LOGINMungkin karena di tempat asing, Catherine sama sekali tidak nyenyak. Dia jadi salah satu pelayan yang bangun paling awal di kastil. Dia menyusuri lorong yang panjang untuk mencari Arthur. Sepertinya, butler itu yang tahu tugas apa yang harus dia kerjakan.
"Permisi, apakah kau melihat Mr Arthur?" Pelayan berwajah judes yang ditemuinya melengos kasar. "Coba kau lihat di taman belakang." "Bisakah kau menunjukkan jalan ke taman belakang?" Catherine berusaha mempertahankan senyumnya. "Aku baru di sini. Belum tahu jalan." "Hmph, memangnya aku pelayanmu? Cari saja sendiri!" Catherine tercengang. Dugaannya makin kuat bahwa ada yang salah dengan kastil ini. Bukan hanya majikan, para pelayan pun tak ada yang menyenangkan. Semuanya kasar dan dingin. Biarpun hari pertama bekerja tidak menyenangkan, tetapi dia tidak berkecil hati. Perlakuan di manor keluarga Percy sudah menempanya jadi pribadi lebih kuat. Karena terlalu serius memandangi sekeliling, Catherine sampai menabrak seseorang. "Aduh," ujarnya penuh rasa bersalah. "Maaf sudah menabrakmu. Apakah ada yang sakit?" Catherine sudah menyiapkan hati untuk menerima Umpatan tetapi orang yang ditabraknya cuma tersenyum kecil. "Tak apa-apa. Kecelakaan adalah hal biasa dalam bekerja." Mata Catherine menelisik wajah tembah yang tampak murah hati. Dia sampai kehilangan kata-kata untuk beberapa saat. "Wah, terima kasih atas kemurahan hatimu." Dia berkata penuh syukur. "Senang bertemu denganmu." Pria berwajah gemuk itu mengulurkan tangan. "Senang juga bertemu denganmu. Namaku Lucy." Catherine mengulurkan tangan malu-malu. Sudah lama dia tidak diperlakukan seperti manusia. Teman baru ini sungguh bikin terharu. "Jadi... apa yang membuatmu berkeliaran di sekitar kastil?" "Sebenarnya... aku mau bertemu dengan Mr Arthur. Beliau bilang aku bertugas melayani lord Hardy. Tapi aku benar-benar tak tahu harus memulai dari mana." Muka Lucy menunjukkan keprihatinan yang membuat Catherine jadi curiga. Belum sempat bertanya lebih jauh, orang yang dicarinya sudah muncul. "Astaga! Kenapa kau masih di sini? Lord Hardy sudah bangun sejak tadi. Benar-benar tak becus." Masih pagi dan sudah diperlakukan tak adil. Perasaan Catherine sedikit tak nyaman. Dia berusaha mempertahankan raut mukanya yang tenang. "Maaf Mr Arthur. Saya masih baru jadi belum tahu seluk-beluk tempat ini." "Alasan saja! Sebelumya kau juga pelayan, kan? Kenapa sekarang pura-pura tak tahu bekerja?" Cukup sudah. Arthur hanya tidak menyukainya. Untuk menghemat tenaga, Catherine memilih tidak berdebat. Dia mendengar dengan sabar ketika Arthur melontarkan protes untuk beberapa waktu. "Ikut aku ke lantai atas," ucap Arthur akhirnya. Catherine menarik nafas lega lalu mengikuti langkah sang butler. Lantai dua tempat lord Hardy tinggal ternyata lebih hidup dari pada lantai satu. Meski demikian, suasananya tetap terasa suram. Waktu mereka sampai di sana, Arthur sedang duduk di balkon sambil mengusap moncong senapan panjang. "Sekarang bawa sebaskom air ke kamarnya untuk membersihkan diri. Setelah itu siapkan secangkir kopi, sepotong daging asap, dan bagel." Usai memberi pesan singkat, Arthur pergi begitu saja. Sekarang Catherine menyadari betapa tertutup kepribadian bangsawan yang dia layani. Pria ini sampai repot-repot menyediakan dapur