Share

16. Balapan

Penulis: Renata Respati
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-24 21:00:34

“Sok tau,” ucap Kara cepat.

Ekor matanya melirik Diandra lagi, ingin melihat bagaimana reaksi gadis itu.

Diandra awalnya terkejut, namun beberapa detik setelahnya ia kembali bersikap biasa saja. Seolah tak pernah mendengar apa pun.

“Orang beneran tau, temen kamu tuh yang cerita.”

“Siapa?”

“Arseno Baskara.”

‘Seno… awas lo, ya. Nggak bakal gue kasih restu buat balikan sama sahabat gue,’ batin Diandra kesal dengan kebocoran lelaki itu.

“Emang, iya? Kok mama nggak pernah tau? Kamu tau, Di?”

“Hm?” Diandra mendongak, tidak siap saat Miranda menanyakan hal itu padanya.

“Mam, please. Bisa nggak, kita makan dengan tenang aja?”

“Kan mama juga penasaran. Masa nggak boleh.”

“Enggak.”

Ucap Kara lagi. Kali ini lebih tegas.

“Maaf, permisi… mau angkat telepon seb

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Si Tampan yang Posesif   29. Diandra Milik Gue

    “Kenapa? Nggak suka?”“Enggak. Karena officially, dia cewek gue sekarang.” Ujar Kara penuh kemenangan.“Nggak mungkin” Gavin menggeleng tak mau percaya.“Dia belom cerita ke elo? Bukannya lo sahabatnya?” Kara tersenyum meremehkan.Gavin menarik napas dalam, kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Dadanya terasa panas menahan gejolak emosi yang membakar seluruh hatinya.“Dia selalu cerita apa pun ke gue. Ke Lavie, dan Claudia juga.”“Kalo gitu lo tanya sama Lavie dan Claudia, harusnya sih mereka udah tau sekarang,” ucapan Kara disertai dengan tatapan teduhnya ke arah Diandra yang tengah mengobrol santai bersama kedua temannya.“Maksud lo?”“Gue nggak tau, lo sengaja dikecualikan karena lo cowok atau gimana. Tapi gue udah kasih tau kenyataannya kalo gue dan Diandra udah official. Jadi stop manggil dia dengan seb

  • Si Tampan yang Posesif   28. Sangkara Serba Tahu

    “Tas lo cuma ketumpahan minuman, tapi sikap lo ini seolah-olah kayak dunia mau kiamat besok!” ucap Diandra sarkas.“Cuma, lo bilang? Lo nggak liat tas gue ini merk apa? Chanel! Harganya 50 juta! Dan sekarang tas ini kotor karena ulah lo. Bisa ganti lo?” gadis itu mendongak penuh kesombongan.Tatapannya sinis dan terlihat sekali dirinya tidak ingin kalah dari Diandra.Diandra mendengus pelan, menyilangkan tangan di dada, lalu menatap remeh pada tas putih yang sudah kotor itu.“Tas palsu gitu… bisa bikin lo semarah ini?” Diandra menyeringai remeh.“Elo, ya—”“Tulis nomor rekening lo,” Kara menyerahkan ponselnya pada gadis berambut merah itu.Membuatnya membelalak terkejut, tidak siap dengan sikap Kara yang tiba-tiba menyodorkan ponsel dengan tampilan layar i-banking miliknya. Sedari tadi lelaki itu tidak mengatakan apa pun, namun sekalinya buka mulut, Sang

  • Si Tampan yang Posesif   27. Love Confession

    “With Sangkara,” jawab Seno memvalidasi.Sama-sama tak percaya dengan apa yang sedang mereka lihat saat ini.“Kok bisa? Kok bisa Diandra sama Sangkara—”“Udah ayok,” sebelum Lavie selesai dengan keterkejutannya, Seno lebih dulu merangkul bahunya dan mengajaknya menjauh dari tempat itu menuju kelas.“Seno, kamu tau sesuatu?”Lelaki itu menggeleng.“Kok bisa Diandra dan Sangkara pagi-pagi… mereka…” Lavie kehabisan kata-kata untuk mendeskripsikan keduanya.“Kenapa? Kamu mau juga? Ayok sini kalo iya.”“Sembarangan banget kalo ngomong,” Lavie mencubit pinggang Seno hingga lelaki itu berteriak kesakitan.“Sakit tau, Vie.”“Biarin. Sukurin. Siapa suruh otaknya mesum.”“Kok jadi aku yang mesum? Kan, temen kamu tuh yang pagi-pagi ciuman dalem mobil.”“Diem,

