MasukLangkah-langkah Li Zhen dan Mei Xiang terhenti sejenak saat mereka berdiri di tepi hutan kecil yang memisahkan mereka dari Kuil Matahari Emas. Udara di sini terasa lebih berat, seolah-olah alam itu sendiri sedang menahan napas. Mereka tahu bahwa perjalanan ini tidak akan mudah—setiap langkah yang mereka ambil membawa mereka lebih dekat ke kebenaran, namun juga semakin dekat dengan bahaya.
Mei Xiang mengeluarkan peta tua yang mereka dapatkan dari Desa Surya Tersembunyi. Peta itu tampak rapuh, namun ada aura magis yang kuat mengelilinginya. Ia mempelajari setiap detailnya dengan cermat, mencoba memastikan bahwa mereka berada di jalur yang benar. "Kita hampir sampai," katanya akhirnya, suaranya terdengar mantap meskipun ada nada kekhawatiran yang samar-samar. "Namun, kita harus hati-hati. Kuil Matahari Emas adalah tempat yang penuh dengan kekuatan magis. Setiap langkah yang salah bisa membawa kita ke dalam bahaya." Li Zhen mengangguk, meskipun ia masih merasa bingung tentang apa yang menanti mereka di sana. "Apa yang sebenarnya ada di Kuil Matahari Emas?" tanyanya pelan, suaranya nyaris hilang di antara desiran angin malam. "Apakah itu hanya tentang gulungan ketiga? Atau ada sesuatu yang lebih besar?" Mei Xiang menatapnya dengan pandangan serius. "Ada banyak hal yang belum aku pahami sepenuhnya," katanya dengan nada datar. "Namun, satu hal yang pasti adalah bahwa Silsilah Naga Emas bukan sekadar artefak biasa. Ini adalah kunci untuk membuka rahasia besar tentang dunia kita—dan mungkin tentang dirimu." Li Zhen merasa tubuhnya membeku. Apa yang dimaksud Mei Xiang? Apakah ada sesuatu tentang dirinya yang belum ia ketahui? Namun, sebelum ia sempat bertanya lebih lanjut, Mei Xiang melanjutkan, "Kita tidak punya waktu untuk memikirkan itu sekarang. Yang penting adalah kita tetap fokus pada tujuan kita." Mereka melanjutkan perjalanan, menyusuri jalan setapak yang semakin curam dan berbatu. Udara di sekitar mereka mulai berubah—cahaya matahari yang tadinya terang kini mulai redup, seolah-olah tertutup oleh kabut tebal yang tak terlihat. Namun, ada sesuatu yang aneh tentang kabut itu—seolah-olah ia hidup, bergerak perlahan seperti ombak yang mengalir di atas tanah. Setelah beberapa saat berjalan, mereka sampai di sebuah area terbuka yang dikelilingi oleh pohon-pohon tinggi dengan cabang-cabang yang saling bertautan, menciptakan atap alami yang menutupi langit. Di tengah area itu, ada sebuah kuil kuno yang tampak seperti bangunan yang terbuat dari emas murni. Kuil itu memiliki pintu besar yang tertutup rapat, dengan ukiran-ukiran naga raksasa yang melingkar di sekitarnya. Matanya terbuat dari batu permata merah yang berkilauan dengan cahaya aneh. "Inilah Kuil Matahari Emas," kata Mei Xiang dengan nada hormat. "Tempat ini dijaga oleh makhluk-makhluk gaib yang tidak kenal ampun. Kita harus hati-hati." Li Zhen merasa bulu kuduknya berdiri saat ia memandangi kuil itu. Ada sesuatu yang tidak wajar tentang tempat ini—seolah-olah kuil itu hidup dan sedang mengamati mereka. Namun, ia tahu bahwa mereka tidak bisa mundur sekarang. Mereh mendekati pintu kuil, namun sebelum mereka sempat menyentuhnya, suara gemuruh keras terdengar dari dalam kuil. Pintu besar itu mulai terbuka perlahan, memperlihatkan kegelapan yang tak terlihat dasarnya. Dari dalam kegelapan itu, muncul sosok makhluk raksasa dengan tubuh yang terbuat dari asap emas pekat. Matanya menyala biru seperti api, dan suaranya bergema keras seperti guntur. "Siapa yang berani masuk ke wilayahku?" tanya makhluk itu dengan suara yang dalam dan mengguncang. "Kalian tidak akan keluar dari