LOGINThe sun is failing, her brother missing, the world divided. Fayle must protect her twin at all costs during their search for their missing brother, even if it means facing off with Shadow Men - boneless creatures that shroud themselves in darkness and survive the fading light using the stolen flesh of mankind as protection. But can she survive the war, not just between shade and human but her divided heart, long enough to find her brother? And if she does - will the greatest sacrifice of all be enough to save him?
View More"Kita selesai. Aku bosan denganmu. Ini cek untukmu!" Pria itu melemparkan selembar cek ke wajah Rania, disusul dengan perkataan selanjutnya yang bagaikan petir di siang hari. “Jangan pernah temui aku lagi!”
Pria itu bernama Reza, sugar daddy-nya Rania selama tiga bulan belakangan. Padahal, rasanya hubungan mereka baik-baik saja. Reza juga terlihat begitu mengasihinya, berlaku lembut padanya. Tidak ada tanda-tanda akan hubungan mereka yang akan kandas dalam waktu seumur jagung ini.
Rania berdiri mematung. Matanya berembun menahan tangis. "A-aku gak mau uang kamu, Za. Aku sayang banget sama kamu, aku–”
“Kamu lupa status kamu apa?” Mata Reza menatap garang ke arahnya. “Kamu bukan kekasihku. Dan kutekankan sekali lagi, aku sudah bosan.” Sejurus dengan itu, pria tersebut mendorong Rania dengan kasar.
Tangan yang dulu memberikan rasa penuh kenikmatan yang semakin lama semakin membiusnya menikmati permainan Reza, memaksanya mengeluarkan teriakan kenikmatan yang tak bisa ditahannya, tangan yang berhasil menggiring Rania menuju puncak gejolak rasa dan membuatnya ketagihan, terbius dengan angan cinta yang nikmat yang membuatnya merelakan mahkotanya sebagai wanita direnggut dan dinikmati oleh Reza, kini tangan itu menyakitinya dan memaksa Rania menjauh.
“Ta-tapi, Za–”
"Sudah kubilang jangan pakai perasaan." Ada seringaian di akhir kalimat tersebut. Seolah itu semua belum lengkap, Reza menambahkan kembali garam pada luka Rania yang masih menganga segar. “Setelah pertemuan ini, kamu dan aku tidak ada hubungan apa-apa lagi. Jadi, kalau suatu saat kamu bertemu denganku, anggap saja kita tak saling mengenal, Sweet J.”
Reza melakukan niatnya. Dia meninggalkan Rania. Tak ada lagi panggilan telepon, pesan manis dan tak ada lagi sentuhan hangat yang memanjakan Rania.
Luka Rania seolah belum usai. Ia yang masih berusaha menemukan jalan keluar dari jeratan rindu pada Reza kini sudah dihadapkan oleh masalah baru.
Rania yang pingsan saat ujian akhir penilaian tes olahraga atletik, dibawa ke klinik di samping sekolahnya. Dari sanalah gurunya tahu Rania sudah mengandung dua bulan.
Rania sendiri tak menyadari ini. Tapi nasi sudah menjadi bubur, berita tersebar cepat, semua orang di sekolahnya tahu, orang tuanya pun dipanggil hari itu juga. Keduanya merasa tercoreng wajahnya. Mereka memaki Rania dan yang paling menakutkan, meminta Rania menggugurkan kandungannya.
Apakah Rania tega membunuh darah dagingnya sendiri meski usianya masih dua bulan?
"Tidak ada negosiasi Rania! Kamu pergi dari sini dan jangan anggap kami orang tuamu lagi kalau kamu masih mau mempertahankan janin itu!"
"Pa, ingatkan juga, kalau dia tetap mempertahankan anak haram itu, namanya akan dicoret dari daftar ahli waris keluarga!"
Meski Rania sudah menangis memohon ampun, berjanji tak akan mengulangi kesalahannya lagi dan akan berjuang untuk memperbaiki nama keluarga dengan prestasinya nanti … kedua orang tuanya tetap pada prinsip mereka. Tak ada istilah berdamai jika Rania tetap mempertahankan janinnya.
"Ma, maa maaa, anguuuuun Maaa, Acha mo cucu! Mo cucu maaa!"
Suara rengekan dari satu-satunya harta yang ia punya memutus ingatan buruk Rania akan masa lalu. Saat itu, Rania akhirnya memutuskan untuk pergi dari rumah orang tuanya dan membesarkan anak dalam kandungannya seorang diri.
Bukan mudah Rania melewati masa-masa sulit menghidupi dirinya sendiri dan membesarkan Marsha hingga bocah itu berusia lima tahun. Penuh suka duka yang dilaluinya sebagai single parent. Rania harus berjuang ekstra, apalagi usianya saat mengandung Marsha masih tujuh belas tahun.
Tapi Rania tak pernah menyerah. Meski sakit, pedih, kadang hanya tangisan sambil memandangi anaknya yang terlelap yang bisa melegakan hatinya, dia tetap berjuang demi anak yang dicintai dan menjadi satu-satunya harapan besar dalam hidup Rania.
Hidupnya lima tahun belakangan ini sudah lebih baik. Namun, waktu rupanya ingin kembali mengujinya. Pagi ini, Rania yang bekerja sebagai sekretaris seorang CEO di sebuah perusahaan ternama membulatkan matanya karena terkejut.
Berdegup jantung Rania melihat sosok yang hampir enam tahun ini tak pernah ditemuinya. Sosok yang selama ini dirindukannya, sosok yang sering membuatnya menangis dan tertawa mengingat masa lalu. Sosok yang memang sulit dilupakannya.
‘Ti-tidak mungkin!’
"Perkenalkan, Beliau adalah Pak Reza Fletcher Clarke, cucu dari pemilik Shining Star Group yang akan menjabat sebagai CEO di Light Up."
