Suntik Lebih Dalam, Dok?

Suntik Lebih Dalam, Dok?

last updateLast Updated : 2026-07-21
By:  Nona MudaUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
15Chapters
38views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

"Dok, kamu mau aku suntik lebih dalam? Aku pastikan rasanya akan sangat nikmat," bisik Hiro di telinga Evelyn. Berondong sialan yang bekerja sebagai gigolo di salah satu klab malam terkenal itu memang memiliki daya tarik tersendiri. Tidak semua wanita bisa mendapatkan pelayanan memuaskan dari Hiro karena prinsip Hiro hanya satu kali tanpa pengulangan, membuat banyak wanita penasaran terhadapnya. Tetapi berbeda dengan dokter cantik dan sudah bersuami, bernama Evelyn, entah mengapa Hiro tergila-gila, bahkan bersedia melayani, kalaupun ada pengulangan dalam bercinta, maka itu adalah bonus!

View More

Chapter 1

1. One Time Service

"Kamu benar-benar perkasa, Hiro," bisik Victoria. Suaranya parau, terengah-engah di bawah remang lampu penthouse mewah Manhattan.

 

Wanita berusia empat puluh tahun itu menyandarkan kepalanya yang berkeringat di dada bidang pria di bawahnya.

 

Jari-jarinya yang melingkar cincin berlian lima karat menelusuri garis rahang Hiro yang tegas, lalu turun ke otot perut pemuda itu yang mengeras.

 

Napas Victoria masih memburu cepat, tidak teratur, kontras dengan Hiro yang bahkan tidak mengeluarkan keringat berlebih setelah dua jam sesi yang intens di atas seprai sutra abu-abu tersebut.

 

"Suamiku bahkan tidak bisa bertahan lima menit tanpa perlu obat kuat dan terengah-engah seperti orang sekarat," lanjut Victoria, ada nada frustrasi sekaligus pemujaan yang mendalam dalam suaranya.

 

"Tapi kamu, ini gila, dari mana pemuda sembilan belas tahun sepertimu mendapatkan kekuatan dan dominasi seperti ini?"

 

Hiro hanya terkekeh pelan. Suara tawa rendahnya terdengar berat dan bergema seksi di dalam kamar yang sunyi itu.

 

Tanpa menjawab, tangan panjangnya mengalir ke meja nakas, mengambil sekotak rokok Dunhill, memantik apinya dengan korek api Dupont emas, lalu menghirup asap nikotin itu dalam-dalam sebelum mengembuskannya ke langit-langit kamar.

 

"Ini bukan soal kekuatan, Victoria," kata Hiro dengan nada suara yang tenang, dalam, dan penuh percaya diri tanpa perlu dibuat-buat.

 

"Ini soal tahu apa yang diinginkan wanita matang sepertimu. Suamimu sibuk mengemis suara rakyat di podium senat, sementara aku? Aku hanya sibuk memastikan sang ratu mendapatkan haknya malam ini."

 

Victoria tersemai manja, matanya yang sayu karena kepuasan menatap Hiro seolah pemuda itu adalah dewa yang baru saja turun dari langit. Itu adalah tatapan yang selalu didapatkan Hiro dari para wanita sosialita kesepian yang menyewa jasanya.

 

Di mata mereka, Hiro bukan sekadar berondong sembilan belas tahun yang murah. Dia adalah pelarian, dominasi maskulin, dan kepuasan mutlak yang tidak bisa mereka dapatkan dari suami-suami tua mereka yang kaya namun lemah syahwat.

 

Wanita itu perlahan bangkit dari ranjang, membiarkan selimut sutra merosot dan memperlihatkan tubuhnya yang masih terawat dengan baik untuk ukuran wanita kepala empat.

 

Dia berjalan menuju tas Hermes Birkin hitamnya yang tergeletak di atas sofa beludru, merogoh sesuatu dari dalamnya, lalu berjalan kembali ke arah Hiro dengan langkah yang sengaja dibuat sensual.

 

Plak!

 

Sebuah kartu plastik berwarna hitam pekat dengan logo American Express Centurion yang legendaris dijatuhkan tepat di atas dada Hiro yang telanjang. Kartu hitam tanpa batas limit.

 

"Pakai itu," kata Victoria, suaranya berbisik panas di dekat telinga Hiro saat dia mengecup sekilas sudut bibir pemuda itu.

 

"Beli apa pun yang kamu mau untuk memanjakan dirimu. Mobil sport baru, jam tangan Rolex, atau apartemen tambahan. Aku sudah mengaturnya atas nama salah satu perusahaan cangkang milik suamiku. Tidak akan ada badan pajak atau jurnalis yang bisa melacaknya."

 

Hiro mengambil kartu hitam itu dengan dua jari, memutarnya di bawah cahaya lampu remang, lalu tersenyum tipis, hampir meremehkan.

 

Kartu ini bisa membeli sebuah rumah mewah di pinggiran kota New York tanpa perlu berkedip.

 

Bagi pemuda sembilan belas tahun biasa yang kelaparan di jalanan Bronx atau Brooklyn, kartu ini adalah tiket menuju surga instan.

 

Tapi bagi Hiro?

 

Ini hanya sekadar mainan bonus yang tidak bernilai.

 

"Kamu sangat murah hati, Ibu Senator," ujar Hiro sambil menyelipkan kartu hitam itu kembali ke belahan dada Victoria yang terbuka, membuat wanita itu terkesiap.