sini hidup-hidup jika kalian tidak membuktikan bahwa kalian layak." Li Zhen merasa tubuhnya membeku. Makhluk ini jauh lebih besar dan lebih menakutkan daripada apa pun yang pernah ia lihat sebelumnya. Namun, Mei Xiang tetap tenang, pedangnya terangkat tinggi. "Kami datang untuk mencari gulungan ketiga," kata Mei Xiang dengan nada tegas. "Dan kami siap menghadapi ujian apapun yang kau berikan." Makhluk itu menggeram keras, lalu mengangkat salah satu tangannya yang besar. Dari dalam kegelapan kuil, muncul tiga bola api besar yang berputar-putar di udara. "Kalau begitu, kalian harus melewati ujian ini," katanya. "Kalahkan bola api ini, dan kalian akan mendapatkan apa yang kalian cari." Li Zhen dan Mei Xiang saling bertukar pandang, lalu Mei Xiang melangkah maju. "Aku akan menghadapi yang pertama," katanya dengan nada mantap. Bola api pertama mulai bergerak cepat ke arah Mei Xiang, namun ia dengan sigap menghindar dan menyerangnya dengan pedangnya. Bola api itu meledak menjadi percikan-percikan kecil, namun dua bola api lainnya langsung menyerang balik dengan kecepatan yang lebih tinggi. Li Zhen mencoba membantu dengan menggunakan sapu bambunya, namun serangan-serangan bola api itu begitu kuat hingga ia hampir tidak bisa bertahan. Namun, Mei Xiang terus bergerak dengan kecepatan yang luar biasa, berhasil menghancurkan bola api kedua dan ketiga satu per satu. Setelah bola api terakhir hancur, makhluk raksasa itu menggeram keras, lalu mundur ke dalam kegelapan kuil. Suaranya bergema sekali lagi, "Kalian telah lulus. Ambillah apa yang kalian cari." Pintu kuil mulai terbuka lebih lebar, memperlihatkan ruangan besar di dalamnya. Di tengah ruangan itu, ada sebuah altar batu besar dengan gulungan tua yang tergeletak di atasnya. Gulungan itu tampak lebih tua dan lebih rapuh daripada gulungan-gulungan sebelumnya, namun ada aura magis yang kuat mengelilinginya. Mei Xiang melangkah mendekati altar itu, lalu mengambil gulungan tersebut dengan hati-hati. Namun, sebelum mereka sempat merasa lega, suara gemuruh keras terdengar lagi dari dalam kuil. Tanah di bawah mereka mulai bergetar, dan pintu kuil mulai menutup perlahan. "Kita harus pergi sekarang!" teriak Mei Xiang, lalu menarik tangan Li Zhen dan mulai berlari keluar dari kuil. Mereka berhasil keluar tepat sebelum pintu kuil menutup sepenuhnya, meninggalkan mereka di luar dengan napas tersengal-sengal. Namun, mereka tahu bahwa perjalanan ini masih jauh dari selesai. Gulungan ketiga ini hanya langkah pertama menuju Silsilah Naga Emas—dan ada banyak tantangan yang masih menanti di depan. Saat mereka beristirahat sejenak di tepi hutan, Mei Xiang membuka gulungan ketiga itu dengan hati-hati. Di dalamnya, ada tulisan-tulisan kuno yang sulit dibaca, namun ada juga gambar-gambar yang tampak seperti peta. "Ini adalah petunjuk menuju lokasi akhir," katanya dengan nada serius. "Namun, ada sesuatu yang aneh tentang ini." Li Zhen menatap gulungan itu dengan rasa penasaran. "Apa yang aneh?" tanyanya. Mei Xiang menunjuk salah satu simbol di gulungan itu. "Simbol ini... aku pernah melihatnya sebelumnya," katanya dengan nada pelan. "Ini adalah simbol yang sama dengan yang ada di Kuil Bulan Hitam. Aku tidak yakin apa artinya, tapi aku merasa ada hubungannya dengan masa laluku." Li Zhen merasa bingung. Apa yang Mei Xiang maksud? Apakah ada rahasia besar yang belum ia ungkapkan? Namun, sebelum ia sempat bertanya lebih lanjut, Mei Xiang melanjutkan, "Kita harus terus bergerak. Waktu kita terbatas." Mereka melanjutkan perjalanan, menyusuri jalan setapak yang semakin curam dan berbahaya. Udara di sekitar mereka