แชร์

Bab 2: Batas Manusia Biasa

ผู้เขียน: Zeils
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-03 21:01:36

Golgothar meraung, sebuah lengkingan pekak yang merobek atmosfer dan mengukir secara absolut wilayah kekuasaannya yang baru. Di ujung kawah yang gersang, Rin dan Hanan terdiam membatu. Jangankan bersuara, menggerakkan ujung jari pun rasanya mustahil di bawah tekanan aura intimidasi yang begitu mencekik.

Mereka hanya bisa menatap dari kejauhan, dipaksa menjadi saksi bisu saat anomali bencana itu merayakan kehancuran yang diciptakannya sendiri dengan gestur yang mengerikan.

Hingga beberapa saat kemudian, sepasang mata merah menyala milik Golgothar bergerak. Makhluk itu akhirnya menyadari keberadaan dua titik nyawa yang tampak begitu mencolok di tengah gersangnya kawah pembantaian. Hanya tersisa mereka berdua.

"Hanan, lari..." Rin mencengkeram bahu Hanan dengan jemarinya yang gemetar hebat, mencoba memperingatkan.

"Hanan, lari!"

Bentakan Rin meninggi, namun pemuda di sampingnya tetap bergeming. Jiwa Hanan telah sepenuhnya disita oleh amarah murni yang membakar warasnya.

"LARI HANAN!"

Rin sudah tidak peduli lagi. Insting bertahan hidup memaksa sang Elf berbalik dan melarikan diri tunggang-langgang, meninggalkan Hanan yang masih membeku di tempatnya, menatap lurus ke arah monster itu dengan pandangan sedingin es.

Di seberang kawah, Golgothar mulai melangkah pelan. Setiap hentakan kakinya sengaja dibuat berdentum lambat, sebuah demonstrasi sadis untuk menunjukkan dominasi mutlak di tengah lautan kabut darah. Hanan tidak peduli. Pikirannya terkunci pada satu poros: bagaimana cara mencabik-cabik makhluk di depannya demi meredakan badai murka di dadanya.

Namun, dalam satu kedipan mata, monster itu menghilang dari pandangan.

Hanan tersentak. Ia melirik liar ke segala arah, namun tidak menemukan secuil pun bayangan Golgothar di dalam kawah. Kosong. Hanya ada keheningan yang menipu.

WUSH!

Beberapa detik kemudian, desingan angin pekat berembus. Monster itu mendadak muncul kembali di titik yang sama secara instan, namun kali ini, tangan kirinya yang masif tidak lagi kosong. Makhluk itu tengah mencengkeram sesuatu, atau lebih tepatnya, seseorang.

Itu adalah Rin.

Golgothar mencengkeram kepala sang Elf erat-erat, sengaja mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi dan memperlihatkannya langsung ke hadapan Hanan dengan seringai buas.

"To... long—!"

CRASH!!!

Mantra pelindung Rin telah habis, dan tanpa pertahanan sihir, cengkeraman raksasa itu meremukkan kepala sang Elf hingga hancur lebur seperti buah matang yang diinjak. Semburan darah segar dan serpihan daging berhamburan di udara sebelum tubuh tak bernyawa Rin jatuh berdebam ke tanah berbatu. Dengan perlahan, Golgothar menjilat sisa darah di sela-sela jarinya, sebuah provokasi sadis yang sengaja diarahkan kepada Hanan yang sejak tadi memelototinya dalam keheningan yang meledak-ledak.

"Bajingan ini... tampaknya punya otak," gumam Hanan sejenak dengan suara parau.

Sepasang matanya beralih, menangkap sebilah pedang besar tua (Greatsword) yang tertancap kokoh di reruntuhan tak jauh dari kakinya. Hanan melangkah tegap, menarik gagang logam itu dengan satu sentakan kasar, lalu memegangnya erat-erat dengan tangan kanan di belakang punggung.

"Kau yang memulai semua ini..." gumamnya lirih.

Hanan membungkukkan tubuhnya rendah hingga setara pinggang. Kuda-kuda aneh yang mengerikan. Tangan kirinya menjulur lurus ke depan sebagai sensor pengunci, sementara matanya tidak pernah lepas sedetik pun dari targetnya.

