Share

41. Ancaman Rendy

Penulis: Blue Rose
last update Tanggal publikasi: 2026-07-18 23:50:44
Brandon terdiam sejenak, menimbang kalimatnya agar tidak membebani Lilis.

"Mommy bukan tipe orang yang kaku soal status sosial, Lis. Beliau lebih peduli pada karakter. Untuk sementara, kita bilang saja kita sudah berteman lama sejak kuliah, dan belakangan ini hubungan kita menjadi lebih dekat secara alami. Soal proses sidangmu, biar saya yang jelaskan dengan bahasa hukum yang bisa Mommy saya."

Lilis mangut-mangut. "Siap deh, Kak. Aku akan ikut semua arahan Kakak. Yang penting besok malam aku
Blue Rose

Thanks udah baca dan masukin ke daftar baca ya😘

| 1
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Silakan Ambil Suami Berengsekku, Dik!   53. Mau Gak Panggil, Papa?

    Di ruang tengah apartemen yang luas itu, suara gelak tawa bocah laki-laki terdengar menyatu dengan alunan lembut televisi. Lilis berdiri sebentar di ambang pintu kamar, mengamati pemandangan di depannya. Di atas karpet bulu yang empuk, Brandon tampak bertekuk lutut, sibuk menyusun pasukan robot mini berbentuk pahlawan Avengers bersama Juna. Lilis tersenyum tipis. Pemandangan itu terasa begitu hangat. Namun, ia menyimpulkan sederhana bahwa Brandon hanya sedang bersikap ramah sebagai tuan rumah yang baik. Lilis sama sekali tidak tahu kalau di balik tawa hangat itu, otak pengacara Brandon sedang bekerja menyusun strategi besar. "Mbak Lilis, yuk saya bantu tidurkan Dek Vivian," bisik Bu Siska pelan agar tidak mengganggu fokus Juna. Lilis mengangguk. "Iya, Mbak Siska. Makasih ya." Begitu pintu kamar tidur tertutup rapat dan Lilis tak lagi terlihat, Brandon langsung melancarkan aksinya. Pria itu memajukan duduknya, mendekati Juna yang sedang memegang robot Iron Man. "Juna," pang

  • Silakan Ambil Suami Berengsekku, Dik!   52. Kejujuran Dibalut Candaan

    "Lilis, kan?" tanya Meghan. Menyebut nama Lilis dengan nada meremehkan. "Tante rasa... Tante tidak perlu bicara panjang lebar atau berbelit-belit. Tante sudah tahu semua tentang kamu. Statusmu, latar belakang keluargamu yang berantakan, sampai dua anak balita yang kamu bawa dari pernikahan gagalmu."Lilis menahan napas. Jari-jarinya saling bertaut rapat di bawah meja."Tante menolak kamu," ucap Meghan tanpa keraguan sedikit pun. "Tante tidak akan pernah merestui kamu berada di dekat anak Tante. Keluarga kami punya standar, dan kamu... sama sekali tidak masuk dalam kriteria itu."Atmosfer di meja makan itu mendadak menjadi sangat dingin. Penolakan secara mentah-mentah dari Meghan terasa bagaikan tamparan keras yang menghantam wajah Lilis.Lilis baru saja hendak membuka suara untuk merespons dengan sopan, namun Brandon lebih dulu memotong. Pria itu memajukan tubuhnya, menatap ibunya dengan sorot mata yang tak tergoyahkan."Mommy boleh menolak Lilis dengan alasan apa pun," tutur Brandon

  • Silakan Ambil Suami Berengsekku, Dik!   51. Mereka Layak Untuk Itu

    Setelah membaca pesan itu, Lilis terduduk diam di tepi tempat tidur. Pesan-pesan dari ibunya terus berdatangan, menumpuk rasa bersalah yang perlahan-lahan mengikis rasa percaya dirinya. 'Apakah aku memang keterlaluan? Apa aku memang anak durhaka karena membuat Ibu harus makan tempe dan hidup susah?' batin Lilis meratapi dirinya sendiri. Kemenangan skor 2-1 di pengadilan yang tadi siang terasa begitu manis, kini jadi berubah pahit untuknya. Pintu kamar terbuka pelan. Saat suara bel berbunyi, Lilis langsung memakai hijabnya dan membukakan pintu. Itu Brandon, dengan alami ia melangkah masuk apartemen membawa makanan hangat. Namun, ia menyadari perubahan aura Lilis yang tiba-tiba redup dan syok. "Lis? Ada apa?" tanya Brandon lembut, meletakkan cangkir di atas nakas lalu duduk di kursi sebelah tempat tidur. "Anak-anak sudah tidur?" Lilis dengan cepat menghapus air matanya, lalu menggeleng pelan. "Nggak apa-apa, Kak." Brandon menatap ponsel Lilis yang layarnya masih menyal

