LOGINPria itu berhenti, menatapnya penuh curiga. “Hah? Apa kau sudah sadar, Jason?”
Jason berusaha bangkit dengan sisa tenaga, tubuhnya gemetar hebat. Pandangannya berkunang-kunang, tapi ia menatap pria besar itu dengan wajah serius. “Aku boleh tahu… sebenarnya aku ini sedang berada di mana?”
Salah satu anak buah pria besar itu, yang lebih kurus tapi bermata buas, meludah ke tanah. “Bos, hajar saja! Orang miskin ini nggak akan pernah jera kalau cuma ditanya-tanya.”
Pria bertubuh besar menggeram. “Kau memang cari mati, Jason.” Ia menunduk, menatap Jason dengan penuh kebencian. “Kalau begitu dengar baik-baik: kau ada di Desa Tirtaloka, wilayah Kerajaan Wangsaria. Dan hutangmu pada Tuan Besar Felix sudah menumpuk. Apa kau sudah selesai mengoceh? Kalau sudah, mati saja kau!”
Kaki besarnya terayun ke arah dada Jason.
Namun sebelum menghantam, layar biru itu muncul kembali di hadapan Jason, lebih jelas dari sebelumnya.
[Misi Sistem Medis : Bantu lima warga desa sembuh dari penyakit!]
[Bantuan : Kotak Medis berisi obat-obatan modern!]
[Hadiah : 5 keping emas!]Jason terpaku. Kata-kata itu bergema di kepalanya seolah suara ilahi. Lima warga desa… uang emas… Apakah ini nyata? Ia bisa menggunakan obat modern juga?
“Aku bayar!” Jason tiba-tiba berteriak lantang, napasnya tersengal, wajahnya penuh darah namun matanya bersinar dengan tekad aneh. “Beri aku waktu tiga hari! Aku akan melunasi semua hutangku!”
Pria besar itu tertegun, sedikit heran mendengar keyakinan Jason. Anak buahnya cekikikan tak percaya, namun Jason tetap menatap lurus dengan tatapan tajam meski tubuhnya gemetar hebat.
“Kalau ini benar… kalau Sistem Medis ini nyata… maka satu-satunya cara aku bisa bertahan hidup adalah dengan menyelesaikan misi itu. Lima pasien, lima orang yang harus kuselamatkan… tiga hari. Kalau gagal… aku mati di sini.”
Pria bertubuh besar itu menatap Jason lama, seakan mencoba membaca isi kepalanya. Sorot matanya penuh kebingungan sekaligus amarah. Jason yang lusuh dan berdarah-darah ini seharusnya sudah menyerah, namun justru berani menawar waktu.
“Hmph!” pria besar itu mendengus, akhirnya mundur setengah langkah. “Baiklah, Jason! Aku beri kau waktu tiga hari. Lunasi hutangmu—lima puluh keping perak! Kalau lewat dari itu, aku sendiri yang akan mencabut nyawamu!”
Suara beratnya bergema di gubuk reyot itu, membuat anak buahnya tertawa puas.
Jason mengangkat wajahnya yang lebam, matanya menyipit menahan nyeri tapi tetap berani menatap balik. “Boleh aku tanya sesuatu?” suaranya serak.
Pria besar itu menyipitkan mata. “Apa lagi?”
“Berapa nilai satu keping emas… dibanding keping perak?” tanya Jason dengan nada datar, seolah sedang menanyakan hal sederhana.
Suasana mendadak hening sejenak. Lalu tawa kasar terdengar dari anak buahnya. Pria besar itu mendengus, bibirnya menyeringai penuh ejekan. “Kau? Jangan mimpi terlalu tinggi, Jason! Kau bahkan tidak akan pernah melihat keping emas seumur hidupmu. Kenapa menanyakannya?”
Jason tetap menatapnya. “Aku hanya ingin tahu. Atau jangan-jangan kau sendiri juga tidak tahu?”
PLAAAK!
Tamparan keras kembali mendarat di wajah Jason. Tubuhnya oleng, bibirnya pecah lagi, darah segar menetes dari sudut mulut. Dunia berputar, tapi ia masih mendengar jelas suara pria besar itu menggelegar.
“Hei, bocah busuk! Jangan coba-coba uji kesabaranku! Dengar baik-baik! Satu keping emas sama dengan seribu keping perak! Kau dengar itu? Seribu! Kau bahkan tidak bisa melunasi hutang recehmu sebesar lima puluh keping perak, berani-beraninya bicara soal emas? Dasar sudah miskin sok gaya pula!”
Pria besar itu meludah ke lantai, lalu memberi isyarat dengan tangannya. “Kita pergi. Tak ada gunanya berlama-lama dengan pecundang sampah ini.”
