Short
Tiada Lagi Ombak Namamu

Tiada Lagi Ombak Namamu

By:  GrindCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
16Chapters
52views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Sinta Lioda sudah menantikan pertunangan yang disiapkan selama setahun ini, tapi acara tersebut justru berubah menjadi lelucon akibat kedatangan cinta sejati tunangannya dari luar negeri. Dia ditinggalkan oleh Ronald di hadapan semua orang. Bahkan, saat mengejarnya dalam keadaan kacau, Sinta mengalami kecelakaan mobil hingga koma. Semua orang menunggu untuk melihat bagaimana Sinta yang biasanya suka sewenang-wenang itu, membalas dendam pada perempuan cinta sejati itu begitu dia terbangun. Namun, ketika sadar, dia seperti menjadi orang yang berbeda. Dia tidak membuka mata dan langsung membuat keributan untuk bertemu Ronald, tidak menelepon pria itu terus-menerus, tidak pula mencari masalah dengan perempuan yang merusak pertunangannya. Dia begitu tenang seolah jiwanya sudah tertukar. Hingga kondisinya membaik, dia mengumumkan akan menggelar konferensi pers. Opini publik langsung heboh dalam sekejap. Para wartawan mengarahkan kamera ke arahnya sambil memegang majalah gosip terbaru, menunjukkan pandangan yang bermaksud mengejek. Ada dua foto di berita tersebut, satu foto Sinta yang bersimbah darah akibat kecelakaan, satu foto Ronald yang mencium punggung Virly. Sangat kontras.

View More

Chapter 1

Bab 1

"Nona Sinta, gimana pendapatmu tentang berita ini?"

Kameramen tidak berani berkedip, bersiap menekan tombol jepret kapan saja demi menangkap reaksinya.

Sinta mengangkat kelopaknya, menatap dengan dingin, lalu tersenyum tipis

"Fotonya bagus, mereka kelihatan mesra banget."

Sama sekali tidak ada kesan histeris seperti yang dibayangkan semua orang.

Para wartawan tertegun, penampilan yang sangat tidak biasa ini membuat adu argumen yang sudah mereka siapkan tidak terpakai sama sekali.

Siapa yang tidak tahu, Sinta, sebagai putri tunggal kaya raya, sejak kecil sangat dimanjakan dan egois. Dia akan berusaha mendapatkan apa yang dia inginkan, barang yang tidak dia inginkan tidak akan diberikan pada orang lain meskipun sudah dibuang.

Laki-laki pun tidak terkecuali.

Tiga tahun lalu, dia jatuh cinta pada pandangan pertama pada Ronald Garga dan mengejarnya selama tiga tahun sampai akhirnya berhasil bertunangan.

Tidak ada yang percaya, Sinta yang seperti ini akan menyerah begitu saja.

Para wartawan maju satu langkah. Baru saja hendak bertanya, tapi mikrofon yang diulurkan dihalangi oleh sebuah tangan.

Ronald mengenakan setelan jas hitam, dengan ekspresi tenang, berdiri santai tapi memancarkan aura terpandang.

Mata hitamnya yang dalam perlahan menatap para wartawan, membuat semua orang patuh untuk mundur beberapa langkah.

"Kali ini kamu lumayan bisa menahan diri."

Dia menatap Sinta dengan suara datar

"Kalau lagi sakit ya tenang aja, nggak usah bikin ulah."

Lalu dia menatap para wartawan dan berkata dengan dingin, "Semua bubar."

Para wartawan merasa tidak puas, tapi mereka tidak berani menentang keinginan Ronald.

Saat hendak pergi, Sinta terkekeh dingin, mendorong orang yang menghalangi jalan di depannya.

"Permisi, bisa minggir dikit nggak?"

"Memotong pembicaraan orang lain itu nggak sopan, tahu nggak?"

Ejekan di matanya membuat tubuh Ronald menjadi kaku.

"Sinta, kamu nggak usah pura-pura nggak kenal sama aku, aku udah janji bakal kasih kamu status Nyonya Garga, aku nggak bakal ingkar janji."

Di matanya terdapat kepercayaan diri yang dibuat-buat.

Pada saat itu, suara perempuan yang lemah juga terdengar bersamaan.

"Nona Sinta, kamu jangan salah paham ya, aku sama Ronald udah lama ... putus ...."

"Pas hari pertunangan kalian, HP-ku hilang dan aku cuma ingat nomor telepon dia, makanya aku minta tolong dia buat jemput aku .... Kamu jangan mikir yang nggak-nggak ya!"

Virly Jasmine entah sejak kapan sudah berada di dekat mereka berdua, tampak seperti perempuan polos yang lemah lembut.

Sinta menatap mereka berdua tanpa berkedip cukup lama, sampai Ronald mengerutkan dahi dan berdiri menghalangi Virly.

Baru kemudian Sinta angkat bicara

"Siapa itu Ronald?"

Dia menunjuk ke arah Ronald, "Dia ya?"

Sebelum mereka berdua sempat merespons, Sinta melambaikan tangan dan berkata tanpa acuh.

