LOGIN"Itu tidak ada hubungannya dengan pekerjaan, Pak Direktur," sahut Raisa dingin.
Kavindra melangkah satu langkah lebih dekat, merendahkan suaranya agar tidak didengar tamu lain. "Jangan bercanda, Raisa. Lihat anak laki-laki ini. Aku seperti melihat cermin masa kecilku. Bagaimana mungkin anak dari pria lain bisa semirip ini denganku?" Raisa tetap tenang, meski di dalam hatinya ia gemetar hebat. "Banyak orang di dunia ini yang memiliki kemiripan wajah, Pak Kavindra. Mungkin itu hanya kebetulan, atau mungkin Tuhan sedang ingin menegurmu lewat wajah anak saya." "Mama, ayo pulang. Arkan udah bosan," celetuk Arkan sambil menarik ujung blazer Raisa. Suaranya yang tegas membuat Kavindra semakin terpaku. "Kita pulang sekarang, Sayang," ucap Raisa. Ia menatap Kavindra untuk terakhir kalinya malam itu. "Permisi, Pak Direktur. Tugas saya di sini hanya hadir sebagai perkenalan. Saya harap setelah ini kita hanya bicara soal medis di rumah sakit." Raisa berbalik dan berjalan menjauh, meninggalkan Kavindra yang masih berdiri terpaku di tengah ballroom. Kavindra menatap punggung Raisa dan si kembar dengan pikiran yang berkecamuk. Dia menikah lagi? Mereka anak pria lain? batinnya. Ia tidak bodoh. Instingnya sebagai seorang pria dan seorang dokter mengatakan ada sesuatu yang salah. "Tidak mungkin," gumam Kavindra pelan. "Ini bukan kebetulan." * Hari itu adalah hari terakhir Raka bekerja di RS Medika Utama. Raisa datang lebih pagi dari biasanya, untuk memastikan bahwa setiap anak yang selama ini ia tangani berpindah tangan ke dokter yang tepat. Setelah menyelesaikan serah terima terakhir dengan dr. Aris, penggantinya, Raisa melangkah menuju ruang Direktur Utama untuk terakhir kalinya. Raisa mengetuk pintu ruangan dr. Gunawan. Di dalamnya, pria paruh baya itu sedang menatap keluar jendela, tampak lesu karena hari ini ia benar-benar akan kehilangan salah satu dokter terbaiknya. "Masuk, Raisa," ucap dr. Gunawan bahkan sebelum Raisa bersuara. Beliau berbalik dan tersenyum tipis. "Sudah selesai semua tugasmu?" Raisa mengangguk, meletakkan map besar berisi laporan transisi di atas meja. "Sudah, Pak. Semua rekam medis, jadwal kontrol pasien kronis, sampai catatan kecil tentang kebiasaan makan pasien di bangsal anak sudah saya serahkan ke dr. Aris. Beliau dokter yang sangat kompeten, saya yakin pasien-pasien akan aman bersamanya." dr. Gunawan menghela napas panjang, menatap map itu seolah-olah itu adalah harta karun yang hilang. "Aris memang hebat, tapi dia bukan kamu, Raisa. Kamu punya cara bicara yang membuat orang tua pasien tenang seolah-olah badai sudah lewat. Itu yang sulit digantikan." "Dokter terlalu memuji saya," sahut Raisa rendah hati. "Tidak, aku jujur." dr. Gunawan berjalan mendekat dan menyalami Raisa dengan erat. "Empat tahun lalu, kamu datang ke sini dengan semangat yang luar biasa. Saya melihatmu tumbuh dari seorang dokter muda yang rapuh menjadi ibu yang tangguh bagi Arkan dan Aira, sekaligus pahlawan bagi anak-anak di rumah sakit ini. Berat bagi saya melepasmu ke RS Syahreza." "Terima kasih sudah memberikan saya kesempatan saat untuk saya, Dok." Suara Raisa sedikit serak. "Medika Utama akan selalu menjadi rumah bagi saya." "Ingat pesanku, Raisa. RS Syahreza Medical Center itu tempat yang sangat politis. Fokuslah pada pasienmu, dan jangan biarkan siapa pun di sana menginjak harga dirimu lagi." "Saya akan selalu ingat itu, Dok." Saat Raisa keluar dari ruangan Direktur dan menuju lobi, ia terkejut melihat