Beranda / Romansa / Simpanan Tuan Torres / 6. Ijin Tidak Masuk

Share

6. Ijin Tidak Masuk

last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-15 22:30:53

Paginya, sebuah panggilan masuk dari Julia di ponsel Diego. "Pagi, Tuan... maaf mengganggu sepagi ini," sapa Julia, suaranya terdengar ragu.

"Hmm... ada apa, Julia? Apa uangnya kurang?" jawab Diego, menggeliat di balik selimut. Suaranya terdengar serak, masih diselimuti kantuk.

"Bukan itu, Tuan. Saya ingin meminta izin untuk menemani Ibu operasi. Seharusnya operasi dijadwalkan besok, tapi dokter memajukannya menjadi hari ini pukul sepuluh pagi. Apakah Tuan mengizinkan saya?"

"Bukankah ada kakakmu yang tidak bekerja itu? Siapa namanya? Armand?"

"Armand... dia tidak bisa dihubungi, Tuan. Saya yakin dia sedang di luar kota atau mabuk di suatu tempat. Hanya ada saya sekarang," jelas Julia cepat, berusaha keras agar suaranya terdengar meyakinkan dan tidak memicu kemarahan Diego. "Saya janji akan segera kembali setelah operasi Ibu selesai."

"Kamu punya adik, 'kan? Kamu ini terlalu sering meminta izin, Julia." Diego sengaja berkata seolah adik Julia, Laura, masih di Madrid, padahal Laura sudah berada di Amerika selama tiga tahun, berkarier sebagai bintang film dewasa.

"Laura... Laura juga. tidak bisa dihubungi, Tuan," jawab Julia, suaranya sedikit bergetar, berusaha menahan emosi yang muncul setiap kali nama adiknya disinggung. "Dia tidak ada di sini. Tolong, Tuan. Ini hanya untuk beberapa jam. Saya akan tepat waktu untuk pertemuan kita nanti."

"Baiklah, sebagai gantinya," ujar Diego, nada suaranya berubah menjadi menuntut. "Setelah operasi Ibumu selesai, segera datang ke penthouseku. Ganti seprai kasur dengan yang baru, karena aku mencuci seprai yang ada ada nodamu dan tidak sempat menggantinya tadi malam. Dan jangan pergi sebelum aku datang. Kamu harus melayaniku sampai aku puas."

"Minta lagi, Tuan?" tanya Julia, suaranya terasa tercekik.

"Tentu saja. Aku ini hyper. Jadi persiapkan dirimu. Jangan lupa kenakan lingerie saat aku tiba. Dan pastikan kamu tidak canggung melayaniku nanti. Karena itu, pelajari semua dari film dewasa yang kukirimkan."

"Baik, Tuan," jawab Julia lirih, tanpa daya. Ia buru-buru memutus panggilan, merasakan keputusasaan yang semakin mencekiknya.

Diego meletakkan ponselnya kembali ke nakas. Senyum tipis, penuh kemenangan, tersungging di bibirnya. Ia sudah menduga Julia akan patuh. Tekanan dan kendali adalah satu-satunya bahasa yang dipahami dan dihormati oleh orang-orang sejenis Julia. Sekarang, ia hanya perlu menikmati pagi dan menunggu "hadiah" yang akan datang ke penthouse-nya.

Di meja makan keluarga Torres, hadir orang tua Diego, Richard Torres dan istrinya, Rachel, serta Diego yang sudah duduk menikmati sarapannya dengan tenang.

"Bagaimana perkembangan pekerjaanmu? Sepertinya Papa tidak salah memercayakanmu untuk mengurus Torres International."

"Biasa saja, aku bekerja karena aku menikmatinya," jawab Diego singkat, sambil menyantap Bocadillo de Calamares.

Tak lama, Amanda, kakaknya, datang.

"Pagi..."

Rachel tersenyum dan menjawab, "Pagi, Sayang... Silakan duduk." Richard membalasnya dengan senyuman singkat seraya mengangkat gelas kopinya.

"Btw, aku lupa jika kemarin itu... Lucia sedang berada di Kanada. Lalu, noda di seprai itu milik siapa?" Tanya Amanda berbisik dengan mencondongkan tubuhnya ke arah Diego. Perempuan berambut blonde itu nampaknya mulai usil lagi.

