Se connecterRS Syahreza Medical Center tampak lebih sibuk dari biasanya. Sebuah mobil sedan putih sederhana berhenti di area parkir khusus dokter.
Raisa turun dengan setelan blazer emerald yang dipadukan dengan celana kain hitam, memberikan kesan elegan namun penuh otoritas. Di kursi belakang, Arkan dan Aira sudah tidak sabar. "Ma! Ini rumah sakitnya? Wah, besar sekali! Lebih besar dari tempat Dokter Aris!" seru Aira sambil menempelkan wajahnya ke kaca mobil. "Ayo turun, tapi ingat janji kalian. Jangan lari-laki, tetap di dekat Mama sampai kita ke tempat penitipan," peringat Raisa sambil membukakan pintu untuk mereka. Arkan turun dengan gaya tenang, ia menggendong tas ranselnya sendiri. "Tenang saja, Ma. Arkan akan jaga Aira supaya tidak malu-maluin Mama." Raisa tersenyum tipis. Ia menggandeng kedua anaknya menuju lobi utama. Kehadiran mereka bertiga seketika menjadi pusat perhatian. Para perawat dan staf administrasi yang sedang bertugas mendadak berhenti beraktivitas. Bisik-bisik mulai menjalar secepat api. "Itu dr. Raisa, pengganti dr. Selly?" "Lihat anak laki-lakinya ... Ya Tuhan, kenapa mirip sekali dengan Pak Direktur?" Raisa mengabaikan tatapan itu. Namun, tepat di depan lift eksekutif, langkahnya terhenti. Pintu lift terbuka dan menampakkan sosok Nadira Almira yang sedang membawa tas belanja mewah. Nadira mematung. Matanya melotot menatap Arkan yang berdiri tepat di samping Raisa. Wajah Arkan adalah tamparan keras bagi Nadira, kemiripan itu terlalu identik untuk dianggap kebetulan. "Raisa?! Apa-apaan ini? Kenapa kamu membawa anak-anak ini ke sini?" Suara Nadira melengking, menarik perhatian orang-orang di lobi. Raisa melepaskan kacamata hitamnya, menatap Nadira dengan datar. "Saya mulai bekerja hari ini, Nadira. Dan sebagai staf, saya punya hak menggunakan fasilitas daycare rumah sakit." "Fasilitas daycare itu untuk karyawan, bukan untuk orang asing! Dan siapa anak-anak ini? Kamu menculik mereka untuk memeras Kavindra?" tuduh Nadira tidak masuk akal karena panik. Arkan melangkah maju satu langkah, menatap Nadira dengan berani. "Tante siapa? Kenapa teriak-teriak sama Mama saya? Tante tidak sopan." Nadira terkesiap. Suara bocah itu, intonasi bicaranya ... sangat mirip dengan Kavindra saat sedang marah. "Kamu ... anak kurang ajar!" Nadira mengangkat tangannya seolah hendak menunjuk wajah Arkan, tapi Raisa dengan cepat menangkap pergelangan tangan Nadira. Cengkeramannya kuat, membuat Nadira meringis. "Jangan pernah berani menyentuh atau membentak anak-anak saya, Nadira," desis Raisa dengan suara rendah yang sangat mengancam. "Ayo, Arkan, Aira. Kita masuk." Raisa membawa anak-anaknya masuk ke dalam lift yang baru saja terbuka, meninggalkan Nadira yang masih berdiri mematung di tengah lobi dengan jantung yang berdegup kencang. Sementara itu, Kavindra sedang berdiri di balik meja kerjanya, menatap monitor CCTV yang mengarah ke lobi. Ia baru saja melihat seluruh kejadian tadi. Tangannya terkepal kuat. Fokusnya pada sosok Arkan. "Siapa ayah mereka sebenarnya, Raisa?" Pintu ruangannya diketuk. Raisa masuk sendirian setelah menitipkan anak-anaknya di lantai bawah. "Anda memanggil saya, Pak Direktur?" tanya Raisa profesional, seolah kejadian di lobi tadi tidak pernah terjadi. Kavindra berbalik, matanya tajam menatap Raisa. "Anak laki-laki itu. Berapa umurnya?" "Empat tahun, jalan