INICIAR SESIÓNHari ini kondisi Viony sudah jauh lebih baik, dan sudah diizinkan pulang. Dylan lah yang menjemput Viony dan mengantarkannya pulang ke kediaman keluarga Valdemar. Kepulangan Viony membuat Maxim dan Margaret menjadi begitu lega. Terlebih lagi, kondisi Viony sudah benar-benar baik. Di sana juga ada Chloe dan Caesar yang menjenguk Viony. "Jangan lupa, jaga kesehatannya, Sayang ... makan yang teratur, istirahat juga." Chloe mengusap punggung tangan Viony dan menatapnya penuh kasih sayang. "Iya, Mommy," jawab Viony sambil tersenyum. Margaret mendekati putrinya dan duduk di sampingnya. "Aku sangat berterima kasih pada Dylan, Kak Chloe. Dia sudah menemani Viony selama Viony dirawat di rumah sakit." "Tidak apa-apa, Margaret. Namanya juga menjaga calon istri. Tidak ada yang aneh kok," jawab Chloe, ia melirik putranya yang duduk di antara Maxim dan Caesar. Para orang dewasa itu saling tersenyum. Mereka sangat senang dengan kedekatan Viony dan Dylan, malah mereka tidak sabar ingin segera
Scarlet terperanjat kaget, Dylan memintanya berdiri saat itu juga. Gadis itu meremas jemari tangannya erat. Dylan tak diam saja kali ini. Ia mendekati Scarlet yang mendongak menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Ayo berdiri, aku tahu kau sudah bisa berjalan selama beberapa bulan ini ... dan kau membohongiku," ujar Dylan. Perlahan, Scarlet bangkit dari kursi roda dan berdiri di hadapan Dylan. Gadis itu menundukkan kepalanya memalingkan wajahnya juga air matanya. Dylan menggelengkan kepalanya tak percaya. Benar kata Alvino bahwa Scarlet selama ini berbohong padanya. Dylan tertawa sumbang dan menatap Scarlet setengah kesal. "Wow! Menakjubkan, Scarlet!" serunya. "Aku tidak tahu sejak kapan aku kau bohongi," ujarnya."Dylan, aku bisa jelaskan...." "Sejak kapan?" Dylan menekan ucapannya. "Katakan! Apa susahnya kau mengatakan sejak kapan bahwa selama ini kau sudah sembuh?!" Gadis itu menangis. Ia terdiam cukup lama, tetapi Dylan yang lebih sabar menunggu Scarlet menjawab dan menjelask
Sore ini Dylan kembali ke apartemennya usai dari kantor. Pria itu memutuskan untuk pulang sebentar sebelum ke apartemen sebelum kembali ke rumah sakit menjenguk Viony. Saat Dylan tiba di apartemennya, ia terkejut mendapati seorang gadis cantik duduk di kursi roda di depan pintu apartemennya. "Scarlet...." Mendengar namanya disebut, Scarlet menoleh ke arah lorong. Ia tersenyum saat melihat Dylan di sana. "Dylan, maaf ya, aku ke sini tidak bilang-bilang dulu padamu," ujarnya sambil tersenyum cerah. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Dylan menatapnya. Scarlet menunjukkan paper bag berisi makanan yang ia bawakan untuk Dylan. "Aku ingin kita makan bersama, seperti dulu lagi. Kau mau, kan?" Gadis itu menatapnya penuh harap. Dylan terdiam, ia berpikir bagaimana caranya menolak Scarlet tanpa menyakiti perasaannya. Dylan tetap harus tegas pada gadis ini. Karena ia tidak mau bila Viony menjadi korban bila Dylan keras kepala menanggapi Scarlet. "Aku tidak bisa," jawab Dylan. "Hah?