Diego meletakkan garpunya, memandang Amanda dengan tatapan datar yang biasa ia gunakan. "Memangnya kenapa? Itu bukan urusanmu," jawabnya dingin. "Fokus saja pada makanmu, Amanda. Jangan mencampuri masalah orang lain. Ada banyak wanita di Madrid yang bersedia datang ke apartementku."

"Masalahnya, kau ini sudah bertunangan, Diego. Gadis mana lagi yang kau goda?"

Sorot mata Diego tajam dan menunjukkan kejengkelan yang nyata. "Jaga bicaramu, Amanda," desisnya rendah. Ia kembali menyantap sarapannya tanpa menoleh. "Kau terdengar seperti Mama. Urus saja jadwal yoga dan perawatan wajahmu. Aku tahu betul apa yang kulakukan."

Richard, yang sedari tadi hanya berdeham pelan. "Diego, Amanda benar. Jaga sikapmu. Lucia adalah tunanganmu, dan reputasi keluarga Torres dipertaruhkan. Ayah tidak ingin mendengar rumor yang tidak pantas beredar di media atau kalangan bisnis." Nada suaranya tegas, namun terkendali.

Rachel meletakkan serbetnya, ekspresi wajahnya berubah khawatir. "Sayang, apa yang Amanda katakan itu benar? Kamu tidak seharusnya... bermain-main dengan janji pertunanganmu. Cepat atau lambat, kabar ini akan sampai ke keluarga Lucia. Mama mohon, hormati keputusan yang sudah dibuat." Ia menatap Diego dengan tatapan memohon.

"Keputusan apa, Ma? Pertunanganku dengan Lucia hanyalah murni karena bisnis dan kepentingan kalian," ucap Diego, menatap Richard dan Rachel secara bergantian.

"Dan kau..." ia beralih melihat ke arah Amanda di sebelahnya. "Daripada repot-repot mengurusi urusanku, kenapa kau tidak menerima perjodohan dengan Edric Gomez saja, Amanda? Kau itu kerja pun tidak becus, bisanya hanya menghabiskan uang saja." Ucap Diego sambil berdiri dan meninggalkan area meja makan yang mulai menyebalkan. Amanda, yang belum sempat membalas, merasa dongkol luar biasa.

Amanda tersentak, wajahnya merah padam menahan amarah dan penghinaan di depan kedua orang tuanya. Ia mengepalkan tangan di bawah meja.

"Lihat, Pa, Ma! Selalu begitu! Dia selalu berpikir dia yang paling benar dan selalu meremehkanku!" desis Amanda tajam, matanya berkaca-kaca karena ucapan Diego yang begitu menyakitkan. "Dan soal Edric Gomez dia tahu aku tidak menyukai pria itu!"

Ia mendorong kursinya ke belakang dengan kasar, membuat suara berderit di lantai. "Aku sudah tidak nafsu sarapan!" serunya, lalu bergegas bangkit dan menyusul pergi dari ruang makan, meninggalkan Richard dan Rachel dalam keheningan yang tegang.

Richard menghela napas panjang, mengusap wajahnya dengan tangan seolah menahan beban yang berat. Ia menatap kepergian kedua anaknya dengan pandangan lelah.

"Selalu saja seperti ini," gumamnya pelan, lalu menoleh pada istrinya. "Kita harus segera mengatur tanggal pernikahan Diego. Ini satu-satunya cara untuk mengendalikan sikapnya dan memastikan dia fokus pada Torres International."

Rachel menggelengkan kepala, air mukanya menunjukkan kekecewaan yang mendalam. "Aku tidak tahu lagi, Richard. Mereka berdua... mereka sangat keras kepala. Kita mendidik mereka dengan baik, tapi mereka selalu saja bertengkar. Dan soal Diego... dia tidak pernah serius dengan pertunangan ini. Aku khawatir dia akan menghancurkan segalanya."

Richard mengambil cangkir kopinya lagi. "Kita tidak punya pilihan lain, Rachel. Bisnis adalah yang utama. Kau urus Lucia, aku akan mengurus Diego."

Di kantornya...

"Pablo, minta salah satu staf dari divisi marketing untuk menggantikan Julia hari ini, Samantha. Aku mau dia, Julia sedang menemani ibunya operasi pagi ini."

"Tapi, Tuan... Bukankah Nona Samantha sudah mengundurkan diri tiga bulan lalu karena melahirkan?"

