Share

111. Mengantar tapi Tak Hadir

Author: Blue Rose
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-22 21:46:09
Kalimat Lilis terhenti, dan matanya membelalak kaget saat melihat sosok wanita berjaket lusuh berdiri tepat di belakangnya.

Wulan yang panik setengah mati melihat Lilis berbalik, langsung menyembunyikan pisau itu ke dalam lipatan jaketnya dengan tangan gemetar. Wajahnya pucat pasi.

"W-Wulan?" panggil Lilis terperanjat, mundur satu langkah secara spontan. "K-kamu... ngapain di sini?"

Belum sempat Wulan menjawab, langkah kaki tegap bergema dari arah dalam. Brandon keluar dengan jas hitam yang suda
Blue Rose

Semoga syuka🎀

| 1
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Silakan Ambil Suami Berengsekku, Dik!   150. Rumah yang Kutuju

    "Maksudnya, Mas?" Brandon malah ketawa dan berkata di seberang sambungan, "Ada deh. Tunggu aku pulang ke rumah, Sayang. Omong-omong, baju yang aku beliin di butik kemarin dipakai ya. Udah dibuka belum kotaknya?" Lilis terdiam cukup lama di ujung telepon. Terdengar suara krasak-krusuk kain dan gesekan kertas kado di latar belakang, yang menandakan wanita itu sedang membuka paper bag misterius yang dibawa suaminya pagi tadi. Beberapa detik kemudian... "Maaaas! Ini baju apaan sih?!" teriak Lilis dengan suara tertahan namun sarat akan rasa syok dan salah tingkah yang luar biasa. Brandon langsung tertawa terbahak-bahak hingga suaranya memenuhi ruang kerjanya yang megah. "Sayang, malam ini aku benar-benar ingin melihat kamu memakai itu. Sumpah deh, kamu bakal kelihatan luar biasa cantik." "It's not my style, Mas! Malu tau ih!" balas Lilis setengah bergidik, pipinya sudah merah padam merona sebelum akhirnya ia langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Tuuut! Di ruan

  • Silakan Ambil Suami Berengsekku, Dik!   149. Hamil

    Lilis mengerjap bingung, lalu terkekeh pelan. "Dih, mulai deh kambuh manjanya. Emang kenapa kalau tersita?" Brandon mendekatkan wajahnya ke arah sang istri, menyeringai usil dengan tatapan jahil yang sangat dikenal Lilis. "Oh jelas dong... dari tadi siang aku kan sibuk mikirin nasib percintaan orang lain, sampai-sampai aku kurang dapet jatah perhatian dari istri aku yang paling cantik ini." Lilis merona merah seketika, namun ia tidak menghindar saat Brandon mulai merengkuh pinggangnya semakin erat dan mendaratkan ciuman-ciuman kecil yang menggelitik di wajahnya. Meskipun usia pernikahan mereka terhitung masih cukup baru alias masih berada dalam fase manis-manisnya pengantin baru--kedekatan dan chemistry di antara Brandon dan Lilis tidak pernah luntur barang sedikit pun. Rumah tangga kecil yang dibangun di atas fondasi pengertian dan rasa saling menghormati itu selalu terasa hangat, bahkan di tengah kesibukan mereka mengurus anak dan urusan orang lain. "Iih, Mas Brandon... benta

  • Silakan Ambil Suami Berengsekku, Dik!   148. Insecure

    Yura. Dialah yang rupanya baru saja selesai dari urusan kerjanya--tidak sengaja melihat keberadaan Brandon dan Arya yang duduk di meja sudut dekat kaca.Melihat siapa saja yang duduk di meja itu, dahi Yura langsung berkerut dalam. Dengan langkah menghentak kecil, ia langsung menghampiri meja mereka."Heh! Ngapain kalian berdua mojok di sini? Bau-bau konspirasi nih," celetuk Yura begitu tiba di dekat meja, langsung menarik kursi kosong di sebelah Arya tanpa diundang.Brandon langsung menyengir lebar melihat kedatangan sang sepupu. "Nah, panjang umur! Baru juga diomongin, orangnya udah dateng. Sini, Ra, duduk yang bener. Laki lu... eh, calon suami lu ini lagi kena sindrom minder Ra, gara-gara takut dikira aneh sama tetangga karena status dudanya."Pipi Yura langsung mendadak panas membara mendengar celetukan frontal dari sang kakak sepupu. Ia melotot tajam ke arah Brandon. "Ih, Bang Brandon mulutnya ya! Sembarangan banget kalau ngomong!""Emang bener kan?" bela Brandon tanpa rasa bersala

