(Bukan) Tukang Sayur Biasa

(Bukan) Tukang Sayur Biasa

last updateLast Updated : 2026-10-08
By:  Khai TsanUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
7Chapters
22views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Tono hanyalah tukang sayur miskin yang kerap diremehkan para pelanggannya. Namun, setelah menolong seorang nenek misterius, ia menerima cincin ajaib yang mengubahnya menjadi pria tampan dan gagah. Kini, para wanita yang dahulu menghinanya justru berlomba mendapatkan perhatiannya. Akan tetapi, perubahan itu bukan satu-satunya kekuatan cincin tersebut. Berbekal kemampuan barunya, mampukah Tono mengubah nasib dan membuktikan bahwa dirinya bukan tukang sayur biasa?

View More

Chapter 1

Bab 1

“Enak enggak, Ton?”

Tono tidak langsung menjawab.

Sejak Anggi keluar dari rumah nomor dua belas, udara dingin Kota Batu yang menusuk tulang mendadak tidak terasa lagi olehnya. Keringat tipis justru mulai bermunculan di pelipis.

Pandangannya terpaku pada sobekan kecil di samping daster merah muda yang dikenakan wanita itu. Jahitan di dekat ketiaknya terbuka beberapa senti. Setiap kali Anggi mengangkat tangan untuk memilih dagangan, celah tersebut ikut melebar dan memperlihatkan kulit putih di sisi tubuhnya.

Tono buru-buru menunduk, pura-pura sibuk merapikan ikatan kangkung di atas keranjang motornya.

Ini orang sadar bajunya sobek apa enggak, sih?

“Ton?”

Sesuatu bergerak di depan wajahnya. Tono tersentak dan mendapati Anggi sedang menggoyangkan seekor ikan mujair.

“Hah? Iya, Mbak?”

“Aku tanya ikannya enak apa enggak.” Anggi memperhatikannya dengan alis terangkat. “Niat jualan gak?”

“Oh, ikan.” Tono tertawa kaku. Ia menerima ikan tersebut, lalu menekan bagian perutnya perlahan. “Enak, Mbak. Ini baru saya ambil subuh tadi di pasar.”

Anggi ikut memperhatikan ikan itu. “Kalau dimasak enaknya diapakan?”

“Digoreng juga sudah enak,” jawab Tono sambil memasukkan ikan ke atas timbangan.

“Cuma digoreng?” tanya Anggi  sekali lagi.

“Bisa dibakar atau dibuat mangut.” Tono menarik kantong plastik dari gulungannya. “Tergantung Mbak sukanya diapakan.”

Anggi memicingkan mata. “Kamu ngomong ikan, kan?”

Tangan Tono berhenti. Senyum tipis terlihat di sudut bibir Anggi, seolah wanita itu sengaja menikmati kepanikannya. “Iya, Mbak. Kan mbak pegang ikan.”

Anggi mengangguk kecil. “Bungkus satu.”

Tono memasukkan ikan ke dalam plastik, kemudian mengambil tomat dan daun bawang sesuai pesanannya. Tangannya bergerak cepat, tetapi pikirannya terus diganggu celah pada daster Anggi.

Setiap pagi, Tono berkeliling dari satu perumahan ke perumahan lain menggunakan motor tua yang bagian belakangnya dipasangi dua keranjang kayu. Pelanggannya kebanyakan ibu rumah tangga.

Namun, dari seluruh pelanggannya, hanya Anggi yang selalu membuatnya salah tingkah.

Usia wanita itu hampir sepuluh tahun lebih tua darinya. Anggi sudah menikah dan tinggal di rumah paling besar di ujung gang. Tapi Tono tidak pernah melihat suaminya.

“Apa lagi Mbak?” tawarnya.

Anggi membungkuk untuk memeriksa isi keranjang. Gerakan itu membuat dasternya tertarik semakin ketat, sementara robekan di sisi tubuhnya kembali terbuka.

Pandangan Tono refleks bergerak ke sana dan Anggi mendadak berdiri tegak. “Matamu melihat apa?”

Tono segera membuang muka. “It..itu… baju, Mbak sobek.”

“Kenapa tidak bilang dari tadi?!”

“Saya mau bilang, tapi takut Mbak tersinggung.”

Nada suara Anggi berubah tajam. Ia menutup robekan dasternya dengan satu tangan, kemudian memandang Tono dari atas sampai bawah. Tatapannya berhenti pada kaus kusam yang dipakai Tono sejak dari pasar. “Pantas dari tadi enggak fokus. Dikasih kesempatan jualan di perumahan, matanya malah jelalatan.”

Wajah Tono memanas. “Saya memang sempat melihat, Mbak,” jawab Tono, menahan malu. “Tapi saya tidak berniat kurang ajar. Saya juga sudah mengalihkan pandangan.”

“Laki-laki kalau ketahuan selalu punya alasan!” Anggi mengeluarkan uang dari saku dasternya, lalu meletakkannya di atas keranjang. “Berapa?”

