مشاركة

114. Dance Floor

مؤلف: Renata Respati
last update تاريخ النشر: 2026-04-08 21:00:09

Claudia menahan tawa, lalu duduk di samping Kara, diikuti Gavin di sisinya. Lelaki itu melempar tatapannya ke arah dance floor, merasa kesal karena waktu kedatangannya tidak tepat, hingga akhirnya harus menyaksikan pemandangan itu lagi.

“Makanya cari pacar, biar nggak gerah terus tiap liat orang lain pacaran.” Ucap Diandra seenaknya.

“Doain, ya.” Ucapnya santai.

“Doain… doain… kayak udah ada calonnya aja,” Diandra

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Si Tampan yang Posesif   137. Gender Reveal

    “Bukan tidak boleh sama sekali. Tidak ada yang melarang, hanya saja intensitasnya perlu dikurangi dan juga… jangan terlalu keras,” lanjut Dokter Kenneth, merasa tak tega juga melihat wajah memelas Sangkara.“It’s oke, dok. Asalkan istri dan anak saya sehat dan selamat sampai proses kelahiran nanti, saya akan melakukan apapun untuk mereka.”“Sounds good. Once again, congratulation Mr. and Mrs. Adhiyatsa.”Selesai berkonsultasi, Kara dan Diandra meninggalkan rumah sakit dengan mobil mereka. Kara menyetir sendiri setelah sebelumnya ia menjemput Diandra lebih dulu di rumah mereka. Baginya tidak ada kata lelah jika itu menyangkut istri dan juga calon anaknya. Kara serius saat ia mengatakan akan melakukan apapun untuk mereka.“Mau langsung pulang atau makan dulu?” Tanya Kara setelah ia membantu Diandra memasangkan seatbelt.“Makan dulu, ya. Aku laper banget. Ngi

  • Si Tampan yang Posesif   136. Bayi Kembar

    “Kamu serius?” Tanya Miranda lagi.“Iya mama, sayang.”“Wah, gacor amat temen gue. Baru nikah udah langsung hamil aja!” Seru Seno tanpa filter.“Iyalah, Kara,” Kara mengangkat ujung atas kaosnya dengan sikap angkuh yang dibuat-dibuat.“Good, hebat… hebat…” Seno menggelengkan kepala, mengakui kehebatan sahabatnya.“Wah, congratulation Diandra sayang, mama akan punya cucu sebentar lagi,” Miranda mendekap Diandra erat. Merasa bahagia bukan main dengan kabar kehamilan menantunya itu.“Selamat ya, Di. Gue seneng banget dengernya. Gue bakal jadi young aunty yang kece badai nanti. Selamat juga ya, tante, karena sebentar lagi akan jadi oma muda,” Lavie memeluk Diandra dan Miranda bergantian.“Selamat, Diandra. Semoga lo dan calon bayi lo sehat terus, ya. Gue seneng banget denger kabar kehamilan lo ini,” lanj

  • Si Tampan yang Posesif   135. Hamil

    “So… how’s my wife? What’s wrong with her?” Tanya Kara setelah Dokter Kenneth selesai memeriksa Diandra.“Congratulation, Mr. Adhiyatsa. She’s pregnant,” ucapnya lugas.Kara tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Informasi ini mengejutkannya, membuatnya mematung di depan dokter Kenneth, namun detik berikutnya ia berteriak kegirangan. Lalu berbalik menuju Diandra dan memeluknya erat, juga menciumi wajahnya berkali-kali.Dokter Kenneth menggeleng dengan senyum, lalu berbalik meninggalkan kamar pasangan suami istri itu. Membiarkan keduanya merayakan kebahagiaan mereka atas kehadiran buah hati di dalam perut Diandra.“Kamu hamil, sayang. Kita akan punya anak,” ucapnya dengan getar kebahagiaan.Diandra mengangguk, senyumnya lebar dengan air mata yang mengalir tanpa bisa ia tahan.“Makasi, sayang. Makasi,” Kara tak berhenti menciumi Diandra untuk menunjukkan kebahagiaan serta kasih sayangnya.Dari semua hal yang membahagiakan dalam pernikahan mereka, kehamilan Diandra ada di daftar nomor du

