Home / Romansa / Setiap Malam, Paman Suamiku Membelaiku / Bab 213. Laki-laki Berhati Malaikat, Bertemu untuk Kedua Kalinya

Share

Bab 213. Laki-laki Berhati Malaikat, Bertemu untuk Kedua Kalinya

Author: Te Anastasia
last update Last Updated: 2025-12-30 17:03:02

Setelah kejadian beberapa jam yang lalu. Margaret tidak ingin ditemani oleh siapapun. Ia benar-benar ingin sendirian kali ini. Bahkan, gadis itu meminta Bibi Letiti pulang.

Kini, jam menunjukkan pukul lima pagi. Margaret keluar dari dalam kamar rawat inapnya, dengan langkah yang sangat pelan perlahan-lahan, gadis itu menyusuri lorong untuk mencari dokter sambil membawa tiang infusnya.

"Nyonya, Anda mau ke mana?"

Suara seorang pria dari belakang itu mengejutkan Margaret. Sontak, ia menoleh ke belakang.

Detik terasa berhenti saat Margaret melihat sosok laki-laki tampan berbalut jas putih yang kini berada di dekatnya dan merangkulnya hendak menolong.

"Kau ... Margaret?" Laki-laki itu menatapnya lekat.

"Do-dokter Grayson," cicit Margaret gugup.

Laki-laki ini adalah orang yang pernah menolongnya beberapa bulan yang lalu saat Margaret hampir saja keguguran.

Dokter Grayson Parker juga lah orang yang membuat Margaret mempertahankan anak dalam kandungannya saat ini.

"Kenapa kau di sin
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Setiap Malam, Paman Suamiku Membelaiku   Bab 230. Semakin Sayang Aku Padamu

    Kondisi Margaret benar-benar melemah setelah melahirkan. Ia dan bayinya dipisah kamar untuk beberapa waktu. Sementara Maxim sibuk mengurus banyak hal tentang berkas rumah sakit untuk bayinya dan juga istrinya. Begitu hari sudah menjelang sore, Maxim kembali ke dalam kamar perawatan Margaret. Di sana, ia melihat Margaret yang masih terbaring dengan sepasang terpejam.Usai beberapa menit melahirkan, Margaret pingsan karena kehilangan banyak darah dan tubuhnya semakin melemah hingga butuh perawatan khusus. Maxim terlihat gelisah dan gundah. Ia duduk di samping Margaret dan menggenggam tangannya."Bangunlah, Sayang... Viony mencarimu," bisik Maxim dengan hati sedih. Maxim menundukkan kepalanya di samping kepala Margaret. Ia masih menggenggam tangan Margaret, dan tak terhitung berapa kali ia mengecup kening dan pucuk kepala istrinya. Dokter berkata, sore ini mungkin Margaret sudah bangun. Namun tetap saja, Maxim sangat cemas karena sang istri belum memberikan tanda-tanda sadarkan diri.

  • Setiap Malam, Paman Suamiku Membelaiku   Bab 229. Kelahiran Putri Kita, Viony Valdemar

    Margaret terbangun saat tubuhnya merasa kedinginan. Wanita itu membuka kedua matanya dan menarik napas panjang. Setelah kesadarannya terkumpul, dahinya mengernyit bersamaan rasa nyeri seolah menyerangnya secara tajam. Perutnya sakit menjadi semakin tak tertahankan. "Akhhh..." Margaret meremas bantal di sampingnya. "Sayang!" Maxim yang baru saja masuk ke dalam kamar, ia segera meletakkan segelas air putih untuk Margaret di atas meja.Maxim segera mendekati Margaret dan merangkulnya. "Masih sakit?" tanya laki-laki itu, suaranya diselimuti rasa khawatir. "Iya, semakin sakit. Se-sepertinya aku akan me-melahirkan! Huhhh! Arrrggghh!" Margaret meremas kuat punggung Maxim. "Kita ke rumah sakit sekarang, Sayang!" seru Maxim. Laki-laki itu menyahut mantel hangatnya dan menyelimuti tubuh Margaret sebelum ia mengangkat tubuh istrinya dan membawanya pergi keluar dari dalam kamar. Margaret menangis kesakitan. Pasalnya, rasa sakit yang ia rasakan kini jauh lebih sakit dari biasanya. Semua tul