mulai berubah—ada sesuatu yang magis tentang atmosfer di sini, seolah-olah mereka sedang memasuki dunia lain yang tidak terlihat oleh mata manusia biasa. Akhirnya, mereka sampai di sebuah tebing curam yang menghadap ke laut luas. Di bawah tebing itu, ada sebuah pulau kecil yang tampak seperti terapung di atas air. Pulau itu dikelilingi oleh kabut tebal yang membuatnya tampak seperti mimpi yang tidak nyata. Di tengah pulau itu, ada sebuah kuil kuno yang tampak seperti bangunan yang terbuat dari kristal murni. Cahaya matahari yang memantul dari kuil itu membuatnya tampak seperti mimpi yang tidak nyata. "Itu adalah Kuil Cahaya Abadi," kata Mei Xiang dengan nada hormat. "Tempat itu adalah lokasi terakhir yang harus kita kunjungi sebelum menemukan Silsilah Naga Emas." Li Zhen merasa jantungnya berdebar kencang. Apa yang ada di Kuil Cahaya Abadi? Dan bagaimana mereka bisa menghadapi tantangan yang mungkin menanti di sana? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar-putar di benaknya, namun ia tahu bahwa mereka tidak bisa mundur sekarang. Mereka mulai menuruni tebing dengan hati-hati, mencoba mencari jalan menuju pulau itu. Namun, sebelum mereka berhasil mencapai dasar tebing, suara gemuruh keras terdengar dari belakang mereka. Mereka berbalik, dan melihat pria berjubah abu-abu itu muncul dari bayang-bayang, diikuti oleh Bayangan Hitam yang jumlahnya lebih banyak daripada sebelumnya. "Kalian tidak akan lolos kali ini," kata pria itu dengan nada dingin, matanya menyipit saat ia menatap mereka. "Serahkan gulungan itu, atau kalian akan mati di sini." Mei Xiang melangkah maju, pedangnya terangkat tinggi. "Kami tidak akan menyerah," katanya dengan nada tegas. "Jika kau ingin gulungan ini, kau harus mengambilnya dari kami dengan paksa." Pria berjubah abu-abu itu tersenyum dingin, lalu mengangkat bola kristal kecil yang ia pegang. Cahaya merah menyala keluar dari bola itu, menciptakan pola-pola aneh di udara. "Kalau begitu, mari kita lihat apakah kalian benar-benar sekuat yang kalian kira." Bayangan Hitam mulai bergerak maju, siap menyerang. Li Zhen dan Mei Xiang bersiap menghadapi pertempuran yang mungkin akan menjadi yang paling berbahaya dalam hidup mereka. Namun, di dalam hati mereka, mereka tahu bahwa ini bukan hanya tentang bertahan hidup—ini tentang melindungi rahasia besar yang bisa mengubah nasib seluruh kerajaan. Namun, sebelum pertempuran dimulai, Mei Xiang berbisik pelan kepada Li Zhen, "Aku punya rencana. Ikuti aku, dan percayalah padaku." Li Zhen mengangguk, meskipun ia tidak tahu apa yang akan dilakukan Mei Xiang. Namun, ia tahu bahwa mereka tidak punya pilihan lain selain mempercayainya. Pertempuran besar akan segera dimulai, dan mereka harus siap menghadapi apapun yang akan terjadi. Namun, sebelum serangan pertama dilancarkan, Mei Xiang mengeluarkan artefak kecil dari balik jubahnya—sebuah manik-manik berwarna biru yang berkilauan dengan cahaya aneh. Ia melemparkannya ke tanah, dan tiba-tiba, cahaya biru terang meledak dari manik-manik itu, menyilaukan semua orang di sekitarnya. Para Bayangan Hitam mundur beberapa langkah, mencoba melindungi mata mereka dari cahaya yang menyilaukan itu. Namun, pria berjubah abu-abu tetap berdiri tegak, matanya menyipit saat ia mencoba menembus cahaya. "Inilah kesempatannya!" teriak Mei Xiang, lalu menarik tangan Li Zhen dan mulai berlari ke arah tebing yang lebih rendah. Mereka berdua berlari secepat mungkin, meninggalkan para penyerang di belakang. Namun, suara langkah-langkah cepat mulai terdengar lagi, semakin dekat. Li Zhen merasa kakinya terasa lemah, namun ia tahu bahwa