LOGINBeberapa jam sebelum lautan darah membanjiri desa terpencil itu...
Di dalam perut 'Dungeon' Goa Bencana tingkat tinggi yang dikelola penuh oleh Agensi Saint, serangkaian ledakan sihir menggelegar hebat. Penaklukan 'Dungeon' yang berlangsung selama tiga hari tiga malam itu sebenarnya sudah berada di penghujung jalan. Bangkai-bangkai monster berpangkat tinggi berserakan di sepanjang lorong batu. Kaelen Vance, pria berambut perak itu berdiri di tengah ruang utama 'Dungeon', menyapu keringat di dahinya dengan lengan jas. Sebagai Ketua Agensi Saint sekaligus Hunter Rank S, ia merasa pertempuran ini sudah sepenuhnya terkendali. Namun, kelengahan sekecil apa pun di dalam dimensi anomali adalah kesalahan fatal. "ROAAARRR!" Sesosok raksasa berkepala banteng, Golgothar, yang tadinya dikira telah sekarat dan tak berdaya di sudut ruangan, mendadak memacu sisa energi kehidupannya secara liar. Makhluk itu meledakkan aura vulkanik pekat, meremukkan formasi barikade penyihir Agensi Saint hanya dalam satu kibasan lengan. "Awas! Jangan biarkan dia menerobos keluar!" teriak salah seorang komandan lapangan. Namun, sudah terlambat dalam sekejap Golgothar menembus brikade itu dan melompat keluar dari Dungeon tersebut menuju dunia luar. Disana, ia memporak-porandakan perkemahan Agensi Saint terlebih dahulu kemudian melesat dengan sangat cepat ke arah Utara. "Cih!" Kaelen mendecak kesal. Ujung pedang peraknya memancarkan kilatan sihir pekat saat ia melesat mengejar Golgothar dari belakang. Namun, Golgothar yang kalap tidak berniat bertarung. Makhluk itu memanfaatkan bentuk tubuhnya yang tegap untuk menabrak pepohonan', menembus pepohonan dengan sangat cepat hingga mencapai garis pembatas sejauh satu kilometer dalam sekejap, dan meluncur ke udara terbuka. Orang-orang yang menjaga garis pembatas itu terngaga saat melihat monster itu melewati mereka seolah-olah mereka tidak ada disana. Berikutnya, Kaelen melewati mereka juga dalam beberapa saat. Kaelen meloncat keluar dari mulut goa beberapa detik setelah Golgothar keluar, dan saat itu juga, rasa dingin menusuk punggungnya, Golgothar sudah sangat jauh. Di bawah sana, hanya beberapa kilometer dari kaki gunung tempat 'Dungeon' berada, terhampar sebuah desa terpencil yang tampak sangat damai, makmur, dan tenteram. "Sialan! Ada pemukiman warga di sana?!" kepanikan melintasi raut wajah Kaelen yang biasanya tenang. Jika monster anomali kelas atas itu jatuh di area pemukiman, reputasi Agensi Saint akan hancur lebur dalam satu malam! Kaelen memacu sirkulasi mana tingkat tingginya sampai batas maksimal. Ia melepaskan belasan tebasan energi jarak jauh berkecepatan tinggi, mencoba memotong jalur jatuh Golgothar dari atas. CRAK! CRAK! CRAK! Tebasan-tebasan sihir membelah awan dan meremukkan tebing batu di sekitar gunung, namun tak ada satu pun yang berhasil mengenai tubuh Golgothar secara telak di udara. Makhluk itu bergerak terlalu dinamis akibat hempasan gravitasi bebas. Hingga akhirnya, Golgothar menekuk kedua kaki raksasanya, lalu menghantam permukaan tanah di pinggiran desa sebelum akhirnya melompat meluncur ke atas langit yang sangat tinggi, menciptakan awal dari tragedi gila yang menimpa Hanan dan desanya. Kaelen mendarat di atas batu tebing, menghentikan langkahnya. Pria berambut perak itu hanya bisa menatap dalam diam dari bawah, menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana bencana yang lahir akibat kelalaian timnya meluncur jatuh meratakan desa pemukiman tersebut. Sejarah kelam itulah yang menyeret Kaelen mengejar monster tersebut hingga ke dalam hutan pinus, membantai Golgothar yang