Anak buahnya cekikikan sambil menatap Jason yang masih tergeletak. Mereka pun berbalik dan keluar dari gubuk reyot itu.
Jason terdiam, dadanya naik turun. Kata-kata pria itu masih terngiang. Satu keping emas sama dengan seribu keping perak… kalau Sistem Medis benar-benar memberiku lima keping emas, itu berarti… lima ribu keping perak. Jumlah yang tak terbayangkan!
Napasnya tercekat, tubuhnya gemetar antara sakit dan keterkejutan.
Jason masih terpaku. Di saat itu juga, ingatan asing menyerbu kepalanya—tajam, menyakitkan, seperti bilah pedang yang menembus otaknya. Ia mengerang, memegangi kepalanya.
Kilasan demi kilasan muncul. Seorang pemuda lusuh, tubuhnya kurus, wajahnya mirip dirinya… juga bernama Jason Winata. Pemuda ini bukan dokter kaya dari Kota Braxton, melainkan sarjana muda yang baru saja lulus ujian kerajaan di bidang kesehatan. Dengan bangga ia pulang ke Desa Tirtaloka, berniat mengabdikan ilmunya.
Namun yang menyambutnya bukanlah kebahagiaan. Sang ibu sudah tiada. Bibi dan sepupunya menjerit pilu, menawarkan bantuan untuk membayar hutang mendiang ibunya. Tapi semua itu hanya jebakan. Mereka menipu, menguras seluruh uang hasil jerih payahnya, hingga pemuda itu jatuh miskin. Utang besar menjeratnya, tubuhnya melemah karena berhari-hari kelaparan, ditambah siksaan para penagih hutang yang membuatnya akhirnya menghembuskan napas terakhir.
Jason terdiam kaku. “Jadi… aku masuk ke dalam tubuh pemuda malang ini? Seorang Jason Winata yang lain, dengan nasib begitu tragis?”
Ia menggenggam tanah dengan jemarinya yang gemetar, matanya memerah. Suara Sistem Medis bergema lagi dalam pikirannya, dingin tapi penuh kepastian...
[Misi Sistem Medis : Bantu lima warga desa sembuh dari penyakit!]
[Bantuan : Kotak Medis berisi obat-obatan modern!]
[Hadiah : 5 keping emas!]Sepuluh tahun kemudian…Tak ada lagi yang menyebutnya desa. Tak ada lagi yang mengingat Tirtaloka sebagai hamparan sawah sunyi dengan rumah kayu yang berderet di kaki gunung.Wilayah yang berdiri sekarang… adalah sesuatu yang dulu hanya terdengar seperti mimpi gila.Kota Metropolitan Tirtaloka.Langitnya dipenuhi menara pencakar langit.Gedung-gedung kaca menjulang puluhan lantai, memantulkan cahaya matahari hingga tampak seperti barisan pedang raksasa yang ditancapkan ke bumi. Jalan raya lebar membelah kota dalam garis-garis tegas, kendaraan modern meluncur tanpa henti, meninggalkan jejak suara mesin yang konstan seperti detak jantung raksasa.Di kejauhan, cerobong pabrik bahan bakar nabati mengepulkan asap putih tipis yang nyaris tak terlihat. Kilang minyak bekerja tanpa jeda. Lampu-lampu kota tak pernah benar-benar padam—bahkan ketika pagi datang, sebagian masih menyala seperti bintang yang terlambat pulang.Namun, Tirtaloka tidak pernah sepenuhnya berubah menjadi baja dan kaca.Hu
Terompet raksasa menggema dari cakrawala.Suara itu begitu dalam hingga udara bergetar, merambat melalui tanah, menusuk dada setiap prajurit di medan perang. Semua kepala menoleh hampir bersamaan—baik pasukan desa maupun Sangkala.Di balik kabut debu yang menutup ufuk, gelombang baru akhirnya menampakkan wujudnya.Pasukan Kerajaan Wangsa.Panji emas biru berkibar seperti matahari yang lahir dari asap perang. Derap langkah mereka serempak, rapi, tak tergoyahkan—seperti satu makhluk raksasa yang bernapas dalam ritme yang sama.Di garis depan—Jenderal Zeus.Baju perangnya berkilau menyambar cahaya fajar yang baru muncul. Kilatan logamnya memantul seperti petir yang membeku di tubuh manusia. Di sisi kanan, Perdana Menteri Ares menunggang kuda perang berwarna abu-abu baja. Tatapannya dingin dan terukur. Di sisi kiri, Ratu Athena sendiri memimpin barisan elit kerajaan. Jubah perangnya berkibar panjang di belakangnya seperti sayap dewi perang.Seluruh medan perang membeku sesaat.Bahkan angin
