Masuk“Mas Vincent? Ngapain di sini?”
“Saya ditugasin buat jemput Mba Diandra. Gimana? Apa udah siap?”
“Iya. Udah. Tapi nggak perlu repot-repot jemput segala lho, mas. Saya bisa kok pergi sendiri.”
“Saya yang nggak bisa nolak perintah, mba. Nanti dipecat, hehe.”
“Ya nggak mungkin lah, Tante Miranda nggak mungkin sejahat itu buat pecat Mas Vincent.”
“Bu Miranda emang nggak, tapi Mas Kara mungkin, mba. Sangat mungkin,” katanya jujur.
“Hah?”
“Nanti juga Mba Diandra tau.”
Diandra mencoba tersenyum. Meski sebenarnya ia merasa d’ javu dengan kalimat itu.
Nanti juga kamu tau.
Nanti juga Mba Diandra tau.
Keduanya terdengar sangat familier.
“Oke deh kalo gitu. Tapi aku bawa mobil sendiri, ya. Biar gampang nanti pulangnya.”
“Tapi nanti saya yang dimarahin kalo Mba
“Nggak… nggak mungkin,” Diandra menggeleng sambil sesekali memukul pelan kepalanya.Ia nyaris tidak memercayai telinganya sendiri.“Diandra?” suaranya makin jelas, membuat Diandra semakin yakin kalau telinganya memang tidak salah.“Kara? Sangkara?”Diandra berdiri dari sofa, mendongak untuk menatap wajah Kara yang menjulang tinggi di depannya. Diandra mencoba menajamkan pengelihatannya untuk memastikan kalau laki-laki di hadapannya saat ini memang Sangkara.“Ck, berani banget minum sendirian kayak gini. Dasar ceroboh,” Kara berkacak pinggang, dan menatap kesal pada Diandra yang sedang sempoyongan sambil sesekali berpegangan pada tubuhnya agar tetap bisa berdiri tegak.Di tengah gejolak hati yang meronta-ronta bahagia dan di antara degup jantung yang nyaris melompat keluar, Diandra memberanikan diri untuk berdiri lebih dekat pada Sangkara. Ia berjinjit dan melingkarkan tangannya di leher
Gavin dan Claudia menatap fokus pada Diandra, menunggu jawaban yang akan ia berikan pada Devano.“Sorry, tapi gue nggak bisa.” Jawab Diandra akhirnya.“Kenapa?”“Karena gue nggak punya perasaan yang sama ke lo. Maaf.”“Apa karena ada cowok lain?”Diandra diam, tidak menjawab. Sekalipun iya, Diandra juga tidak akan memberitahukannya.“Sangkara?” Diandra mendongak saat nama itu disebut.“Lo nggak serius naksir dia, kan?”“Kenapa emangnya?”“Ya, semua orang juga tau kalo dia deketin lo itu karena ada maunya doang.”“Semua orang? Siapa?”“Ya… banyaklah. Secara cewek kayak lo gini, cowok mana yang nggak naksir coba? Apalagi buat orang kayak Sangkara gitu, udah pasti dia cuma nyari untung doang dengan deketin lo.”“Bentar deh. Bukannya waktu awal ospek, lo bilang kal
“Dia ngapain lagi di sini?” tanya Lavie lagi.“Nggak tahu, ya. Kabar terakhir sih kayaknya dia mau kuliah di sini juga, cuma belum tau deh mau ngambil jurusan apa.”“Seriously?”“Kara bilang sih gitu.” Ujar Seno santai.“Kara? Jadi mereka emang beneran deket?”“Ya… deket, tapi nggak sedeket itu juga.”“Deket, tapi nggak sedeket itu tuh gimana maksudnya?” Kata Lavie, tak sanggup menahan emosi.“Susah jelasinnya, sayang.”“Stop! Jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi.”“Ya akunya mau.”“Kalo gitu aku nggak mau bantuin Kara lagi. Biarin aja mereka musuhan terus seumur hidup.”“Eh, jangan dong. Masa kamu tega sih mau misahin dua orang yang saling suka.”“Ya, makanya nggak usah mancing-mancing.”“Iya, iya. Lagi
Jantung Kara mencelos. Rasanya menyakitkan mendengar seseorang yang ia cintai mengucapkan kata-kata seperti itu tepat di depan wajahnya“Kara, aku…” Diandra menggigit bibirnya sendiri, lalu meremas tangannya, gelisah.Ia sadar telah salah bicara, dan sekarang ia sedang mencari kalimat yang tepat untuk memperbaikinya.“Oke.” Satu kata itu diucapkan Kara dengan berat.Senyumnya kecut, sorot matanya dalam, dan mengandung… luka.Setelah itu ia pergi begitu saja, meninggalkan Diandra seorang diri, tenggelam dalam rasa bersalah yang besar.Diandra menghela napas kasar, sambil dalam hati mengumpati diri sendiri, ‘Diandra bodoh! Bodoh! Kok bisa sih lo ngomong kayak gitu ke Sangkara. Lo itu manusia! Bukan setan!’***Sudah satu minggu Kara dan Diandra kembali ke stelan awal.Jauh. Asing. Seperti orang yang tidak saling mengenal sebelumnya.Diandra beberapa kali men
Kara menyeringai remeh, lalu melirik Diandra dengan ekor matanya.“Ada yang lebih menarik dari aku, Diandra?”“Hah, apa?”“Atau kalo kamu mau dateng karena ngerasa nggak enak, nggak apa-apa, aku temenin,” ucapan itu membuat Diandra bukan hanya melotot sekarang, tapi juga melongo.Apa yang terjadi pada Kara sebenarnya. Kenapa sikapnya bisa berubah-ubah dengan cepat dan juga drastis?‘Ini Kara atau pemeran pengganti? Kenapa tiba-tiba jadi manis tapi juga posesif dalam waktu bersamaan gini?’ batinnya bingung.“Oke, deh,” ucap Diandra akhirnya.Diandra tidak tahu, sebenarnya ia sedang meng-iya-kan pertanyaan yang mana.***“Lo masih nganggep gue temen lo, kan?” tanya Seno saat dirinya berada di taman kampus bersama Sangkara.“Kenapa?”“Harusnya nggak ada yang lo tutupin dari gue dong, ya.”Kara tersen
“Enggak sama sekali,” Kara tersenyum untuk meyakinkan gadis itu.“Selama mereka yang caper ke kamu, dan bukan sebaliknya. Aku aman,” lanjutnya.“Mulai posesif rupanya,” Diandra memincingkan mata, baru mengenal sosok lain di diri Kara.“Ke kamu doang.”Setibanya di kelas, Diandra dan Kara langsung berpisah posisi. Diandra menghampiri teman-temannya, sementara Kara duduk bersama Seno seperti biasanya.“Kayaknya gue ketinggalan sesuatu nih,” ucap Gavin, memincingkan mata dengan curiga ke arah Diandra yang baru saja duduk.“Bukan lo doang, tapi gue juga,” sahut Lavie.“Gue juga,” Claudia tak mau kalah.“Masih pagi,” ucap Diandra seolah tak terjadi apa pun.“Justru karena masih pagi, Diandra sayang. Kenapa lo udah jadi hot topic aja di kampus?”“Jelasin, kenapa lo bisa ke kampus bareng Sangkara?&rd