mereka tidak bisa berhenti. Tiba-tiba, Mei Xiang berhenti di depan sebuah celah kecil yang tersembunyi di balik pepohonan. "Masuk ke sini!" katanya dengan nada mendesak. Mereka melompat masuk ke dalam celah itu, dan begitu mereka berada di dalam, celah itu menutup dengan keras, meninggalkan mereka dalam kegelapan total. Namun, mereka tahu bahwa mereka tidak aman—suara-suara langkah-langkah cepat masih terdengar dari luar, semakin dekat. "Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Li Zhen dengan nada panik. Mei Xiang menghela napas panjang, lalu mengeluarkan gulungan ketiga dari balik jubahnya. "Kita harus memecahkan rahasia ini secepat mungkin," katanya dengan nada tegas. "Ini adalah satu-satunya cara untuk keluar dari sini hidup-hidup." Li Zhen mengangguk, meskipun ia merasa takut. Ia tahu bahwa mereka tidak punya pilihan lain selain melanjutkan. Setiap langkah yang mereka ambil membawa mereka lebih dekat ke kebenaran—kebenaran tentang Silsilah Naga Emas, tentang diri mereka sendiri, dan tentang dunia yang mereka tinggali. Saat mereka mulai mempelajari gulungan ketiga itu, mereka menyadari bahwa ada sesuatu yang lebih besar di balik semua ini—rahasia yang mungkin akan mengubah segalanya. Namun, satu hal yang mereka tahu pasti adalah bahwa mereka tidak bisa mundur sekarang. Apapun yang menanti di depan, mereka harus menghadapinya bersama. Saat Li Zhen dan Mei Xiang berusaha memecahkan rahasia gulungan ketiga di dalam kegelapan lorong sempit, mereka tidak menyadari bahwa ada sesuatu yang mengamati setiap gerakan mereka dari bayang-bayang. Sesuatu itu bukan manusia—melainkan makhluk gaib yang telah mengikuti mereka sejak mereka meninggalkan Kuil Matahari Emas. Makhluk itu memiliki tubuh yang terbuat dari kabut hitam pekat, dengan mata yang menyala merah seperti bara api. Gerakannya begitu halus dan cepat sehingga tidak ada yang bisa mendeteksinya—bahkan Mei Xiang, yang biasanya sangat waspada, tidak menyadarinya. Makhluk itu diam-diam mengamati bagaimana Mei Xiang membuka gulungan ketiga dan mencoba memahami tulisan-tulisan kuno yang ada di dalamnya. Ia juga melihat bagaimana Li Zhen tampak bingung dan cemas, seolah-olah ia merasa ada sesuatu yang salah namun tidak tahu apa. Makhluk itu tersenyum tipis—sebuah senyuman yang dingin dan tanpa emosi. Ia tahu bahwa waktunya telah tiba. Dari balik bayang-bayang, muncul suara bisikan aneh yang bergema di seluruh lorong. Suara itu pelan namun menusuk telinga, seperti ratusan jarum yang menusuk kulit. Li Zhen dan Mei Xiang langsung berdiri tegak, matanya menyipit saat mereka mencoba mencari sumber suara itu. "Ada yang mengamati kita," bisik Mei Xiang pelan, suaranya hampir tak terdengar. "Tetap waspada." Li Zhen mengangguk, meskipun ia merasa tubuhnya mulai gemetar karena ketegangan. Ia mencoba memegang sapu bambunya dengan erat, meskipun ia tahu bahwa senjata itu tidak akan banyak membantu melawan makhluk gaib. Namun, sebelum mereka sempat bereaksi lebih jauh, suara langkah-langkah ringan mulai terdengar dari arah belakang lorong. Langkah-langkah itu semakin dekat, disertai dengan desiran angin dingin yang membuat bulu kuduk mereka berdiri. Dari balik kegelapan, muncul sosok pria berjubah abu-abu yang sudah mereka kenal—pemimpin Bayangan Hitam yang selalu satu langkah di depan mereka. "Kalian pikir kalian bisa lolos dariku?" kata pria itu dengan nada dingin, matanya menyipit saat ia menatap mereka. "Kalian tidak akan pergi dari sini hidup-hidup." Mei Xiang melangkah maju, pedangnya terangkat tinggi. "Aku sudah bilang sebelumnya," katanya dengan nada tegas. "Kami tidak akan