Share

Permainan Catur

Author: Auphi
last update publish date: 2026-01-17 13:00:10

Sedetik, dua detik, tetap tak ada respon. 

Catherine mengangkat wajah perlahan. Matanya langsung bersirobok dengan iris gelap Frederick. 

"My lord, ada yang salah?" Rasanya agak risih ditatap lekat-lekat oleh pria tampan. "Anda bisa mengatakannya secara langsung."

"Aku hanya berpikir. Sepertinya kau adalah hal paling lusuh di kastil ini."

Sepasang tangan Catherine mengepal di belakang tubuh. Pria kejam ini masih menyempatkan diri menghina orang lain. 

"Maaf kalau penampilan saya sudah mengotori mata anda, my lord."

"Maaf saja tidak cukup. Kau harus mengganti pakaianmu."

Catherine masih termangu ketika Frederick menekan bel. Dalam hitungan menit, Arthur sudah berdiri di depan mereka. 

"Apa kau sudah terlalu tua untuk pekerjaanmu, Arthur? Bagaimana bisa membiarkan gadis lusuh berkeliaran di sekelilingku?"

Kepala pelayan mengkeret ketakutan. Jauh berbeda dengan penampilan garangnya tadi. Diam-diam, Catherine menikmati pemandangan langka ini walau agak iba juga 

"Ma--maaf, My lord tetapi gadis ini bangun kesiangan. Saya tak sempat memberi instruksi."

Lord Hardy berdecak sinis. "Ternyata kau memang tak sanggup lagi mengemban amanat besar. Pelayan saja tak bisa kau disiplinkan."

Muka butler makin pucat tetapi empati yang sempat dirasakan Catherine sudah lenyap. Pria tua ini tak sungkan menyalahkan orang lain demi keamanannya. 

"Am--ampun, My lord. Saya yang bersalah. Izinkan saya memperbaikinya."

Tubuh Arthur membungkuk rendah sedang keningnya mulai dihiasi titik-titik peluh. 

"Ini kali terakhir Arthur. Kalau kau masih macam-macam, aku tak akan sungkan menendangmu dari sini."

Ancaman lord Hardy begitu serius dan dingin. Catherine saja sampai merinding. 

"Dan kau... segera ganti baju lusuh itu. Jangan membuat mata orang jadi rusak."

Ejekan terakhir tentu saja ditujukan padanya. Catherine hanya bisa menyimpan kekesalan dalam hati. 

Dia menyusuri tangga dengan cepat mengikuti langkah Arthur. 

Sesampainya di sayap kanan lantai satu, Arthur langsung menampar wajahnya. Mata yang dinaungi sepasang alis tajam itu penuh kebencian. 

"Dasar jalang! Gara-gara kau, aku kena masalah."

Sejak semalam, Catherine sudah berusaha sabar tetapi pria tua ini malah makin menjadi. Mereka sama-sama pelayan, kenapa Arthur harus sewenang-wenang? 

"Anda menyalak pada orang yang salah. Kalau memang tak suka kenapa tidak protes pada lord Hardy? Beraninya sama perempuan lemah."

"Apa kau bilang?"

Arthur mau melayangkan tamparan lagi namun tangannya keburu di tangkap Catherine. Wajahnya terlihat kaget saat mengetahui betapa kuat gadis yang tampak lemah itu. 

"Kenapa? Anda tak menyangka, bukan?" Catherine mendorong tangan Arthur sekuat tenaga. "Kalau masih bersikap semena-mena, saya juga akan melaporkan perilaku anda pada lord Hardy."

"Tutup mulutmu!" Arthur mendengus jijik. "Antara aku dan gadis rendahan, siapa yang lebih dipercaya tuan?"

Tentu saja Catherine tahu jawabannya. Mana mungkin Frederick lebih percaya dia. Tetapi bukan berarti tak bisa menggoyang kesombongan Arthur. 

"Itu belum dapat dipastikan," sahutnya enteng. "Melihat reaksi tuan tadi, sepertinya hubungan kalian tidak terlalu bagus."

Wajah Arthur makin jelek. Catherine bahkan sempat menangkap rasa khawatir di sana.

Pria tua itu pulih dengan cepat. "Tak usah sok menerka hubunganku dan tuan. Seburuk apapun itu, tetap lebih baik darimu."

