Home / Fantasi / Silsilah Naga Emas / 5 - Lorong Rahasia dan Bayangan Masa Lalu

Share

5 - Lorong Rahasia dan Bayangan Masa Lalu

Author: Lann
last update Huling Na-update: 2025-02-04 15:37:24

Kegelapan di dalam lorong bawah tanah itu terasa seperti selimut tebal yang menekan dada. Li Zhen dan Mei Xiang berdiri diam, napas mereka tersengal-sengal setelah melarikan diri dari Bayangan Hitam. Di hadapan mereka, makhluk raksasa dengan tubuh batu dan mata merah menyala masih berdiri kokoh, seolah-olah menunggu mereka untuk mengambil langkah pertama. Udara dingin yang menusuk tulang membuat Li Zhen merasa sesak, namun ia tahu bahwa mereka tidak punya pilihan lain selain menghadapi ujian ini.

Mei Xiang melangkah maju dengan pedangnya siap di tangan. "Apa yang harus kami lakukan?" tanyanya dengan nada tegas kepada makhluk raksasa itu.

Makhluk itu menggeram pelan, suaranya bergema keras di seluruh ruangan bawah tanah. "Ujian ini bukan tentang kekuatan fisik," katanya dengan suara yang dalam dan mengguncang. "Ini tentang keberanian kalian untuk menghadapi masa lalu. Jika kalian tidak bisa menerima kebenaran tentang diri kalian sendiri, maka nyawa kalian akan menjadi milikku."

Li Zhen merasa tubuhnya membeku. Apa maksudnya dengan "menghadapi masa lalu"? Ia sudah melewati Ujian Jiwa di Kota Tersembunyi—bukankah itu sudah cukup? Namun, sebelum ia sempat bertanya lebih lanjut, makhluk itu mengangkat salah satu tangannya yang besar dan berbatu. Dengan gerakan lambat, ia menunjuk ke arah sebuah pintu batu yang tampak tertutup rapat di sisi lain ruangan.

"Pergilah ke sana," kata makhluk itu. "Di balik pintu itu, kalian akan menemukan apa yang kalian cari. Namun, ingatlah bahwa jalan ini tidak akan mudah."

Mei Xiang melangkah mendekati pintu itu tanpa ragu, namun Li Zhen masih berdiri diam, hatinya dipenuhi keraguan. "Bagaimana jika kita gagal?" tanyanya pelan, suaranya hampir hilang di antara desiran udara dingin.

"Kita tidak punya pilihan lain," jawab Mei Xiang tanpa menoleh. "Jika kita tidak melanjutkan, maka semua ini akan sia-sia. Kita sudah terlalu jauh untuk mundur."

Li Zhen menghela napas panjang, lalu mengikuti Mei Xiang menuju pintu batu itu. Pintu itu mulai bergerak perlahan saat mereka mendekat, membuka celah sempit yang cukup untuk satu orang melewatinya. Di balik pintu itu, cahaya redup mulai muncul, memperlihatkan tangga batu yang menuju ke bawah. Udara di sini terasa lebih lembap dan berat, seolah-olah mereka sedang memasuki perut bumi.

Mereka mulai menuruni tangga batu yang curam, setiap langkah yang mereka ambil menciptakan gema yang bergaung di sepanjang lorong. Semakin dalam mereka masuk, semakin terang cahaya yang menyinari jalan mereka. Akhirnya, mereka sampai di sebuah ruangan luas yang terbuka ke langit malam. Ruangan itu dikelilingi oleh dinding-dinding batu tinggi, dengan atap terbuka yang memperlihatkan bintang-bintang yang berkilauan di atas kepala mereka.

Di tengah ruangan, ada sebuah altar batu besar dengan ukiran-ukiran aneh yang mirip dengan simbol-simbol pada gulungan tua yang dibawa Li Zhen. Di atas altar itu, terdapat sebuah bola kristal besar yang berkilauan dengan cahaya biru samar. Cahaya itu tampak hidup, berdenyut seperti detak jantung.

"Apa itu?" tanya Li Zhen, matanya terpaku pada bola kristal tersebut.

"Inilah Ujian Masa Lalu," jawab Mei Xiang dengan nada serius. "Bola itu akan menunjukkan hal-hal yang mungkin tidak ingin kau lihat. Jika kau tidak bisa menerimanya, maka kau tidak akan bisa melanjutkan perjalanan ini."

