa.Cincin nikahnya pun terukir nama dirinya dan Larissa.Nicholas meragukan dirinya sendiri untuk pertama kali.Mungkinkah dia benar-benar sudah gila?Apa benar yang seperti Kakek katakan tadi? Elena menolak lamarannya, lalu dia menjadi gila ....Namun, sesaat kemudian dia langsung menepis pikiran itu.Tak seorang pun lebih memahami hubungan sepuluh tahunnya dengan Elena selain dirinya.Mereka pernah menyaksikan matahari terbit dan terbenam bersama, juga menikmati indahnya alam.Mereka juga naik balon udara di Naveri dan melihat aurora di Westoria bersama.Semakin dia memikirkannya, kenangan indah yang selama ini dia pendam bermunculan satu per satu.Mereka pernah benar-benar begitu bahagia.Namun, selama bertahun-tahun ini ....Kenapa semuanya bisa berubah menjadi seperti ini?Kini, bahkan semua jejak Elena dalam hidupnya pun lenyap begitu saja.Nicholas terhuyung lalu terduduk lemas di sofa.Dia memega

  • Setelah Sepuluh Hari, Semua Tersisa Kenangan   Bab 5

    Pikiran Nicholas terasa kacau.Dia menatap Kakeknya yang mengernyitkan kening, merasa bingung dan berkata, “Kakek bicara apa? Siapa yang sepuluh tahun nggak bertemu?”Mata Larissa sudah memerah karena menahan tangis di sampingnya.Kakek Sena menepuk tangannya dan berkata pada Nicholas dengan marah, “Nicholas, Kakek peringatkan kamu. Keluarga Sena nggak boleh punya pria yang berperilaku buruk!”Nicholas langsung bingung.Dia ingin bertanya, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana.Kakek Sena mendengus.“Elena yang masih kamu pikirkan itu, sepuluh tahun lalu setelah kamu mencarikan dokter untuknya, dia malah meninggalkanmu. Kamu lupa, ya?”Pikirannya seakan meledak.Nicholas merasa seolah tersambar petir. Dia hanya merasa semua ini begitu mustahil.“Meninggalkanku? Kakek, apa Kakek sudah pikun?”“Aku dan Elena sudah menikah selama sepuluh tahun. Bukankah Kakek juga sangat suka istri cucumu ini?”Pada saat itu ....Larissa akhirnya tak mampu menahan tangisnya. Matanya sudah berlinang air

  • Setelah Sepuluh Hari, Semua Tersisa Kenangan   Bab 4

    ”Lena, aku sudah pulang. Jangan takut, aku akan selalu ada untukmu.”Mendengar suara di seberang telepon, rasanya seperti berasal dari kehidupan yang lain.Sudah terlalu lama.Aku bahkan tidak ingat lagi, sudah berapa tahun dia tak lagi memanggilku "Lena" dengan suara selembut itu.“Terima kasih,” ucap Elena datar di seberang sana.Nicholas di masa itu terdengar sedikit kecewa.“Lena, kenapa kamu tiba-tiba bilang terima kasih?”Elena kembali terdiam. Dia bahkan tidak bertanya lagi dan hanya meminta dokter agar segera menyiapkan operasinya.Beberapa saat kemudian.Barulah dia mengeluarkan ponselnya dari balik selimut.“Begitu opeasinya selesai, aku akan pergi. Aku nggak akan datang ke acara lamaran itu.”Aku mengangguk. Dadaku terasa sedikit lega untuk pertama kalinya.Ketika aku baru sampai di rumah, Nicholas langsung menyusul, membawa Larissa yang menangis tersedu-sedu.Dia langsung mencengkeram pergelangan tanganku dengan wajah penuh amarah.“Kamu pasti yang beritahu Kakek tentang hu

  • Setelah Sepuluh Hari, Semua Tersisa Kenangan   Bab 3

    Orang-orang di sekitar diam-diam memperhatikanku.Ada yang merasa kasihan.Ada juga yang hanya ingin menyaksikan drama ini dan menikmati kemalanganku.Aku mengabaikan mereka. Tanpa melirik siapa pun, aku berjalan masuk ke kediaman utama dan menyerahkan hadiah ulang tahun kepada Kakek.“Kakek, semoga selalu diberi keberkahan dan panjang umur, ya.”Dia menatapku dengan penuh kasih sayang.“Iya, Kakek terima.”Nicholas melangkah sedikit ke belakang, lalu berdiri di samping Larissa. Mereka justru tampak seperti pasangan suami istri yang mesra.Kakek terdiam sejenak.Kemudian, dia meraih tanganku dan tangan Nicholas, menyatukannya sambil berkata, “Jangan-jangan kalian sudah memberiku cicit?”Aku dan dia sama-sama terpaku.Aku lebih dulu melepaskan tanganku. Di tengah tatapan Nicholas yang masih terkejut, aku berkata, “Kakek, aku dan Nicholas ....”“Elena.” Pria di sampingku memotong ucapanku dan berkata kepada Kakek, “Kek, tenang saja. Kami akan segera melakukannya.”Kakek Sena tertawa baha

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status