Share

Bab 250. Aku Marah Padamu

Author: Te Anastasia
last update Last Updated: 2026-01-11 23:09:30

Ponsel milik Margaret bergetar di atas meja. Wanita itu tengah tertidur dalam posisi duduk, hingga ia harus terbangun setelah mendengar suara getaran ponselnya.

Margaret membuka kedua matanya. Namun, ia tetap menoleh ke arah ranjang bayi di mana putri kecilnya tertidur di sana.

"Ya ampun, siapa?" gerutu wanita itu, ia meraih ponselnya.

Ekspresi wajah wanita itu mendadak menjadi keruh saat ia melihat nama Maxim di sana. Hatinya yang semula terasa baik-baik saja, mendadak terasa nyeri saat tahu laki-laki itu menghubunginya.

"Untuk apa dia meneleponku? Bukankah pekerjaannya itu jauh lebih penting daripada aku, ya?" Margaret meletakkan kembali ponselnya dan membiarkan ponselnya itu terus bergetar.

Panggilan itu tidak kunjung berhenti. Hingga mau tidak mau, Margaret meraih beda pipih itu dan langsung menjawab panggilan dari suaminya dengan perasaan kesal yang mendalam.

Margaret menahan napas saat menjawab panggilan itu.

"Halo..."

Suara Maxim terdengar di balik panggilan itu. Rasan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Setiap Malam, Paman Suamiku Membelaiku   Bab 251. Seorang Teman yang Diandalkan

    Setelah mengurus banyak surat perizinan pembukaan kembali pertambangan di tanah Barchen, Maxim memutuskan untuk pulang ke Laster. Kabar tambang milik Julian Linton akan dibuka kembali, menghadiahkan kebahagiaan bagi para investor dan beberapa orang yang menanti-nantikannya. Mereka semua mendatangi Maxim dengan penuh sukacita. Tetapi, hal bahagia sama sekali tidak dirasakan oleh Maxim. Sebisa mungkin ia menyembunyikan ini semua dari Margaret. "Tuan Maxim, apa Anda jadi pulang ke Laster?" Andrew berdiri di depan ruangan kerja Maxim pagi ini. Maxim menatapnya dan mengangguk. "Heem. Kau sudah menyiapkan mobilnya?" "Sudah, Tuan," jawab Andrew. "Barusan ada telfon dari Barchen. Mereka bertanya apa Tuan mengirimkan seseorang untuk mengurusi semua pekerjaan Tuan di sana?" "Ya. Aku mengirim Logan untuk ke sana." Maxim beranjak dari duduknya. "Aku hari ini akan pulang dan bisa menemani anak dan istriku sendiri." Andrew pun mengangguk. "Baiklah kalau begitu, Tuan." Maxim berjalan mendahu

  • Setiap Malam, Paman Suamiku Membelaiku   Bab 250. Aku Marah Padamu

    Ponsel milik Margaret bergetar di atas meja. Wanita itu tengah tertidur dalam posisi duduk, hingga ia harus terbangun setelah mendengar suara getaran ponselnya. Margaret membuka kedua matanya. Namun, ia tetap menoleh ke arah ranjang bayi di mana putri kecilnya tertidur di sana. "Ya ampun, siapa?" gerutu wanita itu, ia meraih ponselnya. Ekspresi wajah wanita itu mendadak menjadi keruh saat ia melihat nama Maxim di sana. Hatinya yang semula terasa baik-baik saja, mendadak terasa nyeri saat tahu laki-laki itu menghubunginya. "Untuk apa dia meneleponku? Bukankah pekerjaannya itu jauh lebih penting daripada aku, ya?" Margaret meletakkan kembali ponselnya dan membiarkan ponselnya itu terus bergetar. Panggilan itu tidak kunjung berhenti. Hingga mau tidak mau, Margaret meraih beda pipih itu dan langsung menjawab panggilan dari suaminya dengan perasaan kesal yang mendalam. Margaret menahan napas saat menjawab panggilan itu. "Halo..." Suara Maxim terdengar di balik panggilan itu. Rasan

  • Setiap Malam, Paman Suamiku Membelaiku   Bab 249. Mengkhianatinya Adalah Cara Melindunginya