Li Zhen merasa tubuhnya gemetar. Apa yang akan ditunjukkan oleh bola kristal itu? Apakah ia akan melihat masa lalunya? Ataukah sesuatu yang lebih buruk?

Ia melangkah mendekati altar itu dengan ragu-ragu, lalu berlutut di depannya. Tangannya terangkat, menyentuh permukaan bola kristal dengan ujung jarinya. Segera setelah itu, cahaya biru yang berdenyut mulai berubah menjadi warna hijau terang. Suara aneh—seperti bisikan banyak orang—terdengar di udara, menggema di seluruh ruangan.

"Anak muda," kata suara itu, rendah dan bergema. "Kau telah datang untuk mencari kebenaran. Namun, kebenaran tidak selalu mudah untuk diterima. Apakah kau siap menghadapi konsekuensinya?"

Li Zhen menelan ludah, lalu menjawab dengan suara yang bergetar, "Aku... aku siap."

Cahaya hijau itu mulai berputar cepat, menciptakan pola-pola aneh yang sulit dipahami. Kemudian, gambar-gambar mulai muncul di dalam bola itu. Pertama, ia melihat dirinya sendiri sebagai anak kecil, bermain di ladang bersama orangtuanya. Kenangan itu begitu jelas, seolah-olah ia sedang mengalaminya kembali. Namun, gambar itu tiba-tiba berubah—ia melihat orangtuanya jatuh sakit, kemudian meninggal dunia, meninggalkannya sendirian di desa Qingyun.

Gambar berikutnya menunjukkan dirinya yang lebih dewasa, bekerja di ladang dan membersihkan kuil tua. Namun, ada sesuatu yang aneh—di belakang setiap gambar, ada sosok bayangan besar yang mengikuti setiap langkahnya. Bayangan itu tampak seperti naga raksasa, namun wujudnya kabur, seolah-olah tidak sepenuhnya nyata.

Suara itu kembali berbicara, "Kau adalah keturunan dari garis darah kuno, anak muda. Darahmu mengalir dari para dewa naga yang pernah menjaga keseimbangan dunia. Namun, warisan ini juga membawa beban besar. Kau harus memilih apakah akan menggunakan kekuatan itu untuk kebaikan atau untuk kepentingan dirimu sendiri."

Li Zhen merasa tubuhnya membeku. Apa yang baru saja dikatakan bola itu? Ia adalah keturunan dewa naga? Bagaimana mungkin? Ia hanyalah seorang pemuda biasa dari desa kecil. Namun, semakin ia memandangi gambar-gambar di dalam bola itu, semakin ia merasa bahwa ada kebenaran di balik kata-kata itu.

Setelah beberapa saat, cahaya hijau itu berubah kembali menjadi biru, dan suara itu berkata, "Kau telah lulus, namun perjalananmu masih panjang. Jagalah gulungan itu dengan baik, karena ia adalah kunci untuk menemukan jati dirimu."

Li Zhen bangkit dari posisi berlututnya, tubuhnya gemetar karena emosi yang bercampur aduk. Ia tidak tahu bagaimana harus merespons apa yang baru saja ia alami. Namun, Mei Xiang berdiri di sampingnya, menepuk pundaknya dengan lembut. "Kita semua memiliki rahasia yang harus kita hadapi," katanya. "Yang penting adalah bagaimana kita memilih untuk melanjutkan hidup setelah mengetahuinya."

Setelah ujian selesai, mereka melanjutkan perjalanan melalui lorong-lorong bawah tanah yang lain. Lorong-lorong itu semakin terang, dan akhirnya mereka sampai di sebuah pintu besar yang terbuat dari kayu kuno. Di atas pintu itu, ada ukiran seekor naga yang melingkar, matanya terbuat dari batu permata biru yang berkilauan. Mei Xiang mendorong pintu itu perlahan, dan mereka melangkah keluar ke dunia luar.

Yang mereka lihat adalah sebuah kota besar yang tersembunyi di balik kabut tebal. Kota itu tampak seperti tempat yang berasal dari zaman kuno—bangunan-bangunan tinggi dengan atap melengkung, jalan-jalan berbatu yang dipenuhi oleh orang-orang yang berpakaian tradisional, dan lampu-lampu minyak yang memberikan cahaya hangat di setiap sudut. Namun, ada sesuatu yang aneh tentang kota itu—semua orang tampak seperti bergerak dalam keheningan, seolah-olah mereka tidak menyadari keberadaan Li Zhen dan Mei Xiang.

