MasukMata mereka bertemu dan saling menatap beberapa saat sebelum akhirnya Kara berpaling dan mengembuskan napas berat.
“Gue nggak bisa,” tiga kata dari Kara itu sontak membuat napas Diandra tercekat.
Jantungnya seperti berhenti berdetak sepersekian detik, dan udara di sekitarnya terasa menipis, membuat Diandra kesulitan bernapas.
“But, thanks karena udah suka sama gue selama tiga tahun ini,” lanjutnya.
Kalimat itu terdengar sangat menyakitkan bagi Diandra. Rasa cinta yang dia simpan selama tiga tahun ini sia-sia. Perasaannya tak berbalas.
“Apa ada sesuatu didiri gue yang bikin lo nggak suka? Atau belum? Gue bisa nunggu.”
Diandra tahu kata-katanya itu terdengar konyol, tapi tubuhnya bergetar saat memikirkan kemungkinan itu.
Kara tidak langsung menjawab. Ia hanya melirik sekilas, tatapannya dingin namun… ada sedikit kilatan yang sulit ditebak.
“Enggak.”
“Kenapa?”
“Lo kelewat populer, kayaknya bakal ribet banget kalo menjalin hubungan sama tipe cewek kayak lo gitu. Selalu jadi spotlight dan zero privacy, itu sama sekali bukan gaya gue.”
Diandra menggigit bibirnya, membuang pandangannya ke mana saja untuk menahan air matanya agar tidak keluar dan jatuh di depan Kara. Ia tidak boleh menangis sekarang. Tidak di hadapan Sangkara.
‘Kara… hati aku sakit banget denger kamu ngomong kayak tadi.’
‘Berakhir… semuanya udah berakhir…’ Diandra tidak bisa membendung air matanya.
Ia mengepalkan tangan di sisi tubuhnya, menahan malu dan harga diri yang tersisa atas penolakan Sangkara padanya.
Diandra menunduk, mencoba tersenyum meskipun hatinya hancur dan dunianya seperti mau runtuh. Ia berusaha menghargai apa pun keputusan Kara. Bukankah cinta memang tidak bisa dipaksakan? Mungkin tidak sekarang, atau mungkin juga Diandra bukanlah orang yang diinginkan Kara untuk ada di sisinya.
***
Sejak malam penolakan itu, Diandra selalu menjaga jarak dari Kara. Ia tak pernah lagi muncul di hadapan lelaki itu, sekedar memberikan botol air minum saat Kara selesai berolah raga pun tidak. Kapan pun Diandra melihat Kara di sekolah, sebisa mungkin ia akan berusaha menghindar.
Diandra bahkan menghindari tempat-tempat di mana biasanya Kara berada. Perasaannya bukan hanya patah hati, namun malu luar biasa. Kara tidak hanya menolaknya, tapi juga menyuruhnya untuk pergi dan menjauh.
Sama sekali tidak memberikan kesempatan untuknya.
Sekarang Diandra hanya ingin fokus belajar untuk ujian akhir. Ia ingin lulus dengan nilai terbaik versinya dan membanggakan orang tuanya. Soal Kara, ia akan pikirkan lagi nanti.
“Are you okay? Lo udah kayak mayat hidup akhir-akhir ini?” Tanya Lavie yang mulai jengah dengan sikap diam dan cuek Diandra.
“Kenapa?”
“Kenapa lo bilang? Lo itu udah kayak orang nggak punya harapan hidup tau, nggak? Tiba-tiba jadi pendiem dan suka belajar, itu bukan lo banget,” lanjut Lavie menjelaskan.
Claudia mengangguk setuju, “Biasanya juga, kan, lo yang paling semangat kalo ada party. Sekarang? Total udah sepuluh undangan party yang lo tolak.”
“Kenapa sih? Cerita sini,” Lavie masih belum menyerah untuk membuat temannya buka mulut.
“Gue lagi mau fokus belajar aja. Sebentar lagi, kan, kita udah mau ujian. Emang kalian nggak mau apa, lulus dengan nilai bagus?” Diandra membela diri.
“Ya, mau. Tapi, kan, bukan berarti kita harus mengorbankan masa muda kita juga.”
“I know. Tapi prioritas gue saat ini adalah belajar. Itu,” lanjut Diandra penuh penekanan.
Lavie mengangguk.
“Terus Kara? Gimana tuh? Masa lo langsung nggak ada interaksi apa pun sih ke dia? Nggak biasanya loh, Di.”
“Diandra yang gue kenal itu paling suka bikin Kara repot, hahaha,” Claudia menimpali.
Lavie dan Claudia merasa aneh dengan perubahan sikap Diandra yang tiba-tiba menjadi suka belajar dan mengabaikan Sangkara. Di mana selama tiga tahun ini, ia tidak pernah melewatkan satu hari pun untuk mendekati dan mencari perhatian Sangkara.
Namun akhir-akhir ini berbeda, Diandra seperti menarik diri dari semua orang. Ia bahkan tidak membiarkan siapa pun mendekatinya. Kelihatannya seperti baru mendapatkan syok terapi yang sangat berat.