kering di atas agar tidak terlalu sering bertemu orang. Selain itu, dia juga lebih memilih sarapan dengan kopi pahit dari pada teh yang enak. Bukan kebiasaan orang Inggris sejati. Sejurus kemudian, Catherine beranjak ke balkon. "Permisi, my lord. Saya sudah menyiapkan air di kamar anda." Lord Hardy menatapnya sekilas sebelum melanjutkan kegiatan yang tertunda. Pistol yang dingin itu diusap lembut seperti harta karun yang sangat berharga. Setelah kegiatannya selesai, dia beranjak sambil memberi perintah yang baru. "Siapkan pakaian dan alat cukurku." Tanpa menyadari apa yang sedang terjadi, Catherine mengikuti langkah majikannya dengan patuh. Ketika sudah dalam kamar, barulah suasana ambigu terasa. Dia seorang gadis yang masih berumur tujuh belas, berduaan dengan pria dewasa di dalam kamar. Catherine sudah memikirkannya dengan baik. Hanya ada dua bangsawan dengan nama keluarga Hardy. Berhubung pria ini tinggal di kastil yang amat besar, maka pastilah dia sosok yang paling terkemuka. Frederick Hardy, Duke of Ravenclaw kelima. Dari rumor yang pernah didengarnya, Frederick adalah pria yang masih lajang hingga sekarang. Umurnya sudah dua puluh tujuh tetapi belum ada kabar siapa calon pendampingnya. "Kenapa masih bengong? Dimana pisau cukurku?" Hardikan ini barulah membuat Catherine tersentak. Lekas dia mencari-cari di meja pendek dekat nakas. Untungnya, benda kecil itu tidak sulit ditemukan. "Silakan, My lord." Ketika pisau cukur sudah berpindah tangan, dia kembali menyusuri lemari besar di sebelah kanan ranjang. Menilik dari ukuran, semestinya lemari ini berisi banyak pakaian. Catherine harus kecewa. Didalam hanya ada beberapa celana panjang, kemeja polos sekitar setengah lusin, dua buah jas panjang berekor, rompi malam, serta dasi. Dia mengambil sebuah kemeja dan celana dengan cepat lalu meletakkannya di sisi lord Hardy. Pria itu memandang sekilas dan tidak berkomentar lebih jauh. "Bawa kopi dan bagelnya ke balkon. Aku mau sarapan di sana." Sejurus kemudian, Frederick bergabung di balkon. Sikapnya begitu tenang dan anggun ketika menyesap kopi dan menggigit bagel. Wajahnya yang terpahat sempurna jadi makin menarik setelah dicukur bersih. Catherine sampai berpikir bahwa alasan pria ini betah melajang pasti karena tak ada lady yang mampu menyaingi kesempurnaannya. "Apa yang kau lihat?" Catherine tergagap menjelaskan diri. "Maaf, My lord. Saya tidak sengaja memandangi anda." Setelahnya dia tertunduk, menyembunyikan rasa malu. Di depan lord Hardy, ketangguhannya hilang begitu saja. Terdengar gelak tertahan. Kalau bukan karena melihat lengkung samar di bibir majikannya, Catherine akan berpikir dia salah dengar. "Maaf, My lord. Apa ada yang lucu?" "Kau tentu saja." Lord Hardy bicara terus-terang. "Bahasa tubuh seperti bangsawan tetapi mulutmu bicara terus terang persis rakyat jelata. Aku jadi bingung. Kau ini apa sebenarnya." Perkataan ini tidak sepenuhnya salah. Kaum bangsawan terbiasa hidup dalam etika dan kesopanan. Mereka mengutarakan isi hati dengan bahasa tersirat. Pikiran dan perkataan seringkali tidak sejalan. Lama-lama jadi seperti orang munafik. Berbeda dengan rakyat jelata yang bersikap seenaknya. "Saya hanya pelayan anda, My lord." Catherine tersenyum seperti penjilat. "Hmph, terserah kau saja." Lord Hardy menyesap