barisan perawat, staf administrasi, hingga beberapa orang tua pasien yang sudah menunggunya. Suster Via maju sambil membawa buket bunga besar dan sebuah boneka untuk si kembar. "Dokter Raisa, kami semua pasti bakal kangen banget. Siapa lagi yang mau dengerin curhatan perawat kalau lagi jaga malam?" Suster Via menyeka air matanya. "Jangan menangis, Sus. Kita masih bisa bertemu, jarak RS Syahreza tidak sampai satu jam dari sini," hibur Raisa, meski matanya sendiri sudah berkaca-kaca. Tiba-tiba, seorang ibu berlari mendekat dan memegang tangan Raisa. "Dokter Raisa, terima kasih ya. Karena Dokter, anak saya bisa sekolah lagi setelah operasi jantung itu. Kami nggak tahu harus balas apa." Raisa memeluk ibu itu. "Melihat anak Ibu sehat adalah bayaran terbesar bagi saya. Tolong lanjutkan pengobatannya dengan dr. Aris ya, beliau sangat baik." Setelah sesi pamitan yang panjang, Raisa berjalan menuju mobilnya. Arkan dan Aira sudah menunggu di kursi belakang, mereka baru saja dijemput oleh pengasuh sementara dari penitipan. "Ma, kenapa suster-suster nangis?" tanya Aira polos saat Raisa masuk ke mobil. "Karena mereka sayang sama Mama, Sayang," jawab Raisa sambil menghapus air matanyam "Kita nggak akan ke sini lagi?" tanya Arkan dengan tatapan dewasanya. "Kita akan pindah ke tempat baru, Nak. Tempat di mana Mama harus berjuang lebih keras lagi." Raisa menggenggam kemudi dengan erat. Saat mobilnya perlahan keluar dari gerbang RS Medika Utama, Raisa menatap gedung itu untuk terakhir kalinya melalui spion. Esok hari, ia bukan lagi dokter di zona nyaman. Esok, ia akan menginjakkan kaki di RS Syahreza sebagai seorang pejuang. "Besok adalah hari yang baru," bisik Raisa pada dirinya sendiri. "Kavindra, kamu akan melihat bahwa Raisa yang kamu buang sudah mati. Yang ada sekarang adalah Raisa yang akan membuatmu menyesal seumur hidup." Malam itu, suasana apartemen Raisa terasa lebih hangat. Di atas karpet bulu di ruang tengah, Arkan dan Aira sedang sibuk memasukkan mainan ke dalam tas ransel kecil mereka masing-masing. Raisa memperhatikan mereka dari meja setrika sambil melipat jas putih dokternya yang baru saja disetrika rapi. Ada logo Syahreza Medical Center di saku kiri jas itu, logo yang dulu membuatnya gemetar, tapi kini ia tatap dengan keberanian baru. "Ma! Besok rumah sakit barunya ada taman bermain yang lebih besar tidak?" tanya Aira sambil berusaha menjejalkan boneka kelinci besarnya ke tas. Raisa tersenyum, menghampiri mereka dan duduk di lantai. "Katanya sih ada, Ra. Ada kolam ikan hiasnya juga di dekat lobi." "Wah! Berarti ada ikan koi?" mata Aira berbinar. "Aira mau kasih makan ikan kalau Mama lagi periksa pasien!" "Ikan koinya tidak boleh dikasih makan sembarangan," sahut Arkan dengan nada sok dewasa. Ia sedang sibuk memeriksa baterai pada stetoskop mainannya. "Ma, di sana dokternya banyak yang laki-laki ya?" Raisa tertegun sejenak mendengarkan pertanyaan Arshaka. "Iya, Nak. Banyak dokter hebat di sana. Kenapa?" Arshaka menatap Mamanya dengan serius, sorot matanya yang tajam sangat mengingatkan Raisa pada Kavindra. "Nggak apa-apa. Arkan cuma mau jagain Mama. Kalau ada dokter laki-laki yang jahat sama Mama, Arkan yang akan lawan." Hati Raisa berdenyut. Ia menarik Arkan ke dalam pelukannya. "Terima kasih, jagoan Mama. Tapi di sana Mama bekerja, jadi semuanya harus berteman baik." "Tapi Ma." Aira menyela sambil memeluk leher Raisa dari belakang. "Mama senang kan pindah ke sana? Kata Suster Maya kemarin, rumah