***
Malamnya… Diandra duduk termenung di atas tempat tidurnya, menatap laptop yang menyala di depannya. Kedua tangannya saling meremas, air matanya tak kunjung reda sejak beberapa menit yang lalu.
Setiap kali teringat penolakan Kara padanya, membuat hatinya sakit. Ya, rasa sakit itu masih ada. Usahanya selama tiga tahun untuk mengambil hati Kara pupus sudah. Lelaki itu tidak memiliki perasaan yang sama, bahkan melirik pun tidak, apalagi memberinya kesempatan.
Diandra membuka web pendaftaran Universitasnya, lalu dengan tangan gemetar, ia menggerakkan krusor ke kolom ubah pilihan. Diandra memejamkan mata, membuat sebutir air mata kembali jatuh dari pelupuk matanya.
“Selamat tinggal, Sangkara,” ucapnya dengan kesedihan yang tak bisa ditahan-tahan.
Diandra telah mengubah Universitasnya dari Acadia University ke Universitas lain di luar negeri. Sejak awal ia mendaftar di Acadia University karena ingin selalu dekat dengan Sangkara, tapi penolakan laki-laki itu menyakitinya, sekaligus membuatnya sadar, kalau hidup tidak harus tentang Sangkara.
Setelah ini Diandra berharap dirinya benar-benar bisa move on dan melupakan Sangkara dari hidupnya. Ia hanya akan mengenang lelaki itu sebagai cinta pertamanya, dan seseorang yang pernah hadir di masa mudanya.
***
“Yeay, gue lulus!”
“Gue lulus!”
“Gue juga lulus!”
Sorak sorai siswa dan siswi Central Secondary School terdengar di setiap sudut sekolah. Mereka semua tengah bersuka cita merayakan hari kelulusan. Setelah melihat papan pengumuman dan dinyatakan lulus, tak sedikit dari mereka yang melakukan selebrasi dengan menari, menyanyi, dan mencorat-coret seragam teman-temannya.
“Diandra selamat, lo masuk peringkat 10 besar! Keren banget,” puji Lavie sembari memeluk temannya itu.
“Thank youuuu,” Diandra membalas pelukan Lavie.
“Nggak salah deh akhir-akhir lo sibuk belajar terus, Di. Hasilnya memuaskan banget, bisa-bisanya lo dari peringkat 50 naik ke 10 besar. Hebat!” Lanjut Gavin yang menunggu giliran untuk dipeluk.
“Iya, dong. Diandra…” Diandra menarik salah satu kerah bajunya, menyombongkan pencapaian besarnya pada teman-temannya.
“Diandra… selamat ya atas pencapaian kamu yang berhasil masuk peringkat 10 besar,” Diandra menoleh dan mendapati seorang lelaki yang cukup familiar baginya.
“Thanks…?” Diandra memejamkan mata, mencoba mengingat sosok lelaki itu.
Ia melihat ke arah teman-temannya, berharap akan mendapatkan sebuah clue.
“Gue Alvaro, temen satu club-nya Seno,” lanjutnya, seolah paham dengan kebingungan Diandra.
“Oh,” Diandra mengangguk.
“Gue… boleh ngomong sebentar?” Lanjut Alvaro.
Diandra menggaruk lehernya yang tidak gatal, sejujurnya ia tidak ingin, tapi melihat bagaimana lelaki itu seperti tulus padanya, Diandra jadi kasihan dan tidak punya pilihan lain.
Mereka berjalan ke arah lorong, di mana tidak ada banyak orang di sana.
“Lo mau ngomong apa?”
“Nanti malem… lo udah ada barengan buat dateng ke party?”
Diandra menggeleng ragu sebelum menjawab, “Sama Gavin dan Claudia, mungkin. Kenapa?”
“Kalo dateng sama gue, lo mau nggak?”
