แชร์

Pelayan Seorang Duke

ผู้เขียน: Auphi
last update วันที่เผยแพร่: 2026-01-16 20:00:54

Mungkin karena di tempat asing, Catherine sama sekali tidak nyenyak. Dia jadi salah satu pelayan yang bangun paling awal di kastil. Dia menyusuri lorong yang panjang untuk mencari Arthur. Sepertinya, butler itu yang tahu tugas apa yang harus dia kerjakan.

"Permisi, apakah kau melihat Mr Arthur?"

Pelayan berwajah judes yang ditemuinya melengos kasar. "Coba kau lihat di taman belakang."

"Bisakah kau menunjukkan jalan ke taman belakang?" Catherine berusaha mempertahankan senyumnya. "Aku baru di sini. Belum tahu jalan."

"Hmph, memangnya aku pelayanmu? Cari saja sendiri!"

Catherine tercengang.

Dugaannya makin kuat bahwa ada yang salah dengan kastil ini. Bukan hanya majikan, para pelayan pun tak ada yang menyenangkan. Semuanya kasar dan dingin.

Biarpun hari pertama bekerja tidak menyenangkan, tetapi dia tidak berkecil hati. Perlakuan di manor keluarga Percy sudah menempanya jadi pribadi lebih kuat.

Karena terlalu serius memandangi sekeliling, Catherine sampai menabrak seseorang.

"Aduh," ujarnya penuh rasa bersalah. "Maaf sudah menabrakmu. Apakah ada yang sakit?"

Catherine sudah menyiapkan hati untuk menerima Umpatan tetapi orang yang ditabraknya cuma tersenyum kecil. "Tak apa-apa. Kecelakaan adalah hal biasa dalam bekerja."

Mata Catherine menelisik wajah tembah yang tampak murah hati. Dia sampai kehilangan kata-kata untuk beberapa saat.

"Wah, terima kasih atas kemurahan hatimu." Dia berkata penuh syukur. "Senang bertemu denganmu."

Pria berwajah gemuk itu mengulurkan tangan. "Senang juga bertemu denganmu. Namaku Lucy."

Catherine mengulurkan tangan malu-malu. Sudah lama dia tidak diperlakukan seperti manusia. Teman baru ini sungguh bikin terharu.

"Jadi... apa yang membuatmu berkeliaran di sekitar kastil?"

"Sebenarnya... aku mau bertemu dengan Mr Arthur. Beliau bilang aku bertugas melayani lord Hardy. Tapi aku benar-benar tak tahu harus memulai dari mana."

Muka Lucy menunjukkan keprihatinan yang membuat Catherine jadi curiga. Belum sempat bertanya lebih jauh, orang yang dicarinya sudah muncul.

"Astaga! Kenapa kau masih di sini? Lord Hardy sudah bangun sejak tadi. Benar-benar tak becus."

Masih pagi dan sudah diperlakukan tak adil. Perasaan Catherine sedikit tak nyaman. Dia berusaha mempertahankan raut mukanya yang tenang. "Maaf Mr Arthur. Saya masih baru jadi belum tahu seluk-beluk tempat ini."

"Alasan saja! Sebelumya kau juga pelayan, kan? Kenapa sekarang pura-pura tak tahu bekerja?"

Cukup sudah. Arthur hanya tidak menyukainya. Untuk menghemat tenaga, Catherine memilih tidak berdebat. Dia mendengar dengan sabar ketika Arthur melontarkan protes untuk beberapa waktu.

"Ikut aku ke lantai atas," ucap Arthur akhirnya.

Catherine menarik nafas lega lalu mengikuti langkah sang butler.

Lantai dua tempat lord Hardy tinggal ternyata lebih hidup dari pada lantai satu. Meski demikian, suasananya tetap terasa suram.

Waktu mereka sampai di sana, Arthur sedang duduk di balkon sambil mengusap moncong senapan panjang.

"Sekarang bawa sebaskom air ke kamarnya untuk membersihkan diri. Setelah itu siapkan secangkir kopi, sepotong daging asap, dan bagel."

Usai memberi pesan singkat, Arthur pergi begitu saja.