"Nggak penting sih, kalau kamu kenal sama dia, mending bawa pergi aja sekarang, jangan ganggu konferensi pers-ku."

Semua orang tertegun.

Namun, dia malah mendekati mikrofon dan tersenyum

"Hari ini aku bikin konferensi pers cuma mau nyatain dua hal aja."

"Pertama, aku hilang ingatan dan ingatanku berhenti di tiga tahun lalu."

"Kedua, aku mau batalin pertunangan sama si siapa itu ... Ronald. Oh ya, tolong sampaikan ucapan selamatku buat dia dan Nona Virly, semoga cepat dapat momongan."

"Segitu aja, makasih semuanya."

Setelah berbicara, dia berbalik dan kembali ke kamar rawat.

Mata para wartawan berbinar, mereka mulai menulis dengan cepat.

Mata Ronald mengerut ketat, dia menatap punggung Sinta yang pergi dan melangkah lebar untuk mengejarnya.

Virly yang melihat hal itu ikut menyusul di belakang.

Sinta yang baru mau menutup pintu, ditahan dengan kuat oleh sebuah tangan.

Ronald menerobos masuk.

"Mending kamu pergi sendiri sebelum aku panggil polisi."

Dia mengeluarkan ponselnya dan layar menunjukkan angka 110.

Kerutan di dahi pria itu makin mendalam.

"Kamu belum puas juga bikin ulahnya?"

"'Kan udah aku bilang, posisi kamu sebagai Nyonya Garga nggak bakal berganti."

Virly yang baru saja sampai wajahnya langsung pucat.

Sinta menyilangkan tangan di dada, berkata dengan tenang.

"Ronald, 'kan? Yang aku omongin tadi kurang jelas ya?"

"Atau daya tangkap kamu yang bermasalah?"

Suara Ronald tertahan, dia menatap mata Sinta dengan dingin.

"Sinta, trik pura-pura hilang ingatan ini payah banget."

"Pertunangan ini menyangkut Keluarga Garga dan Lioda, kamu nggak bisa seenaknya aja."

Baru saja kalimat itu selesai, Virly buru-buru menambahkan

"Nona Sinta, kamu beneran udah salah paham!"

Dia mengeluarkan sebuah kotak dari dalam pelukannya dan menyerahkannya.

"Ini sebenarnya hadiah yang mau aku kasih buat kamu sama Ronald pas pertunangan, ini cincin pasangan yang aku desain sendiri."

Hingga cincin pasangan itu muncul, mata Sinta yang tadinya tenang akhirnya menunjukkan sedikit perubahan.

Tidak ada yang tahu, Sinta yang berusia 26 tahun sudah mati dalam kecelakaan mobil tersebut.

Sekarang, di dalam tubuh ini, terdapat jiwa Sinta yang berusia 36 tahun.

Dalam ingatan 10 tahun itu, setelah terbangun dia menggunakan segala cara untuk membalas dendam pada Virly yang merusak acara pertunangannya.

Namun, setiap kalinya selalu dihalangi oleh Ronald.

Pria itu memang menikahinya menjadi Nyonya Garga sesuai keinginannya, tapi menggunakan alasan tersebut untuk mengurungnya di rumah sakit jiwa selama 10 tahun.

Virly datang untuk menertawakannya dan memberi tahu bahwa Roni dan Merry, ayah ibu Sinta, berlutut di tanah memohon pada Ronald untuk melepaskannya, bahkan tidak ragu menyerahkan Grup Lioda.

Sayangnya, keberuntungan tidak berpihak pada mereka, keduanya mengalami kecelakaan mobil di jalan dan meninggal dunia.

Sinta menjadi gila dan menatap dengan mata merah sambil mencekik leher Virly, sampai dia menyadari cincin di tangan perempuan itu.

Virly tertawa makin keras, "Sinta, aku dengar kamu sampai operasi potong tulang cuma demi pakai cincin yang ukurannya lebih kecil ini. Kamu belum tahu ya, pasangan cincin ini aku yang desain, cincin perempuannya dari awal memang pakai ukuranku!"

Sinta ditarik pisah oleh dokter yang datang dan malam itu juga dia melompat dari gedung untuk bunuh diri.

Begitu membuka mata kembali, dia menyadari jiwanya sudah kembali ke masa 10 tahun lalu.

Kali ini, dia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

Mengenai cincin ini, Sinta menarik pandangannya dan terkekeh.

"Barang murah yang nggak seberapa ini mending kamu pakai sendiri aja."

Setelah berbicara, dia tanpa ragu menekan tombol panggil polisi dan memberi isyarat tangan agar mereka berdua pergi.

"Silakan keluar."

Ronald menatapnya dengan dalam lalu berbalik pergi, suaranya yang dingin bergema di dalam kamar rawat.

"Sinta, kuharap kamu beneran hilang ingatan."

Setelah mengunci pintu dengan keras, dia segera menelepon Merry.

"Ibu, aku mau batalkan pertunangan sama Ronald."

"Iya, aku serius."

"Pasangan perjodohan yang baru udah aku pikirkan, aku mau sama anak haram dari Keluarga Jerico itu aja!"

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
16 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status