MasukRey berdeham, sedangkan Kev lebih terang-terangan. "Erik, kalau kamu memutuskan untuk mengejar Anara sepertinya harus menjauhi Pak Henry dan keluarganya.""Memang kenapa?" Erik kebingungan karena saat acara pelelangan itu dia sendiri yang tidak ikut. Rey mengendikkan bahunya saat Erik menoleh ke arahnya. Dia yang paling diam dan enggan menjelaskan apa pun, meski Rey tahu lebih banyak dari siapa pun. "Aku tidak tahu ada masalah apa di antara mereka. Tapi sepertinya hubungan Anara dengan keluarga Pak Henry tidak cukup baik," jelas Kev. Mereka masih berdiri bersama saat Anara berjalan ke arah Zavi lalu melihat Mia yang datang dengan keluarganya termasuk Henry. "Kamu?" Henry melihat Anara saat jalan melewatinya, mungkin tatapannya pada Anara terkesan heran. Bagaimana Anara bisa datang ke acara kamu elite seperti ini?"Apa kamu datang dengan lelaki yang waktu itu?" Maksud Henry jelas Kev, lelaki yang mendampingi Anara saat di pelelangan. Anara tersenyum miring. "Dengan siapa aku data
Rey menegur, wajahnya yang kaku dan dingin membuat tiga wanita itu berhenti. "Rey?" Dea langsung mengadu. "Ibunya Adel dan adiknya itu main kasar, mereka tidak hanya memaki tapi juga menamparku!" "Kamu lebih dulu menyulut emosi kami. Kamu sengaja memprovokasi!" tuduh Erina dengan ekspresi kesal. Rey berdeham. "Sudahlah, kalian kalau mau ribut bisa lanjutkan nati kalau acaranya sudah selesai. Jangan membuat acara yang sudah Pak Rafi buat jadi berantakan," katanya tenang. Rey lalu menatap Dea untuk segera beranjak dan mengikutinya. "Ish!" Dea melirik kesal pada Erina sambil berlalu pergi membuntut Rey. Sementara Erina dan Sisi berlalu ke toilet untuk merapikan lagi penampilan mereka. ***"Mereka sangat menyebalkan, Rey! Kalau bukan aku, siapa yang tahan berada di sisimu?! Mantan mertua dan adik iparmu selalu saja ikut campur!" Rey terkekeh pelan. "Kamu yang paling berani. Tapi pipimu tidak apa-apa kan?"Rey menyingkirkan rambut poni Dea, melihat sekilas pipi yang sebelumnya dita
Anara berdeham. Dia hanya sedang mencoba gaun itu, bukan berarti berniat memakainya. "Aku akan cari gaun yang lain, tenang saja. Masih ada waktu, aku--""Tidak perlu. Kemarin Zavi sudah memilihkannya untukmu. Kamu bisa ambil di kamarku," kata Rey yang kemudian kembali menjauh dan melangkah mundur.Lelaki itu lebih dulu keluar saat Anara masih mematung. Zavi sudah memilihkan gaun untuknya? Rasa penasaran Anara melonjak, buru-buru dia letakan gaun dari Erik itu dan bergegas ke kamar Rey. ***Anara mengetuk pintu beberapa kali, namun tidak ada sahutan. Dia pikir Rey tidak ada di dalam, Anara berniat tetap masuk karena sebelumnya Rey bilang Anara bisa mengambil gaun itu di kamarnya. "Kenapa, Dea? Ya, nanti malam aku akan menjemputmu." Suara Rey terdengar ketika Anara sudah membuka pintunya. Ternyata lelaki itu sedang berdiri di dekat jendela dan bertelepon. "Tidak masalah. Tenang saja," kata Rey masih memegang ponsel di dekat telinganya. Dia berbalik dan mendapati Anara mematung di
Zavi tersenyum, dia mendorong kotak itu masuk dengan dibantu Anara. Sementara Rey tidak ikut ke rumah. Dia langsung kembali ke kantor setelah mengantar Zavi. "Ini kado untuk Mama dan adek bayi!" kata Zavi yang membuat Anara tertegun. "Adek bayi?" Zavi mengangguk ceria. "Ya, kata Ayah, Mama sedang hamil. Iya kan?""Ayahmu yang kasih tahu kalau Mama hamil?" Zavi mengangguk lagi, dia lihat ekspresi Anara yang tampak tidak menyangka dan haru. Jelas saja Anara kehabisan kata-kata, dia senang juga masih bingung dengan keadaan. Rey memberi tahu Zavi kalau dia hamil? Itu berarti Rey memang benar-benar tidak keberatan. "Mama, kenapa menangis? Ayo buka!" Zavi melihat air mata mamanya yang menetes. Anara mengusap pipinya lalu tersenyum. "Perasaan ibu hamil memang sangat sensitif, Mama sangat terharu. Kamu dan Ayah baik sekali. Makasih ya?" Anara meraih tubuh kecil Zavi lalu memeluknya erat. "Mama tenang saja, Nanti Zavi akan selalu jagain Mama sama Adek! Zavi bakal jadi kakak yang kuat
Ekspresi terkejut Zavi sangat lucu, Rey terkekeh pelan karenanya. Bahkan bibir kecil Zavi sampai ternganga lebar. "Benar." Rey mengangguk. "Apa kamu senang?" Mata Zavi yang jernih mulai berkaca-kaca, mungkin menahan haru. "Zavi bakal punya adek? Tentu saja senang! Sangat senang! Kakek buyut juga pasti akan sangat senang!" Heboh anak itu sampai ingin meloncat-loncat. Rey terduduk mengamati euforia putranya, setelah Zavi tenang barulah dia mengajak Zavi keluar dari mobil. "Kok, berhenti di sini, Yah? Mau ke mana?" Zavi mengamati sekitar, dia berada di tempat parkir sebuah butik. "Katanya kamu dan Mama mau pergi ke acara Kakek Rafi? Harus persiapan kan? Zavi boleh pilih gaun yang cocok untuk Mama.""Wah, beneran? Hari ini Ayah baik banget!" Senyum Zavi terus mengembang. Anak itu berjalan masuk dengan digandenh ayahnya. Di dalam, ada banya gaun yang cantik-cantik, namun Zavi dan Rey kurang bisa memilih. Keduanya saling pandang. "Ayah, apa warna baju yang Mama suka?" "Bukankah ha
Anara mengigit bibir bawahnya lalu menggeleng pelan. Dia semakin menunduk dalam, mungkin bukan hanya karena merasa bodoh tapi juga menyesal. "Tidak tahu?" Suara Rey sedikit menekan. "Ini semua kesalahanku, aku ... aku pernah menjalin hubungan one night stand dengan lelaki asing," jelas Anara dengan suara yang ragu. Dia tidak mungkin jujur pada Rey kalau dia jual diri demi uang. Bukan hanya malu, Anara mungkin takut Rey berpikir semakin rendah tentang dirinya. Rey memalingkan wajahnya, ekspresinya sedikit buruk saat melihat wajah bodoh Anara. "Kamu sama sekali tidak ingat tentangnya?" "Bukan, bukan begitu!" Anara menggerakkan tangannya, dia kembali gugup karena bingung harus menjelaskan bagaimana. "Saat kami berhubungan aku sama sekali tidak melihat jelas wajahnya. Aku tidak tahu apa pun tentangnya. Jadi aku tidak bisa meminta dia bertanggung jawab!" Anara pikir Rey akan meminta Anara untuk meminta pertanggungjawaban lelaki itu, dia pun panik. Awalnya Anara merasa bisa men