BOOM!

Dalam fraksi detik berikutnya, Hanan melesat membelah densitas udara. Kecepatannya begitu abnormal hingga menciptakan gelombang kejut di udara. Ia menerjang lurus, melesat ke hadapan Golgothar, lalu mengayunkan pedang raksasa itu dalam satu tebasan vertikal yang luar biasa dahsyat.

SLASHH!!

Udara terbelah menjadi dua, dan tanah di bawah mereka terpisah menciptakan celah menganga.

Tebasan bertenaga raksasa itu sanggup membelah awan dan bumi. Namun, dengan insting binatangnya yang teramat tajam dan refleks anomali yang gila, Golgothar berhasil menggeser tubuh masifnya di saat-saat terakhir. Tebasan mutlak itu meleset, hanya berhasil memotong habis tangan dan kaki kanan sang monster hingga terlepas dari tubuhnya.

Harga yang harus dibayar Hanan jauh lebih fatal.

Otot dan struktur tulangnya tidak mampu menahan beban energi yang dilepaskan melampaui batasan manusia. Tangan kanannya memang tidak putus, namun seluruh tulang dari jemari hingga bahunya berderak hancur, patah di berbagai titik hingga terkulai layu tak lagi bisa digerakkan. Kulit di sekujur lengannya robek, memuncratkan kepulan darah segar yang sangat banyak.

Namun, Hanan menolak untuk tumbang. Kegilaan di dadanya menolak mati.

Sembari menahan napas yang tercekat, Hanan melempar sisa pedangnya dan menangkapnya dengan tangan kiri di belakang punggung. Ia memaksakan poros tubuhnya berputar ke kiri secara ekstrem, berniat melepaskan tebasan horizontal ke dalam.

Namun, syok hipovolemik akibat kehilangan terlalu banyak darah mendadak menghantam sistem sarafnya. Pandangannya menggelap seketika, dan tubuhnya limbung.

Sebelum bilah pedang di tangan kirinya sempat berayun penuh, gerakan Hanan melambat drastis. Golgothar tidak menyia-nyiakan umpan empuk itu. Tangan kiri monster itu menyergap cepat, mencengkeram mata pedang besar tua itu, lalu menghancurkannya hingga menjadi serpihan logam dalam satu remasan kuat.

Hanan benar-benar telah kehabisan seluruh cadangan energinya hingga ke tetes terakhir.

Melihat mangsanya tak lagi berkutik, Golgothar yang kini pincang segera menggerakkan tangan dan kaki kirinya yang tersisa. Dengan sisa tenaga destruktifnya, makhluk itu melayangkan satu pukulan telak ke dada Hanan.

BAM!!!

Daya hancur pukulan itu melontarkan tubuh Hanan layaknya peluru meriam. Tubuhnya terbang melewati luasnya kawah, menabrak deretan pepohonan, sebelum akhirnya terjerembap di kedalaman hutan pinus dengan cedera internal yang teramat parah.

Tepat saat tubuhnya menghantam tanah yang dingin, kegelapan pekat menyergap pandangannya. Hanan kehilangan kesadarannya.

Di area kawah, Golgothar yang murka menolak membiarkan predator itu hidup. Dengan bertumpu pada kaki kirinya, monster pincang itu melompat tinggi ke udara. Hanya sekitar sepuluh meter dari permukaan tanah, namun dengan dorongan momentum yang gila, lintasannya mengarah tepat ke titik jatuh Hanan di dalam hutan.

Namun, takdir neraka ini mendadak bergeser.

Tepat saat tubuh masif monster itu melesat di udara, sekelebat bayangan putih bergerak secepat kilat dari arah dalam hutan yang berlawanan. Dalam sekejap mata, bayangan itu sudah berada tepat di bawah posisi melayang sang monster.

Bayangan itu adalah seorang pria misterius berambut putih legam, dengan jubah yang berkibar tertiup angin. Di genggamannya, sebilah pedang panjang memancarkan kilatan cahaya yang begitu murni.

Pria berambut putih itu melompat ringan, lalu melepaskan sirkulasi tebasan berkecepatan tinggi yang tidak kasatmata.