"Dari pada membuang waktu dengan saya, lebih baik tunjukkan baju yang akan saya pakai." Catherine menyahut malas. "Kalau sampai tuan memanggil dan saya masih belum berganti pakaian, anda pasti kena masalah."

"Lancang!"

Arthur bergegas pergi dalam kemarahan.

Waktu Catherine mengira dirinya sedang ditelantarkan, Lucy tiba-tiba datang. 

"Hai Lucy, ada apa kau kemari?" tegur Catherine ramah. Hatinya senang melihat masih ada kehangatan ditengah semua perlakuan dingin. 

Lucy tidak menyahut. Tangannya yang kuat menarik Catherine ke kamar besar tempat di mana gaun-gaun cantik digantung dalam lemari tinggi. 

"Nah, pilihlah. Mr Arthur memintaku menemanimu kemari."

Ternyata kepala pelayan itu tak berani bertindak terlalu jauh. Dia pura-pura pergi hanya untuk memberi sedikit ancaman. 

"Terima kasih, Lucy tetapi... aku tidak berani. Bagaimana kalau kau yang pilih untukku?"

Sebagai gadis bangsawan -- walau tak dianggap --, tentu Catherine tahu gaun mana yang cantik dan berkualitas baik. Dia hanya mau lihat sejauh mana ketulusan Lucy dalam berteman. 

"Bagaimana kalau pilih yang ini saja?"

Teman barunya menyodorkan gaun yang terbuat dari linen. Warnanya pastel lembut dengan detail sederhana. 

Gaun ini cocok dengan selera dan situasi Catherine. 

Kalau Lucy memilih gaun sutera atau wol yang mahal, takutnya akan jadi masalah. Kedua bahan tersebut cukup mahal dan hanya digunakan kaum bangsawan. Kalau dia yang berstatus pelayan berani memakai bahan tersebut dengan sembrono, bukankah akan mengundang cibiran? 

"Bagus sekali." Catherine tersenyum senang. "Aku akan segera berganti pakaian."

Selain beberapa gaun serupa, Lucy juga memilih kamisol dan pakaian dalam untuknya. 

"Kau boleh memakai kamarku untuk berganti baju."

Dengan cekatan, Lucy membantunya merias wajah dan merapikan rambut. 

Setelah semua selesai, Catherine mengamati wajahnya dengan takjub di cermin bulat. Mata berbentuk almond dengan iris sebiru samudera, membuat penampilannya sungguh memikat. 

"Ah, kalau saja aku bisa punya mata seindah itu," gumam Lucy entah pada siapa. 

Catherine menepuk bahu teman barunya. "Penampilan hanya sementara. Yang paling penting dari seseorang adalah hatinya."

"Andai semua pria berpikir begitu, aku tak akan lajang sampai sekarang."

Lucy tertawa menutupi kesedihan hatinya. 

"Ayolah Lucy, siapa juga yang butuh laki-laki?" Catherine berusaha mengangkat semangat temannya. "Lihatlah, mereka hanya seonggok otot yang suka memakai pistol. Melihatnya saja sudah bikin takut."

"Kau benar. Ayahku sampai setua ini masih tidak bisa menemukan pakaian dalam tanpa bantuan ibuku. Punya suami benar-benar seperti mengasuh bayi besar."

Keduanya tertawa bersama hingga terdengar ketukan di pintu. 

"Catherine, lord Hardy memanggilmu."

"Maaf Lucy, aku pergi dulu." Catherine tersenyum tabah. "Kapan-kapan kita cerita lagi."

Ketika sampai di atas, wajah dingin Frederick langsung menyambut. Ada rasa takjub di matanya yang menghilang dengan cepat. 

"Kenapa lama sekali? Apa harus ke London untuk mencari baju?"

"Maaf, my lord." Catherine membuat dirinya terdengar serendah mungkin. "Saya kebingungan memilih karena tidak terbiasa memakai baju bagus."

Dalam diam, Frederick harus mengakui betapa cantik gadis di depannya dalam balutan dress yang bagus. 

Entah secantik apa jadinya kalau memakai gaun sutera mewah kaum wanita bangsawan. 

"Temani aku bermain catur," ujarnya kemudian. 