kopinya perlahan sebelum melanjutkan, "tetapi keluarga Percy sepertinya sedang panik mencari seseorang. Tidak mungkin hanya pelayan yang kabur." Perasaan Catherine mencelos. Takutnya saat identitasnya ketahuan, Frederick akan membuatnya jadi sandera. Bagaimana pun, Edgar berutang banyak pada pria ini. "Apakah... mereka melakukan pencarian?" "Ya, tetapi masih dirahasiakan." Dia kabur semalam dan keluarga Percy juga belum melakukan pencarian resmi tetapi pria ini sudah tahu segalanya. Kalau ada sosok paling menakutkan yang pernah ditemui Catherine, maka orang itu adalah Frederick Hardy. "My lord, apakah ada hal lain yang anda butuhkan? Kalau tidak, saya akan ke dapur."Rona kekalahan di muka Bruce cukup menghibur hati Catherine. Tapi ini tak berlangsung lama. Sebab di lantai dansa, dia harus meladeni kekonyolan Rick. "Jadi... kau mau kuajak dansa karena menghindari bocah Campbell?""Dia sudah dua puluh tahun, My lord." Catherine menegaskan fakta ini dalam nada dingin."Biar pun bukan pengagum Bruce, bukan berarti suka melihat sepupunya direndahkan. Rick tergelak kecil. "Kau sangat serius, Catherine. Aku memanggilnya begitu karena umurnya jauh lebih muda dariku."Pria yang berdiri di depannya sekarang berbeda dengan Rick yang dulu. Setahunya, Rick bukan pria menyebalkan. Walau terkadang bercanda tapi masih dalam batas wajar. Sementara yang berdiri sekarang berlagak paling tahu. "Apakah menjadi tua sesuatu yang menyenangkan bagi anda, tuan Kenwood?" balas Catherine tajam. "Hanya beberapa waktu tak ketemu tetapi anda jadi sangat berbeda.""Apa yang berbeda? Aku masih orang y
Catherine ingin sekali menampar kesombongan Bruce. Tetapi mengingat Annabelle juga manusia menyebalkan, dia merasa itu sepadan. Sekarang tak perlu lagi menebak apa penyebab kebencian yang begitu dalam di mata Annabelle."Kenapa menolaknya? Bukankah dia sangat cantik?" selidiknya kemudian. Perempuan memang begitu. Kalau dipuji, pura-pura tak peduli. Jika wanita lain yang dipuji, mereka penasaran setengah mati. Entah apa maunya. "Menurutmu dia cantik?" Senyuman Bruce sangat menggoda. Persis pria gombal yang suka pamer pesona. "Maaf saja. Tapi aku punya selera yang sangat tinggi.""Oh, ya?" Alis Catherine yang terukir rapi menukik tajam. "Memangnya seperti apa gadis idamanmu?""Gampang saja. Waktu bercermin perhatikan pantulan wajah siapa yang nampak. Itulah gadis idamanku."Muka Catherine memanas. Dia merutuki ketajaman lidah Bruce. Tetapi diatas segalanya, dia lebih benci dirinya yang suka main api. Ketika terbakar, entah mau kabur kemana. "Hmph, dasar kau." Dia menggumam seraya
Wajah Annabelle mengeras sementara suara-suara di aula jadi senyap. Adalah kurang sopan kalau meragukan niat tulus tuan rumah. Tetapi kalau tidak teliti bisa menjatuhkan diri sendiri dalam perangkap. Catherine memilih resiko pertama. "Kalau memang lady Catherine sangat meragukan niat baik kami, pakai saja piano saya."Annabelle memang lawan sepadan. Dengan kalimat selugas ini tak mungkin ada yang curiga akan kualitas piano. Kalau nanti pada saat main timbul masalah, orang-orang hanya bisa mengatainya kurang cakap. "Kalau begitu saya tak akan sungkan," sahut Catherine tenang. "Saya hanya seorang gadis yatim. Pendidikan tidak sebagus My lady. Anda tentu tak akan mempermasalahkan hal ini dengan saya, kan?"Ketika Catherine sudah membawa kekurangannya sendiri ke depan umum, siapa lagi yang bisa mengejek walau sikapnya seperti gadis berpikiran dangkal?Kalau Annabelle masih tak terima, orang-orang hanya akan menganggapnya perempuan berpikiran sempit. Dengan wajah masam, Annabelle ban
