Se connecterSuaranya lirih tapi menusuk, sebelum akhirnya bibir Kara menempel kembali dengan ganas di bibir Diandra.
“Akh… Eungh…” Diandra berusaha menahan, tapi Kara lebih cepat.
Kedua tangannya mengunci pergelangan tangan Diandra di belakang tubuh gadis itu, membuat Diandra tak berdaya.
Ciuman itu panas, rakus. Tak ada celah untuk bernapas. Lidah Kara menyapu lembut, lalu menuntut masuk. Diandra berusaha menolak, menepis, tapi tubuhnya mulai melemah. Perla
Diandra menggeleng, “Enggak sama sekali. Aku malah bersyukur, karena dengan begitu, kita jadi semakin deket, pacaran, sampe menikah kayak sekarang. Makasi ya karena udah berjuang.”“Selalu, sayangku.”Kara yang memulai, ciuman itu yang awalnya lembut dan pelan. Kemudian berubah menjadi panas dan liar. Lagi. Kara kesusahan menahan dirinya sendiri untuk tidak mencumbu Diandra di sembarang tempat. Yang mana orang lain bisa saja melihat perbuatannya. Namun sisi otaknya yang lain mengacuhkanya.Diandra adalah istrinya, jadi ia merasa berhak untuk mencium dan mencumbunya di mana saja.***Kara berbaring dalam gelap, terjaga sementara Diandra tidur. Istrinya itu merapat manja kepadanya dan sekarang lengan ramping Diandra memeluk pinggang Kara. Kepala Diandra terbenam pada bahunya sambil bernapas lembut.Aroma tubuh Diandra masuk ke benak dan mengaburkan pikirannya. Wangi yang sangat disukainya itu selalu berhasil membuatnya lupa diri. Udara malam i
“You know that.”Diandra tersenyum. Ingatannya kembali ke saat-saat di mana Kara selalu menolak bersentuhan fisik yang terlalu intim dengannya, bahkan cenderung menghindar dan menarik diri setiap kali mereka nyaris lepas kendali. Dan sekarang, Kara benar-benar membuktikan hal itu, sesuatu yang selama ini ia tahan, pada akhirnya meledak tanpa bisa ia tahan-tahan.Sekarang… Kara sama sekali tak merasa sungkan menunjukkan gairah dan sensualitasnya yang menggoda, saat mereka sudah menikah. Ia bahkan tak bisa berhenti, sekalipun Diandra sudah kelelahan dan kehabisan tenaga.“Jadi… kapan aku boleh keluar kamar?” Tanya Diandra di ujung percintaan mereka.“Never.”***“Jam lima sore, Waktu Swiss,” kata Marcel sambil melihat arlojinya saat melihat sepasang suami istri baru itu baru muncul di meja makan.“Biasalah pengantin baru,” Kara mengedikkan bahu a
Begitu pintu apartemen tertutup di belakang mereka, Diandra sudah berada dalam pelukan Kara, dan membalas ciumannya dengan sepenuh hati saat Kara melumat bibirnya. Lidahnya menyerbu menuntut balasan. Sesekali ia menyedot lidah Diandra hingga gadis itu terengah.Tubuh Diandra menegang, tapi perlahan menyerah. Tangannya bergerak cepat membuka kancing kemeja Kara satu per satu, sementara Kara memilih jalan paling cepat—merobek gaun merahnya dengan kasar.Desiran halus merambat di tubuh Diandra, membuatnya menutup mata, menyerah pada momen itu. Bersama-sama mereka menikmatinya, dan sekarang Diandra adalah miliknya… miliknya sepenuhnya.Diandra lalu melompat ke ranjang, menyambut Kara dengan lengan terbuka, lalu memosisikan diri. Kemesraan yang mereka rasakan begitu cepat dan intens, dan akhirnya memuncak dalam satu ledakan klimaks yang panjang dan menyenangkan.“Sayang…” bisikan Kara terdengar menggelitik di telinganya, suarany