Catherine duduk dengan patuh di depan bidak-bidak catur yang sudah tersusun rapi. Dia tak heran lagi saat Frederick memilih bidak berwarna hitam. Itu memang sesuai dengan kepribadiannya. 

"Kau maju duluan."

Ada banyak gambit dalam permainan catut dan Catherine memilih gambit ratu.

Frederick menerima tantangannya sepenuh hati. Mereka bermain dengan konsentrasi penuh dan kedua belah pihak sama-sama kehilangan pion dalam jumlah besar.

Pada akhirnya, Frederick menutup permainan setelah perdana menterinya berhasil mengepung raja milik Catherine. 

"Skakmat."

Catherine tersenyum mengakui kekalahan. "Terima kasih untuk permainan yang bagus, My lord. Saya sangat menikmatinya."

"Sama-sama. Aku juga sudah lama tidak ketemu lawan sepadan." Nada bicara Frederick mendadak penuh selidik. "Tetapi... aku cukup heran. Bagaimana bisa seorang pelayan pandai bermain catur?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Heniati E Sukarna
mantap ceritanya saya suka ...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Skandal Asmara Gadis Bangsawan yang Tertindas   Akhir Perjalanan

    "Sepertinya keluarga Stuart memperlakukan keponakanku dengan sangat baik," ujarnya penuh penekanan. "Aku sampai kehabisan kata-kata."Muka countess dan menantunya berubah kaku. Istri baru Rupert membantah perkataannya. "Apa maksud anda, My lady? Bukankah gadis kecil itu baik-baik saja? Anda datang-datang langsung memojokkan orang lain.""Tutup mulutmu!" bentak countess Stuart. "Beraninya bersikap kasar pada duchess."Setelah itu dia menoleh ke arah Catherine. "My lady, anda salah paham. Bocah ini memang suka ngompol. Juga tak berani lihat orang. Kami selalu memperlakukannya dengan baik."Apakah Catherine orang yang sabar menghadapi omong kosong? Tentu saja tidak!Dia memotong perkataan countess. "Baik atau tidak, hanya kalian yang tahu. Tetapi mulai sekarang saya akan menempatkan seorang pelayan untuk mengurus anak Meredith. Saya juga akan mengirim uang untuk membayar kebutuhan hidupnya. Kalau masih keberatan, kalian bisa mengir

  • Skandal Asmara Gadis Bangsawan yang Tertindas   Sepupu Minta Tolong

    "My lady, ada tamu yang cari anda."Gerakan tangan Catherine yang tengah menepuk-nepuk pundak Andrew terhenti. Dia menatap wajah tampan putranya yang tengah pulas sebelum melirik ke arah Geralda. "Siapa yang datang?"Gadis itu terlihat ragu. "Nona Meredith dan Caroline."Sejak kehilangan gelar bangsawan, sepupunya tidak berhak lagi dipanggil lady. Mereka tak ubahnya rakyat jelata. "Suruh pulang saja. Aku tak punya apapun untuk dibicarakan."Pengalaman sudah mengajar Catherine dengan baik. Berurusan dengan keluarga Percy tak pernah memberi keuntungan. Buat apa cari masalah untuk diri sendiri. "Kenapa masih berdiri di sana? Kata-kataku kurang jelas?" ujarnya ketika melihat tak ada tanda-tanda Geralda akan pergi. "Tetapi my lady... mereka benar-benar ingin ketemu anda. Wajah lady Meredith sangat menyedihkan. Dia bahkan memohon-mohon pada saya."Adalah pengetahuan umum bahwa hidup kedua nona Percy sanga

  • Skandal Asmara Gadis Bangsawan yang Tertindas   Konflik Mertua

    Setahun kemudian... Kastil Hardy yang biasa sepi, kini ramai oleh tangisan bayi. Catherine melahirkan sepasang anak kembar, laki-laki dan perempuan. Keduanya bukan majikan yang mudah dilayani. Suara tangisan langsung bergema jika sedikit saja lapar, haus, atau pakaian lembab. Akibatnya Catherine tidak lagi keberatan dengan keberadaan suster di dekatnya. Tanpa bantuan orang-orang ini dia pasti jadi mayat hidup karena tak bisa istirahat dengan tenang. "Astaga! Tak habis pikir bagaimana tangisan mereka begitu kencang ketika yang dimakan cuma susu." Catherine memijit pelipisnya. Hidungnya mengernyit mencium aroma susu basi dari daster yang dipakainya. Melawan kebiasaan nyonya kalangan atas, dia menyusui bayi sendiri. Sebab itu tubuhnya selalu beraroma susu. Syukurnya sekarang musim panas jadi bisa sering-sering mandi.Tiba-tiba terdengar suara lady Emma menaiki tangga. Catherine langsung gelagapan. Mertuanya suka usil