 

Hiro bangkit berdiri dari ranjang dengan gerakan santai namun penuh wibawa, memperlihatkan tinggi badannya yang mencapai 189 cm dengan proporsi tubuh atletis yang sempurna, hasil dari latihan fisik militer tanpa henti sejak dia bisa berjalan.

 

"Tapi aku tidak butuh uang haram suamimu. Simpan saja kartu ini untuk membeli tas Hermes berikutnya. Bayar saja tarif standarku ke agensi Madam Chloe seperti biasa," sambung Hiro dingin sambil berjalan menuju kamar mandi kaca.

 

Victoria terperangah di atas ranjang, matanya membelalak tidak percaya dengan mulut sedikit terbuka.

 

"Hiro, kamu gila? Kamu menolak Amex Centurion? Kamu tahu berapa banyak pria di kota ini yang rela menjual ginjal atau membunuh demi memegang kartu ini?"

 

"Aku tahu," jawab Hiro tanpa berbalik, menyalakan pancuran air hangat, dan kembali menjawab, "Tapi aku tidak suka berutang budi atau terikat dengan politikus. Itu buruk untuk reputasiku."

 

Tentu saja Hiro menolaknya dengan mudah. Victoria yang malang tidak pernah tahu siapa Hiro sebenarnya di siang hari.

 

Wanita itu mengira Hiro adalah mahasiswa miskin berwajah tampan blasteran Asia-Eropa yang menjual tubuh demi membayar sewa apartemen di Manhattan.

 

Dia tidak pernah tahu bahwa nama belakang pemuda itu adalah Rossi. Dia tidak tahu bahwa ayah Hiro adalah Don Salvatore Rossi, kepala keluarga mafia legendaris yang mengendalikan seluruh bisnis pelabuhan hitam, kasino ilegal, dan jalur distribusi bawah tanah di sepanjang pantai timur Amerika Serikat.

 

Uang?

 

Keluarga Rossi punya lebih dari cukup uang tunai yang ditanam di bank Swiss untuk membeli tiga wilayah New York jika mereka mau.

 

Jika sang ayah tahu putra mahkota tunggalnya menghabiskan malam dengan tidur bersama istri senator demi beberapa puluh ribu dolar, pria tua itu mungkin akan membakar seluruh isi kelab malam tempat Hiro bekerja.

 

Namun, inilah cara Hiro memberontak. Dia jenuh dengan dunia mafia yang penuh dengan bau darah, bubuk mesiu, pengkhianatan, dan formalitas kaku yang memuakkan.

 

Di bisnis keluarga, semua orang menatapnya dengan rasa takut, hormat palsu, atau rencana licik untuk menjatuhkannya.

 

Namun di atas ranjang ini, di dunia malam ini, Hiro memegang kendali penuh atas takdirnya sendiri tanpa perlu membawa-bawa nama besar ayahnya.

 

Di sini, dia adalah raja karena pesona, kekuatan, dan kemampuan maskulinitasnya sendiri, bukan karena moncong pistol yang diselipkan di pinggang.

 

"Apakah aku masih bisa memesanmu lagi, Hiro?" tanya Victoria cepat. Suaranya naik satu oktav, dipenuhi rasa cemas yang nyata saat mendengar gemercik air pancuran dari dalam kamar mandi kaca.

 

Wanita itu setengah berlari, mengabaikan selimut yang terseret di lantai, lalu berdiri tepat di depan pintu kaca yang mulai berembun.

 

Matanya menatap siluet tubuh telanjang Hiro yang samar di balik kaca buram, mengagumi garis punggung kokoh yang baru saja mendominasinya tanpa ampun.

 

"Sebutkan saja tarifmu berikutnya. Dua kali lipat? Tiga kali lipat? Aku tidak peduli," kejar Victoria lagi, jemarinya mengetuk kaca dengan tidak sabar.

 

"Aku butuh kamu, Hiro. Hanya kamu."

 

Pancuran air tiba-tiba mati. Keheningan malam Manhattan kembali merayap masuk ke dalam ruangan.

 

Pintu kaca bergeser terbuka, memperlihatkan Hiro yang melangkah keluar dengan handuk putih melingkar rendah di pinggulnya.

 

Bulir-bulir air sisa mandi mengalir lambat di atas kulitnya yang sedikit kecokelatan, jatuh melewati otot dadanya yang bidang. Wajah tampannya datar, tanpa ekspresi, seolah pujian dan tawaran uang dalam jumlah selangit dari istri seorang senator tidak lebih dari sekadar angin lalu.

 

Hiro mengambil handuk kecil, mengeringkan rambut hitamnya yang basah dengan gerakan santai, lalu menatap langsung ke manik mata Victoria.

 

Tatapannya dingin, menghujam, dan seketika membungkam desakan wanita di hadapannya.

 

"Cukup satu kali, Victoria. Tidak ada pengulangan," jawab Hiro. Suaranya terdengar bariton, tegas, dan mutlak tanpa celah untuk negosiasi.

 

Victoria tertegun, napasnya tertahan di tenggorokan. "Apa? Tapi kenapa? Pelayananmu sempurna, aku membayar mahal, dan suamiku tidak akan pernah tahu—"

 

"Itu prinsipku," potong Hiro tajam, menyudahi kalimat Victoria sebelum wanita itu merendahkan harga dirinya lebih jauh.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
15 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status