menyerah begitu saja." Pria berjubah abu-abu itu tersenyum tipis, namun senyum itu tidak mencapai matanya. "Kalian pikir kalian bisa melawan kami? Kalian hanya dua orang biasa melawan pasukan yang tak terhitung jumlahnya." Ia melambaikan tangannya sekali, dan Bayangan Hitam mulai muncul dari kegelapan, membentuk lingkaran sempit di sekitar Li Zhen dan Mei Xiang. Li Zhen merasa tubuhnya membeku. Mereka sudah kelelahan setelah melewati ujian di Kuil Matahari Emas, dan kali ini, jumlah musuh mereka jauh lebih banyak. Apakah ini akhir dari perjalanan mereka? Apakah mereka akan mati di sini, tanpa sempat menemukan Silsilah Naga Emas? Namun, sebelum pertempuran dimulai, Mei Xiang berbisik pelan kepada Li Zhen, "Aku punya rencana. Ikuti aku, dan percayalah padaku." Li Zhen mengangguk, meskipun ia tidak tahu apa yang akan dilakukan Mei Xiang. Ia hanya bisa mempercayainya, karena ia tahu bahwa mereka tidak punya pilihan lain. Mei Xiang tiba-tiba melemparkan gulungan ketiga ke arah Li Zhen, lalu mengeluarkan sebuah artefak kecil dari balik jubahnya—sebuah manik-manik berwarna biru yang berkilauan dengan cahaya aneh. "Jaga ini!" katanya dengan nada mendesak. "Jika aku memberi isyarat, gunakan mantra yang sama seperti yang aku bacakan di hutan!" Li Zhen merasa bingung, namun ia tidak punya waktu untuk bertanya. Mei Xiang segera melangkah maju, pedangnya bergerak cepat saat ia mulai menyerang Bayangan Hitam yang berada di barisan depan. Gerakannya begitu gesit dan presisi, membuat para penyerang mundur beberapa langkah. Namun, jumlah mereka terlalu banyak, dan Mei Xiang mulai terdesak. Pria berjubah abu-abu itu tertawa dingin, lalu mengangkat bola kristal kecil yang ia pegang. Cahaya merah menyala keluar dari bola itu, menciptakan pola-pola aneh di udara. "Kalian tidak punya kesempatan," katanya dengan nada dingin. "Serahkan gulungan itu, atau kalian akan mati di sini." Li Zhen merasa panik. Ia tidak tahu mantra apa yang harus ia gunakan, namun ia ingat kata-kata Mei Xiang. Dengan ragu-ragu, ia mulai membaca mantra dalam bahasa kuno yang pernah didengarnya dari Mei Xiang sebelumnya. Awalnya, tidak ada yang terjadi. Namun, ketika ia mengulangi mantra itu untuk kedua kalinya, manik-manik biru di tangannya mulai berkilauan dengan cahaya terang. Cahaya itu semakin kuat, hingga akhirnya meledak menjadi sinar biru menyilaukan yang menutupi seluruh area. Bayangan Hitam yang tadinya mengepung mereka mulai mundur, mencoba melindungi mata mereka dari cahaya yang menyilaukan itu. Pria berjubah abu-abu juga terlihat terganggu, matanya menyipit saat ia mencoba menembus cahaya. "Inilah kesempatannya!" teriak Mei Xiang, lalu menarik tangan Li Zhen dan mulai berlari ke arah celah kecil yang mereka gunakan untuk masuk ke ruangan ini. Mereka berdua berlari secepat mungkin, meninggalkan para penyerang di belakang. Namun, suara langkah-langkah cepat mulai terdengar lagi, semakin dekat. Li Zhen merasa kakinya terasa lemah, namun ia tahu bahwa mereka tidak bisa berhenti. Tiba-tiba, Mei Xiang berhenti di depan sebuah tebing curam yang tersembunyi di balik pepohonan. Tebing itu tampak tidak mungkin untuk didaki, namun Mei Xiang tidak ragu. Ia mengeluarkan pedangnya, lalu mulai menggambar simbol-simbol aneh di udara dengan ujung pedangnya. Simbol-simbol itu bersinar dengan cahaya putih samar, dan tiba-tiba, tanah di bawah mereka mulai bergetar. Sebuah celah kecil muncul di permukaan tebing, cukup lebar untuk satu orang melewatinya. "Cepat masuk!" perintah Mei Xiang, mendorong Li Zhen ke arah celah itu. Li Zhen melompat masuk ke dalam celah itu, diikuti oleh Mei Xiang