  • Si Tampan yang Posesif   134. Mendesah Panjang

    Napas Diandra tercekat. Sejak menikah, Kara memang tidak pernah menyaring apapun. Semua yang ia pikirkan di kepalanya, itu juga yang keluar dari mulutnya.“K-kenapa buru-buru? Kita, kan, baru aja sampe?” Diandra merasa gugup, namun sebisa mungkin mengontrol ekspresi wajah dan tone suaranya tetap tenang.“Nggak sabar denger kamu mendesah panjang,” ucapnya lirih.“Kara!” Seru Diandra spontan, wajahnya memerah sampai ke telinga.Ia menepuk bahu Kara pelan, tapi suaminya itu hanya terkekeh kecil, seolah menikmati setiap reaksi istrinya.“Kamu harus kerja keras malem ini, sayang.” Gumam Kara dengan nada usil, sudut bibirnya terangkat nakal.“Kamu lupa, ya, kemaren dokter bilang apa? Aku masih proses recovery dan butuh banyak waktu buat istirahat,” balas Diandra cepat, berusaha terdengar tegas meski suaranya goyah.“Kita nggak bisa ngelakuin itu—”“Nggak bisa ngelakuinnya dengan kasar dan terlalu sering,” potong Kara cepat.Ia menatap mata Diandra sambil mengusap ujung rambutnya yang jatuh

  • Si Tampan yang Posesif   133. Pindah ke Swiss

    Diandra menggeleng, “Enggak sama sekali. Aku malah bersyukur, karena dengan begitu, kita jadi semakin deket, pacaran, sampe menikah kayak sekarang. Makasi ya karena udah berjuang.”“Selalu, sayangku.”Kara yang memulai, ciuman itu yang awalnya lembut dan pelan. Kemudian berubah menjadi panas dan liar. Lagi. Kara kesusahan menahan dirinya sendiri untuk tidak mencumbu Diandra di sembarang tempat. Yang mana orang lain bisa saja melihat perbuatannya. Namun sisi otaknya yang lain mengacuhkanya.Diandra adalah istrinya, jadi ia merasa berhak untuk mencium dan mencumbunya di mana saja.***Kara berbaring dalam gelap, terjaga sementara Diandra tidur. Istrinya itu merapat manja kepadanya dan sekarang lengan ramping Diandra memeluk pinggang Kara. Kepala Diandra terbenam pada bahunya sambil bernapas lembut.Aroma tubuh Diandra masuk ke benak dan mengaburkan pikirannya. Wangi yang sangat disukainya itu selalu berhasil membuatnya lupa diri. Udara malam i

  • Si Tampan yang Posesif   132. Honeymoon

    “You know that.”Diandra tersenyum. Ingatannya kembali ke saat-saat di mana Kara selalu menolak bersentuhan fisik yang terlalu intim dengannya, bahkan cenderung menghindar dan menarik diri setiap kali mereka nyaris lepas kendali. Dan sekarang, Kara benar-benar membuktikan hal itu, sesuatu yang selama ini ia tahan, pada akhirnya meledak tanpa bisa ia tahan-tahan.Sekarang… Kara sama sekali tak merasa sungkan menunjukkan gairah dan sensualitasnya yang menggoda, saat mereka sudah menikah. Ia bahkan tak bisa berhenti, sekalipun Diandra sudah kelelahan dan kehabisan tenaga.“Jadi… kapan aku boleh keluar kamar?” Tanya Diandra di ujung percintaan mereka.“Never.”***“Jam lima sore, Waktu Swiss,” kata Marcel sambil melihat arlojinya saat melihat sepasang suami istri baru itu baru muncul di meja makan.“Biasalah pengantin baru,” Kara mengedikkan bahu a

  • Si Tampan yang Posesif   58. Swiss, I'm in Love

    “Mine,” jawab Kara singkat, namun sudah cukup untuk menjelaskan semuanya. Apalagi saat ekor matanya menangkap luka kecil dan darah di ujung bibir Diandra, Erika paham betul kalau itu pasti ulah Sangkara.Erika menarik napas panjang, mengangguk, lalu segera undur diri dan keluar dari ruangan itu. Men

    last updateآخر تحديث : 2026-03-28
  • Si Tampan yang Posesif   54. Kara Marah Besar

    ‘Kamu ngapain?’ Tanyanya to the point, khas Sangkara sekali.“Apanya?”‘Aku udah bilang kalo aku nggak suka kamu jadi model untuk sportcar itu. Kenapa bandel banget, sih?’“Kan, aku

    last updateآخر تحديث : 2026-03-27
  • Si Tampan yang Posesif   53. Hari-Hari Tanpa Diandra

    Foto itu diunggah dengan caption ‘Menciptakan Kelas yang Berbeda. Nantikan, hanya ada 4 unit di Indonesia’.Kara menghela napas berat, terkejut setengah mati saat menyadari siluet gadis yang berfoto bersama mobil itu. Kara mengenalinya, meskipun hanya gambar dua dimens

    last updateآخر تحديث : 2026-03-27
  • Si Tampan yang Posesif   52. Hari-Hari Tanpa Sangkara (3)

    “Hahaha, Om Marcel nih, ya. Kalo Kara marah beneran gimana?”“Nanti om dan tante yang bantu jelasin ke dia. Karena jujur, nggak ada orang lain yang cocok di posisi itu selain kamu.”“Oke deh kalo gitu, deal.”Mereka saling

    last updateآخر تحديث : 2026-03-27
فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status