"Inilah Kota Tersembunyi," kata Mei Xiang, suaranya penuh dengan rasa hormat. "Tempat ini adalah salah satu pusat pengetahuan kuno di dunia. Di sini, kita mungkin bisa menemukan jawaban tentang gulungan kedua."

Mereka mulai berjalan menyusuri jalan-jalan kota, mencoba mencari informasi tentang Silsilah Naga Emas. Namun, semakin lama mereka berada di sana, semakin mereka menyadari bahwa kota ini tidak seperti tempat-tempat lain yang pernah mereka kunjungi. Ada sesuatu yang magis tentang atmosfernya—seolah-olah waktu berjalan lebih lambat, dan setiap langkah yang mereka ambil membawa mereka lebih dekat ke kebenaran yang mereka cari.

Di salah satu sudut kota, mereka menemukan sebuah toko kecil yang tampak tidak terawat. Di depan toko itu, ada seorang pria tua yang duduk di kursi goyang, matanya tertutup seolah-olah ia sedang tidur. Namun, ketika mereka mendekat, pria itu tiba-tiba membuka matanya dan menatap mereka dengan pandangan tajam.

"Kalian mencari sesuatu yang hilang," kata pria itu dengan suara yang serak namun penuh otoritas. "Namun, apa yang kalian cari mungkin tidak akan membawa kalian kebahagiaan."

Li Zhen dan Mei Xiang saling bertukar pandang, lalu Mei Xiang melangkah maju. "Kami mencari Silsilah Naga Emas," katanya dengan nada hati-hati. "Apakah kau tahu sesuatu tentang itu?"

Pria tua itu tersenyum tipis, lalu mengangguk. "Masuklah," katanya, menunjuk ke dalam toko. "Ada sesuatu yang mungkin bisa membantu kalian."

Mereka masuk ke dalam toko itu, yang ternyata penuh dengan barang-barang aneh—manuskrip kuno, senjata magis, dan artefak-artefak yang tidak bisa mereka pahami. Pria tua itu mengambil sebuah kotak kayu kecil dari rak, lalu membukanya dengan hati-hati. Di dalam kotak itu, ada sebuah peta tua yang tampak rapuh, dengan tulisan-tulisan kuno yang sulit dibaca.

"Inilah petunjuk menuju gulungan kedua," kata pria itu. "Namun, perjalanan menuju lokasi itu tidak akan mudah. Kalian harus melewati Kuil Bulan Hitam, tempat yang dijaga oleh makhluk-makhluk gaib yang tidak kenal ampun."

Li Zhen merasa jantungnya berdebar kencang. Kuil Bulan Hitam? Apa yang ada di sana? Dan bagaimana mereka bisa menghadapi makhluk-makhluk gaib? Namun, Mei Xiang tampak lebih tenang, seolah-olah ia sudah mempersiapkan diri untuk tantangan apa pun.

"Terima kasih," kata Mei Xiang, lalu mengambil peta itu dengan hati-hati. "Kami akan melanjutkan perjalanan ini."

Pria tua itu mengangguk, lalu menutup kotak kayu itu. "Ingatlah," katanya dengan nada peringatan, "bahwa kekuatan besar selalu datang dengan harga yang besar. Hati-hatilah dengan apa yang kalian inginkan."

Dengan peta di tangan, Li Zhen dan Mei Xiang meninggalkan toko itu, siap untuk melanjutkan perjalanan mereka menuju Kuil Bulan Hitam. Mereka tahu bahwa tantangan yang lebih besar masih menanti di depan, namun mereka juga tahu bahwa mereka tidak bisa mundur. Perjalanan ini bukan hanya tentang mencari Silsilah Naga Emas—ini tentang menemukan kebenaran tentang diri mereka sendiri dan dunia di sekitar mereka.

Saat mereka berjalan menyusuri jalan-jalan Kota Tersembunyi, Li Zhen tidak bisa berhenti memikirkan tentang apa yang baru saja ia alami di Ujian Masa Lalu. Ia adalah keturunan dewa naga—hal itu terus berputar-putar di benaknya. Apa artinya? Apakah itu berarti ia memiliki kekuatan yang tidak ia sadari? Ataukah itu hanya beban yang harus ia pikul sepanjang hidupnya?

Mei Xiang tampak memperhatikan ekspresi bingung di wajah Li Zhen. "Kau tidak perlu memikirkannya terlalu dalam sekarang," katanya dengan nada lembut. "Kita masih memiliki banyak hal yang harus dilakukan. Yang penting adalah kita tetap melangkah maju."