    Sementara di Fratz, Maxim tidak bisa tenang setelah mendapatkan kabar dari Logan kalau Viony sakit dan dilarikan ke rumah sakit. Namun, Maxim tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Di sisi lain, banyak para petinggi perusahaan dari Barchen yang terus mendesak mencari Margaret. Sekalipun Maxim menjelaskan kalau istrinya tidak akan membuka lagi tambang milik orang tuanya, tetapi orang-orang itu seperti mendapatkan provokasi untuk mendesak Maxim. "Apa rencana Tuan saat ini?" tanya Andrew menatap Maxim yang kini menatap beberapa berkas di atas meja kerjanya. Maxim mengusap wajahnya. "Aku tidak bisa berhenti memikirkan anak dan istriku," jawab Maxim dengan wajah stres. "Margaret pasti kesulitan saat ini, dan aku tidak bisa pulang." "Tapi Tuan, ada sesuatu yang mengganjal di hati saya," ungkap Andrew, ia berjalan mendekati meja kerja Maxim. "Apa?" Maxim menatapnya lekat. "Saat selesai meeting tadi, saya mendengar obrolan Tuan Kaif dan Tuan Gober, mereka mengatakan kalau untuk mendapatk

  • Setiap Malam, Paman Suamiku Membelaiku   Bab 248. Dia yang Tidak Bisa Menemani

    "Nyonya, bayi Anda mengalami demam karena kondisi imun yang menurun, dehidrasi, dan juga suhu yang terlalu dingin akhir-akhir ini. Untuk sementara waktu, butuh penanganan dokter untuk memastikan kondisinya sampai stabil." Seorang dokter laki-laki kini berdiri di hadapan Margaret setelah memeriksa kondisi Viony. Hati Margaret terasa begitu sedih, namun ia hanya bisa menganggukkan kepalanya saja tanpa berbuat apa-apa. "Tapi putri saya bisa sembuh kan, dok?" tanyanya. "Bisa, Nyonya. Kami melakukan penanganan yang terbaik untuk putri Anda," ujar dokter itu. Margaret tertunduk sedih. "Iya, dok. Tolong sembuhkan anak saya.""Pasti, Nyonya," jawab dokter itu. "Setelah ini, bayi Anda akan dipindahkan di dalam ruangan perawatan khusus. Untuk sementara Anda tidak boleh menemaninya di jam-jam tertentu. Para perawat akan terus memantau putri Nyonya setiap saat." "Baik, dok." "Kalau begitu, saya permisi...""Terima kasih, Dokter Peter," sahut Grayson yang sejak tadi berdiri di belakang Marg

  • Setiap Malam, Paman Suamiku Membelaiku   Bab 247. Tangisan Margaret Saat Viony Sakit

    Setelah dari pagi hingga malam hari Viony terus menangis dan merengek, bahkan sampai pukul sembilan malam bayi kecil itu masih menangis. Margaret kini menggendongnya dan ia sangat panik ketika merasakan suhu tubuh bayi kecilnya terasa panas. Semua pelayan, bahkan Logan pun ikut panik saat ini. "Nyonya harus segera ke rumah sakit agar Nona kecil segera mendapatkan perawatan dokter," ujar Bibi Letiti seraya memasangkan selimut hangat pada Viony yang digendong oleh Margaret. "Iya, Bi. Kalau aku butuh apa-apa, aku akan menghubungi Bibi nanti," ujar Margaret. Wanita setengah baya itu pun mengangguk setuju. Di dalam rumah itu, suara tangisan Viony terdengar tak seperti biasanya. Logan membawakan tas milik Margaret dan bersiap mengantarkannya. "Mari, Nyonya," ajaknya. "Iya. Ayo cepat..." Mereka berdua bergegas keluar dari dalam rumah sakit saat itu juga. Margaret memeluk erat bayi kecilnya yang menangis. Ia menatap bayi itu dengan penuh kesedihan yang menyesakkan dadanya. "Sabar y

  • Setiap Malam, Paman Suamiku Membelaiku   Bab 246. Resiko Menjadi Istrimu

    Keesokan harinya, Maxim kembali pergi ke Fratz dan meninggalkan Margaret di rumah bersama dengan para pelayan. Sementara Logan masih dalam perjalanan menuju ke Laster pagi ini. Sejak Maxim pergi, si bayi kecil Viony terus menangis dan merengek-rengek. Entah apa yang terjadi, padahal Margaret sudah memberikannya ASI dan susu formula, tapi bayi itu tetap menangis. "Kenapa ya, Bi? Biasanya Viony tidak pernah rewel seperti ini," ujar Margaret cemas dan panik. "Tidak apa-apa, Nyonya. Kemungkinan Nona kecil mengantuk, atau ingin tidur sambil ditimang-timang," jawab Bibi Letiti menjelaskan. "Coba, Bibi pinjam gendongannya. Biar Bibi gendong dan ajak jalan-jalan di teras depan." "Iya, Bi." Segera Margaret meraih kain gendongan yang berada di tepi ranjangnya dan menyerahkan pada Bibi Letiti. Margaret belum biasa menenangkan Viony. Kini pun ia sadar, menjadi seorang ibu sangat melelahkan. Bahkan setiap malam ia harus terjaga, memberi ASI hingga jarang tertidur. "Sudah, biar Nona Kecil be

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status