“Empat puluh tujuh ribu, Mbak.” sahut Tono bercicit.

“Empat puluh ribu aja udah.” 

Tono menghitung uang yang diberikan Anggi. Hanya dua lembar dua puluh ribuan. “Kurang tujuh ribu, Mbak.”

Anggi menatapnya tidak percaya. “Cuma tujuh ribu aja itungan sama pelanggan?”

Setelah menatap Tono beberapa saat, ia mengeluarkan selembar uang sepuluh ribu dan melemparkannya ke atas tomat. “Ambil aja kembaliannya. Awas kamu kalau main mata!”

Anggi menyambar kantong belanjaannya, kemudian berjalan kembali menuju rumah tanpa mengucapkan terima kasih.

Tono mengembuskan napas panjang setelah pintu pagar tertutup. “Orang kaya, utang tujuh ribu saja masih ditawar,” gumamnya.

Ia menaiki motor, lalu melanjutkan perjalanan. Masih ada dua blok yang harus didatanginya sebelum matahari semakin tinggi.

Menjelang siang, keranjang Tono hampir kosong. Hanya tersisa beberapa ikat sayuran dan seekor ikan mujair yang sengaja disimpannya untuk makan malam. Ia menepi di bawah pohon dekat persimpangan, lalu membuka tas pinggang untuk menghitung hasil jualan.

Jumlahnya masih belum cukup untuk membayar cicilan utang motor bebeknya bulan ini.

Tono baru hendak menyalakan motor ketika suara lemah terdengar dari belakang.

“Cu…”

Ia menoleh.

Seorang nenek berkebaya lusuh berdiri beberapa langkah darinya. Tubuhnya bungkuk, rambutnya memutih seluruhnya, tetapi kedua kakinya tampak bersih meski tidak mengenakan alas. “Ikannya masih ada?” tanyanya.

“Masih, Nek. Tinggal satu.”

Nenek itu menatap kotak ikan dengan mata penuh harap. “Nenek ingin sekali makan ikan. Tapi Nenek tidak punya uang.”

Tono terdiam. Ikan tersebut seharusnya ia sengaja sisakan untuk lauknya selama dua hari. Namun, wajah keriput di hadapannya mengingatkan Tono kepada nenek yang membesarkannya dan meninggal setahun lalu. 

Akhirnya ia membuka kotak es. “Bawa saja, Nek.”

“Untuk Nenek?”

Tono membungkus ikan tersebut dengan plastik, lalu menyerahkannya. “Iya. Tapi harus langsung dimasak biar masih enak, Nek.”

Nenek itu menerima bungkusan dengan kedua tangan. Jemarinya sempat menggenggam tangan Tono, terasa anehnya hangat. “Semoga kebaikanmu dikembalikan berkali-kali lipat ya, Cu.”

“Amin, nek.”

Tono menunduk untuk menutup kotak ikan. Namun, ketika kembali mengangkat kepala, jalan di hadapannya sudah kosong.

“Lho?”

Ia menoleh ke kanan dan kiri. Tidak ada gang maupun kendaraan yang bisa digunakan nenek - nenek kalau pergi secepat itu. Namun saat menengok arah keranjang sayurnya, sesuatu berkilau di antara tumpukan kangkung.

Sebuah cincin keemasan tergeletak di sana.

Tono memungutnya. “Punya Nenek tadi ya?”

Ia baru hendak menyimpannya ke dalam tas ketika cincin itu mendadak terasa panas. Benda tersebut terlepas dari telapak tangannya, meluncur menuju jari manis, lalu mengecil dan mengunci dengan sendirinya.

“Lho?!”

Tono berusaha menariknya, tetapi cincin itu tidak bergerak.

Panas menjalar dari jemarinya menuju seluruh tubuh. Tulang-tulangnya berderak. Kedua lengannya menegang, dadanya terasa sesak, dan jahitan kausnya tertarik seolah tubuhnya membesar dari dalam.

“Aduh… apa-apaan ini?”

Tono mencengkeram setang motor agar tidak jatuh. Napasnya berubah berat. Bahkan suara erangannya terdengar lebih dalam daripada biasanya.

Ketika rasa sakit itu perlahan mereda, Tono mengangkat wajah ke spion. Ia langsung membeku lalu menyentuh wajahnya sendiri.

“Ini… kamu Ton?” tanyanya pada diri sendiri. Ia menarik kerah kausnya yang mendadak terasa mencekik. Jahitan di bagian dada menegang, nyaris robek mengikuti tubuhnya yang kini jauh lebih bidang.

Tono kembali menatap spion dengan napas memburu. Wajah itu memang miliknya, tetapi seperti versi lain yang selama ini tersembunyi di balik tubuh kurus dan penampilan kusamnya.

Kemudian cincin di jarinya kembali berdenyut panas.

“Apa yang dilakukan cincin ini pada tubuhku?!”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
7 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status