Li Zhen mengangguk, meskipun ia masih merasa bingung. Ia tahu bahwa Mei Xiang benar—mereka tidak bisa berhenti sekarang. Namun, ada sesuatu dalam dirinya yang mulai berubah. Ia merasa bahwa ia bukan lagi pemuda biasa dari desa kecil. Ada sesuatu yang lebih besar dalam dirinya—sesuatu yang mungkin belum sepenuhnya ia pahami.

Akhirnya, mereka sampai di tepi Kota Tersembunyi, di mana jalan setapak mulai memasuki hutan yang lebih gelap dan lebih sunyi. Udara di sini terasa lebih dingin, dan suara-suara malam mulai terdengar lebih jelas—burung hantu, serangga, dan angin yang berdesir di antara dedaunan. Mereka tahu bahwa perjalanan mereka menuju Kuil Bulan Hitam akan semakin sulit, namun mereka juga tahu bahwa mereka tidak punya pilihan lain selain melanjutkan.

Langkah-langkah mereka semakin mantap, meskipun hati mereka dipenuhi oleh ketidakpastian. Mereka tahu bahwa setiap langkah yang mereka ambil membawa mereka lebih dekat ke kebenaran—kebenaran tentang Silsilah Naga Emas, tentang diri mereka sendiri, dan tentang dunia yang mereka tinggali.

Saat Li Zhen dan Mei Xiang melangkah lebih dalam ke hutan yang semakin gelap, udara di sekitar mereka mulai berubah. Ada sesuatu yang tidak wajar—seolah-olah alam itu sendiri sedang memperingatkan mereka tentang bahaya yang akan datang. Langkah-langkah mereka terdengar lebih keras di tanah yang basah, dan suara-suara malam yang tadinya tenang kini bergema dengan intensitas yang mengganggu. Burung-burung hantu berhenti berteriak, serangga-serangga berhenti berdengung, dan angin yang biasanya menerpa dedaunan tampak seperti membeku.

Tiba-tiba, Mei Xiang berhenti melangkah. Matanya menyipit saat ia menatap kegelapan di depan mereka. "Ada yang mengikuti kita," bisiknya pelan, hampir tak terdengar oleh Li Zhen.

Li Zhen merasakan jantungnya berdebar lebih cepat. "Siapa?" tanyanya dengan suara bergetar, meskipun ia mencoba untuk tetap tenang. "Apakah itu Bayangan Hitam lagi?"

Mei Xiang tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangkat pedangnya, siap menghadapi apapun yang akan muncul dari balik bayang-bayang. Namun, sebelum mereka sempat bereaksi lebih lanjut, suara langkah-langkah ringan mulai terdengar dari arah pepohonan. Langkah-langkah itu tidak berisik, namun cukup untuk membuat bulu kuduk mereka berdiri. Dari balik pepohonan, muncul sosok-sosok berjubah hitam yang bergerak dengan gerakan cepat dan gesit—Bayangan Hitam yang sama yang pernah mengejar mereka sebelumnya.

Namun, kali ini, jumlah mereka lebih banyak daripada sebelumnya. Di tengah mereka berdiri pria berjubah abu-abu yang sudah mereka kenal—pemimpin kelompok yang selalu satu langkah di depan mereka. Matanya yang dingin menatap tajam ke arah Mei Xiang, lalu beralih ke gulungan tua yang ada di tangannya.

"Kalian benar-benar berhasil mendapatkan gulungan itu," kata pria itu dengan nada dingin, suaranya bergema di antara pepohonan. "Namun, kalian tidak akan bisa membawanya pergi dari sini."

Mei Xiang melangkah maju, pedangnya terangkat tinggi. "Aku sudah bilang sebelumnya," katanya dengan nada tegas. "Kami tidak akan menyerah begitu saja."

Pria berjubah abu-abu itu tersenyum tipis, namun senyum itu tidak mencapai matanya. "Kalian pikir kalian bisa melawan kami? Kalian hanya dua orang biasa melawan pasukan yang tak terhitung jumlahnya." Ia melambaikan tangannya sekali, dan Bayangan Hitam mulai bergerak maju, membentuk lingkaran sempit di sekitar Li Zhen dan Mei Xiang.

