Home / Romansa / Setiap Malam, Paman Suamiku Membelaiku / Bab 18. Rasaku yang Membuncah

Share

Bab 18. Rasaku yang Membuncah

Author: Te Anastasia
last update Last Updated: 2025-10-12 09:41:35

Di sisi lain, Marieana merasa waswas saat berjalan menuju kamar. Ia khawatir bila David kebingungan karena ia tidak ada. Atau mungkin, saat ini David sedang berada di luar mencarinya.

Langkah Marieana berhenti di depan pintu saat mendengar suara pria di dalam kamar, yang sepertinya tengah berbincang melalui sambungan telepon.

Marieana membuka pintu kamarnya. Kedatangannya membuat David terkejut, pria itu bertingkah aneh seperti pencuri yang tertangkap basah. Bahkan, David buru-buru memutus panggilannya entah dengan siapa itu.

"Sayang! Ya ampun ... Sayang, kau tadi di mana? Aku mencarimu ke mana-mana, Marieana." David mendekatinya dan mencekal kedua pundaknya. Ekspresinya tampak khawatir, tetapi terlihat janggal.

"Kau tidak apa-apa 'kan, Sayang?" tanya David lagi, pandangannya menelisik Marieana dengan khawatir. "Aku dengar tadi, Bibi Camila membuat masalah denganmu?"

"Aku tidak apa-apa. Jangan khawatir," jawab Marieana, lalu menarik kedua lengannya dari tangan David. Ada sesuatu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Setiap Malam, Paman Suamiku Membelaiku   Bab 232. Pengirim Bunga dan Surat Sarkastik

    Margaret duduk lama di atas kursi roda, menggendong bayi mungilnya dan memberikan ASI untuk pertama kalinya pada si kecil Baby Viony. Baik Margaret maupun Maxim tidak ada yang tahu, apa warna mata si mungil ini, karena Viony selalu tertidur sepanjang hari. Apakah dia memiliki manik mata biru seperti Margaret, atau hitam seperti milik Maxim?"Sssttt ... ya ampun! Ternyata sakit sekali!" Margaret meringis kesakitan saat bayi kecil itu menyesap ASI. "Ya ampun, Sayang." Margaret mengelus kening putri kecilnya. Meskipun ini pertama kali untuknya memberikan ASI untuk bayinya, dan ternyata rasanya sangat sakit. Margaret tidak mau berhenti, ia tetap memberikan ASI untuk putri kecilnya. Karena ia ingin menjadi ibu yang baik untuk anak kesayangannya. "Sayang, kalau sangat sakit lebih baik tidak usah—""Tidak apa-apa," sela Margaret cepat. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dan kembali menatap bayinya yang menyesap ASI dengan kuat.Margaret tersenyum lembut menahan sakit. "Dulu, waktu aku masi

  • Setiap Malam, Paman Suamiku Membelaiku   Bab 231. Selamat Datang Ke Dunia, Baby Viony

    "Tuan, apakah kabar kelahiran Nona kecil tidak akan Tuan umumkan? Biasanya ... rekan-rekan kerja Tuan selalu mengadakan acara setiap mereka memiliki bayi yang baru lahir." Logan menatap Maxim yang kini duduk di sampingnya. Dengan suara berbisik, mereka duduk di luar kamar rawat inap Margaret. Helaan napas panjang menjadi jawaban pertama dari Maxim atas pertanyaan Logan barusan. "Entahlah. Sepertinya nanti," jawabnya tenang. "Yang terpenting sekarang adalah kondisi istriku. Dia harus segera pulih terlebih dahulu." "Iya, Tuan." Maxim tertunduk, ia menatap ke arah arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Sebelum akhirnya laki-laki berbalut jas berwarna navy itu beranjak dari duduknya. Langkah Maxim menuju ke arah kamar rawat inap Margaret. Ia membuka pintu ruangan itu dan berjalan masuk ke dalam menghampiri istrinya yang baru saja bangun. "Kau tidak lapar, Sayang?" tanya Maxim, mengusap kening Margaret. "Heem," jawab Margaret bergumam dan mengangguk. "Aku ingin makan bubur

  • Setiap Malam, Paman Suamiku Membelaiku   Bab 230. Semakin Sayang Aku Padamu

    Kondisi Margaret benar-benar melemah setelah melahirkan. Ia dan bayinya dipisah kamar untuk beberapa waktu. Sementara Maxim sibuk mengurus banyak hal tentang berkas rumah sakit untuk bayinya dan juga istrinya. Begitu hari sudah menjelang sore, Maxim kembali ke dalam kamar perawatan Margaret. Di sana, ia melihat Margaret yang masih terbaring dengan sepasang terpejam.Usai beberapa menit melahirkan, Margaret pingsan karena kehilangan banyak darah dan tubuhnya semakin melemah hingga butuh perawatan khusus. Maxim terlihat gelisah dan gundah. Ia duduk di samping Margaret dan menggenggam tangannya."Bangunlah, Sayang... Viony mencarimu," bisik Maxim dengan hati sedih. Maxim menundukkan kepalanya di samping kepala Margaret. Ia masih menggenggam tangan Margaret, dan tak terhitung berapa kali ia mengecup kening dan pucuk kepala istrinya. Dokter berkata, sore ini mungkin Margaret sudah bangun. Namun tetap saja, Maxim sangat cemas karena sang istri belum memberikan tanda-tanda sadarkan diri.