Sekarang Catherine menyadari betapa tertutup kepribadian bangsawan yang dia layani. Pria ini sampai repot-repot menyediakan dapur kering di atas agar tidak terlalu sering bertemu orang.

Selain itu, dia juga lebih memilih sarapan dengan kopi pahit dari pada teh yang enak. Bukan kebiasaan orang Inggris sejati.

Sejurus kemudian, Catherine beranjak ke balkon.

"Permisi, my lord. Saya sudah menyiapkan air di kamar anda."

Lord Hardy menatapnya sekilas sebelum melanjutkan kegiatan yang tertunda. Pistol yang dingin itu diusap lembut seperti harta karun yang sangat berharga.

Setelah kegiatannya selesai, dia beranjak sambil memberi perintah yang baru.

"Siapkan pakaian dan alat cukurku."

Tanpa menyadari apa yang sedang terjadi, Catherine mengikuti langkah majikannya dengan patuh. Ketika sudah dalam kamar, barulah suasana ambigu terasa.

Dia seorang gadis yang masih berumur tujuh belas, berduaan dengan pria dewasa di dalam kamar.

Catherine sudah memikirkannya dengan baik. Hanya ada dua bangsawan dengan nama keluarga Hardy. Berhubung pria ini tinggal di kastil yang amat besar, maka pastilah dia sosok yang paling terkemuka. Frederick Hardy, Duke of Ravenclaw kelima.

Dari rumor yang pernah didengarnya, Frederick adalah pria yang masih lajang hingga sekarang. Umurnya sudah dua puluh tujuh tetapi belum ada kabar siapa calon pendampingnya.

"Kenapa masih bengong? Dimana pisau cukurku?"

Hardikan ini barulah membuat Catherine tersentak. Lekas dia mencari-cari di meja pendek dekat nakas. Untungnya, benda kecil itu tidak sulit ditemukan.

"Silakan, My lord."

Ketika pisau cukur sudah berpindah tangan, dia kembali menyusuri lemari besar di sebelah kanan ranjang. Menilik dari ukuran, semestinya lemari ini berisi banyak pakaian. Catherine harus kecewa. Didalam hanya ada beberapa celana panjang, kemeja polos sekitar setengah lusin, dua buah jas panjang berekor, rompi malam, serta dasi.

Dia mengambil sebuah kemeja dan celana dengan cepat lalu meletakkannya di sisi lord Hardy. Pria itu memandang sekilas dan tidak berkomentar lebih jauh.

"Bawa kopi dan bagelnya ke balkon. Aku mau sarapan di sana."

Sejurus kemudian, Frederick bergabung di balkon. Sikapnya begitu tenang dan anggun ketika menyesap kopi dan menggigit bagel.

Wajahnya yang terpahat sempurna jadi makin menarik setelah dicukur bersih. Catherine sampai berpikir bahwa alasan pria ini betah melajang pasti karena tak ada lady yang mampu menyaingi kesempurnaannya.

"Apa yang kau lihat?"

Catherine tergagap menjelaskan diri. "Maaf, My lord. Saya tidak sengaja memandangi anda."

Setelahnya dia tertunduk, menyembunyikan rasa malu. Di depan lord Hardy, ketangguhannya hilang begitu saja.

Terdengar gelak tertahan. Kalau bukan karena melihat lengkung samar di bibir majikannya, Catherine akan berpikir dia salah dengar.

"Maaf, My lord. Apa ada yang lucu?"

"Kau tentu saja." Lord Hardy bicara terus-terang. "Bahasa tubuh seperti bangsawan tetapi mulutmu bicara terus terang persis rakyat jelata. Aku jadi bingung. Kau ini apa sebenarnya."

Perkataan ini tidak sepenuhnya salah.

Kaum bangsawan terbiasa hidup dalam etika dan kesopanan. Mereka mengutarakan isi hati dengan bahasa tersirat. Pikiran dan perkataan seringkali tidak sejalan. Lama-lama jadi seperti orang munafik.

Berbeda dengan rakyat jelata yang bersikap seenaknya.

"Saya hanya pelayan anda, My lord." Catherine tersenyum seperti penjilat.