pincang, dan menemukan tubuh Hanan yang bersimbah darah di antara serpihan kayu. --- Waktu pun berlalu... Arus kesadaran yang dingin perlahan menyapu kegelapan di dalam kepala Hanan. Kelopak matanya terasa teramat berat, seolah-olah dilapisi oleh tumpukan timah cair. Aroma tajam antiseptik dan pembersih luka menyengat indra penciumannya, menggantikan bau amis darah dan jelaga yang sempat membakar paru-parunya. Tik. Tik. Tik. Suara konstan dari mesin pemantau detak jantung bergema halus di ruangan yang sunyi itu. Hanan perlahan membuka matanya. Pandangannya yang semula buram bertahap memfokus, menangkap langit-langit ruangan bernuansa putih bersih. Di atas dadanya, terpasang beberapa kabel elektroda ringan, dan lengan tangannya terikat perban tebal bertingkat yang menahannya agar tidak bergerak sembarangan. Rasa nyeri yang tumpul masih tersisa di sekujur persendiannya, namun rasa perih dari tulang-tulangnya yang sempat patah hancur... entah bagaimana telah reda menjadi sekadar pegal hebat. Sambil berusaha mengumpulkan kembali serpihan ingatannya yang terputus di dalam hutan pinus, Hanan memutar kepalanya secara perlahan ke arah samping ranjang. Di sana, di sebuah kursi besi yang dingin, duduk sesosok pria berambut perak dengan setelan jas rapi tanpa noda. Pria itu menunduk tenang, fokus mengupas kulit sebuah apel dengan pisau kecil di tangannya yang jemarinya begitu bersih dan luput dari cacat. Hanan menelan ludah gatal di tenggorokannya yang kering. "A-anda...?" Hanan bertanya dengan suara serak dan gugup, mencoba menegakkan punggungnya namun langsung meringis saat rasa ngilu menjalar di sekujur otot keringnya.Panggilan telepon itu tersambung hanya dalam satu kali nada panggil."Kaelen," panggil Hanan santai, menyenderkan Greatsword raksasanya di bahu kiri. "Aku butuh sedikit bantuan di jalan raya distrik luar. Ada sepuluh orang asing yang tiba-tiba melompat menyergapku."Di ujung telepon, suara Kaelen yang biasanya tenang dan penuh wibawa seketika berubah drastis."Apa?! Sepuluh orang menyergapmu?!" teriak Kaelen dengan nada panik yang tidak bisa disembunyikan. "Hanan, bertahanlah! Jangan ambil tindakan nekat! Aku dan Albert akan segera meluncur ke lokasimu sekarang juga!"TUT... TUT... TUT...Panggilan diputus sepihak dari seberang sebelum Hanan sempat menyuarakan penjelasannya bahwa situasi di lapangan sudah sepenuhnya terkendali.Hanan menghela napas pasrah menatap layar ponselnya. "Dasar... mereka bahkan tidak mau mendengarkanku sampai selesai."Sambil menunggu kedatangan bantuan, Hanan menatap sepuluh penyerang yang masi
"Tua Bangka, Ikut aku ke ruang rapat utama. Kita harus membahas pergerakan kelompok ini lebih mendalam bersama divisi intelijen," ujar Kaelen seraya berbalik arah, melangkah keluar dari ruangan latihan yang hancur berantakan tersebut. Albert menepuk-nepuk celananya, mengibaskan debu logam yang menempel. "Bocah, lanjutkan latihannya sendirian. Jangan malas-malasan!" serunya pada Hanan sebelum mengekor di belakang Kaelen tanpa sepatah kata pun untuk berpamitan lagi. Hanan yang ditinggalkan sendirian di tengah ruangan lapang hanya menghela napas panjang. Ia sama sekali tidak berniat memikirkan isu kelompok pemburu itu. Prinsip hidupnya sederhana: politik agensi dan ancaman di luar sana adalah urusan para perwira tinggi. Selama ia terus mengasah kekuatan fisiknya, bahaya apa pun yang datang menghampiri akan sanggup ia ratakan. Hanan kembali menegakkan tubuhnya, memegang gagang Greatsword dengan erat. Selama be