Arseno, selain sebagai mantan pacar Lavie, lelaki itu juga adalah satu-satunya sahabat Kara sejak dulu. Ia tampan, memesona dan kaya raya tentu saja. Seno suka olah raga, ramah, namun sedikit bermasalah dengan temperamennya. Ia gampang tersulut emosi dan suka memukul orang saat suasana hatinya sedang buruk. Itu sebabnya Lavie masih belum bisa menerima Seno kembali.Sangkara? Semua orang tahu kalau ia bukan mokondo seperti apa yang pernah dituduhkan oleh Devano. Lelaki itu jelas kaya raya. Dua mobil yang pernah terlihat oleh teman-temannya jelas bukan unit yang dijual dengan harga murah. Audi R8 GT Limited 333 dan juga Rolls Royce-nya membuat orang lain tidak bisa meremehkannya.Hanya saja mereka masih belum tahu kalau lelaki itu adalah seorang pewaris keluarga Adhiyatsa. Ya, Kara selalu menyembunyikan nama belakangnya saat Universitas ini.Soal wajah, semua orang sepakat kalau Kara memiliki wajah tampan dengan garis rahang tegas, mata cokelat-abu abu, kulit keco
“Apaaaa?” Suaranya pelan disertai desahan, sepertinya Diandra sadar kalau Kara sedang berjuang sekuat tenaga menahan diri, jadi ia sengaja menggodanya.“Berani banget kamu?”“Berani apa?” Tanyanya pura-pura polos.“Please.” Kara bergumam kecil.“Apaaaa?” Diandra mengakhiri pertanyaannya dengan desahan lagi.Kara menghembuskan napas kasar sebelum berbalik dan menarik Diandra masuk ke dalam dekapannya. Matanya melirik ke samping untuk memastikan tidak ada orang lain di sana. Ia kemudian mencondongkan wajahnya ke arah Diandra dan menyeringai, “Kamu yang mulai,” bisiknya saat wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja.Diandra terseyum puas, lalu membuka mulut untuk menyambut ciuman Kara.“Ahh… Kara…”Kara tersenyum nakal melihat Diandra berteriak tertahan saat ia menggigit kecil sudut bibir gadis itu. Ia lalu menyentuh d
“Emang gitu dia tuh. Cemburuan, posesif, untung anak sendiri, jadi yaaa gimana.”Mereka semua tertawa, kecuali Kara yang memilih membuang muka ke mana saja karena menahan malu.“Mama nih ah, anak sendiri bisa-bisanya diroasting.”“Helena, selamat datang kembali di Indonesia,” Miranda segera memeluk sahabatnya yang telah lama tidak bertemu.Begitu pun Helena, langsung menyambut dan memeluk sahabatnya seolah mereka sudah berpisah selama se-abad. Sementara para suami saling melempar senyum dan bersalaman.“Ayo sini duduk, pas banget makanannya baru mateng ini, jadi masih anget-anget.” Helena mempersilakan Miranda dan suaminya duduk lebih dulu, lalu ikut duduk setelahnya.“Kara, beberapa bulan nggak ketemu, kamu keliatan tambah ganteng, ya.” Puji Helena.“Thank you, tante. I guess.” Kara tersenyum, lalu melirik Diandra sembari mengerling nak
Diandra dan kedua temannya mengangguk, lalu menunggu dengan sabar hingga wanita muda nan cantik itu muncul kembali ke hadapan mereka.“Dibayar menggunakan American Express atas nama Sangkara Adhiyatsa.”Laviena dan Claudia saling pandang sambil menutup mulut tak percaya, sementara Diandra kehilangan kata-kata. Kekasihnya itu selalu berhasil mengejutkannya. Sekarang ia bahkan diam-diam membayar belanjaannya dan juga kedua temannya.“Serius? Terus kita gantinya gimana dong ini?” Tanya Claudia.“Gue telepon dia dulu, ya.”Keduanya mengangguk.‘Ya, sayang?’ sapaan lembut itu terdengar begitu teleponnya tersambung.“Sayang, aku mau nanya, kamu yang bayar tagihan tas aku dan temen-temen aku, ya?” Tanya Diandra to the point.‘Kamu suka?’“Suka… apanya?”‘Tasnya lah.’“Sayang, besok-besok jangan kayak gini lagi, ya. Aku bisa bayar belanjaan aku se
“Nggak mau,” katanya tegas.Namun bukannya luluh, Lavie justru tertawa terbahak, sampai nyaris tersedak oleh salivanya sendiri.“Jadi aku ditolak lagi nih?” Tanyanya dengan wajah cemberut yang dibuat-buat.“Iya.”“Tega banget emang cewek satu ini, ckck.”“Biarin. Lagian temennya lagi ada masalah, malah confess.” Kata Lavie tajam dan penuh penekanan.Nyali Seno ciut, dan ia memilih diam. Karena kalau dirinya terus memaksa, itu hanya akan membuat Laviena semakin bersikap defensif.“Oke, mungkin nggak sekarang. Nggak apa-apa, aku akan tetep nunggu kamu. Karena aku nggak mau yang lain selain kamu.”“Hm… pinter banget gombalnya,” Lavie tersenyum meledek.“Aku serius.”“Yayaya…”***Kara merogoh sakunya saat ponselnya berdering, lalu menatap layar yang menunjukkan notifikasi pe
“Sayang, kenapa?”“Ini…” melihat tangan Diandra yang gemetaran, Kara langsung mengambil ponsel itu darinya.Seketika wajah lelaki itu merah padam menahan amarah.“Brengsek! Bahkan setelah semalem, dia masih berani ngirim beginian ke kamu,” desisnya.“Bukan. Itu nggak mungkin dia,” kelima orang itu otomatis menatap ke arah Gavin.“Sorry, gue bukannya mau belain. Cuma gue bisa pastiin kalo itu anak sekarang masih nggak sadarkan diri di rumah sakit. Jadi harusnya dia nggak bisa dong ya kirim-kirim pesan teror kayak gini ke Diandra,” lanjutnya.Kara melirik Gavin tajam, mencari kebenaran dari kata-kata lelaki itu. Ia lalu mengambil ponselnya sendiri untuk menghubungi seseorang.“Gimana keadannya?” tanya Kara pada seseorang di seberang teleponnya.“Oke.” Telepon itu dimatikan secepat kilat.Kara lalu menatap Diandra la