SLASH! SLASH! SLASH!

Suara cabikan daging yang masif menggema. Dalam satu detik yang sunyi, tubuh raksasa Golgothar dimutilasi secara mengerikan di udara, terpotong-potong menjadi belasan bagian sebelum sempat menyentuh dedaunan hutan.

Di sela-sela sisa kesadarannya yang meredup, sepasang kelopak mata Hanan sempat terbuka sedikit. Pandangannya buram dipenuhi darah, namun ia sempat menangkap siluet putih yang berdiri di atas genangan darah monster tersebut.

“H-huh…? Apa itu…?” batin Hanan merintih heran.

Ia sempat berpikir bahwa detik ini adalah akhir dari napasnya yang singkat, namun tampaknya, sesosok yang sangat kuat baru saja menyelamatkan nyawanya dari atas langit.

Detik berikutnya, akibat kehilangan terlalu banyak darah dan hancurnya jaringan otot di sekujur tubuh, Hanan kembali jatuh pingsan, tenggelam ke dalam koma yang dingin di bawah bayang-bayang pohon pinus yang sepi.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Siasat Hunter Penakut   Bab 30: Kasur Manusia

    Panggilan telepon itu tersambung hanya dalam satu kali nada panggil."Kaelen," panggil Hanan santai, menyenderkan Greatsword raksasanya di bahu kiri. "Aku butuh sedikit bantuan di jalan raya distrik luar. Ada sepuluh orang asing yang tiba-tiba melompat menyergapku."Di ujung telepon, suara Kaelen yang biasanya tenang dan penuh wibawa seketika berubah drastis."Apa?! Sepuluh orang menyergapmu?!" teriak Kaelen dengan nada panik yang tidak bisa disembunyikan. "Hanan, bertahanlah! Jangan ambil tindakan nekat! Aku dan Albert akan segera meluncur ke lokasimu sekarang juga!"TUT... TUT... TUT...Panggilan diputus sepihak dari seberang sebelum Hanan sempat menyuarakan penjelasannya bahwa situasi di lapangan sudah sepenuhnya terkendali.Hanan menghela napas pasrah menatap layar ponselnya. "Dasar... mereka bahkan tidak mau mendengarkanku sampai selesai."Sambil menunggu kedatangan bantuan, Hanan menatap sepuluh penyerang yang masi

  • Siasat Hunter Penakut   Bab 29: Pemburu

    "Tua Bangka, Ikut aku ke ruang rapat utama. Kita harus membahas pergerakan kelompok ini lebih mendalam bersama divisi intelijen," ujar Kaelen seraya berbalik arah, melangkah keluar dari ruangan latihan yang hancur berantakan tersebut. Albert menepuk-nepuk celananya, mengibaskan debu logam yang menempel. "Bocah, lanjutkan latihannya sendirian. Jangan malas-malasan!" serunya pada Hanan sebelum mengekor di belakang Kaelen tanpa sepatah kata pun untuk berpamitan lagi. Hanan yang ditinggalkan sendirian di tengah ruangan lapang hanya menghela napas panjang. Ia sama sekali tidak berniat memikirkan isu kelompok pemburu itu. Prinsip hidupnya sederhana: politik agensi dan ancaman di luar sana adalah urusan para perwira tinggi. Selama ia terus mengasah kekuatan fisiknya, bahaya apa pun yang datang menghampiri akan sanggup ia ratakan. Hanan kembali menegakkan tubuhnya, memegang gagang Greatsword dengan erat. Selama be

  • Siasat Hunter Penakut   Bab 28: Latihan

    Ruang latihan privat lantai bawah tanah Agensi Saint membisu dalam suasana serba canggih. Dinding-dindingnya dilapisi lembaran logam paduan khusus yang dirancang dengan teknologi Magitech paling mutakhir. Menurut standar agensi, struktur ini dibuat sedemikian rupa hingga digadang-gadang sanggup menahan guncangan ledakan nuklir skala sedang. Di era modern yang distopis ini, dunia bergerak murni di atas roda sistem kekuatan fantasi: 'Mana' untuk menyalurkan Sihir, serta 'Aura' untuk memperkuat fisik dan tebasan Pedang. Dunia ini sama sekali tidak mengenal apa yang disebut sebagai 'skill' layaknya cerita di komik-komik zaman dulu. Komik bergenre seperti itu sudah dianggap Ketinggalan zaman dan hampir dihentikan total produksinya oleh para penerbit. Satu-satunya alasan mengapa beberapa judul komik kuno itu masih terus digambar adalah keberadaan kolektor fanatic, dan Albert adalah salah satu dari sedikit orang kaya yang secara p