  • Setiap Malam, Paman Suamiku Membelaiku   Bab 228. Aku Tidak Akan ke Mana-mana

    Malam terasa hening di kediaman Maxim malam ini. Margaret merasakan kembali nyerinya kontraksi palsu. Ia yang biasanya ditemani oleh Bibi Letiti, kali ini Margaret hanya seorang diri. Ia berjalan ke sana kemari di lantai dua, menunggu Maxim pulang meeting malam ini. "Huhh...!" Sergahan napas panjang mengudara dari bibir Margaret. Ia menyentuh perutnya yang terasa sesak, mulas, dan nyeri menjadi satu. "Ya ampun, Nak. Sudah satu jam rasanya tidak reda sama sekali," ucap Margaret, ia menyandarkan punggungnya pada pilar besar di lantai dua. Udara yang dingin di Fratz seolah tidak menyentuh Margaret. Wajahnya tetap berkeringat dan tubuhnya juga terasa lemas. "Maxim ... kenapa dia belum kembali? Dia bilang tidak sampai jam sembilan malam," gerutu Margaret kesal. Wanita itu berjalan tertatih-tatih ke arah kamar. Ia mengambil ponselnya di atas nakas dan menghubungi Maxim saat itu juga. Semakin Margaret menahan kesal, rasanya sakit di perutnya semakin terasa nyeri. "Ayo jawab, Maxim!

  • Setiap Malam, Paman Suamiku Membelaiku   Bab 227. Mempercayai Suamiku

    Dua hari berlalu...Setelah sekian lama akhirnya Margaret kembali ke Fratz. Kota besar yang dulu menjadi bagian dari tujuan rencanannya membalas dendam, sebelum semuanya gagal total untuk ia raih sendiri, tapi setidaknya sedikit berhasil dengan adanya Maxim. Sepanjang perjalanan menuju kediaman keluarga Valdemar, Margaret tampak jemu menatap pemandangan kota besar itu. Semuanya masih sama dan tidak ada yang berubah. "Saat tiba di rumah, kau harus segera istirahat setelah makan siang," ujar Maxim menoleh pada Margaret. "Kalau kau sendiri?" Wanita cantik itu balik bertanya. "Aku akan ke kantor. Ada beberapa urusan yang harus aku urus. Dan pertemuan dengan beberapa orang," jawab Maxim menjelaskan. "Heem, baiklah." Maxim melirik Margaret yang masih diam dan menatap kembali ke arah pemandangan di luar. Rasa ragu mulai menyelimuti Maxim. Ia ingin membahas tentang perusahaan dan pertambangan milik Margaret, setidaknya, Maxim ingin sedikit saja menanyakan pada istrinya, apakah Margaret

  • Setiap Malam, Paman Suamiku Membelaiku   Bab 226. Ternyata Cemburu

    Beberapa hari kemudian...Setelah tiga hari yang lalu Bibi Margaret pulang kembali ke Yards, Margaret kembali merasa kesepian.Maxim juga mulai sibuk dengan pekerjaannya, meskipun bekerja dari rumah, namun Margaret tidak menemuinya karena ia takut mengganggu suaminya bekerja. Kini, ia berada di dalam kamar. Margaret duduk diam di sana, ia membuka beberapa lembar berkas-berkas milik Maxim yang tertinggal di kamarnya. "Hem, berkas dari Barchen," lirih Margaret, gadis itu meraih sebuah dokumen dengan sampul biru bergambar logo berlian berwarna emas. Margaret membukanya dan membacanya dengan seksama. "Perjanjian kerja sama perusahaan," lirih Margaret. Ia kembali menutup berkas itu. Margaret terdiam dan mengusap perutnya. "Maxim sangat sibuk, sampai-sampai dia mengutus beberapa orang untuk menetap di Barchen. Tetapi..," ucapan Margaret tiba-tiba berhenti. Ia berbaring menatap langit-langit kamarnya. "Aku merasa senang setidaknya dia ada di sini menemaniku. Mungkin sampai aku melahi

  • Setiap Malam, Paman Suamiku Membelaiku   Bab 225. Jangan Khawatir, Istriku

    "Jadi, kemarin-kemarin Bibi hanya mengirim satu hadiah untukku, Bi?" Margaret menatap Erika yang duduk di hadapannya. Wanita setengah baya yang tengah menyeduh teh hijau itu pun mengangguk dengan polos penuh kejujuran. "Ya. Bibi hanya mengirim satu, Nona. Bibi juga memberi surat di dalamnya, kan?" Erika menatap wajah bingung Margaret. "Memangnya kenapa?" Margaret terdiam sejenak, jemari tangannya meremas rok panjang putih yang ia pakai sebelum menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa, Bi. Aku sangat menyukai hadiah yang Bibi berikan," jawab Margaret sembari tersenyum manis. Erika ikut tersenyum. "Syukurlah kalau Nona suka. Bibi juga membuatkan selai khusus dari Raspberry pilihan yang ada di kebun Nenek. Bahkan beberapa pakaian bayinya juga Bibi buat sendiri." "Iya, Bi. Aku tahu," jawab Margaret sambil tersenyum manis. “Aku sangat terharu atas kerja keras Bibi.”Margaret terdiam sejenak. Ia mulai memikirkan hadiah kedua yang ia terima kemarin. Bila bukan Bibi Erika yang me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status