Usai kembali sadar, Zavi merengek ingin Anara berada di ruang rawat yang sama dengannya. Anak itu memang cukup sensitif. Kelelahan mental pasca operasi membuatnya sempat pingsan, dan sejak itu dia jadi lebih mudah cemas jika Anara tidak berada di dekatnya. Anara berbaring di ranjang, kepalanya menoleh ke samping. Di ranjang sebelah, Zavi juga terbaring dengan selang infus menempel di tangan mungilnya. Wajahnya masih pucat, tapi sepasang mata itu berbinar, seolah ada semangat kecil yang tidak mau padam. “Kak Nara…” panggil Zavi lirih, suaranya sedikit serak. “Hm?” Anara tersenyum. Kondisinya belum memungkinkan untuk duduk, apalagi mendekat, jadi dia hanya bisa menoleh. “Kenapa, Zavi?” Zavi menggeleng pelan. “Tidak ada apa-apa,” jawabnya selalu memakai kata yang sedikit baku. Kadang terdengar aneh di telinga Anara, tapi mungkin itu ciri khasnya. Anara jadi sering terngiang suara Zavi. Setelah diam sebentar, Zavi bertanya lagi dengan wajah serius tapi polos. “Perut Kakak sakit?”
Last Updated : 2025-12-20 Read more