Li Zhen merasa tubuhnya membeku. Mereka sudah kelelahan setelah melewati ujian di Kuil Bulan Hitam, dan kali ini, jumlah musuh mereka jauh lebih banyak. Apakah ini akhir dari perjalanan mereka? Apakah mereka akan mati di sini, tanpa sempat menemukan Silsilah Naga Emas?

Namun, sebelum pertempuran dimulai, Mei Xiang berbisik pelan kepada Li Zhen, "Aku punya rencana. Ikuti aku, dan percayalah padaku."

Li Zhen mengangguk, meskipun ia tidak tahu apa yang akan dilakukan Mei Xiang. Ia hanya bisa mempercayainya, karena ia tahu bahwa mereka tidak punya pilihan lain.

Mei Xiang tiba-tiba melemparkan gulungan kedua ke arah Li Zhen, lalu mengeluarkan sebuah artefak kecil dari balik jubahnya—sebuah manik-manik berwarna biru yang berkilauan dengan cahaya aneh. "Jaga ini!" katanya dengan nada mendesak. "Jika aku memberi isyarat, gunakan mantra yang sama seperti yang aku bacakan di hutan!"

Li Zhen merasa bingung, namun ia tidak punya waktu untuk bertanya. Mei Xiang segera melangkah maju, pedangnya bergerak cepat saat ia mulai menyerang Bayangan Hitam yang berada di barisan depan. Gerakannya begitu gesit dan presisi, membuat para penyerang mundur beberapa langkah. Namun, jumlah mereka terlalu banyak, dan Mei Xiang mulai terdesak.

Pria berjubah abu-abu itu tertawa dingin, lalu mengangkat bola kristal kecil yang ia pegang. Cahaya merah menyala keluar dari bola itu, menciptakan pola-pola aneh di udara. "Kalian tidak punya kesempatan," katanya dengan nada dingin. "Serahkan gulungan itu, atau kalian akan mati di sini."

Li Zhen merasa panik. Ia tidak tahu mantra apa yang harus ia gunakan, namun ia ingat kata-kata Mei Xiang. Dengan ragu-ragu, ia mulai membaca mantra dalam bahasa kuno yang pernah didengarnya dari Mei Xiang sebelumnya. Awalnya, tidak ada yang terjadi. Namun, ketika ia mengulangi mantra itu untuk kedua kalinya, manik-manik biru di tangannya mulai berkilauan dengan cahaya terang.

Cahaya itu semakin kuat, hingga akhirnya meledak menjadi sinar biru menyilaukan yang menutupi seluruh area. Bayangan Hitam yang tadinya mengepung mereka mulai mundur, mencoba melindungi mata mereka dari cahaya yang menyilaukan itu. Pria berjubah abu-abu juga terlihat terganggu, matanya menyipit saat ia mencoba menembus cahaya.

"Inilah kesempatannya!" teriak Mei Xiang, lalu menarik tangan Li Zhen dan mulai berlari ke arah pepohonan yang lebih rapat.

Mereka berdua berlari secepat mungkin, meninggalkan para penyerang di belakang. Namun, suara langkah-langkah cepat mulai terdengar lagi, semakin dekat. Li Zhen merasa kakinya terasa lemah, namun ia tahu bahwa mereka tidak bisa berhenti.

Tiba-tiba, Mei Xiang berhenti di depan sebuah tebing curam yang tersembunyi di balik pepohonan. Tebing itu tampak tidak mungkin untuk didaki, namun Mei Xiang tidak ragu. Ia mengeluarkan pedangnya, lalu mulai menggambar simbol-simbol aneh di udara dengan ujung pedangnya. Simbol-simbol itu bersinar dengan cahaya putih samar, dan tiba-tiba, tanah di bawah mereka mulai bergetar. Sebuah celah kecil muncul di permukaan tebing, cukup lebar untuk satu orang melewatinya.

"Cepat masuk!" perintah Mei Xiang, mendorong Li Zhen ke arah celah itu.

Li Zhen melompat masuk ke dalam celah itu, diikuti oleh Mei Xiang tepat di belakangnya. Begitu mereka berada di dalam, celah itu menutup dengan keras, meninggalkan mereka dalam kegelapan total.

Namun, sebelum mereka sempat bernapas lega, suara gemuruh keras terdengar dari dalam kegelapan. Sesuatu di dalam sana sedang mendekat—sesuatu yang jauh lebih besar daripada mereka. Langkah-langkah berat itu semakin dekat, disertai dengan napas yang dalam dan berat.

