แชร์

53

ผู้เขียน: Dinara Sofia
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-23 21:00:02

Benar saja dugaan Wirawan, panel sirkuit server mengepulkan asap tipis. Beberapa perangkat yang menggunakan server tersebut menjadi kacau dan berkedip-kedip

“Sialan, bocah sialan itu ajak perang. Apa dia gak tau siapa kita? Bodoh!” seru Wirawan.

“Wah, ada pesta ternyata,” celetuk Hendra yang baru saja tiba.

“Kau? Apa yang kau lakukan malam begini disini?’ tanya Wirawan.

“Tentu saja aku mendengar informasi menarik. Aku dengar usaha kalian gagal, bagaimana jika aku ikut andil?” tanya Hendra.

Lisa
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Sistem Cha-boel 69: Pemuas Wanita Cantik   146 T A M A T

    “Ibu, kami minta restu Ibu,” kata Rian sambil berlutut, diikuti oleh keempat istrinya yang melakukan hal yang sama. “Rian tahu ini tidak biasa. Tapi Rian sudah dewasa, dan pilihan ini sudah Rian pikirkan matang-matang. Mereka semua baik, Bu. Mereka mencintai Rian dan saling menyayangi seperti saudara,” imbuh Rian.Sumarni terdiam beberapa saat. Kemudian air matanya jatuh, tetapi bukan karena kesedihan. Dia menatap satu per satu para menantunya yang cantik-cantik di hadapannya.“Bangun, Nak. Bangun kalian semua,” ucap Sumarni dengan suara bergetar, “Ibu ... ibu hanya ingin kamu bahagia, Rian. Dan melihat kalian semua datang bersama, dengan wajah yang teduh ... Ibu yakin, ini jalan yang Tuhan berikan untuk kalian,” sambungnya.Ria, kakak ipar Rian, ikut menangis haru di samping ibu mertuanya.“Rian ... gak nyangka kamu bisa jadi begini. Andai. Bapak masih ada, beliau asti senang liat kamu sukses,” kata Ria tulus.“Kak, Rian ada sesuatu yang ingin Rian beri untuk Kakak,”cakap Rian.Rian

  • Sistem Cha-boel 69: Pemuas Wanita Cantik   145

    “Gak, Coach. Kak Bram ga punya banyak waktu. Tolong bawa dia ke rumah sakit, biar aku yang selesaikan ini sendiri,” lontar Rian.Lelaki itu menatap Rian dengan ragu, tetapi melihat tekad di mata pemuda itu, dia akhirnya setuju. “Aku yakin kau bisa menang. Aku berangkat dulu,” pamit lelaki itu sambil membawa Bram.“Terima kasih, aku gak bakal kalah,” jawab Rian sambil mengibaskan jaketnya.Lelaki itu membopong tubuh Bram yang hampir tidak sadarkan diri menuju mobilnya. Suara ban berdecit meninggalkan area bongkar muat, meninggalkan Rian berdua dengan pria jaket kulit hitam yang kini menyeringai sinis.“Kau bodoh melepaskan bantuan satu-satunya, Rian. Kau pikir kau bisa mengalahkanku sendirian?” ejek pria itu sambil memutar pergelangan tangannya.Rian tidak menjawab, dia sedang berpikir apakah akan meminta bantuan sistemnya atau tidak.‘Bul, aktifkan analisis semua pola gerakannya,’ pikir Rian.Perintah diterima, Host. Mode analisis aktif.Peningkatan refleks dan kekuatan fisik sebesar

  • Sistem Cha-boel 69: Pemuas Wanita Cantik   144

    Rian turun dari ranjang, menuju kamar mandi membasuh Jaka dan mengenakan pakaian dengan tergesa dan membuka pintu.“Vania? Ada apa?” tanya Rian heran.“Kau ini, lama sekali. Kakak hilang!” seru Vania panik.“Apa? Kapan?” tanya Rian sambil membimbing Vania masuk.“Sejak berangkat sampai sekarang belum pulang. HP juga ga aktif,” jawab Vania setengah menangis.“Loh, tadi bareng kok pergi dari pelabuhan pas musuh udah kabur. Nih minum dulu.” Risa menyodorkan segelas air putih yang tadinya untuk suaminya.Rian segera menuju meja kecil tempat laptopnya berada. Dia melacak keberadaan Bram, juga meminta sistem untuk memeriksa seluruh jaringan CCTV kota.Rian terkejut melihat posisi terakhir Bram, lelaki itu berada di sebuah supermarket penyedia daging segar terkemuka di kota itu. “Risa, tolong kamu telepon mentor trainer bela diri di tempat kebugaran Global Tech. Dia pernah janji bantu aku, bilang temui aku di Rakasa Market. Bram terakhir ada di sana!” perintah Rian serius.“Oke. Vania … kam