"Ah iya, aku lupa... Terserah. Carikan pegawai kita yang kompeten dan cekatan, minimal setara Samantha atau Julia. Jangan yang hanya memikirkan penampilan dan genit... aku muak."

Pablo Reyes menundukkan kepala sejenak, mencatat perintah tersebut di tabletnya dengan cekatan

"Baik, Tuan Diego. Saya mengerti kriteria yang Tuan butuhkan. Saya akan segera meninjau daftar staf yang ada di divisi marketing dan departemen lain untuk mencari pengganti yang paling sesuai, yang memiliki kapabilitas seperti Julia dan Samantha. Saya akan pastikan pengganti tersebut bukan tipe yang hanya mementingkan penampilan. Akan saya laporkan nama yang terpilih secepatnya."

"Baiklah, segera siapkan pertemuan kita dengan Arianna Mendoza terkait proyek kawasan premium di Valencia. Pastikan kita bisa selesai sebelum pukul 3 sore."

"Siap, Tuan. Saya akan segera menghubungi Arianna Mendoza untuk mengonfirmasi ulang waktu pertemuan. Semua materi presentasi dan dokumen proyek akan saya siapkan di ruang rapat sebelum waktu yang Tuan tentukan. Saya akan pastikan tidak ada gangguan selama pertemuan berlangsung.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Simpanan Tuan Torres   145. Acara Amal

    Di Kamar utama di Girasol Estate. Cahaya hanya berasal dari lampu tidur redup di nakas.Larut malam. Diego baru saja selesai membantu Julia tidur nyenyak. Ia telah mengusap punggung Julia dan memijat kakinya hingga Julia, yang kelelahan karena kehamilan, terlelap dalam posisi yang paling nyaman.Diego memandang wajah tenang Julia yang terlelap, mengusap pelan rambut yang menjuntai di dahinya. Ia kemudian mencium pucuk kepala Julia dengan sangat lembut, memastikan sentuhannya tidak membangunkan kekasihnya.Saat ia bangkit dari sisi ranjang, ponsel yang berada di nakas sisi Julia menyala. Sebuah pop-up notifikasi pesan masuk. Pesan itu dari Pablo.Diego tahu apa artinya. Ia meraih ponselnya dengan hati-hati. Layar menampilkan pesan singkat dari Pablo Reyes."Misi selesai, Tuan. Video dan foto insiden di Ritz sudah tersebar ke media gosip utama. Kami menjamin besok pagi, ia akan sibuk mengurus citranya. Anda bisa tidur nyenyak."Die

  • Simpanan Tuan Torres   143. Alur Mundur (Yacht)

    Alur dua hari yang lalu...Malam hari di sebuah yacht mewah yang berlabuh di perairan Lisbon. Suara ombak pelan menjadi latar belakang.Setelah negosiasi merger yang panjang dengan Duarte Corp. berhasil disepakati, Diego, Pablo, Duarte, dan Beatrice berkumpul di dek yacht untuk perayaan dan sesi foto wajib. Beatrice, dengan gaun malamnya yang seductive, sengaja duduk dekat dengan Diego, memanfaatkan setiap kesempatan untuk berinteraksi.Duarte mengangkat gelas sampanye. "Untuk Diego Torres, mitra baru kami! Kesepakatan yang luar biasa, kawan."Diego membalas senyum profesional. "Untuk Duarte Corp. dan masa depan yang cerah. Salud."Saat momen bersulang, Beatrice dengan cepat mendekatkan diri ke Diego, senyumnya cerah, dan meminta salah satu asisten Duarte untuk mengambil foto."Diego, satu foto untuk merayakan kemitraan kita. Anggap saja ini marketing yang bagus untuk Lisbon dan Torres International!"Diego setuju tanpa

  • Simpanan Tuan Torres   142. Keretakan Kecil

    Di kamar mandi utama yang luas, uap hangat memenuhi ruangan. Diego bersandar pada dinding keramik, membiarkan Julia menggosok punggung lebarnya dengan pijatan lembut dan telaten. Aroma sabun bercampur dengan keintiman yang tercipta di antara mereka.Suara Julia terdengar santai, namun ada nada ingin tahu yang terselip. "Kemarin di Lisbon, kamu bertemu dengan putri Duarte Silva, Beatrice?"Diego memejamkan mata sejenak, menikmati sentuhan Julia. "Ya, aku bertemu dengannya..."Ada jeda singkat, Julia terus memijat, menunggu jawaban yang lebih rinci. Sebuah keraguan kecil mulai menyelinap di benaknya.Julia mengambil napas dalam, memberanikan diri. "Apa dia cantik menurutmu, Diego?"Diego membuka matanya, lalu sedikit menoleh, tatapannya mencari mata Julia yang kini terpantul samar di uap. Ia tersenyum tipis, memahami arah pertanyaan Julia, dan merasakan sedikit geli atas kecemburuan halus yang tersembunyi."Cantik? Ya, Beatrice mem