  • Silakan Ambil Suami Berengsekku, Dik!   50. Lilis 2 - Rendy 1 (2-1)

    "Cukup!" tegas Hakim Ketua sambil mengetukkan palu dua kali. "Sikap Saudara Tergugat yang tidak kooperatif dan menunjukkan temperamen tinggi di ruang sidang akan dicatat sebagai pertimbangan utama Majelis Hakim."Rendy tersentak. Ia baru sadar bahwa jebakan emosinya sendiri telah melilit lehernya rapat-rapat. Wajahnya seketika pucat pasi saat ia kembali terduduk lemas di kursinya.Setelah melalui pemeriksaan bukti-bukti surat tambahan dari pihak Brandon yang tidak sanggup dibantah oleh Rendy, Majelis Hakim akhirnya bermusyawarah sebentar sebelum membacakan amar keputusan hasil musyawarah hakim untuk poin-poin gugatan.Tuk! Tuk! Tuk!Hakim Ketua mengetukkan palunya dengan mantap."Berdasarkan fakta-fakta yang terungkap di persidangan, Majelis Hakim memutuskan:""Satu, Mengabulkan gugatan cerai Penggugat untuk seluruhnya dan menjatuhkan talak satu ba'in sughra dari Tergugat kepada Penggugat.""Dua, Menetapkan hak asuh atas anak kandung Penggugat dan Tergugat berada sepenuhnya di bawah p

  • Silakan Ambil Suami Berengsekku, Dik!   49. Sidang Ketiga

    "Pak Aris... dia... dia tiba-tiba batalin surat kuasa secara sepihak kemarin sore!" seru Rendy dengan suara yang mendadak goyah, keputusasaannya mulai bocor keluar. "Hah?Kenapa dibatalin?" pancing Lilis, berpura-pura heran. "Emang kamu bayar berapa dia sampai pengacara senior begitu mendadak mundur?" "Gue udah DP tiga juta dari uang sepuluh juta kemarin!" jerit Rendy spontan, tanpa sadar menyebarkan rahasia dapurnya sendiri di depan umum. Lilis dan Brandon saling melirik. Brandon menahan tawa, sementara Lilis hanya bisa menyunggingkan senyum miris. "Heem..." Lilis mangut-mangut, suaranya sarat dengan nada ejekan. "Jadi kesepakatan kontrak kamu sama Pak Aris itu belum paten? Cuma uji coba berdasarkan DP tiga juta?" "D-dia bilang mau lanjut kalau gue pelunasan sebelum sidang ketiga!" jawab Rendy keceplosan lagi, napasnya memburu kasar karena emosi yang tidak terkontrol. "Sialan si Aris itu! Tiba-tiba dia bilang gak mau pegang kasus gue lagi karena tau proyek kantor gue dibekuka

  • Silakan Ambil Suami Berengsekku, Dik!   48. Brandon, kok Dilawan?

    Brandon mengetuk pintu ruangan Aris yang terbuka, lalu melangkah masuk tanpa menunggu undangan. Aris yang sedang merapikan berkas di mejanya mendongak, terkejut melihat siapa yang datang. "Pak Brandon? Ada urusan apa Anda datang ke kantor saya yang kecil ini?" Brandon tersenyum tipis, lalu duduk di kursi di depan meja Aris tanpa permisi. Ia meletakkan sebuah map tipis di atas meja. "Saya cuma mau mengantarkan info kecil, Pak Aris. Anggap saja ini bentuk solidaritas sesama rekan sejawat," ucap Brandon santai. Aris mengernyitkan dahi, menatap map itu dengan curiga. "Info apa?" "Klien Anda, Rendy Pratama, baru saja dipecat secara tidak hormat dan seluruh fasilitas kantornya ditarik per jam lima sore ini," tutur Brandon dengan nada datar namun mematikan. "Dia sudah tidak punya sepeser uang pun untuk membayar sisa honorarium Anda untuk sidang minggu depan." Wajah Aris seketika berubah pias. Ia langsung meraih ponselnya, mencoba menghubungi Rendy, namun nomor ponsel kerja Rendy t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status