tepat di belakangnya. Begitu mereka berada di dalam, celah itu menutup dengan keras, meninggalkan mereka dalam kegelapan total. Namun, sebelum mereka sempat bernapas lega, suara gemuruh keras terdengar dari dalam kegelapan. Sesuatu di dalam sana sedang mendekat—sesuatu yang jauh lebih besar daripada mereka. Langkah-langkah berat itu semakin dekat, disertai dengan napas yang dalam dan berat. "Apa itu?" tanya Li Zhen, suaranya hampir berbisik karena takut. Mei Xiang tidak menjawab. Ia hanya mengangkat pedangnya, siap menghadapi apapun yang akan muncul dari kegelapan. Namun, ketika sesuatu itu akhirnya muncul, Li Zhen merasa tubuhnya membeku. Itu bukan manusia—melainkan makhluk raksasa dengan tubuh yang terbuat dari batu dan mata yang menyala merah seperti bara api. Makhluk itu menggeram keras, suaranya bergema di seluruh ruang bawah tanah. "Selamat datang, pencari Silsilah Naga Emas," kata makhluk itu dengan suara yang dalam dan menggelegar. "Namun, kalian tidak akan pergi dari sini hidup-hidup kecuali kalian bisa membuktikan bahwa kalian layak." Li Zhen merasa darahnya berhenti mengalir. Apa yang dimaksud dengan "membuktikan"? Dan bagaimana mereka bisa melawan makhluk sebesar itu? Pertanyaan-pertanyaan itu belum terjawab saat makhluk itu mulai melangkah maju, siap menyerang. Namun, sebelum pertempuran dimulai, Mei Xiang berbisik pelan kepada Li Zhen, "Aku tahu apa yang harus kita lakukan. Ikuti aku, dan percayalah padaku." Li Zhen tidak punya pilihan lain selain mempercayainya. Namun, di dalam hatinya, ia merasa bahwa perjalanan ini baru saja memasuki babak baru—babak yang jauh lebih berbahaya daripada yang pernah ia bayangkan. Langkah-langkah mereka semakin cepat, dan Li Zhen merasa bahwa mereka semakin dekat dengan sesuatu yang besar—sesuatu yang mungkin akan mengubah hidupnya selamanya. Namun, di balik semua itu, ada satu hal yang ia tahu pasti: mereka tidak bisa mundur sekarang. Apapun yang menanti di depan, mereka harus menghadapinya bersama. Namun, sebelum mereka sempat melanjutkan, suara gemuruh keras terdengar lagi dari dalam kegelapan. Tanah di bawah mereka mulai bergetar hebat, dan dinding-dinding batu di sekitar mereka mulai retak. Sebuah lubang besar mulai terbuka di langit-langit ruangan, memperlihatkan cahaya merah menyala yang tidak wajar. "Apa yang sedang terjadi?" tanya Li Zhen dengan panik. Mei Xiang menatap ke atas, matanya penuh dengan ketegangan. "Ini adalah penghalang terakhir," katanya. "Jika kita tidak bisa melewatinya, maka kita akan terjebak di sini selamanya." Namun, sebelum mereka sempat bergerak, suara tawa dingin terdengar dari balik kegelapan. Pria berjubah abu-abu itu muncul dari bayang-bayang, matanya menyipit saat ia menatap mereka. "Kalian pikir kalian bisa lolos dariku?" katanya dengan nada dingin. "Kalian tidak akan pergi dari sini hidup-hidup." Li Zhen merasa tubuhnya membeku. Bagaimana pria itu bisa menemukan mereka? Apakah ada pengkhianat di antara mereka? Ataukah Kota Tersembunyi itu sendiri adalah jebakan? Namun, sebelum mereka sempat bereaksi, makhluk raksasa itu menggeram keras, lalu mengangkat salah satu tangannya yang besar. Dari dalam kegelapan, muncul tiga bola api besar yang berputar-putar di udara. "Kalau begitu, kalian harus melewati ujian ini," katanya. "Kalahkan bola api ini, dan kalian akan mendapatkan apa yang kalian cari." Li Zhen dan Mei Xiang saling bertukar pandang, lalu Mei Xiang melangkah maju. "Aku akan menghadapi yang pertama," katanya dengan nada mantap. Bola api pertama mulai bergerak cepat ke arah Mei Xiang, namun ia dengan sigap menghindar dan menyerangnya