  • Skandal Asmara Gadis Bangsawan yang Tertindas   Kehamilan sang duchess

    Dunia memang dipenuhi hal aneh namun perilaku baroness adalah yang paling jauh. Seorang suami jadi cacat tetapi istri malah kasih hadiah. Kalau bukan gila, apa lagi sebutannya? "Anda yakin soal ini?" Catherine tak menutupi rasa heran. "Bukankah seharusnya anda marah?"Baroness tertawa ringan. "Sudah kubilang tidak ada alasan untuk marah. Malah duke sudah seperti pahlawan untuk keluarga kami."Wanita itu membuka kotak hadiahnya. "Lagi pula ini bukan barang mahal. Cuma cake buatan sendiri. Semua orang bilang rasanya enak. Semoga cocok untuk lidah anda."Hadiahnya mungkin tak mahal tetapi memasak sendiri membuktikan ketulusan. Apa lagi nyonya kalangan atas hampir tak pernah menyentuh dapur. "Terima kasih. Anda baik sekali."Begitu kotak penutup cake dibuka, Catherine bisa membayangkan betapa lezat rasanya. Apa lagi dengan irisan strawberry yang melimpah. Aroma menteganya sangat kuat. Dia benar-benar mau muntah

  • Skandal Asmara Gadis Bangsawan yang Tertindas   Hadiah dari Istri yang Tersakiti

    Setelah pengkhianatan Lucy ketahuan, pengamanan di sekitar kastil diperketat. Selain memeriksa setiap tamu yang berkunjung, pelayan juga diawasi pergerakannya. Arthur mengatur semua orang dengan baik. Dia tak berani lengah sedikit pun. Meski demikian, Frederick masih meminta Finlay mengawasi sang butler. Dia tak bisa menoleransi sikap sepele terhadap sang duchess.Pagi ini setelah sarapan bersama suami, Catherine merajut di ruang duduk. Akhir-akhir ini dia lebih mudah capek dan mengantuk. Seorang pelayan memberi laporan. "My lady, ada kartu kunjungan dari lady Portia Cecil. Beliau mau datang setelah jam makan siang."Catherine menatap ke seberang. Suaminya sedang membaca buku filsafat. Kegiatan yang akhir-akhir ini dilakukan Frederick kalau punya waktu luang. "Kirim balasan. Aku bisa menerima kunjungan beliau.""Baik, My lady."Kesunyian yang damai kembali menggelayut ketika pelayan sudah pergi. Fr

  • Skandal Asmara Gadis Bangsawan yang Tertindas   Hilang Akal

    Selang tiga hari setelah pulang ke Bath, situasi kastil sudah normal lagi, begitu pun dengan sikap Frederick. Pria itu kembali sehangat dulu, saat tidak ada Melissa diantara mereka. Dampaknya, Catherine jadi lelah setiap malam. Suaminya seperti kuda jantan yang sukar dipuaskan. "My lady, anda selalu kelelahan akhir-akhir ini. Bagaimana kalau ke rumah sakit untuk periksa kesehatan?"Periksa kesehatan? Bukankah semua yang terjadi karena nafsu sendiri?Catherine habis pikir menghadapi pelayannya yang terlalu polos. Biasanya gadis-gadis dari kalangan bawah lebih paham masalah duniawi. "Tidak apa. Aku baik-baik saja."Sebelum Geralda berkomentar lebih jauh, dia buru-buru melanjutkan. "Bagaimana dengan Lucy? Ada gelagat mencurigakan?""Dia terlihat gelisah, My lady. Kepala pelayan sudah menegurnya berkali-kali."Arthur sebagai kepala pelayan, sudah tunduk sepenuhnya pada Catherine. Setiap ada yang tidak becus beker

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status