Suasana di aula dalam memang tidak terlalu hening tetapi bisik-bisik orang di belakang masih terdengar dengan jelas di telinga Catherine. Mau tak Mau, matanya melirik Annabelle Wesley. Rasa persaingan mendadak timbul di dalam hati. Gadis ini sangat cantik, punya talenta, juga dari keluarga baik-baik. Dengan kualitas ini masih belum berhasil mencuri perhatian Frederick. Bagaimana dengan dirinya? Tiba-tiba Annabelle Wesley mendongak. Mata mereka terkunci. Catherine merasakan aura dingin disana. "Kau kenapa?" senggol Wilona. "Kau juga menikmati kecantikan sang dewi?"Catherine tersenyum masam. Apa sejelas itu dia memperhatikan lawan. "Tak apa. Kurasa musiknya sangat bagus.""Dibanding kemampuanmu, itu tak seberapa."Entah karena suara Wilona yang terlalu keras atau nasib lagi apes, duchess Wesley mendengar jelas perkataan ini. Mana ada ibu yang suka kemampuan anaknya disepelekan.Rasa ingin tahu yang tinggi membuat beliau menoleh ke arah Elizabeth Campbell. "Lizzy, keponakanmu jag
Keluarga Percy terbelalak. Kenapa mereka jadi seteru terhadap dua keluarga hebat di London hanya karena seorang gadis yatim? Melawan Fiona saja sudah sulit apa lagi Elizabeth Campbell. Wanita bergelar duchess ini tak pernah kenal takut. Tetapi kalau mundur sekarang, bukankah sangat memalukan? Inggrid mau menangis rasanya. Maju tak berani, mundur juga tak sanggup. Akhirnya Edward Percy membuka kerumunan orang-orang. Wajah tuanya yang berkerut menunduk malu. "Para nyonya sekalian, saya minta maaf atas perbuatan anak dan istri. Harap jangan diambil hati. Nanti begitu sampai di rumah, saya akan menasihati mereka dengan baik." Usai berkata demikian, dia menyeret Caroline dan Inggrid kedalam sementara Meredith di bawah kendali mertuanya. Situasi kembali aman. Meski di permukaan Catherine menang, pada kenyataannya orang-orang masih membicarakannya di belakang. Catherine tak ambil pusing. Dia membungkuk ke arah Fiona dan Elizabeth Campbell. "Terima kasih buat kedua lady. Kalau bu
Tuduhan yang sangat keji tetapi semua orang mendengar dalam diam. Tak ada satu pun yang repot-repot membela Catherine. Pada saat ini, Fiona akhirnya maju. Tanpa sungkan menampar mulut Caroline bolak-balik. "Kalau countess Inggrid tak bisa mendidikmu, biar aku membantunya." Mata Caroline membelalak tak percaya. "Anda... menamparku?" "Kenapa tidak? Aku akan berdosa pada Frederick kalau tidak menampar mulutmu yang kurang ajar." "Kenapa aku kurang ajar? Semua yang kukatakan adalah fakta." "Apakah fakta yang kau maksud seterang mulutmu yang kurang ajar? Sepertinya kau senang sekali kalau kakakku mati di lautan. Dimana empatimu?" Kerumunan orang-orang mulai berbisik satu sama lain. Fakta bahwa Duke Hardy adalah pahlawan yang dikagumi semua orang sudah diketahui sejak dulu. Ketika seorang gadis muda dengan sombongnya tertawa sambil membicarakan kecelakaan sosok penting ini, mana mungkin hati mereka tidak dingin. "Ya, marchioness Seymour benar. Caroline Percy memang terlalu lancang.







