MasukDiego sudah menunggu di ruang tamu, "Ayo, Sayang, kau sudah siap?"
"Sebentar, aku mau mengambil vitamin hamilku," sahut Julia. Ia menyambar beberapa rangkaian vitamin dan mini tumbler berisi susu asam folatnya, lalu bergegas menuju pintu.Mereka turun menggunakan lift. Di dalam lift, Julia menoleh pada Diego. Wajahnya menunjukkan kecemasan."Diego, tolong hari ini jangan merokok, ya," ucap Julia memohon, sambil meremas lengan Diego.Diego menatap Julia, lalu menghela napas panjang. Ada keraguan sejenak, mengingat ia masih sering merokok untuk meredakan stres.Namun, melihat ekspresi cemas Julia, ia tahu ia harus berkompromi."Baiklah, Julia," nadanya kini melunak. "Aku tidak akan merokok hari ini. Demi... efisiensi janji kita." Ia kemudian mengelus rambut Julia.Mereka memasuki lift. Tiba-tiba, Julia menyadari ada pria lain yang masuk pria yang sama yang kemarin beraroma rokok di lift. Kali ini, ia mengenakan setelan ker"Pelan, Sayang. Nikmati permainan ini," suaranya tercekat namun tetap berhati-hati. Ia memperlambat tempo, mengubah hentakan kuat menjadi dorongan yang lebih terkontrol, terfokus pada titik-titik vital. Jempolnya yang kuat menekan punggung bawah Julia, memberikan tumpuan dan dorongan halus yang lebih terarah. Matanya yang gelap memandang ke luar, ke arah salju Madrid yang kini turun lebat, seolah mencari fokus, menjaga kendali dirinya. Ia menarik napas dalam-dalam, mengendalikan debar jantungnya yang liar. "Fokus padaku, Julia. Jangan tegang," perintahnya lembut, kembali ke perannya sebagai direktur yang membimbing. "Lepaskan semua stres di dahi. Rasakan hanya ini." Julia mengerang, antara protes dan kenikmatan. Pengendalian diri Diego justru terasa semakin mendominasi. Ia mencengkeram sprei lebih kuat, merasakan tubuhnya menegang dan kemudian, dengan dorongan yang dalam dan stabil dari Diego, ia terlempar ke puncak. Sebuah
Julia tersenyum tipis, Ia kemudian memutuskan untuk mengalihkan topik, mengetes sejauh mana fokus Diego hanya terpaku pada angka dan aset."Ngomong-ngomong, apa kau benar-benar tahu siapa sosok pesepak bola Portugal yang kumaksud tadi? Kulihat kau tak menyukai olahraga sepak bola. Padahal, negara kita banyak mencetak pemain handal."Julia menguji Diego, menantangnya untuk menunjukkan pengetahuan umum di luar tabel profit dan rugi.Diego menangkap tantangan itu. Ia mendengus pelan."Tentu saja aku tahu," jawab Diego, ekspresinya sedikit geli karena Julia meragukan kemampuan analisisnya. "Meskipun aku tidak menonton sepak bola, aku mengikuti berita dan tren hukum terkait aset. Kasus hukum semacam itu menjadi studi kasus penting dalam manajemen kekayaan pribadi."Ia menegakkan tubuh. "Kau merujuk pada Cristiano Ronaldo.""Model hubungan yang dia jalani, tidak menikah dengan pasangannya yang sekarang, Georgina Rodríguez, adalah keput
Di sebuah supermarket gourmet di pusat kota Madrid, Diego dan Julia jauh dari setelan kerja yang kaku, Diego mengenakan sweater kasmir gelap dan celana chinos, sementara Julia santai dengan blus rajut dan celana panjang longgar. Meski berpakaian kasual, aura efisien mereka tetap terlihat saat mereka mendorong troli besar.Julia menyandarkan tubuhnya sebentar pada troli, menghela napas panjang saat memeriksa ponselnya, menandai item-item diet yang sudah mereka masukkan."Kita sudah lama sekali tidak keluar seperti ini, ya, Diego," nadanya jujur, tanpa menuntut. "Kita sama-sama tenggelam dalam pekerjaan. Kadang, aku iri melihat pasangan lain punya waktu yang benar-benar berkualitas, hanya untuk bersenang-senang."Diego, yang baru saja selesai membandingkan label nutrisi dua merek oatmeal, menegakkan tubuhnya. Tatapannya yang biasanya tajam, sedikit melunak saat beralih ke Julia. Ia tidak menunjukkan ekspresi romantis, tetapi reaksinya berpusat pada solusi da
