MasukMargaret tampak sangat sedih begitu ia masuk ke dalam rumah. Di depan, masih terdapat Maxim yang bertengkar dengan Grayson saat ini. Di dalam rumah itu, ketiga pelayan menatapnya dengan penuh iba, sekaligus sedih karena mereka semua harus bertengkar di saat Margaret baru saja kembali dari rumah sakit bersama anaknya yang sakit beberapa hari. "Nyonya ... nyonya baik-baik saja, kan?" Bibi Letiti berjalan mendekati Margaret. Margaret menatap kesal pada wanita itu. "Ke mana saja kau, Bi?" tanyanya. "Kenapa beberapa hari Viony dirawat di rumah sakit, kau tidak menunjukkan keberadaanmu?" Wanita setengah baya itu terdiam dengan ekspresi wajah gugup. "Nyonya, sa-saya—""Cukup. Tidak perlu kalian jelaskan apapun padaku!" pekik Margaret seketika. Detik itu juga, Margaret bergegas naik ke lantai dua menuju kamarnya. Bahkan ia menolak permintaan Bibi Letiti untuk membawakan tasnya. Dengan keras kepala Margaret membawa tas itu sendiri dan mengabaikan semua orang begitu saja. Margaret masuk
Sepanjang perjalanan, Grayson mengajak Margaret berbincang ini dan itu. Termasuk membicarakan kapan kelahiran Viony dan mengapa Grayson tidak tahu. "Jadi ... Viony lahir di rumah sakit Fratz?" tanya Grayson menatap Chloe."Heem. Dia lahir di sana saat aku pulang ke Fratz bersama suamiku," jawab wanita itu. "Pantas saja. Kalau pun lahir di sini kita pasti bertemu," ucap laki-laki itu. Margaret hanya tersenyum saja. Wanita itu kembali menatap bayinya yang tetap saja tertidur dengan nyenyak. Grayson tampak fokus mengemudikan mobilnya saat ini. "Ngomong-ngomong, Margaret ... maaf sebelumnya kalau aku lancang. Apakah suamimu tidak tahu kalau Viony masuk rumah sakit?" tanya Grab penasaran. "Dia tahu," jawab Margaret pelan. "Tapi, pekerjaan tidak bisa ditinggalkan. Jadi, lebih baik aku mengalah untuk merawat anakku sendirian. Lagi pula, aku juga bisa menjaga Viony seorang diri." Mendengar pengakuan Margaret barusan, Grayson merasa kasihan. Siapa yang tidak tahu Maxim Valdemar? Pebisn
Setelah mengurus banyak surat perizinan pembukaan kembali pertambangan di tanah Barchen, Maxim memutuskan untuk pulang ke Laster. Kabar tambang milik Julian Linton akan dibuka kembali, menghadiahkan kebahagiaan bagi para investor dan beberapa orang yang menanti-nantikannya. Mereka semua mendatangi Maxim dengan penuh sukacita. Tetapi, hal bahagia sama sekali tidak dirasakan oleh Maxim. Sebisa mungkin ia menyembunyikan ini semua dari Margaret. "Tuan Maxim, apa Anda jadi pulang ke Laster?" Andrew berdiri di depan ruangan kerja Maxim pagi ini. Maxim menatapnya dan mengangguk. "Heem. Kau sudah menyiapkan mobilnya?" "Sudah, Tuan," jawab Andrew. "Barusan ada telfon dari Barchen. Mereka bertanya apa Tuan mengirimkan seseorang untuk mengurusi semua pekerjaan Tuan di sana?" "Ya. Aku mengirim Logan untuk ke sana." Maxim beranjak dari duduknya. "Aku hari ini akan pulang dan bisa menemani anak dan istriku sendiri." Andrew pun mengangguk. "Baiklah kalau begitu, Tuan." Maxim berjalan mendahu
Ponsel milik Margaret bergetar di atas meja. Wanita itu tengah tertidur dalam posisi duduk, hingga ia harus terbangun setelah mendengar suara getaran ponselnya. Margaret membuka kedua matanya. Namun, ia tetap menoleh ke arah ranjang bayi di mana putri kecilnya tertidur di sana. "Ya ampun, siapa?" gerutu wanita itu, ia meraih ponselnya. Ekspresi wajah wanita itu mendadak menjadi keruh saat ia melihat nama Maxim di sana. Hatinya yang semula terasa baik-baik saja, mendadak terasa nyeri saat tahu laki-laki itu menghubunginya. "Untuk apa dia meneleponku? Bukankah pekerjaannya itu jauh lebih penting daripada aku, ya?" Margaret meletakkan kembali ponselnya dan membiarkan ponselnya itu terus bergetar. Panggilan itu tidak kunjung berhenti. Hingga mau tidak mau, Margaret meraih beda pipih itu dan langsung menjawab panggilan dari suaminya dengan perasaan kesal yang mendalam. Margaret menahan napas saat menjawab panggilan itu. "Halo..." Suara Maxim terdengar di balik panggilan itu. Rasan
Sementara di Fratz, Maxim tidak bisa tenang setelah mendapatkan kabar dari Logan kalau Viony sakit dan dilarikan ke rumah sakit. Namun, Maxim tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Di sisi lain, banyak para petinggi perusahaan dari Barchen yang terus mendesak mencari Margaret. Sekalipun Maxim menjelaskan kalau istrinya tidak akan membuka lagi tambang milik orang tuanya, tetapi orang-orang itu seperti mendapatkan provokasi untuk mendesak Maxim. "Apa rencana Tuan saat ini?" tanya Andrew menatap Maxim yang kini menatap beberapa berkas di atas meja kerjanya. Maxim mengusap wajahnya. "Aku tidak bisa berhenti memikirkan anak dan istriku," jawab Maxim dengan wajah stres. "Margaret pasti kesulitan saat ini, dan aku tidak bisa pulang." "Tapi Tuan, ada sesuatu yang mengganjal di hati saya," ungkap Andrew, ia berjalan mendekati meja kerja Maxim. "Apa?" Maxim menatapnya lekat. "Saat selesai meeting tadi, saya mendengar obrolan Tuan Kaif dan Tuan Gober, mereka mengatakan kalau untuk mendapatk
"Nyonya, bayi Anda mengalami demam karena kondisi imun yang menurun, dehidrasi, dan juga suhu yang terlalu dingin akhir-akhir ini. Untuk sementara waktu, butuh penanganan dokter untuk memastikan kondisinya sampai stabil." Seorang dokter laki-laki kini berdiri di hadapan Margaret setelah memeriksa kondisi Viony. Hati Margaret terasa begitu sedih, namun ia hanya bisa menganggukkan kepalanya saja tanpa berbuat apa-apa. "Tapi putri saya bisa sembuh kan, dok?" tanyanya. "Bisa, Nyonya. Kami melakukan penanganan yang terbaik untuk putri Anda," ujar dokter itu. Margaret tertunduk sedih. "Iya, dok. Tolong sembuhkan anak saya.""Pasti, Nyonya," jawab dokter itu. "Setelah ini, bayi Anda akan dipindahkan di dalam ruangan perawatan khusus. Untuk sementara Anda tidak boleh menemaninya di jam-jam tertentu. Para perawat akan terus memantau putri Nyonya setiap saat." "Baik, dok." "Kalau begitu, saya permisi...""Terima kasih, Dokter Peter," sahut Grayson yang sejak tadi berdiri di belakang Marg