  • Si Tampan yang Posesif   26. Morning Kiss

    Suaranya lirih tapi menusuk, sebelum akhirnya bibir Kara menempel kembali dengan ganas di bibir Diandra.“Akh… Eungh…” Diandra berusaha menahan, tapi Kara lebih cepat.Kedua tangannya mengunci pergelangan tangan Diandra di belakang tubuh gadis itu, membuat Diandra tak berdaya.Ciuman itu panas, rakus. Tak ada celah untuk bernapas. Lidah Kara menyapu lembut, lalu menuntut masuk. Diandra berusaha menolak, menepis, tapi tubuhnya mulai melemah. Perlahan, ia terbuai.Dan di saat itulah, lidah mereka bertemu. Saling beradu, saling menyerang. Desahan napas bercampur, panas tubuh menular. Mereka berdua hanyut dalam ciuman dan sentuhan yang panas membara, mengabaikan Vincent yang tampak gugup dan tegang saat tanpa sengaja menyaksikan perbuatan mereka di kursi belakang melalui kaca spion di depannya.Ya, Kara memang sengaja membawa Vincent bersamanya untuk berjaga-jaga kalau dirinya mabuk dan tidak bisa menyetir sendiri.***

  • Si Tampan yang Posesif   25. Mabuk dan Berciuman

    “Nggak… nggak mungkin,” Diandra menggeleng sambil sesekali memukul pelan kepalanya.Ia nyaris tidak memercayai telinganya sendiri.“Diandra?” suaranya makin jelas, membuat Diandra semakin yakin kalau telinganya memang tidak salah.“Kara? Sangkara?”Diandra berdiri dari sofa, mendongak untuk menatap wajah Kara yang menjulang tinggi di depannya. Diandra mencoba menajamkan pengelihatannya untuk memastikan kalau laki-laki di hadapannya saat ini memang Sangkara.“Ck, berani banget minum sendirian kayak gini. Dasar ceroboh,” Kara berkacak pinggang, dan menatap kesal pada Diandra yang sedang sempoyongan sambil sesekali berpegangan pada tubuhnya agar tetap bisa berdiri tegak.Di tengah gejolak hati yang meronta-ronta bahagia dan di antara degup jantung yang nyaris melompat keluar, Diandra memberanikan diri untuk berdiri lebih dekat pada Sangkara. Ia berjinjit dan melingkarkan tangannya di leher

  • Si Tampan yang Posesif   24. Sorry, I Can't

    Gavin dan Claudia menatap fokus pada Diandra, menunggu jawaban yang akan ia berikan pada Devano.“Sorry, tapi gue nggak bisa.” Jawab Diandra akhirnya.“Kenapa?”“Karena gue nggak punya perasaan yang sama ke lo. Maaf.”“Apa karena ada cowok lain?”Diandra diam, tidak menjawab. Sekalipun iya, Diandra juga tidak akan memberitahukannya.“Sangkara?” Diandra mendongak saat nama itu disebut.“Lo nggak serius naksir dia, kan?”“Kenapa emangnya?”“Ya, semua orang juga tau kalo dia deketin lo itu karena ada maunya doang.”“Semua orang? Siapa?”“Ya… banyaklah. Secara cewek kayak lo gini, cowok mana yang nggak naksir coba? Apalagi buat orang kayak Sangkara gitu, udah pasti dia cuma nyari untung doang dengan deketin lo.”“Bentar deh. Bukannya waktu awal ospek, lo bilang kal

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status