  • Siasat Hunter Penakut   Bab 27: Paksaan

    Proses pengumpulan material dan pembersihan area 'Dungeon' minimarket berlangsung jauh lebih cepat dari perkiraan semula. Bau amis darah monster yang sempat memenuhi aura ngarai perlahan sirnah saat kristal-kristal bercahaya dan bangkai 'Middle Boss' diangkut secara bertahap oleh barisan 'porter'. Begitu kaki terakhir anggota tim menapak kembali di atas aspal parkiran yang retak, suasana gembira langsung meledak di antara para Hunter. Hasil penaklukan itu dicatat secara resmi oleh Asosiasi Hunter: tidak ada korban jiwa dan tidak ada satu pun yang menderita luka berat. Hanya beberapa cedera gores ringan pada Hunter yang kurang waspada saat menghadapi sergapan 'Gargoyle'. Sebuah rekor yang amat jarang dalam sejarah penumpasan 'Dungeon' tingkat D ke atas, yang biasanya selalu memakan korban patah tulang atau luka bakar serius. "Pencapaian luar biasa untuk misi perdanamu sebagai perwira lini tengah, Hana

  • Siasat Hunter Penakut   Bab 26: Boss Monster

    "Gunakan penutup mata atau pejamkan mata kalian!" seru Clara cepat. "Pancaran di ruangan ini bisa merusak saraf mata secara permanen!" Seluruh Hunter terpaksa memejamkan mata rapat-rapat, mengandalkan pendengaran mereka yang terbatas. Hanya Hanan seorang yang berdiri tegap di tengah bukaan aula, menatap lurus ke dalam pendar kristal tanpa rasa takut sedikit pun. Indranya yang telah ditempa oleh 'Divine Energy' membuat sihir ilusi tingkat menengah itu membalas tumpul. Di tengah ruangan, sesosok bayangan monster raksasa samar-samar terlihat bertengger. "Mundur ke lorong gua!" perintah Hanan kepada seluruh anggota tim di belakangnya. "Kalian fokus berikan serangan jarak jauh dari luar aula saja. Jangan masuk ke ruangan ini agar tidak menjadi beban!" Clara sempat ragu, namun menyadari bahwa masuk ke ruangan bertabur ilusi tanpa penglihatan sama saja menyerahkan nyawa, ia akhirnya mema

  • Siasat Hunter Penakut   Bab 23: Rumah

    Kepulan asap dari masakan hangat menyambut kedatangan Hanan begitu ia menggeser pintu kayu rumah sederhananya. Bau rempah-rempah yang akrab seketika meluluhkan seluruh kelelahan fisik dan beban mental yang menumpuk di pundaknya selama dua bulan terakhir."Hanan? Ya Tuhan, kamu sudah pulang, Nak!"Ibunya bergegas keluar dari dapur dengan celemek yang masih terikat di pinggang. Matanya berkaca-kaca saat memeluk erat tubuh anak tunggalnya. Ayahnya yang baru saja meletakkan perkakas kayu di sudut ruang tamu ikut mendekat, menepuk-nepuk bahu Hanan dengan binar bangga yang tak bisa disembunyikan.Selama satu minggu penuh, Hanan benar-benar memutuskan hubungan dengan dunia Hunter, perang kasta, dan intrik politik agensi. Ia menghabiskan hari-harinya membantu ibunya memasak, mendampingi ayahnya memperbaiki atap rumah yang bocor, serta menikmati hidangan sederhana di meja makan tanpa perlu memikirkan ancaman kematian di dalam Dungeon.Bagi Hanan, senyuman

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status