  • Sistem Cha-boel 69: Pemuas Wanita Cantik   143

    “Sssh, enak …,” gumam Rian.Rian mengatur napas yang kini mulai memburu, lalu mempercepat ritme naik turun pinggul yang sesekali bergoyang tersebut. Beberapa gerakan kemudian, Risa memekik kecil, tubuhnya bergetar hebat saat orgasme pertamanya datang. “Aaaah, Risaaa …,” desah Rian.Rian tidak kuasa menahan Jaka yang sudah meronta penuh kenikmatan di dalam kawah Risa, lalu memekikkan namanya dalam napas berat saat orgasmenya menyusul. Tubuh mereka berdua menegang, lalu berdua terdiam, dada naik turun, napas tersengal dan Rian membiarkan Jaka terkulai di dalam kawahSetelah hasrat membara terlewati dan reda, Risa bersandar di dada Rian. Hampir satu jam berlalu dalam keheningan, Risa mulai mencumbu suaminya lagi. Rian yang sedang memeriksa pergerakan saham di ponselnya mulai kehilangan fokus. “Kamu mau lagi? Lebih panas, ya,” bisik Rian pelan.“Yang enak, ya,” goda Risa sambil tersenyum.Rian meletakkan ponselnya begitu saja di atas meja nakas, membiarkan layar yang menampilkan grafik

  • Sistem Cha-boel 69: Pemuas Wanita Cantik   142

    Tiba di apartemen, Rian langsung menuju kamar mandi. membersihkan tubuhnya. Risa mengganti pakaiannya dengan kaos oblong suaminya yang longgar, lalu menunggu suaminya di atas ranjang menatap ponselnya.Rian keluar dari kamar mandi, matanya menatap lekat tubuh istrinya yang posisinya membelakangi. Seketika dia menelan air liurnya dan melangkah perlahan nyaris tanpa suara, lalu naik ke ranjang dengan hati-hati.“Sengaja goda aku, ya? Malam ini milik kita, ku buat kamu ngesot ke kamar mandi,” bisik Rian.“Ih …, nakal kamu,” balas Risa sambil memutar tubuhnya.Rian tersenyum nakal saat wajah istrinya kini berada tepat di hadapannya. Keduanya bisa merasakan hembusan napas mereka beradu, hangat dan terselip gairah.Tangannya perlahan meraih ujung kaos oblong longgar yang dikenakan Risa, lalu mulai menaikkannya perlahan sambil menatap mata istrinya yang menatap lekat.“Kaos ini punyaku, tapi kalo kamu yang pake lebih seksi,” bisik Rian sambil menarik kaos itu melewati kepala Risa.Risa terta

  • Sistem Cha-boel 69: Pemuas Wanita Cantik   141

    Hendra Atmaja terpojok di ujung balkon, napasnya memburu melihat pintu rahasianya terkunci mati oleh kemampuan mutlak Rian. Namun, sebagai rubah tua yang telah puluhan tahun mengendalikan organisasi hitam dari balik bayangan, Hendra tidak kehilangan akal liciknya begitu saja. Tangannya diam-diam meraba saku jas abu-abunya, menekan sebuah tombol manual mekanis yang tidak terhubung dengan jaringan internet atau sistem nirkabel mana pun. "Kau mungkin bisa menguasai seluruh dunia digital malam ini, Rian. Tapi kau tidak akan pernah bisa menghentikan takdir yang sudah kutulis!" teriak Hendra dengan tawa parau yang menggema. Blarrr! Dinding beton di sisi kanan balkon mendadak meledak hebat, melontarkan puing-puing batu dan kepulan asap hitam yang sangat pekat ke udara. Rupanya, Hendra sudah memasang bom dinamit manual dengan kabel fisik sebagai jalur pelarian darurat jika rencana utamanya gagal total. "Sial, dia meledakkan jalur luar! Rian, awas puing jatuh!" pekik Bram dari arah ba

  • Sistem Cha-boel 69: Pemuas Wanita Cantik   5

    "Ma-maaf, Bu. Boleh saya bersuara?" tanya Rian hati-hati. "Bukannya kamu udah bersuara? Eror juga kamu kayak prototipe itu? Bikin kesel aja," sahut Arum. Ding! Skill Pesona ketampanan aktif! Dalam situasi yang begitu canggung dan emosional, Rian mendekati Arum perlahan, kemudian merangkul bahuny

  • Sistem Cha-boel 69: Pemuas Wanita Cantik   7

    Arum terpekik karena Jaka melesak paksa, karena otot kawahnya yang mengencang, membuat Jaka merasa jepitan yang membuatnya ingin melesak lebih dalam lagi.Rian tidak peduli dengan dengan pekik tertahan, kemudian Arum menghempaskan kepala ke belakang sambil meracau tidak karuan. Tangannya meremas se

  • Sistem Cha-boel 69: Pemuas Wanita Cantik   6

    "Saya apa? Mau pulang?" tanya Arum datar."i-iya, Bu. Ini kan udah tengah malam, gak baik laki-laki menggemaskan kayak saya ada di luar. Lagian kenapa belom pake baju, Bu. Ntar masuk angin loh itu si bewok," jawab Rian makin kurang ajar, sambil menunjuk kawan milik Arum yang klimis."Enak aja kamu

  • Sistem Cha-boel 69: Pemuas Wanita Cantik   1

    "Rian, umur kamu itu 22 tahun, masih aja jadi beban buat ibu kita. Uang bulanan yang Kakak kasih, pasti dikasih buat kamu. Kamu laki-laki bukan, sih? Ada otak kan, ga malu apa numpang idup!'" sergah Amran, kakak laki-laki Rian. "Sudahlah, namanya belum rejeki. Rian juga usaha cari kerja, kok," sah

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status