dengan pedangnya. Bola api itu meledak menjadi percikan-percikan kecil, namun dua bola api lainnya langsung menyerang balik dengan kecepatan yang lebih tinggi. Li Zhen mencoba membantu dengan menggunakan sapu bambunya, namun serangan-serangan bola api itu begitu kuat hingga ia hampir tidak bisa bertahan. Namun, Mei Xiang terus bergerak dengan kecepatan yang luar biasa, berhasil menghancurkan bola api kedua dan ketiga satu per satu. Setelah bola api terakhir hancur, makhluk raksasa itu menggeram keras, lalu mundur ke dalam kegelapan. Suaranya bergema sekali lagi, "Kalian telah lulus. Ambillah apa yang kalian cari." Namun, sebelum mereka sempat merasa lega, pria berjubah abu-abu itu melangkah maju, bola kristal di tangannya bersinar dengan cahaya merah menyala. "Kalian mungkin telah lulus ujian ini," katanya dengan nada dingin. "Namun, kalian tidak akan bisa melarikan diri dari takdir kalian. Silsilah Naga Emas akan menjadi milik kami, apa pun yang terjadi." Li Zhen merasa tubuhnya membeku. Apakah ini akhir dari perjalanan mereka? Ataukah masih ada harapan untuk melarikan diri? Pertanyaan-pertanyaan itu belum terjawab saat pria itu mengangkat tangannya, siap meluncurkan serangan terakhir."Kita tidak bisa menunggu lagi," desis Mei Xiang saat kami berkumpul di balik tembok bata dekat pasar. Suara pedagang masih samar dari kejauhan, namun malam ini kota terasa seperti labirin diam. "Jika gudang itu jadi titik transit, mereka akan pindahkan barang sebelum fajar.""Setuju," jawabku. "Tapi kita butuh rencana lebih matang. Cap palsu bisa membuka pintu—atau menuntun kita ke jebakan."Wang Jian mencondongkan tubuh, matanya menyala seperti bara. "Aku akan menyamar sebagai kurir. Bawa surat palsu—capnya akan cukup untuk membuat mereka berpikir ini kiriman resmi. Mei Xiang, kau jadi pendukung luar. Li Zhen—kau menyelinap ke dalam gudang dan cari ruang penyimpanan. Xiao Lan, kau bantu aku tenangkan penjaga."Xiao Lan menggigit bibirnya namun mengangguk. "Aku bisa membuat mereka lengah dengan cerita tentang kegagalan muatan, dan mungkin mencuri kunci." Suaranya kecil, namun penuh tekad."Kita bagi dua tim, lalu bertemu di gudang tengah," aku menambahkan. "Kalau ada keraguan, kita m
“Kita sudah dekat,” bisik Xiao Lan dari haluan, tangannya tak lepas dari dayung. Air memantulkan cahaya lentera seperti serpihan kaca. “Di depan sana ada dermaga selatan—di situlah Wang Jian bilang mereka akan mendarat.”“Apa kau melihat tanda kapal yang mengejar tadi?” tanyaku, menahan suara agar tak pecah. Hatiku masih berdebar dari kejar-kejaran tadi malam.Xiao Lan menyipit. “Ada satu kapal berlayar lambat—layar merah kecil, namanya terukir di haluan: Merah Dara.” Ia menyebutnya seolah mengisyaratkan nama yang penting. “Itu kapal yang biasa dipakai agen… Aku pernah lihat di pelabuhan utara.”“Merah Dara,” ulangku. Nama itu terdengar seperti duri yang menusuk ingatan. “Kalau kapal itu yang membawa kotak tadi, kita bisa cari perawakannya—atau setidaknya cari siapa yang bayar marangkap.”Kami merapatkan perahu di dermaga yang remang. Suasana di sana berbeda; para pekerja tampak panik, beberapa berdiri sambil menunjuk ke arah jalan, beberapa lain membisikkan sesuatu. Dari kejauhan kul