"Hmph, terserah kau saja." Lord Hardy menyesap kopinya perlahan sebelum melanjutkan, "tetapi keluarga Percy sepertinya sedang panik mencari seseorang. Tidak mungkin hanya pelayan yang kabur."

Perasaan Catherine mencelos. Takutnya saat identitasnya ketahuan, Frederick akan membuatnya jadi sandera. Bagaimana pun, Edgar berutang banyak pada pria ini.

"Apakah... mereka melakukan pencarian?"

"Ya, tetapi masih dirahasiakan."

Dia kabur semalam dan keluarga Percy juga belum melakukan pencarian resmi tetapi pria ini sudah tahu segalanya. Kalau ada sosok paling menakutkan yang pernah ditemui Catherine, maka orang itu adalah Frederick Hardy.

"My lord, apakah ada hal lain yang anda butuhkan? Kalau tidak, saya akan ke dapur."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Skandal Asmara Gadis Bangsawan yang Tertindas   Akhir Perjalanan

    "Sepertinya keluarga Stuart memperlakukan keponakanku dengan sangat baik," ujarnya penuh penekanan. "Aku sampai kehabisan kata-kata."Muka countess dan menantunya berubah kaku. Istri baru Rupert membantah perkataannya. "Apa maksud anda, My lady? Bukankah gadis kecil itu baik-baik saja? Anda datang-datang langsung memojokkan orang lain.""Tutup mulutmu!" bentak countess Stuart. "Beraninya bersikap kasar pada duchess."Setelah itu dia menoleh ke arah Catherine. "My lady, anda salah paham. Bocah ini memang suka ngompol. Juga tak berani lihat orang. Kami selalu memperlakukannya dengan baik."Apakah Catherine orang yang sabar menghadapi omong kosong? Tentu saja tidak!Dia memotong perkataan countess. "Baik atau tidak, hanya kalian yang tahu. Tetapi mulai sekarang saya akan menempatkan seorang pelayan untuk mengurus anak Meredith. Saya juga akan mengirim uang untuk membayar kebutuhan hidupnya. Kalau masih keberatan, kalian bisa mengir

  • Skandal Asmara Gadis Bangsawan yang Tertindas   Sepupu Minta Tolong

    "My lady, ada tamu yang cari anda."Gerakan tangan Catherine yang tengah menepuk-nepuk pundak Andrew terhenti. Dia menatap wajah tampan putranya yang tengah pulas sebelum melirik ke arah Geralda. "Siapa yang datang?"Gadis itu terlihat ragu. "Nona Meredith dan Caroline."Sejak kehilangan gelar bangsawan, sepupunya tidak berhak lagi dipanggil lady. Mereka tak ubahnya rakyat jelata. "Suruh pulang saja. Aku tak punya apapun untuk dibicarakan."Pengalaman sudah mengajar Catherine dengan baik. Berurusan dengan keluarga Percy tak pernah memberi keuntungan. Buat apa cari masalah untuk diri sendiri. "Kenapa masih berdiri di sana? Kata-kataku kurang jelas?" ujarnya ketika melihat tak ada tanda-tanda Geralda akan pergi. "Tetapi my lady... mereka benar-benar ingin ketemu anda. Wajah lady Meredith sangat menyedihkan. Dia bahkan memohon-mohon pada saya."Adalah pengetahuan umum bahwa hidup kedua nona Percy sanga

  • Skandal Asmara Gadis Bangsawan yang Tertindas   Konflik Mertua

    Setahun kemudian... Kastil Hardy yang biasa sepi, kini ramai oleh tangisan bayi. Catherine melahirkan sepasang anak kembar, laki-laki dan perempuan. Keduanya bukan majikan yang mudah dilayani. Suara tangisan langsung bergema jika sedikit saja lapar, haus, atau pakaian lembab. Akibatnya Catherine tidak lagi keberatan dengan keberadaan suster di dekatnya. Tanpa bantuan orang-orang ini dia pasti jadi mayat hidup karena tak bisa istirahat dengan tenang. "Astaga! Tak habis pikir bagaimana tangisan mereka begitu kencang ketika yang dimakan cuma susu." Catherine memijit pelipisnya. Hidungnya mengernyit mencium aroma susu basi dari daster yang dipakainya. Melawan kebiasaan nyonya kalangan atas, dia menyusui bayi sendiri. Sebab itu tubuhnya selalu beraroma susu. Syukurnya sekarang musim panas jadi bisa sering-sering mandi.Tiba-tiba terdengar suara lady Emma menaiki tangga. Catherine langsung gelagapan. Mertuanya suka usil