Rachel tidak langsung menjawab. Ia hanya menggenggam cangkir tehnya erat-erat, buku-buku jarinya memutih. Wajahnya yang biasa terlihat tenang dan elegan kini mengeraskan rahangnya.Bukan informasi kehamilan Julia yang membuatnya marah, tetapi ketidakpercayaan Diego. Sebagai matriark keluarga Torres, Rachel sangat menjunjung tinggi komunikasi dan kontrol. Fakta bahwa Diego merahasiakan perkembangan sepenting ini dari orang tuanya adalah penghinaan terhadap otoritas mereka."Diego memang selalu begitu, Georgina, Dia mengira dia bisa mengendalikan setiap aspek dalam hidupnya, termasuk informasi yang harusnya menjadi hak kami sebagai keluarga.""Aku akan mencari tahu detailnya sendiri. Terima kasih atas informasimu, Sayang."Pukul 13. Rachel Torres tiba tanpa pemberitahuan di kantor Diego. Ia melangkah melewati meja Paula langsung berdiri dengan cemas."Mama tumben datang. Ada apa?" tanya Diego, berdiri dari kursinya, sedikit terkejut dengan
Diego sudah menunggu di ruang tamu, "Ayo, Sayang, kau sudah siap?""Sebentar, aku mau mengambil vitamin hamilku," sahut Julia. Ia menyambar beberapa rangkaian vitamin dan mini tumbler berisi susu asam folatnya, lalu bergegas menuju pintu.Mereka turun menggunakan lift. Di dalam lift, Julia menoleh pada Diego. Wajahnya menunjukkan kecemasan."Diego, tolong hari ini jangan merokok, ya," ucap Julia memohon, sambil meremas lengan Diego.Diego menatap Julia, lalu menghela napas panjang. Ada keraguan sejenak, mengingat ia masih sering merokok untuk meredakan stres.Namun, melihat ekspresi cemas Julia, ia tahu ia harus berkompromi."Baiklah, Julia," nadanya kini melunak. "Aku tidak akan merokok hari ini. Demi... efisiensi janji kita." Ia kemudian mengelus rambut Julia.Mereka memasuki lift. Tiba-tiba, Julia menyadari ada pria lain yang masuk pria yang sama yang kemarin beraroma rokok di lift. Kali ini, ia mengenakan setelan ker
Diego terdiam sesaat, ancaman Julia berhasil membuatnya berhenti makan. Reaksi Julia yang biasanya dingin kini diwarnai emosi yang sangat nyata. Ia tahu Julia tidak main-main."Jangan bodoh, Julia. Kau tahu itu risiko. Anak ini adalah aset yang berharga, dan aku akan melindunginya, melindungimu, dan melindungimu dari dirimu sendiri jika perlu."Ia lalu mencondongkan tubuhnya ke meja, nadanya penuh peringatan. "Aku sudah menyingkirkan Paula. Aku sedang mengendalikan Georgina. Fokusmu harusnya pada kelancaran kehamilan, bukan membuat rencana pelarian yang tidak efisien.""Aku hanya memperingatkanmu." Julia membalas dengan nada yang tak kalah dingin. "Lalu, apa lagi yang dilakukan Georgina, calon istrimu yang ambisius dan terobsesi itu selain ancaman batal merger?"Diego kembali makan, tampaknya sudah tidak ingin memperpanjang perdebatan."Dia menekankan klausul taruhan kita dan memperingatkanku untuk menyingkirkanmu dan keluargamu jika dia