"Apa itu?" tanya Li Zhen, suaranya hampir berbisik karena takut.

Mei Xiang tidak menjawab. Ia hanya mengangkat pedangnya, siap menghadapi apapun yang akan muncul dari kegelapan. Namun, ketika sesuatu itu akhirnya muncul, Li Zhen merasa tubuhnya membeku. Itu bukan manusia—melainkan makhluk raksasa dengan tubuh yang terbuat dari batu dan mata yang menyala merah seperti bara api. Makhluk itu menggeram keras, suaranya bergema di seluruh ruang bawah tanah.

"Selamat datang, pencari Silsilah Naga Emas," kata makhluk itu dengan suara yang dalam dan menggelegar. "Namun, kalian tidak akan pergi dari sini hidup-hidup kecuali kalian bisa membuktikan bahwa kalian layak."

Li Zhen merasa darahnya berhenti mengalir. Apa yang dimaksud dengan "membuktikan"? Dan bagaimana mereka bisa melawan makhluk sebesar itu? Pertanyaan-pertanyaan itu belum terjawab saat makhluk itu mulai melangkah maju, siap menyerang.

Namun, sebelum pertempuran dimulai, Mei Xiang berbisik pelan kepada Li Zhen, "Aku tahu apa yang harus kita lakukan. Ikuti aku, dan percayalah padaku."

Li Zhen tidak punya pilihan lain selain mempercayainya. Namun, di dalam hatinya, ia merasa bahwa perjalanan ini baru saja memasuki babak baru—babak yang jauh lebih berbahaya daripada yang pernah ia bayangkan.

Langkah-langkah mereka semakin cepat, dan Li Zhen merasa bahwa mereka semakin dekat dengan sesuatu yang besar—sesuatu yang mungkin akan mengubah hidupnya selamanya. Namun, di balik semua itu, ada satu hal yang ia tahu pasti: mereka tidak bisa mundur sekarang. Apapun yang menanti di depan, mereka harus menghadapinya bersama.

Namun, sebelum mereka sempat melanjutkan, suara gemuruh keras terdengar lagi dari dalam kegelapan. Tanah di bawah mereka mulai bergetar hebat, dan dinding-dinding batu di sekitar mereka mulai retak. Sebuah lubang besar mulai terbuka di langit-langit ruangan, memperlihatkan cahaya merah menyala yang tidak wajar.

"Apa yang terjadi?" tanya Li Zhen dengan panik.

Mei Xiang menatap ke atas, matanya penuh dengan ketegangan. "Ini adalah penghalang terakhir," katanya. "Jika kita tidak bisa melewatinya, maka kita akan terjebak di sini selamanya."

Namun, sebelum mereka sempat bergerak, suara tawa dingin terdengar dari balik kegelapan. Pria berjubah abu-abu itu muncul dari bayang-bayang, matanya menyipit saat ia menatap mereka. "Kalian pikir kalian bisa lolos dariku?" katanya dengan nada dingin. "Kalian tidak akan pergi dari sini hidup-hidup."

Li Zhen merasa tubuhnya membeku. Bagaimana pria itu bisa menemukan mereka? Apakah ada pengkhianat di antara mereka? Ataukah Kota Tersembunyi itu sendiri adalah jebakan?

Namun, sebelum mereka sempat bereaksi, makhluk raksasa itu menggeram keras, lalu mengangkat salah satu tangannya yang besar. Dari dalam kegelapan, muncul tiga bola api besar yang berputar-putar di udara. "Kalau begitu, kalian harus melewati ujian ini," katanya. "Kalahkan bola api ini, dan kalian akan mendapatkan apa yang kalian cari."

Li Zhen dan Mei Xiang saling bertukar pandang, lalu Mei Xiang melangkah maju. "Aku akan menghadapi yang pertama," katanya dengan nada mantap.

Bola api pertama mulai bergerak cepat ke arah Mei Xiang, namun ia dengan sigap menghindar dan menyerangnya dengan pedangnya. Bola api itu meledak menjadi percikan-percikan kecil, namun dua bola api lainnya langsung menyerang balik dengan kecepatan yang lebih tinggi.

Li Zhen mencoba membantu dengan menggunakan sapu bambunya, namun serangan-serangan bola api itu begitu kuat hingga ia hampir tidak bisa bertahan. Namun, Mei Xiang terus bergerak dengan kecepatan yang luar biasa, berhasil menghancurkan bola api kedua dan ketiga satu per satu.