Saat matahari mulai terbenam, perayaan berpindah ke Loggia Segre untuk resepsi yang lebih intim dan romantis. Cahaya senja yang lembut menambah keanggunan vila dan menciptakan suasana hangat dan magis untuk makan malam dan pesta.Kara mengangkat gandengan tangan Diandra tinggi-tinggi. Memamerkan istrinya yang tampak luar biasa dengan balutan dress warna merah marun yang pekat dengan kilau khas kain satin yang jatuh mengikuti lekuk tubuh. Gaun itu memiliki tali bahu yang sangat tipis dengan potongan square neck, memberikan kesan minimalis namun tetap seksi.Bagian pinggngnya terdapat kerutan artistik yang memberikan dimensi pada kain, sebuah potongan sempurna untuk menonjolkan siluet tubuh Diandra. Gaun itu juga memilki belahan tinggi di satu sisi, menampilkan kaki jenjang Diandra yang tampak cantik dibalut sepatu hak tinggi berwarna senada.Sementara Kara, tetap setia dengan stelan serba hitamnya. Menurut Diandra, Kara tidak memiliki warna lain
Diandra berdiri!Benar-benar berdiri.Ia bahkan mulai melangkah pelan ke arahnya.Kara refleks hendak melangkah maju, namun lengannya segera ditahan oleh Seno yang berdiri tak jauh darinya, berperan sebagai groomsmen untuknya. Lelaki itu menoleh dan mendapati Seno menggeleng pelan padanya. Kara berdeham sekali, membenarkan letak jasnya, dan kembali berdiri tegak di posisinya semula.Matanya tak luput dari memandangi Diandra yang berjalan seorang diri dengan anggun menuju ke arahnya. Gadis itu sangat cantik dengan balutan gaun pengantin berwarna off-white yang menampilkan kesan romantis dan klasik. Gaun itu memiliki potongan A-line yang memberikan siluet ramping pada bagian pinggang dan melebar secara anggun ke bawah.Bagian atasnya menggunakan desain kerah V-neck yang rendah dengan ilusi kain transparan pada bagian bahu dan lengan panjang, yang mana seluruh bagiannya dihiasi bordir renda floral, memberik
“Baru deket,” ucap Gavin akhirnya.“Baru?” Diandra bertanya lagi.Gavin mengangguk.“Cepet juga ya progressnya,” semua orang menatap Lavie dengan penasaran.“Maksudnya?” Gavin bertanya.“Nggak… bukan apa-apa,” Laviena menolak jujur.“Arena balap, seminggu yang lalu, di parkiran,” Kata Seno asal.Deg.Tidak ada yang tahu itu suara jantung siapa. Yang pasti, ada empat orang yang sadar diri tengah dibicarakan di sana.“Lo… liat?” Tanya Gavin gugup.Seno dan Laviena mengangguk bersamaan.Gavin mengusap wajahnya gusar, merasa malu karena tertangkap basah oleh sahabat beserta pacarnya juga.“Ya udah sih, nggak perlu malu juga. Kayak sama siapa aja.”“Sejak kapan?” Tanya Diandra penasaran.“Udah dong, kok malah jadi bahas gue sih. Harusnya kan sekarang kita seneng-seneng bareng, dan mungkin juga kita bisa bantuin Diandra buat persiapan pernikahannya. Iya, kan?” Kata Claudia, berusaha berbicara dengan normal.“Iyaaaa.” Jawab mereka semua bersamaan.Sementara Miranda, Marcel, dan juga Lucyana
“Mine,” jawab Kara singkat, namun sudah cukup untuk menjelaskan semuanya. Apalagi saat ekor matanya menangkap luka kecil dan darah di ujung bibir Diandra, Erika paham betul kalau itu pasti ulah Sangkara.Erika menarik napas panjang, mengangguk, lalu segera undur diri dan keluar dari ruangan itu. Men
‘Kamu ngapain?’ Tanyanya to the point, khas Sangkara sekali.“Apanya?”‘Aku udah bilang kalo aku nggak suka kamu jadi model untuk sportcar itu. Kenapa bandel banget, sih?’“Kan, aku
Foto itu diunggah dengan caption ‘Menciptakan Kelas yang Berbeda. Nantikan, hanya ada 4 unit di Indonesia’.Kara menghela napas berat, terkejut setengah mati saat menyadari siluet gadis yang berfoto bersama mobil itu. Kara mengenalinya, meskipun hanya gambar dua dimens
“Hahaha, Om Marcel nih, ya. Kalo Kara marah beneran gimana?”“Nanti om dan tante yang bantu jelasin ke dia. Karena jujur, nggak ada orang lain yang cocok di posisi itu selain kamu.”“Oke deh kalo gitu, deal.”Mereka saling