sakit itu punya orang hebat. Apa orang hebat itu baik sama Mama?" Raisa menarik napas panjang, mencari kata-kata yang tepat. "Orang hebat tidak selalu baik, Aira. Tapi Mama ke sana bukan untuk mencari teman, tapi untuk menyembuhkan anak-anak yang sakit. Sama seperti yang Mama lakukan di Medika Utama." "Arkan mau pakai baju yang ada kerahnya besok," cetus Arkan tiba-tiba. "Biar keren seperti dokter-dokter di sana." "Cieee, Arkan mau saingan sama dokter di sana ya?" goda Raisa sambil mencubit gemas pipi putranya. "Biar Mama bangga punya Arkan!" jawabnya mantap. Raisa memandangi kedua anaknya bergantian. Keberanian dan keceriaan mereka adalah bahan bakarnya. Ia tahu, besok di RS Syahreza, ia mungkin akan bertemu Kavindra bahkan Ibu Sofia. Namun, melihat betapa antusiasnya si kembar, ketakutan Raisa perlahan luruh. "Ya sudah, sekarang masuk ke kamar. Ayo sikat gigi dan tidur. Kalau bangun kesiangan, kita tidak jadi lihat kolam ikan koinya," perintah Raisa."Itu tidak ada hubungannya dengan pekerjaan, Pak Direktur," sahut Raisa dingin.Kavindra melangkah satu langkah lebih dekat, merendahkan suaranya agar tidak didengar tamu lain. "Jangan bercanda, Raisa. Lihat anak laki-laki ini. Aku seperti melihat cermin masa kecilku. Bagaimana mungkin anak dari pria lain bisa semirip ini denganku?"Raisa tetap tenang, meski di dalam hatinya ia gemetar hebat. "Banyak orang di dunia ini yang memiliki kemiripan wajah, Pak Kavindra. Mungkin itu hanya kebetulan, atau mungkin Tuhan sedang ingin menegurmu lewat wajah anak saya.""Mama, ayo pulang. Arkan udah bosan," celetuk Arkan sambil menarik ujung blazer Raisa. Suaranya yang tegas membuat Kavindra semakin terpaku."Kita pulang sekarang, Sayang," ucap Raisa. Ia menatap Kavindra untuk terakhir kalinya malam itu. "Permisi, Pak Direktur. Tugas saya di sini hanya hadir sebagai perkenalan. Saya harap setelah ini kita hanya bicara soal medis di rumah sakit."Raisa berbalik dan berjalan menjauh, meninggalka
Raisa berdiri di depan pintu kayu bertuliskan Ruang Direktur Utama RS Medika Utama. Ia menarik napas panjang, menyesuaikan letak map di pelukannya, lalu mengetuk pintu dengan mantap."Masuk." Suara bariton dr. Gunawan terdengar dari dalam.Pria paruh baya itu mendongak dan tersenyum lebar saat melihat Raisa. "Ah, dr. Raisa. Silakan duduk. Ada apa? Mau membahas pengajuan alat ventilator baru untuk ruang NICU?"Raisa duduk dengan tenang, tetapi sorot matanya menunjukkan ketetapan hati yang sulit digoyahkan. Ia meletakkan map putih itu di atas meja kerja sang Direktur. "Bukan, Dok. Saya ke sini untuk menyerahkan ini."dr. Gunawan mengambil map tersebut, membukanya, dan seketika senyumnya memudar. Matanya membelalak menatap baris demi baris kata di surat itu. "Pengunduran diri? Dokter Raisa, kamu bercanda, kan?""Saya serius, Dok. Saya mengajukan resign per hari ini, dengan masa transisi satu minggu untuk serah terima pasien," jawab Raisa lembut. dr. Gunawan menyandarkan punggungny
Pagi itu, suasana di RS Medika Utama terasa sedikit berbeda bagi Raisa. Setelah memastikan teman sejawatnya bersedia mengambil alih jadwal praktiknya, Raisa melangkah menuju fasilitas daycare rumah sakit tersebut."Ingat ya, Aira, Arkan, hari ini kalian main di sini dulu sama Suster Via. Mama ada urusan sebentar di tempat lain," ucap Raisa sambil berjongkok, merapikan kerah baju Arkan dan menyisipkan rambut Arunika Aira ke belakang telinga."Mama mau ke rumah sakit yang besar itu ya? Yang ada es krim pelanginya?" tanya Arunika polos.Raisa tersenyum tipis, meski hatinya getir. "Mama ada pertemuan kerja, Sayang. Nanti kalau sudah selesai, Mama langsung jemput. Jangan nakal, ya?""Siap, Mama!" seru Arkan sambil memberi hormat ala tentara, membuat Raisa tertawa kecil di tengah kegugupannya.Setelah berpamitan dengan teman dokternya yang menggantikan jadwalnya, Raisa menarik napas panjang. Ia mengganti jas putihnya dengan blazer formal hitamnya. Dengan langkah mantap, ia mengemudika