  • Silakan Ambil Suami Berengsekku, Dik!   147. Brandon Gemas

    Hari-hari setelah insiden pengakuan di dalam mobil itu mendadak membuat ritme hidup Yura terasa sedikit berbeda. Ada getar-getar aneh setiap kali layar ponselnya menyala menampilkan nama Arya, atau ketika pesan singkat bernada sederhana masuk dan menanyakan apakah ia sudah makan siang. Namun, di balik kisah cinta kilat yang mulai bersemi antara dirinya dan sang pangeran IT, ada satu pihak lain yang ternyata menyimpan rasa gemas luar biasa--bukan kepada Yura, melainkan kepada istrinya sendiri.Operasi mak comblang yang awalnya dimotori oleh Lilis memang sukses besar dan patut diacungi jempol. Akan tetapi, ada efek samping yang sama sekali tidak diperhitungkan oleh Lilis: perhatian wanita itu kini jadi sering terpecah antara mengurus bisnis katering, merawat bayi Vivian yang sedang aktif-aktifnya, mendampingi Juna, hingga memantau perkembangan hubungan Yura dan Arya lewat grup W******p keluarga.Akibatnya? Brandon, sang suami yang terkenal bucin setengah mati, merasa tersisihkan.Siang

  • Silakan Ambil Suami Berengsekku, Dik!   146. Saling Tau

    "...Sebenarnya... lu suka kan sama gua?"Pertanyaan itu meluncur begitu langsung tanpa tedeng aling-aling, membuat udara di dalam kabin sedan yang tadinya hangat mendadak terasa begitu tipis. Yura membeku total.Otaknya yang biasa bekerja cepat kini macet seketika, menolak berfungsi saat manik matanya beradu pandang dengan sorot serius dari Arya.Sebelum Yura sempat merangkai kata atau sekadar mendengus untuk menutupi salah tingkahnya, Arya kembali membuka suara. Napas pria itu sedikit memburu, seolah ia tengah mempertaruhkan seluruh keberanian terakhirnya malam itu."Tapi... kalau lu nanya kenapa gua berani nanya begini, itu karena..." Arya mengalihkan pandangannya sejenak ke arah kemudi, lalu menatap Yura lagi dengan tatapan penuh kepastian. "...gua juga suka sama lu, Yura. Jauh sebelum hari ini."Deg!Jika tadinya jantung Yura seperti mau copot, maka sekarang rasanya organ di dalam dadanya itu berhenti berdetak sama sekali. Matanya mengerjap-ngerjap lebar, menatap pria di hadapannya

  • Silakan Ambil Suami Berengsekku, Dik!   145. Riwayat Hidup Orang

    Di dalam mobil, pendingin ruangan berhembus lembut, tetapi suasana di kabin justru terasa hangat, juga membuat jantung berdegup lebih kencang dari biasanya. Yura masih duduk di kursi penumpang di sebelah pengemudi, memandang lurus ke luar jendela kaca mobil untuk menyembunyikan rona merah di pipinya yang belum sepenuhnya mereda.Kejadian di kafe tadi benar-benar sukses membuat mentalnya terkuras. Mulai dari obrolan serius yang hampir kebablasan, kedatangan sang kakak sepupunya yang hobi merusak suasana, hingga kepulangan mereka berdua yang kini berujung di dalam mobil pribadi Arya.Untuk memecah kecanggungan yang teramat sangat, Arya melirik sekilas ke arah wanita di sampingnya, lalu memutuskan untuk membuka suara. Tangannya tetap sigap memegang kemudi, sementara matanya sesekali melirik jalanan sebelum kembali menatap Yura dengan senyuman tipis tersungging di bibirnya."Sumpah ya, Ra, sampai detik ini otak gua kayak masih gak konek," ucap Arya memulai percakapan.Yura menoleh, mengerj

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status