  • Skandal Asmara Gadis Bangsawan yang Tertindas   Kehamilan sang duchess

    Dunia memang dipenuhi hal aneh namun perilaku baroness adalah yang paling jauh. Seorang suami jadi cacat tetapi istri malah kasih hadiah. Kalau bukan gila, apa lagi sebutannya? "Anda yakin soal ini?" Catherine tak menutupi rasa heran. "Bukankah seharusnya anda marah?"Baroness tertawa ringan. "Sudah kubilang tidak ada alasan untuk marah. Malah duke sudah seperti pahlawan untuk keluarga kami."Wanita itu membuka kotak hadiahnya. "Lagi pula ini bukan barang mahal. Cuma cake buatan sendiri. Semua orang bilang rasanya enak. Semoga cocok untuk lidah anda."Hadiahnya mungkin tak mahal tetapi memasak sendiri membuktikan ketulusan. Apa lagi nyonya kalangan atas hampir tak pernah menyentuh dapur. "Terima kasih. Anda baik sekali."Begitu kotak penutup cake dibuka, Catherine bisa membayangkan betapa lezat rasanya. Apa lagi dengan irisan strawberry yang melimpah. Aroma menteganya sangat kuat. Dia benar-benar mau muntah

  • Skandal Asmara Gadis Bangsawan yang Tertindas   Hadiah dari Istri yang Tersakiti

    Setelah pengkhianatan Lucy ketahuan, pengamanan di sekitar kastil diperketat. Selain memeriksa setiap tamu yang berkunjung, pelayan juga diawasi pergerakannya. Arthur mengatur semua orang dengan baik. Dia tak berani lengah sedikit pun. Meski demikian, Frederick masih meminta Finlay mengawasi sang butler. Dia tak bisa menoleransi sikap sepele terhadap sang duchess.Pagi ini setelah sarapan bersama suami, Catherine merajut di ruang duduk. Akhir-akhir ini dia lebih mudah capek dan mengantuk. Seorang pelayan memberi laporan. "My lady, ada kartu kunjungan dari lady Portia Cecil. Beliau mau datang setelah jam makan siang."Catherine menatap ke seberang. Suaminya sedang membaca buku filsafat. Kegiatan yang akhir-akhir ini dilakukan Frederick kalau punya waktu luang. "Kirim balasan. Aku bisa menerima kunjungan beliau.""Baik, My lady."Kesunyian yang damai kembali menggelayut ketika pelayan sudah pergi. Fr

  • Skandal Asmara Gadis Bangsawan yang Tertindas   Hilang Akal

    Selang tiga hari setelah pulang ke Bath, situasi kastil sudah normal lagi, begitu pun dengan sikap Frederick. Pria itu kembali sehangat dulu, saat tidak ada Melissa diantara mereka. Dampaknya, Catherine jadi lelah setiap malam. Suaminya seperti kuda jantan yang sukar dipuaskan. "My lady, anda selalu kelelahan akhir-akhir ini. Bagaimana kalau ke rumah sakit untuk periksa kesehatan?"Periksa kesehatan? Bukankah semua yang terjadi karena nafsu sendiri?Catherine habis pikir menghadapi pelayannya yang terlalu polos. Biasanya gadis-gadis dari kalangan bawah lebih paham masalah duniawi. "Tidak apa. Aku baik-baik saja."Sebelum Geralda berkomentar lebih jauh, dia buru-buru melanjutkan. "Bagaimana dengan Lucy? Ada gelagat mencurigakan?""Dia terlihat gelisah, My lady. Kepala pelayan sudah menegurnya berkali-kali."Arthur sebagai kepala pelayan, sudah tunduk sepenuhnya pada Catherine. Setiap ada yang tidak becus beker

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status