Kavindra mengernyitkan dahi. "Apa maksudmu?"Raisa tidak menjawab. Ia terus berjalan keluar melewati pintu belakang, menghindari kerumunan tamu. Ia memesan taksi online menuju sebuah kamar kos kecil berukuran 3x4 meter.Di dalam taksi, Raisa akhirnya menangis sesenggukan. Ia meraba perutnya yang masih datar, di mana ada dua nyawa di dalamnya. "Maafkan Mama, Sayang," isaknya. "Papa kalian sedang merayakan kebahagiaannya dengan wanita lain di sana. Mulai hari ini, hanya ada kita. Mama akan jadi dokter hebat untuk kalian. Mama janji."Lima tahun kemudian. "Ma! Arkan makan sayurnya pakai tangan!" teriak Aira Maharani, bocah perempuan sambil menunjuk kembarannya.Arkan Pradipta hanya menyengir. "Habisnya wortelnya licin, Ma. Susah pakai sendok."Raisa tertawa kecil sambil mengancingkan kemeja kerjanya. "Ya sudah, habis ini cuci tangan yang bersih. Mama ada jadwal operasi kecil pagi ini di Medika Utama."Raisa bekerja sebagai Spesialis Anak di RS Medika Utama, sebuah rumah sakit swa
Raisa duduk di tepi tempat tidur, menggenggam test pack. Di luar, suara tawa sinis Ibu Sofia dan suara rendah Kavindra masih terdengar. Tak lama kamar terbuka. Kavindra masuk dengan wajah tanpa dosa. Ia mulai melonggarkan dasinya, bahkan tidak menatap Raisa yang matanya sembap."Berhenti menangis, Raisa. Kamu tuh berlebihan," ucap Kavindra datar. "Ibu lagi emosi. Kamu tahu sendiri bagaimana beliau sangat menginginkan cucu."Raisa mendongak, menatap punggung suaminya dengan tatapan dingin. "Berlebihan? Dia menyebutku mandul, Vindra. Dia menyebutku investasi gagal di depan matamu. Dan kamu cuma diam sambil main ponsel?"Kavindra berbalik, menatap Raisa dengan kening berkerut. "Lalu aku harus apa? Membentak ibuku sendiri demi kamu? Aku sudah bilang, kalau kamu merasa tersinggung, buktikan dengan kehamilanmu. Tapi kenyataannya? Kamu lebih sering tidur di bangsal rumah sakit daripada tidur denganku di kamar ini."Raisa berdiri, memasukkan test pack itu jauh ke dalam laci meja riasnya
"Kapan kamu mau ngasih Ibu cucu, Raisa? Tiga tahun kalian menikah dan rumah ini masih sepi kayak kuburan. Nggak ada suara tangis bayi di rumah ini."Wajah Raisa memucat. "Bu, Raisa sedang berjuang menyelesaikan residen spesialis anak. Jadwal jaga Raisa sangat padat, dan kami juga sedang berusaha—""Berusaha? Tiga tahun, Raisa. Jangan-jangan memang kamu yang mandul?" potong Sofia tanpa belas kasihan. "Keluarga Syahreza itu butuh pewaris untuk mewarisi semua harta keluarga kami. Kavindra adalah putra tunggal. Kalau kamu tidak bisa memberikan anak, apa gunanya kamu di keluarga ini?""Ibu, tolong. Jangan mulai lagi." Kavindra akhirnya bersuara, tetapi nadanya datar. Tidak membela Raisa. "Jangan mulai lagi? Vindra, lihat istrimu! Dia terlalu sibuk mengurusi anak orang lain di rumah sakit sampai lupa dengan dirinya sendiri!" Sofia menggebrak meja ringan. "Ibu sudah konsultasi dengan dr. Hanum, spesialis kesuburan. Dia bilang di usia pernikahan kalian sekarang, kalau belum ada tanda-tan