  • Simpanan Tuan Torres   149. Drama Laura Belum Berakhir

    Julia merasakan nada serius dalam suara Diego, membuat kekhawatiran yang sempat ia lupakan kembali muncul."Laura? Ada apa lagi dengannya?"Diego menarik Julia dengan lembut, mengajaknya duduk di sofa panjang. Ia memegang kedua tangan Julia."Apa kamu membuka blokir rekeningmu yang dibawa Laura?"Julia menjawab dengan nada bersalah dan sedikit defensif. "Iya. Aku membukanya. Dia berjanji tidak akan membeli sex toys lagi. Dia berjanak sudah bosan dan ingin fokus pada kue.""Tapi dia membeli perlengkapan vlogging untuk siaran langsung di Madeira. Kamu tahu apa artinya?" tanya Diego dengan suara lembut, tetapi sorot matanya tajam."A-apa? Siaran langsung? Tidak, tidak mungkin. Dia janji padaku tidak akan membuat masalah lagi! Itu bisa mengungkapkan lokasi vila! Aku tidak tahu dia membeli itu, Diego! Demi Tuhan, aku tidak tahu!"Itu bisa mengungkapkan lokasi vila! Aku tidak tahu dia membeli itu, "Diego! Demi Tuhan, aku tidak tahu!"Diego menghela napas, menenangkan Julia. "Tenang, Sayang.

  • Simpanan Tuan Torres   144. Acara Amal

    Grand Ballroom Hotel Ritz Madrid. Suasana mewah, dihiasi kristal dan bunga-bunga mahal. Acara lelang amal untuk konservasi seni sedang berlangsung, dihadiri oleh kalangan elite dan sosialita ternama Spanyol. Malam hari, beberapa jam setelah Diego mendarat. Georgina López tampak memukau, dikelilingi oleh dua teman sosialitanya, Isabella dan Lana. Ia mengenakan gaun sutra hitam couture dan berlian minimalis, memancarkan aura keanggunan yang dingin. Meskipun senyumnya tampak dipaksakan, ia berusaha keras menunjukkan bahwa berita kehamilan Julia sama sekali tidak memengaruhi status sosialnya. "Kau terlihat luar biasa, Georgina. Jangan pedulikan berita murahan itu. Siapa pun tahu statusmu jauh di atas sekretaris hamil itu." "Tentu saja. Semua orang tahu Diego Torres hanya sedang 'bermain' untuk memastikan garis keturunannya. Dia akan kembali padamu, Sayang." Hibur Lana Georgina hanya tersenyum tipis, tetapi matanya memancarkan api kemarahan. Ia tahu pujian itu hanyalah basa-basi.

  • Simpanan Tuan Torres   140. Kakak Ipar

    Malam itu, Julia berada di ruang tengah bersama ibunya, Carmen, bermaksud melakukan panggilan video. Diego duduk tidak jauh dari mereka, hanya menatap Julia dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran perhatian, kekhawatiran, dan mungkin sedikit kelelahan."Semoga dia mau mengangkatnya, Bu."Carmen mengangguk penuh harap.Setelah beberapa dering panggilan, Laura akhirnya menerima. Wajahnya terlihat kesal dan malas, ia sedang menelungkup di atas bantal."Mau apa lagi, Kak Julia? Telepon biasa saja, kenapa harus panggilan video? Kau ingin memamerkan diri sebagai keluarga bahagia karena sekarang kau sedang mengandung?""Hei, lihat siapa yang bersamaku sekarang. Angkat kepalamu.""Diego? Kau ingin memamerkan seolah kalian pasangan idaman? Sementara aku di sini kau paksa menjadi biarawati?""Dasar keras kepala!""Laura, sayang?" Suara lembut yang familier itu...Laura langsung mengangkat kepalanya mendeng

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status