LOGINSetelah Maxim mengatakan pada Margaret kalau besok mereka akan menikah, Margaret menjadi resah. Gadis itu kembali membuka kotak berukuran besar berisi gaun pernikahan yang pernah Maxim berikan padanya beberapa bulan yang lalu. Margaret menatap kotak berwarna putih itu. Ia memperhatikan gaun pengantin berwarna putih yang kini sepertinya tidak bisa ia pakai lagi. Percuma saja dibuka kembali kotak itu. "Kenapa ditutup?" Maxim mendekatinya. Margaret menatapnya sekilas dan menutup kotak itu lagi. "Gaunnya sudah tidak muat. Perutku sudah besar. Lagipula, malu sekali sudah hampir melahirkan harus menikahi dengan dirayakan memakai gaun semewah itu ... sudah bukan gadis yang bercita-cita berjalan di altar pernikahan seperti seorang Tuan Putri." Maxim mengerjapkan kedua matanya dan berdiri merangkul pundak Margaret. "Aku bisa memanggil perancang busana dan memintanya membawa beberapa rekomendasi baju yang pas seusai ukuranmu sekarang. Bagaimana?" tawar laki-laki itu dengan penuh perhatian
Hari demi hari berlalu. Margaret masih saja tetap dingin dan menjaga jarak dengan Maxim.Hal ini sungguh di luar dugaan Maxim kalau gadis itu tetap keras kepala atas apa yang dia putuskan. Pagi kelima perang dingin. Margaret dan Maxim berada di ruang makan. Mereka tengah menikmati makan siangnya berdua. "Besok sore ada perayaan musim semi di kota, kau mau lihat?" tawar Maxim pada Margaret. "Kakiku bengkak, aku tidak bisa berdiri lama," jawab Margaret. "Lagi pula, Dokter Dora juga memintaku untuk banyak beristirahat." Maxim terdiam sejenak menatapnya. "Baiklah. Kalau begitu, katakan saja apa yang nanti ingin kau makan, cemilan, cake, atau buah-buahan. Akan aku belikan, karena malam ini akan ada tamu dari Barchen, jadi ... aku tidak bisa menemanimu." Kegiatan Margaret yang hendak makan pun terhenti. Ia menatap Maxim dengan tatapan bertanya-tanya. Apakah laki-laki itu akan kembali ke Fratz? Seakan-akan bisa membaca pikiran Margaret. Maxim tiba-tiba tersenyum. "Tamunya akan ke sin
Malam ini, pintu kamar Margaret benar-benar tertutup rapat. Biasanya Maxim akan seenaknya sendiri masuk ke dalam kamar itu dan berbaring di samping Margaret untuk tidur bersama. Tetapi sekarang berubah dan berbeda, semua tidak lagi sama seperti kemarin-kemarin. Maxim tidak marah dengan keputusan Margaret, justru ia menghargai apa yang dilakukannya oleh gadis itu sebagai bentuk kemarahan dan protesnya. Namun lucunya, Maxim meremehkan keputusan Margaret dan menganggapnya sedikit kekanak-kanakan. Laki-laki itu berjalan melewati kamar Margaret sambil tersenyum tipis. "Loh ... Tuan Maxim, Anda belum tidur?" Logan menatapnya. Laki-laki itu duduk di ruang keluarga di lantai dua bersama beberapa tumpukan berkas-berkasnya. "Belum," jawab Maxim. "Aku akan menggunakan kamar ini." Ia menunjuk sebuah kamar di hadapannya. Dahi Logan mengerut. "Di kamar ini? Kenapa tidak bersama Nona Margaret?" Maxim menatapnya lekat. "Dia marah padaku," jawabnya. "Dia melarangku untuk tidur dengannya, menyent
Hari sudah gelap. Margaret sudah diizinkan pulang oleh dokter meskipun ia harus terus dipantau oleh Dokter setiap tiga hari sekali. Sesampainya di rumah, Margaret pelan-pelan turun dari dalam mobil. Di sampingnya ada Maxim yang baru saja turun lebih awal. "Hati-hati," ujar laki-laki itu. Margaret meringis dan mendesis kecil memegangi perutnya. "Nona...!" Bibi Letiti dan Pelayan Sisi berlari kecil menghampirinya. Kedua wanita itu tampak heboh dengan kepulangan Margaret. Wajah-wajah khawatir mereka jelas terlukiskan. "Ya ampun, Nona. Apakah masih sakit?" tanya Bibi Letiti. "Sedikit, Bi," jawab gadis itu. Maxim merangkul pundak Margaret dan menatap wajah cantik gadis itu dari samping. "Pegangan, aku akan menggendongmu," ucap Maxim. "Tidak perlu. Aku bisa berjalan sendi—!" Ucapan Margaret terhenti begitu Maxim mengangkat tubuhnya. Margaret melirik ekspresi datar Maxim saat ini. Dengan langkahnya yang lebar, laki-laki itu membawanya masuk ke dalam rumah. "Apa kamar Margaret su
Tok.. tok... tok..."Margaret? Kau sudah tidur?" Pintu kamar inap Margaret sedikit terbuka. Di sana, berdiri sosok laki-laki tampan berbalut jas putih yang kini tersenyum padanya. Margaret menatapnya lekat laki-laki yang kini masuk dan berjalan mendekatinya."Dokter Grayson..." Grayson meletakkan keranjang kecil berisi buah anggur hijau di atas nakas, sebelum laki-laki itu menarik sebuah kursi dan duduk di samping ranjang rumah sakit. "Di mana Maxim?" tanya dokter muda itu."Dia masih pulang. Aku tidak tahu, dia akan ke sini lagi atau tidak," jawabnya. Laki-laki itu tersenyum tipis dan nengangguk. "Dia pasti ke sini. Aku sangat yakin itu." "Bisa saja dia ada urusan mendadak. Biasanya seperti itu, dan tidak ada yang bisa menghentikannya." Grayson mengembuskan napasnya panjang. "Dia sangat mencintaimu, apa kau tidak sadar itu? Meskipun caranya berbeda dari kebanyakan orang. Cara mencintaimu, mungkin sedikit membuatmu sering sakit hati." Margaret menggelengkan kepalanya. Ekspresi
'Dia datang di saat aku sakit dan dalam kondisi yang buruk. Tetapi saat aku baik-baik saja, dia bahkan pergi dan mengabaikanku seolah-olah keesokan harinya aku bisa dibujuk lagi seperti anak kecil yang tersenyum manis saat diberi gula-gula.' Margaret termenung diam di dalam kamar rawat inapnya. Gadis itu menatap langit cerah pagi ini dari kaca jendela di dalam kamarnya, bahkan cahaya hangat matahari menyinari wajahnya yang sendu. Tak henti-hentinya Margaret memikirkan Maxim. Ia bisa mengakui seberapa khawatir laki-laki itu padanya saat ini, meskipun Margaret bingung, apakah Maxim benar-benar khawatir padanya, atau hanya pada anaknya. Pintu kamar itu pun terbuka. Maxim berjalan masuk ke dalam sana, mendekati Margaret sebelum laki-laki itu meletakkan paper bag di atas meja di samping ranjang. "Kau harus sarapan dulu, aku membelikan makanan kesukaanmu, Sayang," ujar Maxim, ia memperhatikan Margaret yang masih diam. Maxim mendekati Margaret dan meraih tangannya. "Kau tidak mendengar