lima tahun. Kenapa? Apa itu bagian dari kompetensi medis saya yang harus Anda periksa?" sahut Raisa tenang. Kavindra berjalan mendekat, memangkas jarak di antara mereka. "Jangan bermain-main denganku, Raisa. Kamu bilang kamu sudah menikah lagi. Di mana suamimu? Kenapa dia tidak pernah terlihat? Dan kenapa anak itu ... kenapa dia punya sorot mata yang sama denganku?" Raisa mendongak, menatap langsung ke mata Kavindra. "Dunia ini luas, Kavindra. Banyak kebetulan yang terjadi. Mungkin Arkan mirip dengan Anda karena Tuhan ingin memperlihatkan seperti apa seharusnya seorang pria bersikap, berani melindungi ibunya, tidak seperti Anda yang hanya diam saat istrinya dihina." "Raisa!" bentak Kavindra. "Jika tidak ada urusan medis yang penting, saya harus segera ke poli anak. Pasien pertama saya sudah menunggu," ujar Raisa sambil berbalik. "Aku akan mencari tahu sendiri, Raisa," ancam Kavindra rendah. "Jika benar mereka adalah darah dagingku, kamu tidak akan bisa menyembunyikannya selamanya." Raisa berhenti di ambang pintu, tersenyum tipis tanpa menoleh. "Silakan mencoba, Kavindra. Tapi ingat satu hal ... kamu sendiri yang menandatangani surat cerai itu dan membiarkan investasi gagal ini pergi. Jangan menjilat ludahmu sendiri." Raisa meninggalkan ruangan itu. Kavindra tidak bisa konsentrasi. Bayangan wajah anak laki-laki itu, Arkan terus berputar di kepalanya. Ia melepaskan jas dokternya, menyampirkannya di kursi, lalu melangkah keluar ruangan menuju lantai bawah. Langkah kakinya membawa Kavindra ke area daycare khusus staf. Melalui dinding kaca transparan, ia melihat anak-anak sedang asyik dengan aktivitas mereka. Di sudut ruangan, ia melihat dua bocah yang dicarinya. Arkan sedang serius menyusun balok bangunan, sementara Aira duduk di sebelahnya sambil mewarnai gambar bunga dengan sangat teliti. Kavindra menarik napas dalam, lalu membuka pintu kayu kecil itu. Lonceng di atas pintu berdenting. "Halo," sapa Kavindra pelan, berusaha melembutkan suaranya yang biasanya dingin. Aira mendongak lebih dulu. Matanya yang bulat berkedip menatap pria jangkung di depannya. "Om Dokter yang tadi di depan lift ya?" Kavindra berjongkok di hadapan mereka, membuat jantungnya berdegup tidak keruan saat jaraknya hanya satu meter dari Arkan. "Iya. Nama Om, Kavindra. Nama kalian siapa?" "Aku Aira!" seru Aira ceria. "Kalau yang galak ini namanya Abang Arkan. Dia lagi bikin istana buat Mama." Arkan tidak langsung menjawab. Ia meletakkan balok terakhirnya dengan presisi, lalu menatap Kavindra dengan sorot mata yang menyelidik, sangat mirip dengan cara Kavindra menatap rekan bisnisnya. "Om ini bosnya Mama ya?" tanya Arkan ketus. Kavindra tersenyum tipis, merasa gemas sekaligus takjub. "Bisa dibilang begitu. Kenapa? Kamu tidak suka Om di sini?" Arkan mengangkat bahu. "Kata Mama, bos itu orang sibuk. Kalau Om sibuk, kenapa malah main ke sini?"Setelah menghancurkan kebohongan Nadira, kini ada satu benteng kepalsuan lagi yang harus ia runtuhkan, ibunya sendiri, Sofia. Wanita yang selama ini menjadi dalang utama di balik dalih "demi nama baik keluarga", yang rela mengorbankan kebahagiaan dan nurani anak kandungnya demi kekuasaan dan bursa saham.Kavindra melangkah masuk dengan langkah yang mantap. Satpam penjaga gerbang yang mengenali mantan tuan mudanya buru-buru membukakan pintu tanpa berani bertanya.Kavindra menerobos masuk ke dalam rumah. Suasana rumah hening. "Vindra?" Sofia menoleh, sedikit terkejut melihat putranya berdiri di ambang pintu. Namun dalam hitungan detik, raut wajahnya kembali mengeras, penuh keangkuhan seperti biasa. "Bagaimana? Sudah puas jadi orang miskin di gang kumuh itu? Mama sudah dengar kamu datang mengamuk di rumah Nadira. Kamu benar-benar mempermalukan nama Syahreza!"Kavindra berjalan mendekat. Setiap langkah kakinya menggema di ruangan yang luas itu. Wajahnya tidak lagi memancarkan rasa ta
Di sebuah kafe kecil yang tenang, Raisa duduk berhadapan dengan Kavindra. Di atas meja kayu, sebuah amplop putih tebal berstempel resmi dari laboratorium medis tergeletak.Raisa menatap mantan suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan, ada rasa iba, keprihatinan, dan kesedihan yang mendalam."Hasilnya sudah keluar, Mas," ucap Raisa pelan, menggeser amplop itu mendekat ke arah Kavindra.Tangan Kavindra bergetar saat menyentuh kertas tebal tersebut. Suasana di sekitar mereka seolah mendadak hening. Kavindra menarik napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang bergemuruh. Dengan hati-hati, ia merobek pinggiran amplop dan mengeluarkan beberapa lembar kertas laporan medis di dalamnya.Matanya langsung tertuju pada baris tabel paling bawah, pada bagian kesimpulan ilmiah yang tertulis dengan cetak tebal:Probabilitas Keayahan (Probability of Paternity): 0%Dengan ini disimpulkan bahwa Kavindra Syahreza DIBUKTIKAN BUKAN MERUPAKAN AYAH BIOLOGIS dari Sherly Syahreza.Kavind
Makan malam berlanjut dengan tawa yang lebih ceria. Arkan terus membicarakan rencananya untuk latihan basket di hari Sabtu bersama Abimanyu, sementara Aira sibuk meminta makanan penutup berupa mochi es krim. Bagi orang luar, mereka tampak seperti keluarga yang sempurna. Bagi Raisa, ini adalah titik balik, sebuah awal dari perjalanan panjang menuju ketenangan yang selama ini ia cari.Saat mereka keluar dari restoran, udara malam Jakarta terasa lebih bersahabat. Abimanyu menggandeng tangan Raisa, sementara Arkan dan Aira berjalan di depan dengan riang."Mas," panggil Raisa saat mereka sampai di parkiran.Abimanyu menoleh. "Ya?""Terima kasih untuk malam ini. Ini ... adalah malam yang tidak akan aku lupakan."Abimanyu tersenyum, senyum yang sangat menenangkan. "Iya Sa. Lagi pula masih ada banyak malam-malam indah yang menanti kita."Raisa mengangguk. Ia tahu ia membuat keputusan yang tepat. Urusan dengan Kavindra hanyalah satu bab terakhir yang harus ia tutup sebelum ia bisa mula
Raisa melangkah keluar rumah sakit. Di tangannya, selembar tanda terima berwarna putih terselip di dalam tasnya, sebuah dokumen yang menjadi saksi bisu atas permintaan aneh dari mantan suaminya."Satu minggu lagi, Mas Kavindra akan tahu jawabannya," gumam Raisa pelan pada dirinya sendiri.Ia teringat wajah Kavindra kemarin. Wajah yang biasanya angkuh, kini tampak memelas dan penuh ketidakpastian. Ada rasa iba yang menyeruak di dada Raisa. Meski luka yang pernah ia alami karena Kavindra sangat dalam, naluri medis dan sisi kemanusiaannya tidak bisa berbohong. Bagaimanapun, Kavindra adalah ayah dari anak-anaknya."Ibu Raisa?" Suara seorang pria dari meja resepsionis membuyarkan lamunannya. "Proses administrasi sudah selesai. Sampel telah kami terima dan akan segera masuk ke tahap analisis DNA. Hasilnya bisa diambil tepat tujuh hari dari sekarang."Raisa mengangguk mantap. "Terima kasih. Tolong pastikan kerahasiaannya tetap terjaga. Ini sangat sensitif.""Tentu, Bu. Kami menjamin pr
Suasana rumah Nadira masih tetap sama. Mewah dan dingin. Kavindra berdiri di depan pintu utama, menatap bayangannya sendiri pada permukaan pintu kayu yang dipoles mengilap. Ia merasa seperti orang asing di rumah yang dulunya ia tinggali selama bertahun-tahun.Seorang asisten rumah tangga membukanya. Nadira duduk di meja makan panjang, menyesap jus jeruk dengan gaun sutra hitam yang membalut tubuhnya. Sherly, putrinya, duduk di seberang meja dengan tablet di tangan, wajahnya tampak bosan."Vindra? Kamu datang juga?" Nadira meletakkan gelasnya. Matanya meneliti penampilan Kavindra dari ujung kaki ke ujung kepala. Kemeja murah, celana kain yang tidak disetrika sempurna, dan sepatu yang sudah terlihat lusuh. "Mau minta jatah bulanan lagi? Oh, aku lupa, kamu kan sudah melepaskan semua hakmu."Kavindra mengabaikan sindiran itu. Ia berjalan mendekat ke arah Sherly. "Hai, Sayang."Sherly mendongak. Matanya berbinar seketika. "Papa!" Gadis kecil itu melompat dari kursinya dan berlari meme
"Sama sekali tidak, Sa. Mereka pintar sekali, tadi sempat makan siang bareng dan tidur siang di dalam," jawab Kavindra, berusaha menjaga suaranya agar tetap terdengar tegap dan ikhlas. Ia lalu menoleh ke arah Abimanyu. "Terima kasih sudah mengantar Raisa ke sini, Dok."Abimanyu mengangguk sopan, tersenyum ramah tanpa ada nada merendahkan. "Sama-sama, Dokter Vindra. Kebetulan tadi saya sedang ada jadwal luang di rumah sakit, jadi sekalian menemani Raisa menjemput anak-anak.""Om Abi tadi bawa es krim cokelat loh di mobil buat Arkan sama Aira!" timpal Aira dengan polosnya, membuat Raisa buru-buru menyentuh pundak putrinya."Aira, tidak sopan bicara begitu di depan Papa," tegur Raisa halus.Kavindra hanya tersenyum getir, ia mengangguk pelan pada Aira. "Tidak apa-apa, Sayang. Bagus dong, dimakan ya es krimnya dari Om Abi."Melihat hari yang semakin sore, Raisa kemudian menunduk dan mengusap pipi Aira. "Ayo, anak-anak, kita pamit dulu sama Papa. Kita harus pulang sekarang.""Yah, c
Raisa berdiri di depan pintu kayu bertuliskan Ruang Direktur Utama RS Medika Utama. Ia menarik napas panjang, menyesuaikan letak map di pelukannya, lalu mengetuk pintu dengan mantap."Masuk." Suara bariton dr. Gunawan terdengar dari dalam.Pria paruh baya itu mendongak dan tersenyum lebar saat me
Pagi itu, suasana di RS Medika Utama terasa sedikit berbeda bagi Raisa. Setelah memastikan teman sejawatnya bersedia mengambil alih jadwal praktiknya, Raisa melangkah menuju fasilitas daycare rumah sakit tersebut."Ingat ya, Aira, Arkan, hari ini kalian main di sini dulu sama Suster Via. Mama ada
Kavindra mengernyitkan dahi. "Apa maksudmu?"Raisa tidak menjawab. Ia terus berjalan keluar melewati pintu belakang, menghindari kerumunan tamu. Ia memesan taksi online menuju sebuah kamar kos kecil berukuran 3x4 meter.Di dalam taksi, Raisa akhirnya menangis sesenggukan. Ia meraba perutnya yang
Raisa duduk di tepi tempat tidur, menggenggam test pack. Di luar, suara tawa sinis Ibu Sofia dan suara rendah Kavindra masih terdengar. Tak lama kamar terbuka. Kavindra masuk dengan wajah tanpa dosa. Ia mulai melonggarkan dasinya, bahkan tidak menatap Raisa yang matanya sembap."Berhenti menangi