Hati telah berganti pagi, Viony berada di dalam kamar rawat inapnya seorang diri. Gadis itu diam meringkuk menatap jendela kamar inapnya. Wajahnya terasa hangat oleh cahaya matahari yang bersinar menerpa wajahnya saat ini. Dalam diam, ada getaran rasa was-was yang bohong untuk Viony akui bahwa ia saat ini memang sedang takut. Di depan semua orang, Viony berkata ia hanya demam biasa. Tetapi begitu ia memiliki penyakit yang tidak bisa diremehkan, Viony tidak bisa berkata-kata. Ia tidak bisa melakukan apapun selain berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri dan orang tuanya. "Sayang, kenapa melamun? Menunggu Mama lama, ya?" Suara Margaret terdengar bersamaan pintu kamar rawat inap Viony yang terbuka. Gadis itu menoleh dan langsung tersenyum manis. "Tidak apa-apa, Ma. Viony hanya kesepian saja." Margaret mendekatinya dan membuka sebuah kotak makan yang baru saja Margaret ambil dari rumah. Viony merindukan masakan Bibi Letiti, hingga ia menginginkan masakan rumah. "Ayo sarapan dulu,
Sejak Viony sakit, Dylan menghabiskan banyak waktunya untuk menemani Viony. Sehari setelah Viony dibawa ke rumah sakit, kondisinya kembali menurun. Hal itu membuat Maxim dan Margaret sangat kebingungan. Namun mereka berusaha untuk tetap tenang, karena Viony juga tampak sangat takut. Ia berusaha menjelaskan kalau dia hanya terkena demam dan sakit-sakit biasa, tampak jelas baginya sulit menerima apa yang terjadi pada tubuhnya itu. Gadis itu kini duduk di sebuah kursi roda, di depan ruangan laboratorium pemeriksaan setelah pengambilan sampel darah. Ditemani oleh Dylan, sementara Mama dan Papanya berada di dalam ruangan itu."Kak Dylan...." Viony menatap Dylan yang berdiri di belakangnya sambil mengusap-usap kepala Viony. "Iya, Sayang?" Dylan menundukkan kepalanya, tubuhnya terbungkuk mensejajarkan wajahnya di samping wajah cantik gadis itu. "Aku tadi bertanya pada dokter, kapan aku boleh pulang? Lalu dokter bilang, bila hari ini aku tidak demam sama sekali, aku sudah boleh pulang," u
Dari semalam penuh Dylan menemani Viony di rumah sakit. Demam tinggi Viony semalam sudah turun setelah dokter memberikan suntikan khusus. Saat pagi tiba, Dylan meminta Margaret dan Maxim untuk pulang. Dylan yang akan menemani Viony. "Apa tidak apa-apa kalau Paman pulang, Dylan?" Maxim menatap Dylan yang berdiri di samping ranjang Viony. "Tidak apa-apa, Paman. Tante Margaret juga harus istirahat dulu, baru siang nanti saya yang akan pergi ke kantor," ujarnya. Margaret tampak pucat dan sedih. Oleh karena itu, Dylan menyarankan agar dia ikut pulang bersama Maxim. "Baiklah kalau begitu kami pulang dulu, titip Viony ya, Nak. Kalau terjadi apa-apa, segera hubungi Tante," pinta Margaret pada pemuda itu. Dylan mengangguk cepat. "Iya, Tante." Kedua orang itu pun bergegas pergi, meninggalkan Dylan yang kini menemani Viony. Dylan duduk di samping Viony, ia menatapi wajah Viony yang masih damai dengan alam mimpinya. Ingatan Dylan seperti berputar pada waktu-waktu kemarin, di mana Viony s
Sementara di tempat lain, Viony bermain bersama Adele dan Levino di teras penginapan. Mereka bertiga tampak akur, meskipun sesekali Levino jahil pada Viony dan kakaknya. Viony duduk di sebuah ayunan kayu kecil bersama Bibi Letiti dan Adele dan Levino yang tengah mengejar-ngejar anjing kecil milik
Begitu pagi hari esok tiba, Margaret mengajak Erika untuk sarapan bersamanya dan juga bersama Maxim. Sebentar lagi, Margaret akan mengajaknya ke toko bunga yang akan ditempati oleh Erika. Tak hanya sekedar toko, tempat itu juga berlantai dua. Di mana Erika bisa menggunakannya sebagai rumah untukn
Setelah menidurkan Viony, malam ini Margaret membantu Bibi Erika berkemas. Mereka membawa beberapa barang-barang milik Nenek dulu untuk dibawa ke Barchen. Termasuk beberapa pakaian Nenek Bellinda, foto-foto dalam pigura, dan buku-buku kesayangan sang Nenek. Margaret memasukkan ke dalam tas kulit b
Margaret terjaga hingga larut malam, suaminya bilang dia akan pulang. Hingga pukul satu dini hari, Margaret masih duduk seorang diri di sofa ruang keluarga. Wanita itu menatap layar ponselnya berulang kali, namun Maxim tidak mengirimkan pesan apapun dan tidak kunjung sampai di rumah."Harusnya dia