Ruang latihan privat lantai bawah tanah Agensi Saint membisu dalam suasana serba canggih. Dinding-dindingnya dilapisi lembaran logam paduan khusus yang dirancang dengan teknologi Magitech paling mutakhir. Menurut standar agensi, struktur ini dibuat sedemikian rupa hingga digadang-gadang sanggup menahan guncangan ledakan nuklir skala sedang. Di era modern yang distopis ini, dunia bergerak murni di atas roda sistem kekuatan fantasi: 'Mana' untuk menyalurkan Sihir, serta 'Aura' untuk memperkuat fisik dan tebasan Pedang. Dunia ini sama sekali tidak mengenal apa yang disebut sebagai 'skill' layaknya cerita di komik-komik zaman dulu. Komik bergenre seperti itu sudah dianggap Ketinggalan zaman dan hampir dihentikan total produksinya oleh para penerbit. Satu-satunya alasan mengapa beberapa judul komik kuno itu masih terus digambar adalah keberadaan kolektor fanatic, dan Albert adalah salah satu dari sedikit orang kaya yang secara p
Proses pengumpulan material dan pembersihan area 'Dungeon' minimarket berlangsung jauh lebih cepat dari perkiraan semula. Bau amis darah monster yang sempat memenuhi aura ngarai perlahan sirnah saat kristal-kristal bercahaya dan bangkai 'Middle Boss' diangkut secara bertahap oleh barisan 'porter'. Begitu kaki terakhir anggota tim menapak kembali di atas aspal parkiran yang retak, suasana gembira langsung meledak di antara para Hunter. Hasil penaklukan itu dicatat secara resmi oleh Asosiasi Hunter: tidak ada korban jiwa dan tidak ada satu pun yang menderita luka berat. Hanya beberapa cedera gores ringan pada Hunter yang kurang waspada saat menghadapi sergapan 'Gargoyle'. Sebuah rekor yang amat jarang dalam sejarah penumpasan 'Dungeon' tingkat D ke atas, yang biasanya selalu memakan korban patah tulang atau luka bakar serius. "Pencapaian luar biasa untuk misi perdanamu sebagai perwira lini tengah, Hana
"Gunakan penutup mata atau pejamkan mata kalian!" seru Clara cepat. "Pancaran di ruangan ini bisa merusak saraf mata secara permanen!" Seluruh Hunter terpaksa memejamkan mata rapat-rapat, mengandalkan pendengaran mereka yang terbatas. Hanya Hanan seorang yang berdiri tegap di tengah bukaan aula, menatap lurus ke dalam pendar kristal tanpa rasa takut sedikit pun. Indranya yang telah ditempa oleh 'Divine Energy' membuat sihir ilusi tingkat menengah itu membalas tumpul. Di tengah ruangan, sesosok bayangan monster raksasa samar-samar terlihat bertengger. "Mundur ke lorong gua!" perintah Hanan kepada seluruh anggota tim di belakangnya. "Kalian fokus berikan serangan jarak jauh dari luar aula saja. Jangan masuk ke ruangan ini agar tidak menjadi beban!" Clara sempat ragu, namun menyadari bahwa masuk ke ruangan bertabur ilusi tanpa penglihatan sama saja menyerahkan nyawa, ia akhirnya mema
Kepulan asap dari masakan hangat menyambut kedatangan Hanan begitu ia menggeser pintu kayu rumah sederhananya. Bau rempah-rempah yang akrab seketika meluluhkan seluruh kelelahan fisik dan beban mental yang menumpuk di pundaknya selama dua bulan terakhir."Hanan? Ya Tuhan, kamu sudah pulang, Nak!"Ibunya bergegas keluar dari dapur dengan celemek yang masih terikat di pinggang. Matanya berkaca-kaca saat memeluk erat tubuh anak tunggalnya. Ayahnya yang baru saja meletakkan perkakas kayu di sudut ruang tamu ikut mendekat, menepuk-nepuk bahu Hanan dengan binar bangga yang tak bisa disembunyikan.Selama satu minggu penuh, Hanan benar-benar memutuskan hubungan dengan dunia Hunter, perang kasta, dan intrik politik agensi. Ia menghabiskan hari-harinya membantu ibunya memasak, mendampingi ayahnya memperbaiki atap rumah yang bocor, serta menikmati hidangan sederhana di meja makan tanpa perlu memikirkan ancaman kematian di dalam Dungeon.Bagi Hanan, senyuman