Setelah bola api terakhir hancur, makhluk raksasa itu menggeram keras, lalu mundur ke dalam kegelapan. Suaranya bergema sekali lagi, "Kalian telah lulus. Ambillah apa yang kalian cari."

Namun, sebelum mereka sempat merasa lega, pria berjubah abu-abu itu melangkah maju, bola kristal di tangannya bersinar dengan cahaya merah menyala. "Kalian mungkin telah lulus ujian ini," katanya dengan nada dingin. "Namun, kalian tidak akan bisa melarikan diri dari takdir kalian. Silsilah Naga Emas akan menjadi milik kami, apa pun yang terjadi."

Li Zhen merasa tubuhnya membeku. Apakah ini akhir dari perjalanan mereka? Ataukah masih ada harapan untuk melarikan diri? Pertanyaan-pertanyaan itu belum terjawab saat pria itu mengangkat tangannya, siap meluncurkan serangan terakhir.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Silsilah Naga Emas   57 — Wajah di Balik Huruf

    "Kita tidak bisa menunggu lagi," desis Mei Xiang saat kami berkumpul di balik tembok bata dekat pasar. Suara pedagang masih samar dari kejauhan, namun malam ini kota terasa seperti labirin diam. "Jika gudang itu jadi titik transit, mereka akan pindahkan barang sebelum fajar.""Setuju," jawabku. "Tapi kita butuh rencana lebih matang. Cap palsu bisa membuka pintu—atau menuntun kita ke jebakan."Wang Jian mencondongkan tubuh, matanya menyala seperti bara. "Aku akan menyamar sebagai kurir. Bawa surat palsu—capnya akan cukup untuk membuat mereka berpikir ini kiriman resmi. Mei Xiang, kau jadi pendukung luar. Li Zhen—kau menyelinap ke dalam gudang dan cari ruang penyimpanan. Xiao Lan, kau bantu aku tenangkan penjaga."Xiao Lan menggigit bibirnya namun mengangguk. "Aku bisa membuat mereka lengah dengan cerita tentang kegagalan muatan, dan mungkin mencuri kunci." Suaranya kecil, namun penuh tekad."Kita bagi dua tim, lalu bertemu di gudang tengah," aku menambahkan. "Kalau ada keraguan, kita m

  • Silsilah Naga Emas   56 — Dermaga Selatan dan Nama yang Terungkap

    “Kita sudah dekat,” bisik Xiao Lan dari haluan, tangannya tak lepas dari dayung. Air memantulkan cahaya lentera seperti serpihan kaca. “Di depan sana ada dermaga selatan—di situlah Wang Jian bilang mereka akan mendarat.”“Apa kau melihat tanda kapal yang mengejar tadi?” tanyaku, menahan suara agar tak pecah. Hatiku masih berdebar dari kejar-kejaran tadi malam.Xiao Lan menyipit. “Ada satu kapal berlayar lambat—layar merah kecil, namanya terukir di haluan: Merah Dara.” Ia menyebutnya seolah mengisyaratkan nama yang penting. “Itu kapal yang biasa dipakai agen… Aku pernah lihat di pelabuhan utara.”“Merah Dara,” ulangku. Nama itu terdengar seperti duri yang menusuk ingatan. “Kalau kapal itu yang membawa kotak tadi, kita bisa cari perawakannya—atau setidaknya cari siapa yang bayar marangkap.”Kami merapatkan perahu di dermaga yang remang. Suasana di sana berbeda; para pekerja tampak panik, beberapa berdiri sambil menunjuk ke arah jalan, beberapa lain membisikkan sesuatu. Dari kejauhan kul

  • Silsilah Naga Emas   55 — Malam di Gerbang Luar

    "Apa kau yakin ini tempatnya?" bisik Xiao Lan, suaranya nyaris tertelan angin malam ketika kami bersembunyi di balik tumpukan batu bata tua. Remang lentera dari menara gerbang menyorot seperti mata sipit yang waspada. "Kami di jalur yang benar," jawab Mei Xiang. "Kereta pagi melewati sini kalau lewat rute luar. Kita tunggu sampai jam tiga." Waktu terasa melambat. Angin meniupkan bau laut dan minyak lampu, sementara detak jam di hatiku mendekati sebuah angka yang tak pernah terasa begitu berarti. Aku menghirup napas panjang, merasakan koin perunggu di sakuku seperti obor kecil yang memberi arah. "Bagaimana kalau mereka membawa barang lewat perahu?" bisikku, suara hampir tak terdengar. "Kalau begitu kita kehilangan satu jalur," jawab Wang Jian. "Tapi masih ada kemungkinan. Kita tetap di sini dulu." Xiao Lan menggigil. "Aku takut," katanya kecil. "Mereka punya anjing penjaga. Mereka punya orang yang tak ragu membunuh." Mei Xiang menepuk punggungnya. "Kita tidak sendiri, Lan. Kita p