"Apa kau yakin ini tempatnya?" bisik Xiao Lan, suaranya nyaris tertelan angin malam ketika kami bersembunyi di balik tumpukan batu bata tua. Remang lentera dari menara gerbang menyorot seperti mata sipit yang waspada. "Kami di jalur yang benar," jawab Mei Xiang. "Kereta pagi melewati sini kalau lewat rute luar. Kita tunggu sampai jam tiga." Waktu terasa melambat. Angin meniupkan bau laut dan minyak lampu, sementara detak jam di hatiku mendekati sebuah angka yang tak pernah terasa begitu berarti. Aku menghirup napas panjang, merasakan koin perunggu di sakuku seperti obor kecil yang memberi arah. "Bagaimana kalau mereka membawa barang lewat perahu?" bisikku, suara hampir tak terdengar. "Kalau begitu kita kehilangan satu jalur," jawab Wang Jian. "Tapi masih ada kemungkinan. Kita tetap di sini dulu." Xiao Lan menggigil. "Aku takut," katanya kecil. "Mereka punya anjing penjaga. Mereka punya orang yang tak ragu membunuh." Mei Xiang menepuk punggungnya. "Kita tidak sendiri, Lan. Kita p
"Ada bau bensin," bisik Wang Jian saat kami merayap di bawah jendela gudang. Suara ombak jauh seperti denyut yang lambat — latar belakang sempurna untuk lorong-lorong yang menyimpan rahasia. "Kalau kita masuk dari sini, kita bisa sampai ke ruang administrasi.""Kau yakin?" aku membalas pelan. "Kalau ada petugas patroli, kita tercekik sebelum menyentuh cap itu."Wang Jian mengangkat bahu, matanya setajam pedangnya. "Kita tidak punya pilihan lain. Manifest ini harus disalin. Tanpa cap, kita tak punya bukti yang cukup untuk menuduh siapa pun."Aku menatap manifest yang tergulung di saku dalam—tinta memudar tapi jelas: penerima Gudang Tiga, Sekretaris Lu. "Ayo. Ingat kata-katamu: kalau ada masalah, dorong ke laut.""Kau serius ingin menenggelamkanku?" ia menimpali dengan nada sarkastik, namun ada senyum tipis yang membuat kami berdua terselip sedikit ketenangan.Kami merayap masuk lewat celah di bawah pintu belakang; debu menyambut seperti selimut kasar. Ruang administrasi kecil; meja kay
“Apa kau siap?” bisik Mei Xiang di telingaku saat kami berjongkok di balik tumpukan kayu di sisi lorong. Napasnya hangat, tapi suaranya dingin seperti besi.“Siap seperti panah yang terhunus,” aku membalas, berusaha membuat nada yang lebih tenang dari yang kurasa. “Ingat rencananya: kau dan aku masuk lewat pintu samping, Wang Jian menunggu di titik pelarian, Xiao Lan memberi tanda bila ada perubahan.”“Kau yang pertama pegang kotak itu kalau kita nemu gulungan,” ujar Mei Xiang, matanya menyipit. “Jangan berhero-hero.”“Aku bukan tipe hero,” kataku. “Aku lebih mirip orang yang panik efektif.” Kami berdua tersenyum tipis, lalu menghela napas serentak. Suasana malam seperti menahan napas bersama kami.Xiao Lan muncul dari balik keranjang, suaranya nyaris tak terdengar. “Ayo. Pintu besi di sana,” ia menunjuk ke sebuah celah samar antara dua gudang. “Penjaga bergantian tiap tengah malam. Dua menit setelah lonceng, ada jeda. Kita masuk saat itu.”“Kita tunggu tanda darimu,” bisik Wang Jian
Kegelapan pelabuhan seperti selimut tebal yang menelan suara, hanya menyisakan percikan lampu lentera dan riuh rendah pedagang malam. Di antara tumpukan kain dan peti, kami menyelinap dengan langkah ringan—lebih mirip bayangan daripada tiga orang yang bermuatan dendam dan kebingungan. Aku menekan koin perunggu di sakuku sampai lekuknya menyakitkan, sebagai pengingat bahwa ini bukan sekadar barang; ini adalah alasan kami keluar dari desa."Apa rencanamu, Li Zhen?" Mei Xiang berbisik di sampingku, napasnya hangat di udara dingin. Matanya menyapu sekeliling, waspada."Kita biarkan aku dan dia yang berbicara dulu," jawabku pelan. "Kita butuh jembatan—seseorang yang bisa membuka pintu yang biasanya tertutup rapat."Wang Jian mengangguk. "Aku jaga pintu belakang. Kalau ada masalah, aku dorong ke laut."Kami tertawa kecil, namun canda itu cepat pudar ketika kami melihat Xiao Lan. Gadis itu kecil, mungkin masih belia, tetapi matanya tajam seperti pedang kecil. Dia duduk di dekat tumpukan bamb