Langit di atas Desa Tirtaloka telah berubah warna bahkan sebelum matahari sempat menyentuh cakrawala. Merah membakar, seolah pagi datang terlalu cepat. Debu beterbangan dari kaki pegunungan, menggulung ke langit seperti kabut perang yang bangkit dari tanah.Bumi bergetar.Getaran itu tidak berhenti. Tidak melemah. Ia tumbuh—menjadi dentuman panjang yang terasa sampai ke tulang.Suara ribuan langkah pasukan datang seperti gelombang hitam yang merayap dari horizon, perlahan berubah menjadi badai yang hendak menelan desa.Serangan besar telah dimulai.Terompet perang meraung panjang. Nada rendahnya merobek udara pagi seperti jeritan binatang raksasa. Dari balik kabut debu, barisan kavaleri Kerajaan Sangkala muncul—menyerbu dari tiga arah sekaligus. Kuda-kuda perang berlari dengan ritme mematikan, tanah terbelah di bawah hentakan kuku besi.Di belakang mereka, infanteri berat bergerak seperti tembok hidup. Perisai besar saling mengunci. Tombak panjang mengarah ke depan seperti hutan logam
Satu bagian terakhir menunggu di kedalaman istana. Bagian paling sunyi. Paling dingin. Paling berbahaya.Ruang Tahanan Raja.Ratu Safira akhirnya tidak berpura-pura lagi.Ia memasukkan Raja Wardhana ke dalam tahanan khusus.Jason turun sendirian menembus lorong bawah tanah terdalam. Udara di sana terasa berat seperti ruang yang terlalu lama menahan napas. Dinding batu basah memantulkan cahaya redup. Bau obat menyengat bercampur aroma logam tua—dan sesuatu yang lebih gelap.Bau kematian.Sensor dari Sistem Medis berbunyi pelan di telinganya. Nada pendek teratur seperti detak jantung yang hampir padam.Satu sumber kehidupan terdeteksi.Lemah.Jason berhenti di depan pintu baja tebal. Tangannya menyentuh panel. Kunci elektronik mati tanpa perlawanan. Pintu terbuka dengan desis panjang yang menggema di lorong kosong.Dan di dalam—seorang pria tua terbaring di ranjang besi.Tubuhnya kurus seperti bayangan manusia. Wajah pucat, nyaris tanpa warna. Namun, bahkan dalam kondisi itu, aura wibaw
Malam turun dengan cepat di perbatasan ibu kota Sangkala. Kabut tipis menggantung di atas jalan batu, menyapu tanah seperti napas dingin yang menelan setiap bunyi. Dari balik pepohonan, bayangan-bayangan meluncur cepat... nyaris tak terlihat, mendekati dinding istana yang menjulang kelam.Jason berada di barisan paling depan.Tak ada barisan pasukan.Tak ada panji perang.Hanya satu tim kecil yang bergerak dalam diam.Operasi penyusupan.Operasi yang jika gagal akan menghapus keberadaan mereka seolah tak pernah ada.Cahaya biru holografik dari Sistem Medis melayang di udara, memantulkan peta tiga dimensi istana dengan detail dingin dan presisi. Terowongan air bawah tanah berkelok seperti pembuluh darah. Jalur suplai logistik berdenyut merah. Pos jaga berkedip dengan ritme berganti setiap tiga puluh menit.Jason menunjuk satu titik kecil di sisi selatan bangunan.“Di sini. Pintu servis bawah dapur istana. Dijaga… tapi bukan prioritas.”Alex mengangguk tanpa ragu. Matanya tajam, penuh k
Jason tidak membutuhkan waktu lama.Potongan-potongan yang selama ini terasa berserakan di kepalanya mendadak saling mengunci—seperti roda gigi yang akhirnya menemukan celahnya dan mulai berputar tanpa hambatan. Napasnya tetap tenang, tapi di balik tatapan matanya, pikirannya berlari liar, melompati kemungkinan demi kemungkinan dengan kecepatan yang bahkan sulit diikuti oleh kata-kata.Nama demi nama muncul.Bukan sekadar ingatan—melainkan bayangan yang tiba-tiba tersorot cahaya terang di ruang gelap.Keluarga Wijaya.Ia teringat wajah-wajah yang pernah duduk di meja panjang penuh peta, bisik-bisik strategi yang terdengar di balik pintu tertutup, dan janji setia yang diucapkan dengan suara rendah.Karina.Sosok dengan tatapan tajam dan senyum yang selalu menyimpan sesuatu—entah rahasia atau peringatan.Perdana Menteri Nathan.Pria tua dengan suara tenang yang mampu meredam badai hanya dengan satu kalimat.Dan…Jenderal Alexander.Bayangan seragam militer, langkah berat di lantai marme







