Home / Romansa / Si Tampan yang Posesif / 25. Mabuk dan Berciuman

Share

25. Mabuk dan Berciuman

last update Last Updated: 2026-01-03 21:00:43

“Nggak… nggak mungkin,” Diandra menggeleng sambil sesekali memukul pelan kepalanya.

Ia nyaris tidak memercayai telinganya sendiri.

“Diandra?” suaranya makin jelas, membuat Diandra semakin yakin kalau telinganya memang tidak salah.

“Kara? Sangkara?”

Diandra berdiri dari sofa, mendongak untuk menatap wajah Kara yang menjulang tinggi di depannya. Diandra mencoba menajamkan pengelihatannya untuk memastikan kalau laki-laki di hadapannya saat ini memang Sangkara.

“Ck, berani banget minum sendirian kayak gini. Dasar ceroboh,” Kara berkacak pinggang, dan menatap kesal pada Diandra yang sedang sempoyongan sambil sesekali berpegangan pada tubuhnya agar tetap bisa berdiri tegak.

Di tengah gejolak hati yang meronta-ronta bahagia dan di antara degup jantung yang nyaris melompat keluar, Diandra memberanikan diri untuk berdiri lebih dekat pada Sangkara. Ia berjinjit dan melingkarkan tangannya di leher

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Si Tampan yang Posesif   26. Morning Kiss

    Suaranya lirih tapi menusuk, sebelum akhirnya bibir Kara menempel kembali dengan ganas di bibir Diandra.“Akh… Eungh…” Diandra berusaha menahan, tapi Kara lebih cepat.Kedua tangannya mengunci pergelangan tangan Diandra di belakang tubuh gadis itu, membuat Diandra tak berdaya.Ciuman itu panas, rakus. Tak ada celah untuk bernapas. Lidah Kara menyapu lembut, lalu menuntut masuk. Diandra berusaha menolak, menepis, tapi tubuhnya mulai melemah. Perlahan, ia terbuai.Dan di saat itulah, lidah mereka bertemu. Saling beradu, saling menyerang. Desahan napas bercampur, panas tubuh menular. Mereka berdua hanyut dalam ciuman dan sentuhan yang panas membara, mengabaikan Vincent yang tampak gugup dan tegang saat tanpa sengaja menyaksikan perbuatan mereka di kursi belakang melalui kaca spion di depannya.Ya, Kara memang sengaja membawa Vincent bersamanya untuk berjaga-jaga kalau dirinya mabuk dan tidak bisa menyetir sendiri.***

  • Si Tampan yang Posesif   25. Mabuk dan Berciuman

    “Nggak… nggak mungkin,” Diandra menggeleng sambil sesekali memukul pelan kepalanya.Ia nyaris tidak memercayai telinganya sendiri.“Diandra?” suaranya makin jelas, membuat Diandra semakin yakin kalau telinganya memang tidak salah.“Kara? Sangkara?”Diandra berdiri dari sofa, mendongak untuk menatap wajah Kara yang menjulang tinggi di depannya. Diandra mencoba menajamkan pengelihatannya untuk memastikan kalau laki-laki di hadapannya saat ini memang Sangkara.“Ck, berani banget minum sendirian kayak gini. Dasar ceroboh,” Kara berkacak pinggang, dan menatap kesal pada Diandra yang sedang sempoyongan sambil sesekali berpegangan pada tubuhnya agar tetap bisa berdiri tegak.Di tengah gejolak hati yang meronta-ronta bahagia dan di antara degup jantung yang nyaris melompat keluar, Diandra memberanikan diri untuk berdiri lebih dekat pada Sangkara. Ia berjinjit dan melingkarkan tangannya di leher