Kalimat atasan Rania itu membangunkan Rania dari rasa keterkejutannya. Ia mengerjapkan mata, sebelum akhirnya memegang dadanya guna berusaha menormalkan degup jantungnya kembali.
'Dia tak menginginkanku lagi. Aku cuma sugar baby-nya dulu. Belum tentu juga dia akan kenal denganku, jadi, sebaiknya aku bersikap profesional.’
Namun, di sisi yang lain … pikiran buruk lainnya datang menghampiri. Apakah dia bisa bekerja profesional dengan Reza sebagai bosnya, jika pria itu ingat siapa dia? Atau haruskah dia memberitahu Reza kalau dia memiliki anak darinya? Bukankah Rania masih menyimpan rasa padanya?
Sungguh pikiran yang menyita membuat Rania makin larut dalam lamunan dan ketakutannya itu.
"Rania!"
"Eh, i-iya Pak.”
Rania tenggelam dalam lamunannya sampai tak sadar kalau sudah berkali-kali namanya dipanggil oleh atasannya yang lama. Rania tak biasanya begini. Hilang fokus, padahal mereka ada di acara penyambutan CEO baru di aula pertemuan. Tahu tugas yang seharusnya ia lakukan sedari tadi, Rania segera mengambil nampan yang telah berisikan air mineral dalam gelas untuk diberikan pada Reza.
Namun apes, sepatu Rania tersandung karpet … dan PRANG! Melayanglah semua yang ada di nampan itu.
Dan suara yang tak diharapkan Rania membuatnya menggigil ketakutan.
"Taruh surat pengunduran dirimu sebelum jam makan siang di meja kerjamu! Dan sekarang juga kemasi barangmu!"
I bit my lip. "You make me feel like a girl.""You are a girl," he said, his warm breath tickling my skin. "I mean a normal one... I didn't know whether to laugh or cry when June called me pretty. I've never been called that in my life. I was just happy not being a freak." "You're not a freak."I closed my eyes, frustrated with him for being so close and not touching me. I wanted him to kiss me, and I wanted to hit him for not doing it. Why wasn't he doing it?"Will you kiss me already?" I whispered, opening my violet eyes to look at him."I can't." "Do you even want to?""You have no idea how much," he said, his hand hovering a breath away from my bruised cheek. I felt my insides boil. He was refusing me out of duty? This can't be happening. Again. Would I never come first? I rolled away from him and sat up."What are you doing?""Nothing," I said, stripping off the last of my clothes before lying back down."That's no
"In case you hadn't noticed," I said, closing the gap between us, "I'm not your typical girl. And this whole jealousy crap you're pulling isn’t going to fly with me. Grey is not interested in me, he's helping me out, that's it."She lifted her chin, her eyes narrowing. "Say what you like, but you're playing with fire."I shook my head and left the bathroom. Talk about jealous banshee, and over what? Grey? Yeah he was hot and it’s not like the thought hadn't crossed my mind a time or two now that Aaron was out of the picture, but Grey wasn't into me. He'd kept his eyes to himself, which said a lot about a man’s interest level. He was choosing to keep things professional. Kind of."You alright?" he whispered, barely loud enough for me to hear. I nodded, forcing myself to stab a chip with my fork and take a bite. "So Fayle," June said, looking up from her half eaten plate, "Why did you run away to your... What did you call him? Rude sod of a
The name above our restaurant was The Laughing Marionette, though from all outside appearances there was nothing humorous or even remotely distinguishing between it or any of the others in the district. We walked through the open door, to be bombarded with colour. Well, varying shades of one colour. The entire establishment was dripping with red. Red walls, red carpets, red table cloths, red roses in red vases, surrounded by red wax candles. If you were ever going to murder someone in a public place, this is where you'd do it. You could shove the body under any one of these long table cloths and no one would notice until it started smelling. I wrinkled my nose at the thought. At least the gold leafed trim broke it up a little. Grey nodded to the woman dressed in a red skirt and an almost pink shirt at the front door, and she let us pass the small line unhindered. He led us up the red stained stairwell against the far wall to the second floor. There was only half the amou
"I thought you were just getting me some basics.""So did I.""So what's all this?" "The basics, according to the girl behind the counter. She was around the same size as you so I told her to get what she thought while I sat on a chair and contemplated not killing myself.""You don't mean it," I said, smiling at his lingering distress. "Yes, I do. And you better hope it all fits because I'm not going back.”I picked the bags up and took them over to the bed, aware of him following me. "Curious huh?" "You'd be too if you knew how much I spent."“My Uncle with pay you back.”I emptied the first bag, relieved to see two pairs of jeans fall out. One was faded blue, the other dark denim, both hipsters and both the right size. The next bag had three sets of underwear, a white set with inbuilt push-ups and matching boy legs, the same set in black, and a dark red set made of sheer lace with a matching g-string. "Y
"You idiot! What the hell were you thinking?"I flinched, the shouts filtering in from the hall hurting my already pounding head."It was Stan who said to do it!""And if Stan told you to put a gun to her head and fill it with led, would you do that
I woke, surprised to find a blanket draped across my shoulders and a body beside me on the bed."I didn't think you were coming back.""I wanted Lills to have her time with Dave," I whispered, terrified of moving and scaring him away. "Burney went to his own roo
His eyes flew open, but he didn't say anything.I took that as a sign to go ahead and unfold the edge of the damp cloth, dabbing at the blood on his split lip."He hit hard, huh?."He nodded, still silent as he watched me find another clean spot on the han
"So what's the deal with you and Aaron?" Lillith demanded.It was the third time she'd tried this line of questioning in as many days, and so far I'd managed to avoid both it and her."Nothing."Burney snorted and I shot him a dirty look.






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews