Inicio / Romansa / Sisa Cinta Mantan Suamiku / Bab 8. Tidak Tahu Alamat

Compartir

Bab 8. Tidak Tahu Alamat

Autor: Agniya14
last update Fecha de publicación: 2026-02-09 23:13:49

"Om cuma mau kenal sama anak hebat yang tadi berani membela Mamanya," jawab Kavindra jujur. Ia mengulurkan tangan, bermaksud mengacak rambut Arkan, tetapi Arkan menghindar dengan sopan.

​"Jangan, Om. Rambutku baru dirapikan Mama tadi pagi," tolak Arkan.

​Kavindra tertawa kecil, suara tawa yang jarang sekali terdengar di koridor rumah sakit ini. Ia kemudian beralih pada Aira yang sedang mewarnai. "Gambar bunganya bagus, Aira. Kamu suka warna merah?"

​"Iya! Merah seperti bunga di taman apartemen. Om tahu tidak? Mama bilang kalau kami pintar di tempat baru, nanti Papa akan pulang bawain es krim," celoteh Aira polos.

​Gerakan tangan Kavindra membeku. "Papa? Papa kalian ... sedang di mana?"

​Aira tampak berpikir sejenak. "Kata Mama, Papa lagi kerja jauh sekali. Di atas langit, jagain bintang. Jadi kami harus jadi anak baik."

​Kavindra merasa ulu hatinya seperti dipukul. Di atas langit? Apakah itu cara Raisa mengatakan bahwa ayah mereka sudah meninggal? Ataukah itu kiasan karena ayahnya memang tidak pernah ada?

​Tiba-tiba, Arkan menyela dengan suara yang lebih rendah. "Aira bohong, Om. Papa tidak di langit."

​Kavindra menoleh cepat pada Arkan. "Lalu Papa di mana, Arkan?"

​"Papa itu tidak punya alamat," jawab Arkan sambil menatap lurus ke mata Kavindra. "Mungkin dia tersesat, atau mungkin dia memang tidak mau pulang. Tapi tidak apa-apa, aku bisa jagain Mama dan Aira sendiri."

​Kata-kata bocah empat tahun itu terasa seperti sembilu yang menyayat hati Kavindra. Ada rasa sesak yang luar biasa hebat. Tanpa sadar, Kavindra menggenggam tangan kecil Arkan. "Arkan ... kalau seandainya Papa kamu ingin pulang, apa kamu mau memaafkan dia?"

​Arkan terdiam lama, lalu menarik tangannya pelan. "Tergantung. Dia pulangnya bawa es krim saja, atau bawa permintaan maaf buat Mama? Karena Mama sering menangis kalau malam sambil lihat foto lama."

​"Kavindra!"

​Suara tajam itu membuat Kavindra tersentak berdiri. Raisa berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat dan mata yang menyala karena amarah.

​"Sedang apa Anda di sini?" desis Raisa. Ia langsung menghampiri anak-anaknya dan menarik mereka ke belakang punggungnya, seolah Kavindra adalah predator yang berbahaya.

​"Aku hanya ingin berkenalan, Raisa. Tidak perlu berlebihan," bela Kavindra, meski ia merasa bersalah.

​"Jangan pernah mendekati anak-anakku tanpa izin dariku, Pak Direktur," ucap Raisa dengan penekanan pada setiap kata. "Keluar dari sini sekarang, atau saya akan menganggap ini sebagai pelecehan terhadap staf."

​Kavindra menatap Raisa, lalu beralih pada si kembar yang kini bersembunyi di balik kaki Raisa. Tanpa kata, ia berbalik dan keluar. Namun di dalam kepalanya, suara Arkan terus bergema, Papa tidak punya alamat.

Kavindra, yang dalam gejolak batinnya merasa terpaku di kursi kebesarannya. Ruangan direktur yang luas itu mendadak terasa sempit. Ia melonggarkan dasinya, tetapi rasa sesak di dadanya tak kunjung hilang.

​Pikirannya berputar seperti kaset rusak, hanya pada satu poros: Raisa dan anak-anaknya.

​"Siapa laki-laki itu?" gumamnya. "Siapa suaminya? Kenapa dia harus merahasiakannya seperti buronan? Benar-benar wanita aneh."

​Kavindra berdiri, melangkah menuju jendela besar yang menampilkan pemandangan kota Jakarta. Ia teringat sorot mata Raisa di daycare tadi. Amarahnya bukan sekadar kemarahan rekan kerja, tapi seperti singa betina yang melindungi anak-anaknya dari pemburu.

​"Kenapa dia semarah itu? Apa salahnya aku menemui Arkan dan Aira? Aku bosnya, aku pemilik tempat ini. Wajar jika aku menyapa anak-anak stafku," batinnya membela diri, meski hatinya tahu ada alasan lain yang lebih dalam.

​Ia memejamkan mata, membayangkan wajah Arkan. "Tapi kenapa anak itu ... kenapa mukanya bisa semirip itu denganku? Garis rahangnya, tatapan matanya yang menantang ... itu aku. Itu benar-benar aku saat kecil."

​Tiba-tiba, pintu ruangannya diketuk. Asisten pribadinya, Bimo, masuk membawa beberapa berkas audit. Bimo sudah bekerja dengan Kavindra sejak mereka masih sebelum Kavindra pergi Jerman, ia adalah satu-satunya orang yang berani bicara jujur pada sang Direktur.

​"Pak, ini laporan pengadaan alat medis bulan ini," ucap Bimo. Ia berhenti sejenak melihat wajah bosnya yang kusut. "Bapak sakit? Wajah Anda seperti orang yang habis melihat hantu."

​Kavindra berbalik, menatap Bimo tajam. "Bim, menurutmu ... mungkinkah dua orang yang tidak memiliki hubungan darah bisa memiliki wajah yang identik?"

​Bimo mengerutkan kening. "Secara medis, kemungkinannya satu banding sejuta, Pak. Kenapa? Apa Bapak menemukan kembaran di rumah sakit ini?"

​Kavindra terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. "Anak dr. Raisa. Namanya Arkan. Dia ... dia sangat mirip denganku, Bim. Bahkan sikap ketusnya pun mirip."

​Bimo meletakkan berkasnya, wajahnya berubah serius. "Maksud Bapak ... anak dari dr. Raisa yang dulu mantan istri Bapak?"

​"Iya. Tapi dia bilang dia sudah menikah lagi. Dia bilang suaminya ada di luar negeri, tapi Aira bilang ayahnya 'di langit'. Mana yang benar?" Kavindra mulai berjalan mondar-mandir. "Apa mungkin Raisa menikah lagi terus ditinggal suaminya? Kalau iya, kasihan banget dia. Berjuang sendirian membesarkan dua anak."

​"Atau mungkin," sela Bimo hati-hati, "tidak ada suami lain, Pak."

​Kavindra menghentikan langkahnya. "Apa maksudmu?"

​"Bapak ingat lima tahun lalu? Saat dr. Raisa pergi, Bapak tidak pernah benar-benar memastikan apakah dia pergi dalam keadaan ... bersih. Maksud saya, tanpa membawa apa pun dari Bapak."

​"Maksudmu dia hamil saat pergi? Tidak mungkin! Ibu bilang dia mandul. Hasil tes medis yang diberikan Ibu—"

​"Pak," potong Bimo berani. "Bapak tahu sendiri bagaimana Ibu Sofia jika sudah menginginkan sesuatu. Di dunia medis, data bisa diubah sekejap mata jika uang berbicara. Lagipula, jika memang itu anak orang lain, kenapa dr. Raisa harus se-defensif itu? Dia ketakutan, Pak. Dia takut Bapak mengenali Arkan."

​Kavindra tidak bisa tinggal diam. Ia harus mendapatkan jawaban. Ia keluar dari ruangannya, berjalan setengah berlari menuju poli anak. Ia tahu jam praktik Raisa hampir selesai.

​Di depan pintu poli, ia berpapasan dengan Raisa yang baru saja keluar, tampak lelah namun tetap terlihat cantik dalam balutan jas putihnya.

​"Raisa, kita perlu bicara," ucap Kavindra tanpa basa-basi.

​Raisa menghela napas, ia bahkan tidak mau menatap mata Kavindra. "Saya lelah, Pak Direktur. Jika ini soal pekerjaan, besok saja."

​"Ini bukan soal pekerjaan. Ini soal suamimu," tekan Kavindra.

​Raisa menghentikan langkahnya, tubuhnya menegang. Ia menoleh dengan tatapan dingin. "Suami saya? Apa urusannya dengan Anda?"

​"Siapa dia, Raisa? Di mana dia sekarang? Kenapa anak-anakmu tidak tahu pasti di mana ayahnya berada? Aira bilang ayahnya di langit, tapi Arkan bilang ayahnya tidak punya alamat. Kamu membohongi mereka?"

​Raisa tertawa hambar, sebuah tawa yang terdengar menyakitkan di telinga Kavindra. "Anda sedang menginterogasi saya? Atas dasar apa? Anda bukan lagi suami saya, Anda tidak punya hak tahu tentang kehidupan pribadi saya."

​"Aku punya hak karena anak itu mirip denganku!" Suara Kavindra meninggi, membuat beberapa perawat yang lewat menoleh.

​Raisa melangkah mendekat, memangkas jarak hingga mereka berdiri sangat dekat. "Mirip saja tidak membuktikan apa-apa, Kavindra. Banyak orang mirip di dunia ini. Dan soal suami saya ... dia adalah pria yang jauh lebih baik dari Anda. Dia pria yang tidak membiarkan istrinya dihina. Dia pria yang tidak butuh izin ibunya untuk mencintai keluarganya."

​"Lalu di mana dia?! Kenapa dia membiarkanmu bekerja sendirian di sini jika dia begitu hebat?" cecar Kavindra, dadanya naik turun karena emosi.

​Mata Raisa berkaca-kaca, namun ia menahannya sekuat tenaga. "Dia ... dia sedang berada di tempat yang tidak bisa Anda jangkau. Dan saya mohon, berhenti mengusik kami. Biarkan saya bekerja dengan tenang, atau saya akan mengundurkan diri detik ini juga."

​"Kamu tidak bisa pergi begitu saja, ada kontrak—"

​"Kontrak itu bisa saya bayar! Saya lebih baik kehilangan uang daripada harus berurusan dengan pria yang tidak punya pendirian seperti Anda!"

​Raisa berbalik pergi dengan langkah cepat, meninggalkan Kavindra yang terpaku.

​

​

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 34. Ambil Alih Rumah Sakit

    Setelah menghancurkan kebohongan Nadira, kini ada satu benteng kepalsuan lagi yang harus ia runtuhkan, ibunya sendiri, Sofia. Wanita yang selama ini menjadi dalang utama di balik dalih "demi nama baik keluarga", yang rela mengorbankan kebahagiaan dan nurani anak kandungnya demi kekuasaan dan bursa saham.​Kavindra melangkah masuk dengan langkah yang mantap. Satpam penjaga gerbang yang mengenali mantan tuan mudanya buru-buru membukakan pintu tanpa berani bertanya.​Kavindra menerobos masuk ke dalam rumah. Suasana rumah hening. ​"Vindra?" Sofia menoleh, sedikit terkejut melihat putranya berdiri di ambang pintu. Namun dalam hitungan detik, raut wajahnya kembali mengeras, penuh keangkuhan seperti biasa. "Bagaimana? Sudah puas jadi orang miskin di gang kumuh itu? Mama sudah dengar kamu datang mengamuk di rumah Nadira. Kamu benar-benar mempermalukan nama Syahreza!"​Kavindra berjalan mendekat. Setiap langkah kakinya menggema di ruangan yang luas itu. Wajahnya tidak lagi memancarkan rasa ta

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 33. Hasil Tes DNA

    Di sebuah kafe kecil yang tenang, Raisa duduk berhadapan dengan Kavindra. Di atas meja kayu, sebuah amplop putih tebal berstempel resmi dari laboratorium medis tergeletak.​Raisa menatap mantan suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan, ada rasa iba, keprihatinan, dan kesedihan yang mendalam.​"Hasilnya sudah keluar, Mas," ucap Raisa pelan, menggeser amplop itu mendekat ke arah Kavindra.​Tangan Kavindra bergetar saat menyentuh kertas tebal tersebut. Suasana di sekitar mereka seolah mendadak hening. Kavindra menarik napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang bergemuruh. Dengan hati-hati, ia merobek pinggiran amplop dan mengeluarkan beberapa lembar kertas laporan medis di dalamnya.​Matanya langsung tertuju pada baris tabel paling bawah, pada bagian kesimpulan ilmiah yang tertulis dengan cetak tebal:​Probabilitas Keayahan (Probability of Paternity): 0%Dengan ini disimpulkan bahwa Kavindra Syahreza DIBUKTIKAN BUKAN MERUPAKAN AYAH BIOLOGIS dari Sherly Syahreza.​Kavind

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 32. Mimpi Baru

    ​Makan malam berlanjut dengan tawa yang lebih ceria. Arkan terus membicarakan rencananya untuk latihan basket di hari Sabtu bersama Abimanyu, sementara Aira sibuk meminta makanan penutup berupa mochi es krim. Bagi orang luar, mereka tampak seperti keluarga yang sempurna. Bagi Raisa, ini adalah titik balik, sebuah awal dari perjalanan panjang menuju ketenangan yang selama ini ia cari.​Saat mereka keluar dari restoran, udara malam Jakarta terasa lebih bersahabat. Abimanyu menggandeng tangan Raisa, sementara Arkan dan Aira berjalan di depan dengan riang.​"Mas," panggil Raisa saat mereka sampai di parkiran.​Abimanyu menoleh. "Ya?"​"Terima kasih untuk malam ini. Ini ... adalah malam yang tidak akan aku lupakan."​Abimanyu tersenyum, senyum yang sangat menenangkan. "Iya Sa. Lagi pula masih ada banyak malam-malam indah yang menanti kita."​Raisa mengangguk. Ia tahu ia membuat keputusan yang tepat. Urusan dengan Kavindra hanyalah satu bab terakhir yang harus ia tutup sebelum ia bisa mula

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 31. Lamaran

    Raisa melangkah keluar rumah sakit. Di tangannya, selembar tanda terima berwarna putih terselip di dalam tasnya, sebuah dokumen yang menjadi saksi bisu atas permintaan aneh dari mantan suaminya.​"Satu minggu lagi, Mas Kavindra akan tahu jawabannya," gumam Raisa pelan pada dirinya sendiri.​Ia teringat wajah Kavindra kemarin. Wajah yang biasanya angkuh, kini tampak memelas dan penuh ketidakpastian. Ada rasa iba yang menyeruak di dada Raisa. Meski luka yang pernah ia alami karena Kavindra sangat dalam, naluri medis dan sisi kemanusiaannya tidak bisa berbohong. Bagaimanapun, Kavindra adalah ayah dari anak-anaknya.​"Ibu Raisa?" Suara seorang pria dari meja resepsionis membuyarkan lamunannya. "Proses administrasi sudah selesai. Sampel telah kami terima dan akan segera masuk ke tahap analisis DNA. Hasilnya bisa diambil tepat tujuh hari dari sekarang."​Raisa mengangguk mantap. "Terima kasih. Tolong pastikan kerahasiaannya tetap terjaga. Ini sangat sensitif."​"Tentu, Bu. Kami menjamin pr

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 30. Tes DNA

    Suasana rumah Nadira masih tetap sama. Mewah dan dingin. Kavindra berdiri di depan pintu utama, menatap bayangannya sendiri pada permukaan pintu kayu yang dipoles mengilap. Ia merasa seperti orang asing di rumah yang dulunya ia tinggali selama bertahun-tahun.​Seorang asisten rumah tangga membukanya. Nadira duduk di meja makan panjang, menyesap jus jeruk dengan gaun sutra hitam yang membalut tubuhnya. Sherly, putrinya, duduk di seberang meja dengan tablet di tangan, wajahnya tampak bosan.​"Vindra? Kamu datang juga?" Nadira meletakkan gelasnya. Matanya meneliti penampilan Kavindra dari ujung kaki ke ujung kepala. Kemeja murah, celana kain yang tidak disetrika sempurna, dan sepatu yang sudah terlihat lusuh. "Mau minta jatah bulanan lagi? Oh, aku lupa, kamu kan sudah melepaskan semua hakmu."​Kavindra mengabaikan sindiran itu. Ia berjalan mendekat ke arah Sherly. "Hai, Sayang."​Sherly mendongak. Matanya berbinar seketika. "Papa!" Gadis kecil itu melompat dari kursinya dan berlari meme

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 29

    ​"Sama sekali tidak, Sa. Mereka pintar sekali, tadi sempat makan siang bareng dan tidur siang di dalam," jawab Kavindra, berusaha menjaga suaranya agar tetap terdengar tegap dan ikhlas. Ia lalu menoleh ke arah Abimanyu. "Terima kasih sudah mengantar Raisa ke sini, Dok."​Abimanyu mengangguk sopan, tersenyum ramah tanpa ada nada merendahkan. "Sama-sama, Dokter Vindra. Kebetulan tadi saya sedang ada jadwal luang di rumah sakit, jadi sekalian menemani Raisa menjemput anak-anak."​"Om Abi tadi bawa es krim cokelat loh di mobil buat Arkan sama Aira!" timpal Aira dengan polosnya, membuat Raisa buru-buru menyentuh pundak putrinya.​"Aira, tidak sopan bicara begitu di depan Papa," tegur Raisa halus.​Kavindra hanya tersenyum getir, ia mengangguk pelan pada Aira. "Tidak apa-apa, Sayang. Bagus dong, dimakan ya es krimnya dari Om Abi."​Melihat hari yang semakin sore, Raisa kemudian menunduk dan mengusap pipi Aira. "Ayo, anak-anak, kita pamit dulu sama Papa. Kita harus pulang sekarang."​"Yah, c

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 5. Siapa Mereka?

    Raisa berdiri di depan pintu kayu bertuliskan Ruang Direktur Utama RS Medika Utama. Ia menarik napas panjang, menyesuaikan letak map di pelukannya, lalu mengetuk pintu dengan mantap.​"Masuk." Suara bariton dr. Gunawan terdengar dari dalam.​Pria paruh baya itu mendongak dan tersenyum lebar saat me

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 4. Satu Minggu

    Pagi itu, suasana di RS Medika Utama terasa sedikit berbeda bagi Raisa. Setelah memastikan teman sejawatnya bersedia mengambil alih jadwal praktiknya, Raisa melangkah menuju fasilitas daycare rumah sakit tersebut.​"Ingat ya, Aira, Arkan, hari ini kalian main di sini dulu sama Suster Via. Mama ada

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 3. Arkan dah Aira

    Kavindra mengernyitkan dahi. "Apa maksudmu?"​Raisa tidak menjawab. Ia terus berjalan keluar melewati pintu belakang, menghindari kerumunan tamu. Ia memesan taksi online menuju sebuah kamar kos kecil berukuran 3x4 meter.​Di dalam taksi, Raisa akhirnya menangis sesenggukan. Ia meraba perutnya yang

  • Sisa Cinta Mantan Suamiku    Bab 2. Jangan Cari Aku Lagi

    Raisa duduk di tepi tempat tidur, menggenggam test pack. Di luar, suara tawa sinis Ibu Sofia dan suara rendah Kavindra masih terdengar. ​Tak lama kamar terbuka. Kavindra masuk dengan wajah tanpa dosa. Ia mulai melonggarkan dasinya, bahkan tidak menatap Raisa yang matanya sembap.​"Berhenti menangi

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status