  • Si Tampan yang Posesif   24. Sorry, I Can't

    Gavin dan Claudia menatap fokus pada Diandra, menunggu jawaban yang akan ia berikan pada Devano.“Sorry, tapi gue nggak bisa.” Jawab Diandra akhirnya.“Kenapa?”“Karena gue nggak punya perasaan yang sama ke lo. Maaf.”“Apa karena ada cowok lain?”Diandra diam, tidak menjawab. Sekalipun iya, Diandra juga tidak akan memberitahukannya.“Sangkara?” Diandra mendongak saat nama itu disebut.“Lo nggak serius naksir dia, kan?”“Kenapa emangnya?”“Ya, semua orang juga tau kalo dia deketin lo itu karena ada maunya doang.”“Semua orang? Siapa?”“Ya… banyaklah. Secara cewek kayak lo gini, cowok mana yang nggak naksir coba? Apalagi buat orang kayak Sangkara gitu, udah pasti dia cuma nyari untung doang dengan deketin lo.”“Bentar deh. Bukannya waktu awal ospek, lo bilang kal

  • Si Tampan yang Posesif   23. Gaduh Part 1

    “Dia ngapain lagi di sini?” tanya Lavie lagi.“Nggak tahu, ya. Kabar terakhir sih kayaknya dia mau kuliah di sini juga, cuma belum tau deh mau ngambil jurusan apa.”“Seriously?”“Kara bilang sih gitu.” Ujar Seno santai.“Kara? Jadi mereka emang beneran deket?”“Ya… deket, tapi nggak sedeket itu juga.”“Deket, tapi nggak sedeket itu tuh gimana maksudnya?” Kata Lavie, tak sanggup menahan emosi.“Susah jelasinnya, sayang.”“Stop! Jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi.”“Ya akunya mau.”“Kalo gitu aku nggak mau bantuin Kara lagi. Biarin aja mereka musuhan terus seumur hidup.”“Eh, jangan dong. Masa kamu tega sih mau misahin dua orang yang saling suka.”“Ya, makanya nggak usah mancing-mancing.”“Iya, iya. Lagi

  • Si Tampan yang Posesif   22. PDKT Dalam Kesempitan

    Jantung Kara mencelos. Rasanya menyakitkan mendengar seseorang yang ia cintai mengucapkan kata-kata seperti itu tepat di depan wajahnya“Kara, aku…” Diandra menggigit bibirnya sendiri, lalu meremas tangannya, gelisah.Ia sadar telah salah bicara, dan sekarang ia sedang mencari kalimat yang tepat untuk memperbaikinya.“Oke.” Satu kata itu diucapkan Kara dengan berat.Senyumnya kecut, sorot matanya dalam, dan mengandung… luka.Setelah itu ia pergi begitu saja, meninggalkan Diandra seorang diri, tenggelam dalam rasa bersalah yang besar.Diandra menghela napas kasar, sambil dalam hati mengumpati diri sendiri, ‘Diandra bodoh! Bodoh! Kok bisa sih lo ngomong kayak gitu ke Sangkara. Lo itu manusia! Bukan setan!’***Sudah satu minggu Kara dan Diandra kembali ke stelan awal.Jauh. Asing. Seperti orang yang tidak saling mengenal sebelumnya.Diandra beberapa kali men

  • Si Tampan yang Posesif   21. Jatuh Cinta Beneran

    Kara menyeringai remeh, lalu melirik Diandra dengan ekor matanya.“Ada yang lebih menarik dari aku, Diandra?”“Hah, apa?”“Atau kalo kamu mau dateng karena ngerasa nggak enak, nggak apa-apa, aku temenin,” ucapan itu membuat Diandra bukan hanya melotot sekarang, tapi juga melongo.Apa yang terjadi pada Kara sebenarnya. Kenapa sikapnya bisa berubah-ubah dengan cepat dan juga drastis?‘Ini Kara atau pemeran pengganti? Kenapa tiba-tiba jadi manis tapi juga posesif dalam waktu bersamaan gini?’ batinnya bingung.“Oke, deh,” ucap Diandra akhirnya.Diandra tidak tahu, sebenarnya ia sedang meng-iya-kan pertanyaan yang mana.***“Lo masih nganggep gue temen lo, kan?” tanya Seno saat dirinya berada di taman kampus bersama Sangkara.“Kenapa?”“Harusnya nggak ada yang lo tutupin dari gue dong, ya.”Kara tersen

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status