  • Silsilah Naga Emas   54 — Cap, Kebohongan, dan Jejak yang Membeku

    "Ada bau bensin," bisik Wang Jian saat kami merayap di bawah jendela gudang. Suara ombak jauh seperti denyut yang lambat — latar belakang sempurna untuk lorong-lorong yang menyimpan rahasia. "Kalau kita masuk dari sini, kita bisa sampai ke ruang administrasi.""Kau yakin?" aku membalas pelan. "Kalau ada petugas patroli, kita tercekik sebelum menyentuh cap itu."Wang Jian mengangkat bahu, matanya setajam pedangnya. "Kita tidak punya pilihan lain. Manifest ini harus disalin. Tanpa cap, kita tak punya bukti yang cukup untuk menuduh siapa pun."Aku menatap manifest yang tergulung di saku dalam—tinta memudar tapi jelas: penerima Gudang Tiga, Sekretaris Lu. "Ayo. Ingat kata-katamu: kalau ada masalah, dorong ke laut.""Kau serius ingin menenggelamkanku?" ia menimpali dengan nada sarkastik, namun ada senyum tipis yang membuat kami berdua terselip sedikit ketenangan.Kami merayap masuk lewat celah di bawah pintu belakang; debu menyambut seperti selimut kasar. Ruang administrasi kecil; meja kay

  • Silsilah Naga Emas   53 — Lorong Rahasia dan Bukti yang Tertinggal

    “Apa kau siap?” bisik Mei Xiang di telingaku saat kami berjongkok di balik tumpukan kayu di sisi lorong. Napasnya hangat, tapi suaranya dingin seperti besi.“Siap seperti panah yang terhunus,” aku membalas, berusaha membuat nada yang lebih tenang dari yang kurasa. “Ingat rencananya: kau dan aku masuk lewat pintu samping, Wang Jian menunggu di titik pelarian, Xiao Lan memberi tanda bila ada perubahan.”“Kau yang pertama pegang kotak itu kalau kita nemu gulungan,” ujar Mei Xiang, matanya menyipit. “Jangan berhero-hero.”“Aku bukan tipe hero,” kataku. “Aku lebih mirip orang yang panik efektif.” Kami berdua tersenyum tipis, lalu menghela napas serentak. Suasana malam seperti menahan napas bersama kami.Xiao Lan muncul dari balik keranjang, suaranya nyaris tak terdengar. “Ayo. Pintu besi di sana,” ia menunjuk ke sebuah celah samar antara dua gudang. “Penjaga bergantian tiap tengah malam. Dua menit setelah lonceng, ada jeda. Kita masuk saat itu.”“Kita tunggu tanda darimu,” bisik Wang Jian

  • Silsilah Naga Emas   52 — Jejak yang Menghilang

    Kegelapan pelabuhan seperti selimut tebal yang menelan suara, hanya menyisakan percikan lampu lentera dan riuh rendah pedagang malam. Di antara tumpukan kain dan peti, kami menyelinap dengan langkah ringan—lebih mirip bayangan daripada tiga orang yang bermuatan dendam dan kebingungan. Aku menekan koin perunggu di sakuku sampai lekuknya menyakitkan, sebagai pengingat bahwa ini bukan sekadar barang; ini adalah alasan kami keluar dari desa."Apa rencanamu, Li Zhen?" Mei Xiang berbisik di sampingku, napasnya hangat di udara dingin. Matanya menyapu sekeliling, waspada."Kita biarkan aku dan dia yang berbicara dulu," jawabku pelan. "Kita butuh jembatan—seseorang yang bisa membuka pintu yang biasanya tertutup rapat."Wang Jian mengangguk. "Aku jaga pintu belakang. Kalau ada masalah, aku dorong ke laut."Kami tertawa kecil, namun canda itu cepat pudar ketika kami melihat Xiao Lan. Gadis itu kecil, mungkin masih belia, tetapi matanya tajam seperti pedang kecil. Dia duduk di dekat tumpukan bamb

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status