  • Setiap Malam, Paman Suamiku Membelaiku   Bab 229. Kelahiran Putri Kita, Viony Valdemar

    Margaret terbangun saat tubuhnya merasa kedinginan. Wanita itu membuka kedua matanya dan menarik napas panjang. Setelah kesadarannya terkumpul, dahinya mengernyit bersamaan rasa nyeri seolah menyerangnya secara tajam. Perutnya sakit menjadi semakin tak tertahankan. "Akhhh..." Margaret meremas bantal di sampingnya. "Sayang!" Maxim yang baru saja masuk ke dalam kamar, ia segera meletakkan segelas air putih untuk Margaret di atas meja.Maxim segera mendekati Margaret dan merangkulnya. "Masih sakit?" tanya laki-laki itu, suaranya diselimuti rasa khawatir. "Iya, semakin sakit. Se-sepertinya aku akan me-melahirkan! Huhhh! Arrrggghh!" Margaret meremas kuat punggung Maxim. "Kita ke rumah sakit sekarang, Sayang!" seru Maxim. Laki-laki itu menyahut mantel hangatnya dan menyelimuti tubuh Margaret sebelum ia mengangkat tubuh istrinya dan membawanya pergi keluar dari dalam kamar. Margaret menangis kesakitan. Pasalnya, rasa sakit yang ia rasakan kini jauh lebih sakit dari biasanya. Semua tul

  • Setiap Malam, Paman Suamiku Membelaiku   Bab 228. Aku Tidak Akan ke Mana-mana

    Malam terasa hening di kediaman Maxim malam ini. Margaret merasakan kembali nyerinya kontraksi palsu. Ia yang biasanya ditemani oleh Bibi Letiti, kali ini Margaret hanya seorang diri. Ia berjalan ke sana kemari di lantai dua, menunggu Maxim pulang meeting malam ini. "Huhh...!" Sergahan napas panjang mengudara dari bibir Margaret. Ia menyentuh perutnya yang terasa sesak, mulas, dan nyeri menjadi satu. "Ya ampun, Nak. Sudah satu jam rasanya tidak reda sama sekali," ucap Margaret, ia menyandarkan punggungnya pada pilar besar di lantai dua. Udara yang dingin di Fratz seolah tidak menyentuh Margaret. Wajahnya tetap berkeringat dan tubuhnya juga terasa lemas. "Maxim ... kenapa dia belum kembali? Dia bilang tidak sampai jam sembilan malam," gerutu Margaret kesal. Wanita itu berjalan tertatih-tatih ke arah kamar. Ia mengambil ponselnya di atas nakas dan menghubungi Maxim saat itu juga. Semakin Margaret menahan kesal, rasanya sakit di perutnya semakin terasa nyeri. "Ayo jawab, Maxim!

  • Setiap Malam, Paman Suamiku Membelaiku   Bab 227. Mempercayai Suamiku

    Dua hari berlalu...Setelah sekian lama akhirnya Margaret kembali ke Fratz. Kota besar yang dulu menjadi bagian dari tujuan rencanannya membalas dendam, sebelum semuanya gagal total untuk ia raih sendiri, tapi setidaknya sedikit berhasil dengan adanya Maxim. Sepanjang perjalanan menuju kediaman keluarga Valdemar, Margaret tampak jemu menatap pemandangan kota besar itu. Semuanya masih sama dan tidak ada yang berubah. "Saat tiba di rumah, kau harus segera istirahat setelah makan siang," ujar Maxim menoleh pada Margaret. "Kalau kau sendiri?" Wanita cantik itu balik bertanya. "Aku akan ke kantor. Ada beberapa urusan yang harus aku urus. Dan pertemuan dengan beberapa orang," jawab Maxim menjelaskan. "Heem, baiklah." Maxim melirik Margaret yang masih diam dan menatap kembali ke arah pemandangan di luar. Rasa ragu mulai menyelimuti Maxim. Ia ingin membahas tentang perusahaan dan pertambangan milik Margaret, setidaknya, Maxim ingin sedikit saja menanyakan pada istrinya, apakah Margaret

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status